Cita-Citaku Untuk Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 February 2014

Milkha namanya, lahir di Badung pada tanggal 8 Maret 1997. Kini usianya sudah memasuki 17 tahun, tepatnya kelas 2 SMA. Hidup di sebuah keluarga yang sangat mewah membuat dia merasa sangat berkecukupan dia sangat bersyukur atas semua ini. Milkha adalah anak tunggal dari ayahnya yang seorang direktur utama di sebuah perusahaan, sedangkan ibunya seorang pengusaha baju yang terkenal. Hari-hari milkha lewati, terkadang tanpa seorang ayah dan ibu. Kedua orangtuanya sering bepergian ke luar negeri untuk menjalakan kan bisnisnya. Ia sering merasa kesepian di rumah, tapi terkadang sahabatnya sering menghibur milkha di rumah.

Milkha memiliki 3 orang sahabat yang sangat disayanginya. Namanya lisa, ririn dan keyla. Lisa mempunyai kakak yang bernama rafka, rafka belajar di aussie selama 1 tahun. Tanpa sepengetahuan sahabatnya, milkha menyimpan perasaan tersendiri kepada rafka.

Kebahagiaan ini tak berlangsung lama, 5 tahun lalu sejak milkha masih duduk di bangku sekolah dasar orangtua milkha sering bertengkar karena saling tuduh menuduh. Milkha merasa bingung melihat keadaan orangtuanya. Hingga pada suatu hari keluarganya terasa lengkap ketika kedua orangtua milkha mulai tua. Mereka jarang pergi ke luar kota/negeri.

Tak terasa milkha sudah kelas 3 SMA beberapa bulan lagi milkha akan menghadapi ujian nasional. “Papa, beberapa bulan lagi aku akan menghadapi ujian nasional pah”. “Belajar yang rajin ya nak…” sahut papa milkha sambil tesedak-sedak karena batuk. “Adakah hadiah untukku pah?”. “ada nak, asalkan kamu bisa lulus ujian dengan nilai yang memuaskan” tegur papa milkha. “terima kasih papa, aku akan belajar dengan rajin pah”. “sebenarnya, papa ingin kamu jadi penulis seperti nenek mu dulu nak”. “iya pah, aku juga ingin jadi dokter” jawab milkha.

Sejak saat itu, milkha selalu belajar sangat rajin. Hingga hari-hari ujian pun tiba. Hari demi hari milkha lewati dengan penuh kesabaran. Saat pengumuman tiba, betapa bahagianya milkha ketika melihat nilai milkha ini, dan betapa senangnya orangtua milkha nanti ketika mengetahui nilai milkha ini. Yap, milkha berhasil mendapat ranking 1 se sekolah atas nilai ujian terbaik. Milkha bergegas pulang untuk menunjukkan nilai milkha kepada ayah dan ibu milkha. “Milkha, selamat ya… kamu bisa mendapat ranking 1 se sekolah ini. Kamu hebat sekali milkha” puji lisa. “Iya milkha kamu hebat sekali, aku aja gak bisa seperti kamu” pujian dari keyla. “Terima Kasih teman-teman atas pujiannya, kalian bisa kok menjadi seperti aku bahkan bisa menjadi lebih hebat lagi” sahut milkha kemudian. “ya udah, lebih baik kita pulang yuk, kita kabari orangtua kita di rumah” ajak ririn. “iya ayo, aku sudah tidak sabar menunjukkan ini kepada papa ku” sahut kembali milkha.

Ketika sampai rumah, betapa terkejutnya milkha ketika melihat banyak bendera kuning di depan rumah milkha. Milkha sangat terkejut saat melihat ayah terbaring kaku di ruang tamu dengan muka yang sangat pucat dan banyak saudara- saudara, paman, tante serta mama milkha. Saat itu juga milkha pun menangis di depan jenazah ayahnya dengan pelukan dari ibunya. Tak bisa satu kata pun yang bisa milkha ucapkan, saat ini milkha hanya bisa menangis dan menangis di hadapan ayahnya dan pelukan dari seorang mama. “Begitu cepat papa meninggalkan kita ma” bilang milkha kepada mama, sambil menangis tersedu-sedu. “itu semua kehendak allah nak, kita tidak bisa melarangnya kamu harus mengikhlaskannya ya nak” sahut mama milkha. “tapi ma…”. “Sudah nak, ikhlaskan saja. Mama yakin pasti allah ada jalan yang terbaik untukmu nak” potong pembicaraan milkha. “iya ma..”. “milkha, makan dulu ya. Biar kamu enggak sakit” sahut tante via, tepatnya tante milkha. “…” tak ada balasan sekata pun dari milkha. “sudah sayang, jangan dipikirkan lagi. Setelah makan, kamu boleh menyusul ke makam ayahmu” bujuk tante via. “iya tante, makasih ya tante”. “iya” sahutan tante via.

Sesampainya di kuburan papa milkha, milkha menangis histeris dalam pelukan tantenya. Tante via sengaja tidak mendekatkan milkha ke kuburan papanya, karena tante via tidak ingin melihat keponakan kesayangannya lebih sedih lagi. “Milkha, kalau sudah kita segera pulang ya” ajak tante via. “Tapi tante, milkha masih ingin menemani papa disini” tolak milkha. “Sudahlah milkha, papamu sudah tenang di alam sana” bujuk tante via. “Iya tante”. “Ayo kita pulang sekarang”

Milkha langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur kesayangan milkha. Milkha menangis tanpa henti. Namun yang menjadi pertanyaan milkha adalah, apa yang menjadi penyebab kematian papa milkha. “Apa ya penyebab kematian papa? Sebaiknya aku tanyakan saja kepada mama atau tante via” tanya milkha dalam hati.

Saat itu juga milkha langsung keluar kamar dan segera menghampiri mama milkha, tante via, dan om ali yang sedang duduk di ruang tamu. “Ma, tante, om, milkha boleh tanya gak?” tanya milkha. “Boleh sayang, milkha mau tanya apa?” . “Sebenarnya, apa penyebab kematian papa ma?”. “Setelah divonis oleh dokter, papa kamu terkena tumor. Papa kamu sengaja tidak memberitahu kepada kita semua, karena papa tidak mau kita semua sedih” jawab tante via. “iya milkha, yang sabar ya nak” bujuk om ali.

Tak lama kemudian, lisa, ririn dan keyla datang ke rumah milkha. “Assalamualaikum milkha” ucap ririn. “Waalaikumsalam, eh ririn, lisa, keyla. Ada apa?” jawab milkha. “kita cuman mau njenguk kamu aja kok” sahut keyla. “lihat kita bawa siapa” sambil menunjuk rafka. “rafka” jawab milka terkejut, sambil mengusap air mata. “iya aku rafka, gimana kabar kamu mil?” jawab rafka. “baik kok, kamu kok sudah balik ke sini?” tanya milkha. “iya, aku akan meneruskan sekolah disini” “ohh” jawab milkha singkat.

Milkha tak menyangka bahwa ia sekarang bertemu rafka, sudah hampir 1 tahun ia tidak bertemu rafka. Setelah mereka semua berbincang-bincang mereka semua pun pulang.

Keesokan harinya, milkha harus memilih pendidikan selanjutnya. Berbagai surat universitas pun datang untuk mengajak milkha sekolah di universitas itu. Hari-hari ia lewati dengan kuliah di universitas pilihannya, yaitu jurusan kesastraan 3,5 tahun ia menuntut ilmu disana. Ia telah banyak mengeluarkan cerpen, novel, atau pun karya-karya terkenal. Bahkan, ia juga sempat masuk tv karena karya nya. Dan akhirnya, milkha sukses dan menjadi penulis yang terkenal sesuai apa yang di inginkan ayahnya. “Ma, aku bangga bisa jadi apa yang papa inginkan” ucap milkha. “iya sayang, mama juga bangga” sahut mama milkha. “andai papa masih ada ya ma, pasti ayah bangga sekali” ucap milkha. “Lebih baik kamu tidur saja, besok jangan lupa kita ke makam papa ya nak. Terus jangan lupa kamu do’a kan papa mu setiap selesai sholat ya” ajak mama milkha. “Iya ma”.

Sejak saat itu, milkha selalu mengeluarkan karya terbarunya setiap bulan. Milkha juga menjadi contoh calon penulis-penulis saat ini. Selain itu, milkha sudah telah memilki keluarga barunya yaitu rafka sebagai suaminya.

Cerpen Karangan: Nadila G
Facebook: Nadila Gyeralda

Cerpen Cita-Citaku Untuk Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu Kompak

Oleh:
“Kenapa sih kalian berantem terus!? Coba sekali-kali kompak! Bunda capek kalau kalian begini terus!?” ujar bunda jengkel. Ferly dan Lyta tertunduk. “Kalian kembar. tapi kelakuannya selalu bertentangan! Harus ada

Negeri di Awan

Oleh:
“Ini cerita tentang negeri di awan. Sebuah istana dengan dinding batu berdiri kokoh di antara gumpalan awan putih yang lembut. Pepohonan hijau dan bunga warna warni mengelilingi istana tersebut.

Seakan Tuhan Tak Adil

Oleh:
Terkadang kita hidup seakan merasa sendiri walau banyak orang di sekeliling kita. Entah mengapa itu yang aku rasakan saat ini, aku memang anak terakhir dari 6 bersaudara dan kelima

Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku

Oleh:
Seraya bulan mengitari bumi, malam itu aku dan adikku aliyah sedang menonton televisi. Oh ya, perkenalkan, namaku ika, aku anak sma kartika rinaf bangsa, aku kelas x. A, kelasku

Sederhana Saja

Oleh:
Sekarang aku disini, menimba ilmu di kota sendiri. Gagal menjadi anak rantau seperti kebanyakan teman-temanku. Gagal menjadi anak yang bisa lebih mandiri tanpa bergantung pada orangtua dan keluarga. Berkali-kali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *