Cintaku Untukmu Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 June 2013

Siang berganti malam, penghujung perjuangan pun menanti. Matahari terbenam menghiasi langit, menghadirkan keindahan. Tetapi tidak bagi keluargaku. Hari ini, malam ini, dan detik ini merupakan awal kesedihanku. awal dari perjuangan berat yang harus dijalani ayahku. Nafas yang mulai menyempit, keringat yang mencucur deras, sungguh hebat mengundang air mataku. hati ini menjerit, tubuh yang terasa bergetar tidak sanggup melihat apa yang terjadi pada ayahku. Tetapi senyum yang indah itu masih menghiasi bibirnya, menenangkan hati ini, dan menahan aliran air deras di pipiku.

Hidangan yang sudah terhidang untuk berbuka seperti ikut merasakan kesedihan dan kehampaan hati ini. Perlahan ku tegarkan hati ini, mencoba untuk tetap tabah. Ku coba membimbing ayahku untuk berbaring di kamar. Tapi sungguh aku tak kuat, aku tak mampu, aku tak sanggup karena ku tertatih. Berbagai bayangan bayangan gelap menghantui fikiranku. Ingin rasanya aku gantikan posisi ayahku, ingin rasanya aku berikan seluruh hidup dan nafasku hanya untuk ayahku seorang. Tangan yang lemah ini mulai mencoba menghapus derasnya keringat di tubuh yang terbaring tak berdaya itu. Mulai ku bertanya:
“Yah, kenapa ayah, yah? Apa yang sakit yah?”
“Ayah gak papa kok”
“Jangan bohong yah, bib tau. Kita ke rumah sakit ya yah”
“Tidak usah, paling sebentar lagi sembuh” (meyakinkan)
Kakiku bergerak keluar, menuntunku untuk menemui ibu yang baru saja selesai menelfon taxi.
“Bib, ibu mau bawa ayah ke rumah sakit, bib tinggal aja ya?”
“Tidak bu, Bib mau ikut, Bib tidak ingin pisah dari ayah bu”
“Hmm… Ya sudah, bersiap siap lah dan bantu adikmu, biar ibu yang
menemani ayah dulu”

Setelah selesai…
“Sudah bu, sekarang giliran ibu bersiap siap, biar Bib yang jaga ayah”
“Baiklah”
Aku, ibuku, dan adikku telah siap, taxi yang akan menjadi kendaraan penolong itupun datang. Kami membimbing ayah ke taxi bersama sama. Di perjalanan tak ingin ku lepas tangan yang lemah ini dari tangan ayahku yang duduk tak berdaya.
Sesampai di rumah sakit, ayahku dilarikan ke UGD. Kabel kabel listrik mulai menghiasi tubuh ayahku. Selang dari tabung besar itu mulai menyelinap ke hidung ayahku. Jarum panjang yang tajam juga ikut menyelinapkan cairannya melalui kulit ayahku. Sungguh ku tak sanggup melihat ujian Allah S.W.T kepada ayahku. Tak terbayang olehku betapa perihnya tusukan jarum tersebut. Sangat ingin rasanya aku menggantikan ayahku, sangat ingin rasanya aku mendatangi Allah S.W.T walaupun ku tau itu konyol.

Detik demi detik pun berlalu, jarum jam yang egois itu selalu begerak, tak mempedulikan perasaan keluargaku. Akhirnya suara yang menyambar-nyambar itu memutuskan untuk memindahkan ayahku ke ruang yang sunyi, hampa, dan sering di anggap sebagai ruang untuk melepaskan nyawa. ICU merupakan tiga huruf yang mengerikan bagiku. Tak tau apa yang harus kulakukan kini, hati ini semakin hampa, perih, dan hancur berkeping-keping. Ingin rasanya aku melepaskan keresahan hati ini, tapi ku tak tau kepada siapa, semua orang yang ada disini juga mempunyai keresahan hati, resah akan kehadiran orang yang dicintainya, orang yang disayanginya, dan orang yang sangat berharga baginya.

Lima hari sudah aku berada di rumah sakit ini, tapi yang aku dapat hanya bisa melihat ayahku dari kaca kecil di pintu masuk ICU. Itu pun tangan inilah yang mengikis cat itu. Tak pernahkah tersadari oleh perawat itu betapa sakitnya aku, betapa sedihnya aku, dan betapa kuatnya jeritan hati ini yang tak bisa tau apa yang akan terjadi pada ayahku. Di akhir shalat ku tak pernah lupa untuk menadahkan tangan, meminta kesembuhan ayahku, karena kusadar diri ini bukanlah apa-apa di mata Allah S.W.T.

Puji syukur tak henti-hentinya ku persembahkan pada Allah S.W.T karena hari ini, jam ini, dan detik ini ayahku bisa keluar dengan selamat dari ruang yang ku anggap sebagai kamar ganas itu, walau kini ayah masih harus di rawat di kamar rawat biasa.

Esok adalah hari yang di tunggu umat islam sedunia, hari yang di anggap sebagai hari kemenangan, hari dari akhir segala perjuangan. Tapi entahlah bagi keluargaku, akankah kami lebaran di rumah sakit ini. Sungguh aku pasrah, menyerahkan semuanya kepada Sang Kuasa. Ternyata Sang Kuasa berkehendak lain, sore ini ayahku bisa pulang meski dengan beberapa syarat. Aku sangat bersyukur. Tapi satu yang masih membuat goresan luka di hati ini, obat yang begitu banyak dan nasi yang hambar menunggu ayahku.

~ end ~

Cerpen Karangan: Habibul Chair
Facebook: Habibul_chair[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Cintaku Untukmu Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Kulangkahkan kaki keluar kelas yang sangat membosankan dan suntuk. Siang hari yang cukup terik di kampus, hanya segelintir orang yang rela berpanas-panas di jalan, sementara yang lain sepertinya nyaman

Untuk Nada ku

Oleh:
Sahabat adalah ia yang meraih tangan kita dan menyentuh hati kita. Dia orang yang dapat berkata benar kepada kita, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata kita. Kasih, gadis yang

Pensil Rapuh

Oleh:
Pensil menggores kertas Mencetak angka demi angka Menyusun kata demi kata Menghambur debu Hingga akhirnya merapuh Dia masih terbaring tak sadarkan diri. Sudah seharian penuh ia harus menelan obat

Wasiat Cinta

Oleh:
Putra namamu. Untuk pertama kalinya kau titip salam kepadaku lewat sahabatku, Maya namanya. Waktu itu dan sekarang sangat berbeda. Kali ini aku bahagia, aku telah tahu semua kebenarannya. Aku

The Photo

Oleh:
Bila pagi tiba, Evan terbangun demi melihat sinar terang sang mentari. Menghirup udara segar secara gratis. Evan mendengar kicauan burung mendayu-dayu masuk ke telinganya, dan kupu-kupu seakan mengajak Evan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *