Cita-Cita Ashley


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 26 February 2013

Pagi itu tidak seperti biasanya, raut muka Ashley kelihatan murung, tampak kesedihan yang teramat sangat tercermin di sana. Canda, tawa, dan semangatnya seakan sirna, kebiasaannya bersenandung setiap saat pun tak ada, tak sepatah katapun sempat terucap dari bibirnya.
Ashley terus bertanya-tanya dalam hati, “Memangnya salah ya kalau punya cita-cita jadi pelukis? Memangnya aku nggak pantas jadi pelukis? Kenapa papa nggak suka aku jadi pelukis?..” . Tiba-tiba Ashley menjatuhkan air matanya. Ia menangis. Ibunya yang akan pergi ke kantor mendengar tangisan itu.
“Kenapa, shley?” “Ma, papa itu kenapa sih? Kenapa aku nggak boleh jadi pelukis?” “Mama nggak tahu ya, sayang. Kalo papa nggak bolehin kamu ngelukis, ya mulai sekarang nggak usah ngelukis lagi, dari pada papa marah lagi” “Tapi, ma….” “Udahlah. Mama mau ke kantor dulu ya, sayang. Dadah.”
Ashley mencoba menahan semua rasa sedihnya, ia tidak mau terlalu lama tenggelam dalam kesedihan.

Bel berbunyi, semua murid sesegera mungkin masuk ke kelas mereka masing-masing. Di kelas 7F, semua murid berbincang-bincang kecuali Ashley. Ia masih larut dalam kesedihan. Tiba-tiba, Ardine teman sebangku Ashley mengagetkannya
“Ashley…!!!”
“Ardina, apaan sih.. Kamu mau bikin aku jantungan ya?” kata Ashley
“Gitu aja marah, aku kan Cuma bercanda, shley. Lagian kamu dari tadi murung terus sih.”
Ashley menarik nafasnya, dan menyandarkan kepalanya di dinding.
“Oh iya, shley. Kamu tahu anak baru kelas 7C kan? Yang namanya Reina itu. Mamanya temenan sama mamaku. Mamanya pemilik Galeri Warsita, lho”
“Terus?” Ashley mengangkat satu alisnya
“Aku pengen lihatin lukisan-lukisan kamu ke mamanya. Siapa tahu lukisan-lukisan kamu bisa masuk ke Galeri Warsita. Mau nggak, shley?” Ardine tersenyum.
Mendengar perkataan Ardine, Ashley teringat Ayahnya. Kalau lukisan-lukisannya masuk ke Galeri Warsita, pasti Ayahnya akan kecewa. Tetapi, lukisan-lukisannya masuk di Galeri itu adalah salah satu impiannya dari SD. Akhirnya, Ashley memutuskan untuk menerima tawaran Ardina.
“Yaudah deh, aku mau.” Ashley tersenyum kecil.

“Tante, kenalin ini Ashley. Ashley ini jago banget ngelukis. Dia pernah ikut lomba melukis 4 kali. Dapet juara 1 terus tante, dan dia pengen banget lukisannya masuk ke Galeri Lukisan.” kata Ardine dengan penuh semangat.
“Halo, Ashley. Tante boleh liat lukisan kamu?”
Ashley mengeluarkan lukisannya dari dalam tasnya.
“Lukisan kamu bagus. Tapi sayangnya, Galeri Warsita tidak terima lukisan yang seperti ini. Lukisan-lukisan di Galeri Warsita itu rata-rata dari pelukis terkenal dan lukisan-lukisan yang ….., seperti lukisannya Jessica Wardhany, Prillyana Simanjuntak, dan Carmenita Pricilla” Kata Tante Deviana.
Raut wajah Ashley berubah. Dia terlihat sangat kecewa karena lukisannya belum pantas untuk masuk ke Galeri.
“Lukisan kamu bisa saja masuk ke Galeri saya. Tapi kamu harus membuat lukisan yang lebih bagus dari ini”
Ashley menganggukkan kepalanya. Dia berjanji akan membuat lukisan yang lebih bagus.

Sampai di rumah, Ashley mengambil perlengkapan-perlengkapan lukisnya di dalam laci belajarnya di kamar, dan ia mulai melukis. Tangan Ashley sibuk menari-nari di atas kanvas. Tiba-tiba…
“Ashley…!!! Sudah berapa kali papa bilang, kamu nggak boleh melukis lagi!” Ayah Ashley sangat marah melihat Ashley melukis. Dia menyobek-nyobek hasil lukisan Ashley.
“Tapi,pa….”
“Tapi apalagi? Kan papa sudah bilang berkali-kali kalau kamu nggak boleh melukis.”
Ashley tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Untuk yang kedua kalinya, Ashley menangis.

“Ashley…” Bu Endah mengagetkan Ashley yang sedang melamun di taman. Ashley kaget, tiba-tiba guru yang paling cantik di sekolah sedang berada di hadapannya sekarang.
“Eh, Bu Endah”
“Kamu ngapain sendirian melamun di sini?”
“Hm, nggak apa-apa kok,bu” kata Ashley sambil terbata-bata.
“Masa sih? Kok kelihatannya kamu sedih banget? Kalau ada masalah cerita aja sama ibu!”
Ashley bingung, ia tidak tahu harus bilang apa kepada Bu Endah
“Hm… Gini,bu. Ibu tahu kan kalau saya mempunyai hobi melukis? “
Bu Endah mengangguk tanda mengerti
“Tapi bu, Ayah saya enggak suka saya melukis. Kemarin hasil lukisan saya disobek-sobek sama Ayah saya. Dia benci banget ngelihat saya melukis,bu” mata Ashley berkaca-kaca
“Mungkin papa kamu punya alasan tersendiri, shley. Coba aja kamu tanya baik-baik sama papa kamu, kenapa dia nggak bolehin kamu melukis.”
Ashley mengangguk.
“Ashley, apapun keadaan, masalah, dan hambatannya. Semangat terus dan jangan pernah putus asa.” Bu Endah tersenyum.
Bel berbunyi, semua murid keluar dari kelasnya masing-masing untuk istirahat. Ashley, Ardine, Remi, Milly, dan Hedy menuju ke kantin.
“Dine, aku boleh nggak sebentar ke rumah kamu? Aku mau melukis. Kalau aku melukis di rumahku, nanti Ayahku lihat aku bisa dimarahin.”
“Boleh kok, shley” Ardine tersenyum.

Ashley sampai di rumah Ardine,
“Shley, emang kamu mau ngelukis apa?”
“Hm, Aku mau ngelukis balon udara yang sedang melintasi awan”
Sementara Ashley melukis, Ardine menunggu sambil membaca novel.
Beberapa jam kemudian… “Hufh, Akhirnya” Ashley sudah selesai melukis
“Wah, bagus banget, shley”
“Hehe, makasih, dine”
“Lukisan kamu ini pasti akan langsung masuk ke Galeri Warsita.”
“Oh iya, kebetulan banget, nanti malam aku dan mamaku mau pergi ke rumah Tante Deviana, sekalian aja ya aku lihatin lukisan kamu ini ke Tante Deviana” Ardine tersenyum.
Ashley mengangguk.

Keesokan harinya, Ashley langsung menemui Ardine.
“Dine, gimana? Lukisanku bisa masuk ke Galeri Warsita nggak?” Tanya Ashley
Ardine menunduk, raut wajahnya juga berubah. Ashley tahu, pasti lukisannya masih tidak bisa masuk ke Galeri itu.
“Maaf ya, shley…” Ardine menarik nafas. “Lukisan kamu bisa masuk ke Galeri Warsita, hari ini juga” Ardine begitu semangat.
Ashley tersenyum. Ia berjanji akan memberitahukannya kepada Ayahnya, walaupun dia tahu Ayahnya pasti akan sangat kecewa kepadanya.
Pulang sekolah, Ashley sudah siap untuk mengatakan bahwa Tante Deviana sudah memasukan lukisan-lukisannya ke Galeri Lukisan pada Ayahnya. Dia tahu ayahnya akan sangat kecewa karena dia tidak menaati perkataan Ayahnya, tetapi, menjadi pelukis itu adalah haknya, siapapun tidak akan bisa menghentikan mimpi-mimpinya.
Sampai di rumah, Ashley melihat ayahnya sedang membaca koran.
“Pa, maaf, Ashley nggak bisa. Tante Deviana sudah masukin lukisan-lukisan Ashley di Galeri Warsita hari ini. Ashley tahu papa pasti marah sama Ashley. Tapi, ini hak Ashley untuk jadi Pelukis. Nggak ada yang bisa ngelarang Ashley untuk jadi Pelukis. Ini mimpi-mimpi Ashley dari kecil. Maafin Ashley, pa” Ashley langsung menuju ke kamarnya sambil menangis.
“Ashley…” Ayahnya memanggilnya.
“Ya, pa”
“Mungkin selama ini papa yang salah. Papa udah ngelarang kamu untuk ngelukis itu karena papa mau kamu jadi orang yang sukses. Maafin papa ya, nak”
Ashley tersenyum “Nggak apa-apa, pa. Hm, Jadi… Aku boleh jadi Pelukis?”
“Boleh…” Ashley langsung memeluk Ayahnya. Ayah Ashley menjatuhkan air mata bahagia. Dalam hati, Ayah Ashley berdoa semoga lukisan anaknya bisa di terima baik oleh banyak orang.

“Ashley…!!!”
“Kenapa dine? Kayaknya kamu lagi seneng banget, ada apa sih?”
“Lukisan kamu terjual, shley.”
“Beneran?”
“Iya, Tante Deviana bangga banget sama kamu. Baru dua hari lukisan kamu udah terjual” Ardine tersenyum
Karena terlalu bahagia, Ashley ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Sampai di rumah, dia langsung memberitahukannya kepada Ayah dan Ibunya.
“Selamat siang, ma, pa”
“Siang. Kamu kenapa sih? Kayaknya lagi seneng banget” kata Ibunya
“Hahaha, iya. Ada apa, shley?” tanya Ayahnya
“Gimana nggak mau seneng ma, pa. Lukisan Ashley udah terjual”
“Wah, hebat banget anak papa. Padahal baru dua hari lukisan kamu di Galeri Warsita, udah terjual aja” Ayah Ashley tersenyum.
Ashley masuk ke kamarnya. Ia langsung menuliskan kata-kata yang diucapkan Bu Endah dan ia tempelkan di dinding kamarnya.
“Apapun keadaan, masalah, dan hambatannya. Semangat terus dan jangan pernah putus asa.”

Cerpen Karangan: Anastacia Esterliana
Facebook: Anastacia Mailoor
Heyhoo, Nama gua Anastacia Esterliana Mailoor :D… Gua kelas 7, gua sekolah di SMP Kat. Stella Maris Tomohon… Gua ngefans sama Titi DJ…
Gua punya cita-cita jadi Penulis dan Penyanyi…
Semoga kalian suka cerpen gua:D… thanks…

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Motivasi

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply