Citaku Dalam Sakitku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2013

Duniaku, terasa sangat berbeda dari yang lainnya. Duniaku yang kelam, sunyi, dan lara. Aku selalu bermimpi di setiap detikku, berangan setinggi mungkin bersama penyakitku. Ya, paru-paruku meradang sejak aku berumur 5 tahun, dan kini.. paru-paruku sudah berlubang. Aku hampir kehilangan harapan untuk hidup, setelah mendengar perkataan Dokter, bahwa jika sudah terinfeksi seberat itu, obat-obat tidak akan mempan sama sekali, Atau bahkan.. penyakitku itu tak akan bisa sembuh seumur hidup.

Aku dilarang keras untuk keluar dari rumah sakit. Rasanya tertekan sekali seumur hidup tidur di tempat mengerikan itu. Aku hanya bisa termenung dalam kesedihanku, dengan menulis sesuatu. Cerita, surat-surat untuk teman kecilku, terutama puisi. Sedari kecil, aku ingin sekali menjadi penulis puisi atau syair terkenal. Memang sih, diksi puisiku tak selalu tepat dan tak sepuitis yang kuharapkan, tapi.. aku akan tetap menulis puisi di sepanjang hidupku, dengan hati.

Aku selalu kesepian, apalagi tanpa kehadiran Mama. Mama sudah meninggal tepat setengah jam setelah aku lahir di dunia. Aku ingin melihat Mama, memeluk Mama, bercanda dengan Mama, dan tentunya selalu ditemani Mama dalam keadaan seperti ini. Aku sudah menyiapkan sebuah puisi dan sepucuk surat untuk Mama. Semoga, aku bisa menyampaikannya sesegera mungkin.
Syukurlah, Papa selalu menjengukku tiap malam, menyemangatiku, dan menyuapiku.

“Shifa, kamu harus kuat, Nak. Jangan hiraukan apa kata Dokter. Papa yakin, tidak lama lagi, kamu bisa meninggalkan rumah sakit.” kata Papa.
“Ya, Pa. Tapi.. kalau Shifa sudah tidak kuat, Papa janji untuk ikhlas, kan?” kataku.
Papa menangis mendengarkan perkataanku. “Pa.. maafkan Shifa, ya 🙁 Shifa belum bisa menjadi putri Papa yang baik. Shifa minta maaf..” lanjutku.
Aku pun tertidur bersama Papa.

“Kamu sudah bangun, Nak?” tanya Papa. “Iya, Pa. Oh iya Pa, Shifa boleh minta satu hal, tidak?” tanyaku.
“Apa itu, Nak?” tanya Papa.
“Besok, Shifa ingin melihat Mama di makamnya. Boleh kah Pa?” tanyaku.
“Tentu, Nak.” kata Papa tersenyum.
Tiba-tiba, dadaku terasa sakit sekali. Nafasku sesak, dan penglihatanku mulai buram. Aku pun dibawa ke UGD. Papa mulai panik, dan cemas akan keadaanku. Tak lama kemudian, Dokter bersama Susternya keluar dari Ruang UGD, dan berkata, “Sudah tidak dapat ditangani lagi, Pak. Hidupnya sudah tak lama lagi, maaf, kami sudah berusaha sekuat tenaga.”
Papa tertunduk kecewa. Aku sempat mendengar perkataan Dokter dari dalam. Aku merasa sedih dan putus asa. “Sebentar lagi.. aku akan menemui Mama di surga.” gumamku.

Esoknya, aku dan Papa pergi menuju ke makam Mama. Aku hanya dapat terduduk lemas di atas kursi roda. Akupun mulai meneteskan air mata. Aku meminta bantuan Papa untuk meletakkan sebuah amplop dan bunga di atas makam Mama. Ternyata, benar apa kata Dokter. Pernapasanku sudah tak lagi teratur. Mulailah mengucur keringat dingin di keningku, dan seketika denyut nadiku berhenti. “Selamat tinggal, Papa.. Aku sangat menyayangimu. ”

“Mama.. Bagaimana kabarmu di sana? Baik-baik saja, bukan? Aku di sini bersama Papa baik-baik saja. Ma, akhir-akhir ini, aku tidak bisa tertidur lelap. Seandainya, Mama hadir untuk menemani tidurku saat itu, pasti.. aku akan tertidur lelap dengan cepatnya. Mama, sebentar lagi, aku akan meninggalkan Papa dan akan menyusul Mama di sana. Shifa janji, akan selalu membuatkan Mama puisi di Surga. Sampai jumpa, Mama. Terimakasih telah memberikanku kesempatan untuk dapat merasakan keindahan dunia walau dalam sekejap. Aku sangat menyayangi Papa dan Mama”

SELESAI

Cerpen Karangan: Annisa Berliana Dewi
Facebook: Annisa Berliana Dewi
Hihi, hobiku menulis dan sedikit gemar membaca ^_^ Maaf cerpenku kurang memuaskan, Enjoy Reading~!

Cerpen Citaku Dalam Sakitku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teruntuk Bapak

Oleh:
Bangunannya hampir roboh, cat yang menempel pada permukaan mulai mengelupas, warnanya pun memudar, daun kering berserakan, tiang penyangga tak sekuat dulu lapuk termakan usia, rumah yang dulu sangat indah

Liburan di Rumah Sakit

Oleh:
Hari ini kebahagianku bertambah. Mama menawariku wisata ke pantai Bali karena aku mendapatkan peringkat pertama di sekolahan. “Asyik, besok aku ke Bali jadi besok aku bisa bercerita ke teman-teman

Antara Cinta dan Idealisme

Oleh:
Ini adalah sebuah era dimana tidak ada kesetaraan… Sebuah era dimana tidak adanya kepusaan dan kepercayaan… Sebuah era yang penuh penuh dengan diskriminasi… Era dimana kita dilihat berdasarkan siapa

Daddy O Daddy

Oleh:
Inilah rumahku, rumah yang penuh “kejutan”. Kejutan? yah, “Kejutan”. Di rumah ini aku tinggal bersama Daddy dan Mom-ku¬, ada juga beberapa penjahat kecil yang mengaku dirinya sudah dewasa yang

Terima Kasih Abang

Oleh:
“Woy, mau ke mana lo. Buru-buru amat” Yang menyapaku ini Destia Ayuna Putri, teman sepermainanku dulu waktu masih duduk di bangku sekolah. “Biasalah ngantar makanan ke rumah Kakak” Ujarku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *