Cita Cita Hasyim

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 11 December 2017

Teng… Teng… Teng… Bunyi lonceng sekolah menandakan waktu pulang sekolah telah tiba, sorakan suara siswa pun terdengar dengan riangnya. Begitu juga dengan Hasyim siswa kelas 4 SDN 2 Simpang Semadam, Kutacane Aceh Tenggara. Sepulang sekolah Hasyim pun telah sampai di rumah.

“Assalamualaikum, Assalamualaikum, Assalamualaikum.” Seru Hasyim dan langsung masuk kedalam rumah.
“Walaikumsalam.” sahut Ibunya dari dapur.
“Sudah pulang sayang?” tanya Ibu.
“Sudah mak, baru aja sampai.” Jawab Hasyim sembari menyalam tangan Ibunya.
“Mamak ngapain?” tanya Hasyim.
“Baru aja mamak selesai memasak, langsung diganti ya nak bajunya.” Suruh Ibunya
“Iya mak,” sahut Hasyim dan langsung bergegas ke kamarnya mengganti baju sekolahnya.
“Sayang nanti setelah ganti baju langsung makan ya nak, di meja udah mamak siapkan makanan buat kamu, jangan lupa selesai makan langsung sholat Dzuhur ya sayang.” Pinta ibunya.
“Iya mak.” Sahut Hasyim dari dalam kamarnya.

Selesai ganti pakaian Hasyim pun langsung pergi ke dapur untuk makan, setelah makan Ia pun tidak lupa sholat. Selesai sholat Hasyim pun langsung bergabung dengan ibunya di ruang tamu sambil menonton Televisi dan duduk di sebelah ibunya.

“Lagi nonton apa mak?” tanya Hasyim sambil bersandar di bahu Ibunya.
“Ini lagi nonton berita sayang”. Jawab ibunya sambil mendekap anak bungsunya itu.
“Berita apa mak?” tanya Hasyim
“Berita korupsi lagi sayang.” Jawab ibunya.
“Lagi-lagi korupsi, tidak hentinya korupsi di negara kita ini ya mak, udah pun banyak orang yang kena penjara gara-gara korupsi enggak juga jadi pelajaran sama Dia.” Ujar Hasyim.
“Nanti kalau kamu jadi pejabat jangan korupsi ya sayang. Enggak baik, buat sengsara rakyat saja.” Ucap ibunya.
“iya mak, lagian mana mau Hasyim masuk penjara ma!” jawab Hasyim.

Ibunya pun asyik dengan Televisi yang terus menanyangkan berita-berita teraktual, berita korupsi pun menjadi berita yang paling viral dimasa itu, dengan Kolusi dan Nepotismenya. Sedangkan Hasyim asyik dengan buku cerita di tangannya yang dia ambil dari atas meja.

“Syim!, nanti kalau mau besar Hasyim jadi apa?” tanya ibunya
“Jadi Ustad mak, biar nanti bisa ngajari orang-orang mengaji, biar bisa ceramah di Mesjid, biar bisa mengajak orang-orang sholat ke Mesjid mak.”
“Oh, mau jadi ustad anak mamak! Bagus nak, semoga tercapai ya nak cita-citanya, biar bisa Do’ain Ayah sama mamak nanti bila Ayah dan mamak telah tiada, bisa bahagiain Ayah dan Mamak di Akhirat, trus kita bisa berkumpul lagi di sana.”
“Oh ya mak, Hasyim juga pengen jadi tentara, jadi polisi, juga jadi dokter. Trus pengen juga jadi… jadi… itu apa namannya ya mak yang kerja di kantor itu, pakai dasi trus pakai Mobil juga mak, kayak itu Uda yang di Padang Sidimpuan itu?” tanya Hasyim sambil berpikir.
“Owh jadi pengusaha!” Jawab ibunya.
“Ia mak jadi pengusaha, biar nanti kita bisa jalan-jalan pakai mobil Hasyim.”
“Senangnya mamak dengar anak mamak yang banyak cita-cita, semoga nanti bisa tercapai ya sayang cita-citanya. Jadi apa pun boleh, asalkan jangan dilupain Ayah dan Mamak, abang, kakak, dan keluarga kita yang lain. Kalau Hasyim udah jadi nanti jangan sombong, ingat semuanya. Jangan lupa juga Ibadah, Sholat ya sayang, karena apapun yang kita peroleh semuanya tidak terlepas dari kehendak-Nya. Semuanya adalah milik-Nya, hanya titipan semata, karena nanti di akhirat semuanya akan dipertanggungjawabkan, dari harta misalnya kalau Hasyim punya mobil untuk bawa Ayah dan Mamak jalan-jalan juga akan dipertanyakan nantinya, dari mana mobil itu didapatkan, bagaimana cara memperolehnya, apakah dibeli dengan uang yang halal, apakah mobilnya dipakai kejalan yang benar atau jalan yang diridhoi Allah, kemudian tahta dan jabatan, bagaimana cara Hasyim bisa jadi orang yang hebat, bisa punya jabatan yang di emban, bagaimana jabatan itu dilaksanakan, apakah diperoleh dengan tidak baik. Misalnya kalau mendapatkan pekerjaan itu pakai uang suap, pasti nanti akan dipertanggung jawabkan, karena dosanya sangat besar.”
“Owh gitu ya mak, kalau gitu jadi apa ya mak biar enggak melakukan kesalahan seperti yang tadi?” Tanya Hasyim.
“Mamak enggak melarang sayang, Hasyim mau jadi apapun mamak mendukung, yang pasti semuanya dari apa yang Hasyim cita-citakan tadi pasti kedepannya sama, jadi ustad, jadi tentara, jadi polisi, pengusaha dan yang lainnya semuanya bisa punya mobil atau harta yang banyak, asalkan seperti yang mamak bilang tadi harus sesuai dengan ajaran agama kita, harus benar untuk semuanya, benar cara memperolehnya, benar cara memanfaatkannya, benar cara menyikapinya, dan harus benar juga cara menjalankan semuanya. Agar nanti kita mudah mempertanggungjawabkan semuanya di Akhirat.” Jelas ibunya.

“Hmmm.. iya mak, nanti Hasyim akan menjadi apa yang mamak harapkan!”
“Owh ia ma, menurut mamak Hasyim bagusnya jadi apa ya Mak?”
“Hmmm, Jadi apa ya?” pikir Ibunya
“Menurut mamak jadi guru bagus juga sayang”.
“Jadi guru ma? Kayak bu Hj. Idawati ya ma?”
“Iya sayang, mamak juga dulunya pingin jadi guru, tapi sayang cita-cita mamak tidak kesampain.”
“Emang mamak kok pingin jadi guru ma?”
“Iya sayang, mamak pengen sekali jadi seorang guru, karena setiap apa yang kita ajarkan kepada siswa kita nantinya akan mengalir pahalanya kepada kita kalau siswa kita mengamalkannya, apalagi ilmu yang mamak ajarkan nantinya diajarkannya sama adiknya, sama keluarganya, atau nantinya dia juga menjadi seorang guru, pasti dia juga akan mengajarkan Ilmu yang mamak pernah ajarkan kepada muridnya. Pastinya banyak pahala yang akan mamak tuai nanti di akhirat.”
“Hmmmm, jadi guru? Apa benar ya mak seperti yang mamak bilang tadi?
“Benar sayang, karena kata nabi dalam Hadisnya “Apabila kematian telah tiba maka akan terputus amal ibadah anak Adam kecuali tiga perkara, pertama Sedekah Zariyah, kedua Doa anak yang soleh, dan ketiga Ilmu yang bermanfaat.” ”
“Berarti walaupun kita nanti sudah meninggal juga bisa dapat pahala ya ma?”
“Ia sayang. Misalnya yang pertama mamak sudah meninggal, namun sebelum mamak meninggal mamak pernah bersedekah Zariyah memberikan dua sak semen kepada pekerja yang akan memperbaiki jembatan, mamak bilang kepada mereka ini saya ada bawa 2 sak semen tolong dipakai untuk memperbaiki jembatan ini, kemudian mereka terima dan mereka pakai untuk memperbaiki jembatan yang mereka perbaiki tadi. Itulah nantinya yang menjadi sedekah Zariyah mamak yang Insya Allah pahalanya akan mengalir kepada mamak walaupun mamak telah tiada sampai selama jembatan itu masih dilalui orang”
“Kalau jembatan itu masih tetap dipakai sampai puluhan tahun mak? Apakah masih mengalir pahalanya sama mamak?”
“Iya sayang, masih mengalir pahalanya, makanya kalau ada bangunan yang dihasilkan dari sumbangan masyarakat sangat berat masyarakat itu merobohkan bangunan yang sudah lama dibangun dikarenakan kemungkinan ada orang tua mereka meng-infakkan hartanya untuk pembangunan itu.”
“Tapi kenapa ya ma, sekarang mudah sekali orang merobohkan bangunan lama kalau ada bantuan bangunan baru dari pemerintah?” tanya Hasyim.
“Itu dia sayang, orang-orang sudah tidak memikirkannya lagi, padahal dari bangunan lama itu kemungkinan orangtuanya yang telah tiada masih mengharapkan pahala dari sedekah Zariyah yang pernah Ia sedekahkan, malah orang sekarang berpikir hanya untuk menggunakan bangunan baru, yang penting bangunan baru, kata mereka”
“Iya mak, seperti Mesjid kita itu mak, udah diganti lantai keramiknya. Padahal keramik yang lama masih aja bagus, dibilang udah jeleklah, mending pakai yang baru kata bapak-bapak itu mumpung pemerintah lagi baik katanya.”
“Yah begitulah nak pemikiran orang-orang sekarang, setiap ada bangunan yang baru yang lama dilupakan, dengan alasan sudah tidak bagus lagi.” Jelas ibunya.
“Oh iya yang keduanya doa anak yang sholeh, makanya mamak pengen sekali anak mamak semuanya jadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Biar bisa mendoakan ayah dan mamak kalau sudah tiada nanti, doa kalianlah yang Ayah dan Mamak harapkan, karena ayah dan mamak enggak bisa sholat lagi, enggak bisa puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, dan Ibadah lainnya. Hanya do’a kalianlah yang Ayah dan mamak harapkan.” Harap ibunya.
“Iya mak, nanti Hasyim akan doa kan Ayah dan mamak setiap hari biar Ayah dan Mamak bahagia di sana.” “Owh iya ma, yang ketiga Ilmu yang bermanfaat tadi ya ma?”
“Iya sayang.”
“Maulah Hasyim jadi guru ma, biar banyak nanti murid Hasyim ajarkan ilmu biar dapat Hasyim dapat pahala. Doakan ya mak Hasyim biar jadi guru!“
“Iya sayang, mamak selalu mendoakan kalian semuanya, abang-abang kamu, kakak kamu, biar jadi orang sukses semuanya. Biar bisa bahagiakan orang tua, berguna bagi Nusa dan Bangsa.” Kata ibunya.
“Aamiien.” Sahut Hasyim.

“Oh iya sayang tadi di sekolah kamu ada dikasih PR sama guru?” tanya ibunya.
“Ada mak“, jawab Hasyim.
“PR apa?”
“PR bahas Indonesia Mak, sama Agama”.
“Nanti malam selesaikan dulu ya PR kamu baru bisa nonoton TV.” Pinta ibunya.
“Iya mak. O iya mak, tadi di Sekolah Hasyim dipanggil bu guru agama ke Kantor.” Kata Hasyim.
“Kenapa nak kok sampai dipanggil ke kantor? Kamu nakal ya?” tanya Ibunya.
“Enggak kok mak, tadinya Hasyim pikir juga begitu. Tenyata enggak ada masalah.” Jawab Hasyim.
“Iya sayang, tapi kok sampai kamu dipanggil ke kantor?“ Tanya ibunya lagi
“Hmmm, Ibu tu tadi ada masak kue di rumahnya, kuenya dikasih ke Hasyim. Trus ibu tu suruh bawa pulang kuenya lagi mak, titip sama mamak katanya, bentar ya mak Hasyim ambil kuenya di tas.” Jawab Hasyim sambil menuju kamarnya.
“Owh, mamak pikir ada apa. Iya mamak tunggu“
Ibu Hj. Dra. Idawati adalah guru Agama Islam sekaligus Wali kelas Hasyim di Sekolahnya, dan sudah lama kenal dekat dengan ibunya.

Tidak berapa lama Hasyim pun kembali dengan membawa kue dan langsung duduk di tempat duduknya tadi di samping ibunya. Kemudian menyerahkan kue kepada ibunya
“Ini mak kue dari bu Idawati tadi, enak lho mak.” Sambil menyodorkan kue dari ibu gurunya
Ibunya pun langsung menerima kue pemberian ibu Hj. Idawati yang dititipkan kepada anaknya.

“Mak, bu guru itu sangat baik ya mak!“ Kata Hasyim.
“Iya sayang, sudah lama mamak kenal ibu itu. Dari dulu ibu itu banyak menolong orang-orang di sekitarnya. Bersukurlah kamu bisa mengenal ibu itu.” seru ibunya
“iya mak, Ibu itu baik sekali, semoga beliau panjang umur dan sehat selalu ya Mak“
“Aamiin. Iya sayang,” Jawab ibunya.

Hari pun tampak senja, Hasyim dan Ayah pun akan pergi ke Mesjid untuk menunaikan sholat Magrib.
“Hasyim, ayo kita ke mesjid, udah adzan tuh.” Ajak ayah
“iya ayah, tunggu sebentar Hasyim mau ambil wudu’ dulu” jawab Hasyim sambil pergi ke kamar mandi mengambil wudu
“Iya Ayah tunggu,” kata ayah.

Selang beberapa waktu mereka pun sampai di mesjid melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah.

Setelah makan bersama Hasyim pun langsung pergi ke kamarnya untuk belajar, menyiapkan buku-buku pelajaran untuk besok, dan tidak lupa mengerjakan PR yang diberikan guru bidang studi bahasa Indonesia dan bidang studi Agama Islam.

Karena menemukan ada soal yang kurang dipahami, Hasyim pun keluar dari kamar dan menanyakan materi yang belum dipahami kepada Ayah dan Ibunya.

“Ayah, ini maksudnya apa ya Yah? Hasyim kurang mengerti.” Tanyanya kepada ayahnya sambil menunjukkan buku pelajaran bahasa Indonesia kelas 4 SD yang ada di tangannya.
“Owh ini, maksudnya Hasyim disuruh untuk menentukan nama-nama tempat atau ruangan yang ada pada sebuah pekerjaan atau profesi. Misalnya yang ini gambar ruangan guru, tempatnya dikerjaan mana ada ruangan guru? Di Sekolahkan!” jelas ayah.
“Owh, gitu ya Yah, udah Hasyim mengerti Yah. Kalau ini ruangan resepsionis di mana ya Yah, baru dengar apa itu ruang Resepsionis?” tanyanya kepada ayahnya.
Owh, kalau resepsionis artinya orang yang bertugas penerima tamu. Menurut Hasyim ada tidak tempat orang bekerja sebagai penerima tamu”. Tanya ayahnya.
“Orang yang bertugas menerima tamu, Apa ya?” Pikirnya, dan kurang mengerti juga
“Coba dipikir-pikir orang yang bertugas menerima tamu, ada tidak tempatnya? Ingat waktu kita ke Medan bulan lalu, sebelum ke rumah nenek kita nginapnya kemana?” tanya ayah kembali.
“Oh iya, Hasyim ingat Yah, di Hotel kan yah?” tanyanya kepada ayahnya
“Ya benar, resepsionis itu tempatnya di Hotel“, jawab ayahnya
“boleh juga di kantor atau perusahaan.” Sambung ibunya
“Owh gitu, Terima kasih ya Yah, Mak.” ucapnya
“Iya nak, owh iya Hasyim mau bekerja sebagai resepsionis kalau sudah besar nanti?” tanya ayahnya.
“Kalau jadi Resepsionis Hasyim enggak mau Yah,” jawabnya
“Trus Hasyim maunya jadi apa nak?” tannya ayahnya lagi
“Hasyim maunya jadi Guru aja Yah,” jawabnya
“Kenapa mau jadi guru?” tanya ayahnya kembali
“karena guru itu mulia Yah, trus Ilmu yang diajarkan mengalir pahalanya walaupun nanti sudah meninggal dunia makanya Hasyim maunya jadi guru.
“Baguslah nak, ternyata kamu mengerti tentang cita-cita, siapa yang bilang begitu nak?” tanya ayahnya
“Mamak yang bilang gitu, iya kan ma?” tanyanya kepada ibunya
“Iya sayang.” Jawab ibunya

Selanjutnya setelah Dia mengerti maka dia pun kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan PR yang akan dikumpulkan besok. Setelah selesai PR yang ia kerjakan Ia pun melanjutkan menghapal hapalan yang akan Ia setor besok kepada guru bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dikarenakan dia sudah selesai belajar dan menghapal pelajaran maka dia pun langsung mengambil wudu untuk melaksanakan sholat Isya.

Setelah sholat Isya Ia pun berdoa untuk masa depan dan cita-citanya, kemudian ia melirik jam yang ada di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul 21:40 WIB maka Ia pun langsung berbaring di tempat tidurnya dan tidak lupa membaca doa. Tidak berapa lama Ia berbaring akhirnya ia pun tertidur.

Minggu, 26 Maret 2017

Cerpen Karangan: Hasmaruddin, D.Pd
Facebook: Hasmar Hasyim
Guru di SMP Muhammadiyah Kota Subulussalam

Cerpen Cita Cita Hasyim merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gili Trawangan Sangat “Awesome”

Oleh:
Tepat 1 minggu setelah hari raya kemarin kami sekeluarga berencana untuk menikmati hari raya ketupat dengan Travelling memutari pulau Lombok. Sekitar pukul 07.00 Wita kami berangkat dari rumah nenekku

Perjalanan Hidupku

Oleh:
Namaku Syakila, aku lahir dan dibesarkan di kota yang tak pernah sepi Jakarta namanya. Hari-hariku selalu indah, ditambah orangtuaku yang selalu menyayangiku dengan sepenuh hatinya dan mereka tak pernah

Krayon Keajaiban

Oleh:
Sajakku berhenti, lamunanku terputar kembali tentang warna krayon kehidupan yang pernah beliau berikan. Teringat lima belas tahun silam, aku lahir sebagai peri kecil satu-satunya di gubuk ini, tinggal sebagai

Tinta Hitam

Oleh:
Pepohonan mengibas-ngibaskan ranting seraya mengamatiku tajam. Aku termenung dalam dekapan kesengsaraan yang kini menderaku. Dedaunan berjatuhan pelan, kadangkala mengenai kepalaku yang sedang semrawut. Di bawah pohon beringin ini yang

Novel Dari Kalirejo

Oleh:
Sebelum libur akhir tahun datang, aku mendapat kabar mengejutkan yang datang dari tanteku di desa kalirejo. Katanya kakek sakit keras maka dari itu dia menyuruh ibu untuk datang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *