Crazy Autumn (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 April 2016

Musim gugur. Daun-daun ketika itu juga dilihat dengan berbagai macam pandangan. Ia terlihat indah ketika melayang, meliuk, berhembus lembut menggapai tanah. Tak hanya itu, kerap kali beberapa orang yang terlalu dramatis pun memandang mereka iba. Daun-daun itu terlepas dari kehidupan mereka, terseok-seok mayatnya ketika disapu oleh penyapu jalanan, dan berakhir di sebuah tempat pengap, gelap, dan bau. Tong sampah.

Seperti daun-daun itu, ia pun tak jauh berbeda. Ia hidup, tapi terasa mati. Ia lemah, tapi tetap terlihat kuat. Ia dibekap dalam satu penjara tak nyata, keterbatasan. Ia dikungkung oleh kegelapan pikiran, tapi tetap merasa bebas. Aku tak pernah mengerti jalan hidupnya, aku tak pernah mengerti alur pemikirannya, aku tak pernah mengerti apa yang menjadi tujuan hidupnya. Tapi aku mengerti satu hal tentangnya, bahwa ia pernah menyayangiku lebih dari apa pun. Bahkan lebih dari apa yang pernah menjadi kesayangannya sebelum ini. Meskipun aku menyebutnya dengan kata ‘pernah’, apa yang ku dapatkan darinya lebih dari sekedar membekas, tapi menjadi sesuatu yang nyata yang ku rasakan untuk selamanya. Sampai kapan pun.

Aku memandang ke luar jendela dari ruangan putih ini. Daun-daun itu gugur lagi. Dan aku tak dapat memungkiri diriku yang dramatis. Menusuk. Menyamakan ia yang juga telah gugur dalam perjuangan melawan pemberontakan dalam jiwanya sendiri. Orang-orang tertawa riang di jalanan sana bersama pasangan, anak-anak mereka, keponakan mereka, cucu-cucu mereka dan kerabat-kerabat mereka menikmati kepedihan sehelai daun yang meringkih di udara. Aku membuka jendela, lalu melongokkan kepala untuk melihat lebih jelas bagaimana mereka membuat daun-daun itu terlihat lebih menyedihkan. Mereka menertawakannya dan tanpa mereka sadari bahwa daun-daun pun telah mendesiskan kutukannya untuk mereka. Dua menit aku membantu para daun untuk mengutuk mereka yang bersenang-senang ketika musim gugur tiba. Menyumpah serapahi mereka, mengejek-ejek mereka, dan memandang mereka satu per satu dengan sinis.

“Grrr.. bodoh!! Bangs*t!! Jangan sekali-sekali kau dekati bocah itu!!”

Aku menoleh cepat. Saking cepatnya sampai terasa bergemelutuk tulang leherku. Kaku pada akhirnya. Ia berkata-kata lagi, dengan bebasnya meski tanpa ia sadari telah mengiris jiwaku sedikit demi sedikit. Bahkan kini, bagian yang telah ia iris terlihat lebih banyak dibanding sisanya. Mungkin akan lebih cepat pula aku meniru tingkahnya, meniru kehidupannya, dan meniru bagaimana cara ia mendapat kebebasan yang tak terbatas.

“Kau!! Sudah ku bilang ratusan kali, jangan dekati anak itu!! Kau akan menyesalinya!! Kau akan menyesalinya!!” dengan begitu bebasnya ia terbang mengelilingi masa lalu. Histeris. Menjerit. Tak peduli dipandangi bagaimana oleh orang-orang di sekelilingnya. Toh mereka sama-sama berada pada kebebasan yang tak terjangkau oleh jiwa-jiwa yang berada pada akal sehatnya. Aku memejamkan mataku erat-erat, tak ingin kedua bola mata ini menyaksikan bagaimana ia telah menelan habis jiwa tenangnya, tak ingin menatap ia yang tengah memuntahkan segala kebebasannya yang tak masuk akal. Gemetar. Dan berkucur lagi keringat melewati pelipis seperti hari-hari sebelumnya. Salah satu yang sudah menjadi resiko ketika aku menjenguknya.

Di ruangan pengap ini, cahaya redup yang menelusup di salah satu ventilasi, sarang laba-laba yang bertengger di langit-langit, dan teriakan-teriakan orang gila menjadi pemandangan luar biasa yang mengerikan, mengedikkan, mengernyitkan. Andai kata masa lalu dapat dimusnahkan maka apa pun akan ku lakukan untuk memusnahkannya. Agar aku bisa melihatnya tenang kembali, berbalik terhadap jiwanya yang dulu, pulang ke rumah membawa senyum bahagia kami. Sering terbesit dalam sebuah mimpi, aku digendongnya kembali, lalu diangkat dan diputar-putar di atasnya seperti lima tahun yang lalu. Tapi semua lagi-lagi hanya ibarat daun yang telah putus dari rantingnya tidak dapat disambung kembali, semua telah terjadi dan tidak dapat diperbaiki sebaik semula. Aku hanya dapat memperbaikinya dengan cara seperti ini, dengan caraku sendiri, dengan membalas kasih sayangnya yang telah ia ajarkan padaku dulu.

Tangan ini beranjak menutup jendela, bosan dengan pemandangan musim gugur yang tiap tahun hanya bisa menyayat perasaan saja. Ruangan sempit ini pun semakin gelap dan pengap. Aku bahkan sempat terkagum-kagum pada penghuni bangunan ini yang selalu tampak sehat fisiknya meski ditelantarkan bertahun-tahun dengan udara sumpek dan pemenuhan kebutuhan seadanya. Tapi mengingat apa yang sebenarnya terasa sakit pada diri mereka, yakni jiwa mereka, kepalaku langsung merasa pusing. Perlahan, selanjutnya apa yang terjadi adalah yang biasa ku lakukan ketika menjenguknya. Ia akan menatapku ketika menyadari derap langkah yang mendekatinya. Aku berjongkok di hadapannya yang tengah bersandar pada salah satu sudut ruangan dalam keheningan yang dingin. Hingga pada detik selanjutnya mata kami berserobok saling menyapa, mengalirkan selaut rasa satu sama lain dalam kilatan yang berbeda.

Namun ia tak pernah memberontak ataupun marah ketika aku bertingkah seperti ini terhadapnya, berbeda jika dengan salah seorang perawat yang menghampirinya untuk mengecek keadaannya pada sekali waktu. Seolah berbicara dalam bahasa bisu, kami mengerti perkataan yang tak terkatakan. Meski itu hanya terjadi beberapa detik, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ia masih menyimpan kasihnya untukku hingga saat ini. Selanjutnya dapat ditebak, ia akan menggerung-gerung kembali, berkata-kata kasar dan memelototiku sampai puas dan ia akan merasa bebas.. atau malah semakin histeris. Dalam bening kristal matanya dapat terlihat begitu gamblang olehku bagaimana perihnya masa lalu itu. Tatapannya selalu seperti itu, menusukku, membakar, dan melelehkan kembali cairan bening yang telah cukup lama ku tahan sebelumnya.

Lima tahun lalu…

Ketika kehidupanku dianggap menjadi kehidupan terbaik dengan segala sesuatu yang terpenuhi, aku mencintai semua orang. Ayah, Ibu, adikku Samuel, dan Bibi Carl yang selalu membantu mengerjakan pekerjaan rumah keluarga kami. Aku mencintai mereka. Ayah bekerja sebagai pelukis dan selalu mengadakan pameran setiap enam bulan sekali. Lukisannya berbeda-beda aliran, tapi selalu dibubuhi tulisan kecil ‘Arthur and Samuel’ di setiap sudut lukisannya dan aku bangga namaku tercantum di sana. Ibu seorang jenius di bidang marketing, IQ-nya tinggi dan ia punya senyum yang menawan untuk Ayah. Sementara Samuel, meski ia mengidap polio semenjak kecil, semangatnya tak pernah surut untuk menjadi seorang pemain biola yang handal. Aku sendiri cukup dengan kemampuan berlariku yang di atas rata-rata untuk bisa mengejar seluruh kebahagiaan di dunia.

Musim gugur, musim dingin, musim semi, dan musim panas hampir tak ada bedanya karena kami selalu merasa bahagia setiap hari. Di musim gugur, aku akan berkejaran dengan daun-daun kering itu, menari-nari di bawah pohonnya sambil berputar-putar membentangkan tangan. Di musim dingin, aku akan duduk di sofa sambil melipat kaki sementara mulutku sibuk menyeruput cokelat panas buatan Ibu. Di musim semi, aku akan membantu Bibi Carl menyiram tanaman di kebun, lalu Ayah akan sibuk memotong rumput hias di halaman mengubahnya menjadi bentuk-bentuk yang indah. Dan di musim panas, kami sekeluarga akan menghabiskan liburan di pulau tropis. Sungguh, tak ada yang lebih membahagiakan kecuali saat-saat seperti itu. Ketika aku berharap agar semuanya tetap sama dan terasa menyenangkan, mimpi buruk itu mulai berangsur menjadi kenyataan.

Pada suatu siang, Ayah meneleponku ketika aku berada di dalam kelas, padahal saat itu masih termasuk jam belajar. Ia menyuruhku pulang dan suaranya terdengar panik. Terpengaruh dengan nada cemasnya, aku pun buru-buru memasukkan semua bukuku ke dalam tas dan meminta izin pada seorang guru yang tengah mengajar saat itu. Di perjalanan aku terus bergumam dalam hati, pikiran seolah terbang menghinggapi satu per satu kemungkinan mengapa Ayah menyuruhku pulang dengan tergesa-gesa seperti itu. Aku tak bisa tenang, terlalu gelisah untuk dapat berbicara pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja ketika aku sampai di rumah.

Mimpi-mimpi buruk itu terus berterbangan mengepak-ngepakkan ketakutannya di dalam otakku. Sebelumnya aku tak pernah percaya jika membaca kutipan pada sebuah novel –hampir semua novel- yang mengatakan bahwa si tokoh dalam cerita hanya dapat mendengar detak jantung dirinya saja ketika dalam keadaan gugup, gemetar, ataupun cemas. Tapi sekarang aku mengaku salah, aku percaya hal itu bukan hanya imaji seorang penulis saja yang begitu hiperbola. Karena sekarang, aku sendiri mengalaminya. Hingga kaki ini menapak di teras rumah, untuk pertama kalinyalah aku mengutuk orang serumah karena mereka seolah tak pernah diajarkan sopan santun untuk menyambut seseorang yang baru saja datang.

Samuel telah tiada. Samuel sudah pergi. Samuel sekarang tenang berada di jauh sana, di tempat yang indah… sebegitu mudahkah mereka berucap omong kosong? Kalaupun mereka ingin mengerjaiku, hari ini bukanlah hari yang tepat karena hari ini bukanlah hari istimewa. Aku merasa kesal dan kecewa pada mereka. Bodoh sekali. Namun otak ini mulai mengoceh tak jelas, kehilangan akal sehatnya sedikit demi sedikit tatkala melihat Samuel yang sudah terbujur kaku dan kini bertengger pucat di petinya. Aku tertegun, terpatri di tempat. Mereka benar, mereka tak sedang mengerjaiku. Lututku lemas tak bertenaga. Ini adalah kali pertama aku kehilangan seseorang dalam hidupku. Dan aku tak pernah rela untuk hal itu karena yang terjadi selanjutnya hanya mimpi buruk belaka.

Seperti membawa segalanya, Samuel pergi membawa semua kebahagiaanku. Tak pernah lagi, wajahku seceria dulu. Aku sempat frustasi ketika polisi menyangka Bibi Carl yang melakukan semua ini, mendorong Samuel dari balkon atas dan membunuhnya. Bibi Carl sempat ditahan namun kemudian dibebaskan kembali karena memang tak ada bukti ketika itu. Setelah itu Ia tak pernah lagi kembali ke rumah keluarga kami. Mungkin trauma. Ayah dan Ibu mulai berbeda. Aku mulai kesepian karena mereka tak pernah bercanda ria lagi sejak itu, hanya ada tegur sapa biasa. Dadaku mulai nyeri. Setengah tahun Ayah menganggap Ibu seolah tak ada, bahkan tak pernah ada. Tapi aku juga kasihan kala melihat kilat matanya yang malah seakan tersakiti seperti diriku. Lebih kasihan lagi, ketika aku melihat mereka yang sepertinya saling menyakiti diri masing-masing. Lalu, apakah mereka sadar bahwa yang sebenarnya tidak dipedulikan di sini adalah aku?

Hari-hari mulai terasa beku bagiku meski sekarang bukanlah musim dingin. Aku tak pernah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya bisa menutup seluruh inderaku untuk tetap bisa bertahan dalam situasi ini. Musnah semua sandaran, hanya bintang di malam hari yang menjadi teman bicaraku semenjak itu. Langit tak ayalnya seperti Ibuku sendiri, dan rasa benci menjadi layaknya seorang Ayah yang mengendalikan tindakan. Aku di luar kendali, bersama kekosongan, aku kehilangan kemampuan berlariku untuk mencapai semua kebahagiaan. Aku, Ibu, dan Ayah tidak peduli lagi pada perasaan Samuel di jauh sana.

Awal musim semi adalah seperti akhir untukku. Ayah seperti mata-mata, mengawasiku setiap saat, bahkan melarang Ibu untuk menjemputku di sekolah. Namun serasa diremas lagi dada ini ketika melihat ia menampar Ibu hanya gara-gara Ibu ingin memasakkan sesuatu untukku. Aku menunduk, menenggelamkan wajah ini pada legamnya langit saat itu. Mereka berdebat… dan itu karena aku. Sejak saat itu, setiap masalah timbul seolah karena aku. Aku si pembuat masalah atau mereka yang mempermasalahkan tektek bengek yang ada padaku?

Perlahan, benciku berpindah hanya kepada Ayah seorang. Ibu ternyata peduli denganku, dan diam-diam sering membuatku untuk kembali ceria lagi seperti dulu. Ayah hanya seorang diktator yang parasnya selalu ditakuti oleh istri dan anaknya. Jika Ibu dan aku ketahuan duduk dan tertawa gembira bersama maka ia akan marah dan langsung menarikku dengan tatapannya yang tak dapat ku mengerti. Seolah aku hanyalah milik Ayah seorang, ia tak membiarkan siapa pun mendekatiku. Hidupku disayat pelan oleh ketakberdayaan dan kebrutalan rasa untuk semua orang. Terakhir, aku menjadi seorang yang apatis dan tidak lagi berlari secepat kilat melainkan merangkak terseret-seret oleh sesosok Ayah yang otoriter.

Ku pikir musim gugur adalah perpisahanku dengan dunia yang penuh dengan harapan dan pijakan. Malam itu, ketika angin tengah mendekapku, menjagaku dari kekosongan diri, sepekikan jeritan membuatku terjaga dari mimpi. Untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa kebahagiaan yang dulu ku rasakan hanyalah sepenggal mimpi belaka. Untuk pertama kalinya aku menjerit pilu membelah langit malam. Untuk pertama kalinya pula seluruh tubuh serasa kelu sekaligus sakit seperti dicambuk ketika ku temukan Ibu telah berlumur darah di sekujur tubuhnya, dengan di hadapannya Ayah terengah dan mencoba mengatur napasnya. Ayah membunuh Ibu. Ayahku seorang pembunuh…

Aku berlari ketakutan, meringkuk di sudut kamar. Keinginan untuk tetap hidup dan mati secepatnya berputar-putar di kepala. Keringat hampir membungkus tubuhku dengan sempurna. Dinding seolah akan roboh oleh gemetarnya diri ini. Di balik keremangan kilat yang menyambar-nyambar di luar sana, aku dapat melihat jelas bagaimana Ayah terseok-seok mendekatiku dengan pisau yang masih bertengger di tangannya. Darah Ibu menetes di sana, dan Ayah berjongkok di hadapanku. Bergemuruh jantungku menunggu giliran mendapat sayatan pisau dari seorang Ayah yang dulu amat ku sayangi. Ku kira malam ini adalah malam terakhirku menatapnya, ku kira malam ini adalah puncak kegilaannya, dan ku kira tak akan pernah ada yang akan mengungkap kekejaman ini.

Namun, ketika ketakutanku telah mencapai ubun-ubun, siap tidak siap menerima takdir yang dipaksakan, Ayah malah membanting pisaunya. Dan untuk pertama kalinya lagi aku melihatnya tersedak-sedak karena menangis. Ayah menangis, dan ingin ku gunakan kesempatan yang ada untuk membunuhnya, membalaskan dendam Ibu kepadanya, membalaskan kekejamannya selama ini memisahkan aku dengan Ibu. Tapi setengah detik kemudian aku kehilangan kesempatan itu karena ia secepat kilat memelukku erat, memohon maaf kepadaku berkali-kali, beratus-ratus kali, hingga tak dapat ku ingat telah sampai pada hitungan berapa ketika aku akhirnya tertidur di pangkuannya.

Bangun di atas pangkuannya tidak seperti bangun dari mimpi buruk yang terjaga. Ayah tidur dengan posisi setengah duduk, wajahnya mengkilat dipenuhi keringat, rambutnya kuning disiram lentera pagi, dan kaus lengannya merah dikucur warna darah. Aku terhuyung, merasakan pening luar biasa dan mual. Ruangan ini, ruang kamarku telah menjadi saksi sebuah jiwa yang dihujam derita, nurani yang dipilin benci, sebuah cerita tentang lenyapnya seremah cinta yang tersisa. Aku menatap nanar kedua sosok yang mati di hadapanku ini, Ibu dengan raganya yang mati, dan Ayah dengan nurani yang mati. Kosong. Dan rasaku yang telah melompong, bolong, melolong, kosong.

Bersambung

Cerpen Karangan: NIka Lusiyana
Facebook: Haruka Yuzu

Cerpen Crazy Autumn (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kakak Si Kutu Buku

Oleh:
Kring… Kring, suara jam beker pukul 04.30 berbunyi. Tasya segera mengambil air wudhu dan menunaikan kewajibannya dan pukul 05.00 Tasya membaca-baca majalah terkini. Anak pejabat ini memang seorang Fashionable

Different (Part 1)

Oleh:
Embun itu terus membuat tatapan Keyzie kosong, French toast yang dilapisi selai cokelat hazeulnut impor yang dibeli Papa-nya ketika berkunjung ke Australia tak kunjung habis, angin yang memakan kehangatan

Kemalangan Seseorang

Oleh:
Saya punya sahabat, namanya Lisa, Risa, dan Rista. Lisa mengajak kita untuk menghabiskan malam tahun baru bersama-sama dan bersenang-senang untuk melepas beban di kepala kita setelah perang dengan soal

Kakek

Oleh:
Malam ini terasa sepi, sunyi. Hanya terdengar jangkrik bernyanyi. Semuanya terasa hampa. Seorang gadis sedang duduk di dekat jendela kamarnya. Lia nama gadis tersebut. Ia sedang memandang ke arah

Bintang Utama

Oleh:
Adeeva Point Of View Ini aku, sang bintang utama. Aku pemegang peran utama pada cerita ini. Namaku Adeeva Afsheen Myesha. Aku hidup serba berkecukupan. Aku cantik dan selalu menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *