Cukup Disadari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 July 2013

Kak Zain harus pergi, sekarang! Ya, untuk sebulan ke depan. Dia saudara kandungku satu-satunya. Lalu, aku bercerita pada siapa?
Kak Zain Permana Pratama, masih SMA kelas 2 di SMAN 3 Bandung. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang, tentu saja ganteng! Kakak yang ku banggakan ini sudah mandiri. Dengan kepintarannya dalam bidang Matematika, Bahasa Inggris, dunia permodelan. Ia sudah bisa membiayai sedikit-sedikit sekolahnya sendiri sejak masuk SMA. Ia sungguh membanggakan.
“Dek, kakak berangkat dulu! Mau salim gak?” tanyanya di suatu sore sebelum ia pergi olimpiade Matematika di Palembang tingkat Nasional. Aku segera menyambut tanggannya. “Do’ain, biar kakak menang lagi!” lanjutnya diikuti senyum harapan.
“Sip, kak, sip! Adek kan baik, gak pelit kayak kakak. Jadi nanti adek do’ain.” Gelagak tawa menggelagar bahagia ditengah-tengah kehidupan kami.

Sejak kecil, aku memang sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu menolongku saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajarkanku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal baik, menyenangkan, dan berarti banyak untukku.

Saat aku masuk sekolah, tibalah awal hal yang membuatku berpikir panjang untuk memusnahkan suatu hal yang menurutku sebuah kejanggalan. Ya, ada guru pindahan dari kota Medan. Mungkin di sekolah SMP IT ku, dia menjadi sesuatu hal yang sangat istimewa. Guru itu selalu di andalkan oleh semua murid perempuan. Ku akui, ia memang ramah. Tapi, dengan gaya-gayanya yang menurutku tak pantas untuknya, masih saja di pakai. Ia selalu menyombongkan dirinya, kekuatan dan kelebihannya. Dengan sifat “Sok Cool” dia menebar pesona setiap harinya. Aku tau, guru-guru wanita di sekolahku ikut mengkhayal tentang guru baru yang mengajar pelajaran IPS. Sampai sekarang, aku tak tau, apa kelebihan yang pantas di banggakan darinya.
“Sya, tu sya.. pak Iqbal!” tunjuk sahabatku, Lely, yang berpendapat sama denganku, tentang guru baru itu.
“Hahh.. iya?! Aduhhh… ngapain sih, pake masuk segala?!” Responsku seraya ber’aduh’. Rupanya dia sudah sembuh dari penyakit flu yang ganas menurutnya.
“Tau gak? Tadi malem, aku liat status-status facebook pak Iqbal. Katanya ban mobilnya pecah pas dia beres ikut meeting organisasi mahasiswa Medan-Bandung.” Seru Lely.
“Halahhh… sok sibuk banget sih, tu guru!”
“Lebih tepatnya lagi, eksis dan foto-foto lebaynya itu, bikin aku malas untuk diajar sama tu orang!”

“Anak-anak, apa kalian tadi malem sudah baca materi untuk hari ini?” sapanya dengan senyum yang menurutnya tampan.
“Udah pak, udah!” jawaban Ika, salah satu fans Pak Iqbal, sangat membuat guru itu semakin percaya diri atas apa yang dimilikinya. Ika memang absolutely crazy pada guru baru itu. Selalu membenarkan apa saja yang di ucapkan Pak Iqbal. Sekali pun itu salah. Memang aneh..

Aku ragu untuk berpikir dan bertindak, saat dilemma itu datang padaku. Mungkin rembulan tau, apa yang ku gelisahkan waktu ini. Aku rindu Kak Zain. Biasanya setiap sehabis sholat maghrib, kami selalu membaca dan muroja’ah hafalan al-Qur’an yang sudah kami hafal di sekolah, atau dimana pun itu. Tiba-tiba, di tengah-tengah lamunanku merindui Kak Zain, aku teringat Oom Aziz yang ada di Jakarta. Ia adik terakhir dari Bunda. Kakek-nenekku memiliki 5 anak, dan Bunda, pengais bungsu dari lima bersaudara. Walau umur mereka jauh, tapi itu tak menjadi halangan untuk tetap dekat dan saling menyayangi satu sama lain.

Setiap hari, tak ada bosannya aku berdiskusi, lebih tepatnya lagi bisa dibilang bergunjing karena sifat ketidaksukaan kami dengan guru tersebut. Aku dan Lely banyak bercerita tentang apa pun itu. Hingga menyangkut-pautkan hal-hal tentang Pak Iqbal Hikman Pakpahan. Tak lelah pula, kak Zain mengingatkanku untuk tidak lagi mempersoalkan ini. Sebab, itu bisa membuat kami keluar karena tidak betah berlama-lama di SMP IT ini. Hmm… dan pasti, dosa kami akan selalu bertambah dengan diskusi sesat yang selalu kami lakukan. Aku tahu itu. Tapi, takan ada yang bisa mengahalangi kami untuk bertindak sedemikian rupa. Karena kami sudah besar, ohh.. ya, pantas dibilang “remaja”. Dan kami sedang mencari jati diri. Pencarian yang weird!

Tak terasa, satu bulan sudah kak Zain pergi dari rumah. Dan hari Ahad ini, waktunya kak Zain pulang. Aku ikut Bunda menjemput kak Zain di Bandara. Sesuatu hal yang sangat mengharukan. Kak Zain menang tingkat nasional dalam bidang Matematika pelajar SMA! Aku sangat bangga padanya. Segera ku peluk dia saat pesawat baru mendarat dan kak Zain turun dengan senyumnya yang khas.
“Ini semua berkat adeknya kak Zain..” sambutnya memeluk erat dan mencium keningku, tanda bahwa ia pun rindu padaku.
“Kak, seneng banget kakak jadi nomor satu bidang Matematika di INDONESIA!”
Bahagia selalu menyapa kehidupan kami. Dan kini tiba saatnya liburan semester. Aku belum punya rencana apa pun untuk mengisinya. Mengajak Ayah pergi, sama saja memancing kemarahan si raja hutan. Sebenarnya, Ayah takkan main tangan. Tapi, Ayah tidak bisa dipaksa berlibur, bila belum waktunya tugas ditinggalkan. Ayah harus memantau perkembangan kebun teh kami di Bogor. Ayah juga harus melihat situasi dan keadaan rumah makan yang bercabang, yang ayah miliki. Ayah memang tak bisa meninggalkan kesempatan berbisnis. Katanya, peluang itu takkan datang untuk kedua kalinya. Dengan harta yang melimpah-ruah. Ayah tak setuju kalau kak Zain membiayai sekolahnya sendiri.
“Itu sama saja menghina Ayah, Zain. Ayah berbisnis, untuk apa? Untuk kamu, juga adik kamu, buat anak-anak ayah. Ayah sayang sama kalian. Kau memang anak yang membanggakan. Tapi tolong ikuti kata-kata ayah.” Jelas ayah di suatu hari.
Ya. Setelah kami berpikir dan merasakan. Ternyata kami merindukan paman kami satu-satunya, dan Kakek-nenek dari Bunda. Maka kami putuskan untuk berlibur ke Jakarta dan di lanjut pergi ke Lembang, rumah kakek-nenek. Oom Azizku memang pintar. Di kuliahnya yang sekarang telah memasuki semester dua, masuk jurusan kedokteran di Universitas Indonesia. Dengan ketampanan dan kesholehannya yang begitu memesona, dapat membuat 80% wanita jatuh cinta. Karena tinggi badannya yang semampai hingga 182 cm, dengan kacamata minus yang selalu ia kenakan, dan kulit putih (dikalangan laki-laki), serta-merta intelektual tinggi yang mampu membawanya pada kesuksesan. Kuliah pun, kakek-nenek tak mengeluarkan biaya untuk Oomku yang satu ini. Semua beasiswa bersih.
“Hallo.. assalamu’alaikum. Ziz, Zain-Tasya mau liburan ke rumah kamu di Jakarta.” Telepon Bunda memberitahu tentang rencana kami.
“Wa’alaikumsalam. Iya, tafadhol, kak. Kebetulan nih, Aziz lagi gak sibuk. Kapan ya, kira-kira?” ternyata Oomku sangat menyambutnya dengan ramah dan kasih sayang.
“Hmm.. katanya sih, nanti hari rabu. Tapi, kakak gak bisa nganter anak-anak ke Jakarta.”
“Tenang aja, kak. Aziz nanti yang jemput mereka.”
“Ooh… ya sudah, Alhamdulillah. Jaga kesehatan ya, Ziz. Musim sakit. Wassalamu’alaikum.” Tutup Bunda
“Wa’alaikumsalam. Baik, kak.”

Dan tiba hari Rabu. Pukul 7 pagi, Oomku sudah sampai di kota kami. Hawa dingin masih menyelimuti kota Bandung. Klakson berbunyi, tanda Oom sudah berparkir di depan gerbang rumah kami. Segera Bunda membantu membawakan barang-barang yang kami siapkan tadi malam, untuk di masukkan dalam mobil Oom Aziz. Setengah jam, cukup untuk kami merapikan seluruhnya. Dan Oom Aziz, siap untuk meboyong kami ke kota Metropolitan.

Kami harus bersyukur karena sejak tadi, tak ada kemacetan yang menghadang. Maka dengan waktu kurang lebih 3 jam, perjalanan kami selesai. Kami bisa bersantai sejenak di ruang tamu rumah Oom. Dan tak lama, aku membawa barang-barang ke kamar yang khusus ku tempati saat aku berkunjung ke rumah Oom Aziz. Dengan waktu satu minggu, kami di ajak kesana-kemari, tempat menarik mana pun, tak kami sia kan. Kami pasti berkunjung.
“Om, kapan om Aziz nikah?” Tanyaku tiba-tiba saat perjalanan ke Taman Ismail Marzuki. Karena tempat dudukku di mobil, terletak di bagian baris kedua, maka aku harus menanyakannya dua kali. Mungkin Oom Aziz tak mendengar karena terlalu serius mengemudi mobilnya.
“Ooommm…” teriakku.
“Eh, astaghfirullah! Iya, ada apa, Sya? Om lagi serius nih..”
“Kapan Oomku yang ganteng ini, nikah?!” aku mengulang pertanyaan.
“Hmm.. kapan ya? Nanti Oom pasti kasih tau kok.” Jawabnya ringan tanpa beban. Ia memang bukan tipe pemikir berat sebuah pertanyaan konyol.
“Om, kalo nikah.. nanti aja! Nunggu mapan.” Sela Kak Zain yang duduk di sebelah Oom Aziz. Membenarkan pendapat si Oom.
“Nah, tu.. dengerin kata kakak kamu!” Oom Aziz jadi berpihak pada Kak Zain. Mungkin karena aku perempuan satu-satunya di mobil ini. Maka, tak ada yang membela.
“Hmm…” Aku mendehem dengan raut wajah cemberut.
“Yahhh… Tasya marah! Haha”
“Kakak puas ya?!” Oom ikut tertawa bersama kakak.
“Hushh.. udah ah, jangan di ejek terus! Nanti Tasya ngambek lagi. Tasya juga jangan cemberut. Jelek lho!” Bujuk Oom Aziz.
Kami tiba di Taman Ismail Marzuki. Dan begitu seterusnya. Kami selalu bepergian bertiga. Memang kedekatan sudah kami bangun sejak aku masih kecil.

Liburan mengingatkanku pada Pak Iqbal. Guru yang tak pernah aku sukai sampai sekarang. Padahal, jika di bandingkan, sangat terlihat perbedaannya dengan Oomku. Pak Iqbal memiliki postur tubuh yang cenderung kurus. Lalu, dimana letak ketampanannya? Aku tak menemukan. Sampai tiba dimana aku berpikir.
“Bun, besok Sya gak mau sekolah ah!”
“Kenapa, sayang?”
“Besok itu, ada pelajaran IPS, Bunda.”
“Terus, apa alasannya kamu gak mau sekolah tiba-tiba gitu? Kamu kan gak sakit, sayang?!” seraya Bunda memegang kepalaku, memastikan bahwa badanku tidak demam.
“Iya, Bunda. Tapi besok ada pelajaran Pak Iqbal!” jelasku dengan menitikberatkan suara nama guru baru itu.
“Oohhh… terus maunya apa? Bunda kasih 2 batang coklat, tapi kamu sekolah. Mau gak?” bunda masih menampakkan senyumnya yang manis. Dan mengeluarkan dua batang coklat yang ada di kantung bajunya. Aku masih terdiam dan berpikir sejenak.
“Bunda.” Aku memanggil dan memeluknya dari belakang.
“Hm.. apa, sayang?”
“Sya minta sesuatu, boleh?” aku memelas, agar keinginanku diikuti oleh bunda.
“Boleh. Memang apa?”
“Besok Bunda telepon Oom Aziz, dan suruh Oom untuk jemput Sya jam setengah 12 tepat! Pokoknya Sya gak mau tau. Kalo Oom gak ngejemput, Sya mau pindah sekolah!” ancamku yang diikuti dengan permintaan konyol.
“Oke. Siapa takut?!” tantang Bunda “Tapi kamu harus sekolah dan, jangan males-males lagi, setelah Bunda turuti kemauan kamu. Oke, sayang?!”
“Oke, Bunda cantik.” Aku memberikan jempolku untuk Bunda tersayang.
“Anak bunda.. sini, sayang!” Tangan Bunda terbuka untuk ku hampiri. Tak ada yang lebih hangat, kecuali pelukkan Bunda.

Jarum jam masih bertitik pada angka 11. Bel berbunyi menandakan istirahat telah selesai. Aku menunggu Oomku datang. Pak Iqbal sudah datang tepat waktu untuk melanjutkan materi pelajaran IPS minggu lalu. Aku semakin muak saja, melihat tindak-tanduknya sebagai guru. Aku harap, Oomku tersayang akan datang sesuai yang aku inginkan.
“Assalamu’alaikum.” Ada seseorang yang mengetuk pintu pada saat pelajaran IPS berlangsung.
“Itu pasti Oomku!” terkaku dalam-dalam.
Aku semakin yakin ketika pintu terbuka untuk si pengucap salam tadi.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Pak Iqbal dengan membukakan pintu kelas. Tebakkanku benar! Itu Oomku!
“Maaf, pak. Saya mau jemput Tasya, keponakan saya.” Izin Oom Aziz sambil mengajak Pak Iqbal berjabat tangan. Saat ku perhatikan, seluruh wajah teman-teman perempuanku, terpana melihatnya, melihat Oomku. Itu inginku!
“Ohh.. silahkan, silahkan, pak.” Enak saja, pak Iqbal memanggil Oomku dengan sebutan bapak! “Sudah izin ke satpam dan kantor?” tanyanya tetap ramah, dan mempertahankan kePeDe-annya dengan senyum yang berbeda pada Oomku. Aku tahu, pasti Pak Iqbal membunuh kata-katanya sendiri, kata-kata bahwa ‘Oomku, lebih tampan darinya. Almost Perfect!’
“Sudah, pak. Saya sudah bicara dan meminta izin.” Kebetulan, hari ini adalah hari pengenalan keluargaku dengan calon isteri Oom Aziz. Pantas saja, Oom mau menjemputku dan meminta izin. Beliau memang orang sibuk. Tapi Oom selalu menyempatkan diri untuk berbaur akrab dengan keluarganya. Tak seperti Ayah. Itu yang aku suka dari Oom Azizku.
“Tasya, Oom kamu memanggil. Sini!” tangan Pak Iqbal melambai ke arahku. Tanda agar aku menghampirinya. Teman-temanku langsung bertanya dan memanggil-manggil namaku. Menanyakan Oomku yang tampan. Terutama Ika, si pecinta berat Pak Iqbal dan sekarang beralih kepada Oomku. Ternyata mereka mata keranjang. Hahaha
“Aku izin dulu, ya, teman-teman!” Aku berteriak di kelas, menutupkan sesi pertanyaan tentang Oomku.
“Ooommm…” panggilku, dan memeluk Oomku dengan bahagia. “Akhirnya Oom jemput aku juga!”
“Iya donk, Sya! Bunda kan udah janji sama kamu. Berarti Oom juga ikut janji mau jemput Sya ke sekolah.” Oomku senyum dengan wajahnya yang tak pernah gelisah, akan selalu tenang. “Ayo! ikut Oom gak?”
“Ikut donk, Oom!”
Ini rencana yang sudah ku buat saat liburan ke Lembang dan Jakarta selesai. Ini niatku, untuk memberi pelajaran pada Pak Iqbal Hikman Pakpahan. Bahwa, di atas langit, masih ada langit lagi yang bergelar. Jadi, kesombongan harus dihapus. Percaya diri boleh, tetapi jangan sampai mencap diri sendirilah yang unggul di banding yang lain. Alhasil, minggu selanjutnya, pak Iqbal tak bersikap seperti sebelumnya. Menurutku, ia lebih diam dan sedikit-sedikit menghapus sifat buruknya. Mungkin dia menyadari akan kesalahannya. Ya. Satu hal yang membuatku kepalang. Guru-guru wanita yang masih eksis, bergantian menanyai tentang Oomku. Entah untuk apa?! Mereka sudah ibu-ibu, tetapi sikapnya belum patut di jadikan contoh. Sekolah yang kacau..

Aku memang tak pandai merangkai kata. Tapi dengan kata, aku mampu ceritakan pada semua..

Cerpen Karangan: Ghiffa ChocoCandy
Blog: http://chococandy97.blogspot.com
Aku cuma penulis amatir yang selalu berdo’a dan berusaha untuk jadi penulis best seller dan profesional seperti Bunda Asma Nadia:)

Contact me:
Facebook=> Ghiffary Amanda Sastre
Twitter=> @GfChocoCandy
YM=> gfchococandy[-at-]yahoo.com

“Saat kita berjalan untuk menggapai mimpi, saat itulah mimpi berlari menghampiri kita.”-Menebus Impian

Semangat! ^_^

Cerpen Cukup Disadari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dijamu Makhluk Halus (Part 1)

Oleh:
Untuk perjalanan kembali ke tempat pekerjaan di Medan kali ini, kami memutuskan untuk menempuh jalur Lintas Timur Sumatera. Jalur yang belum pernah kami lewati. Selama ini kami selalu mengambil

Rain and I

Oleh:
Namaku Allison Rain. Panggil saja Rain. Entah apa yang membuat orangtuaku tertarik memberiku nama seperti itu. Aku rasa aku adalah gadis yang paling tidak beruntung. Aku hidup dalam penderitaan.

Dulu

Oleh:
“Hey kak, bagaimana kabarmu? Belakangan ini jarang sekali mengirim pesan. Kenapa? Oh aku tau, kakak lagi ingin sendirian kan? Okey, tapi buat saat ini aku ingin bicara denganmu. Aku

Segelas Kopi di Kedai Pontianak

Oleh:
Hujan sore-sore di hari Sabtu betul-betul menjadikan suasana rumah sendu berkepanjangan. Ketiga anakku duduk tenang tanpa ekspresi yang biasanya cerah ceria. Terlelap tenggelam dalam gemuruh butiran hujan menimpa atas

Tuhan Kenapa Kau Berikanku Sedikit Waktu

Oleh:
Di sebuah Desa terdapat sebuah keluarga yang hidup miskin. Karena sedikitnya gaji yang diterima sang suami, Mereka selalu berhutang dan telat membayar pajak maupun Kos-kosan. Suatu hari karena mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cukup Disadari”

  1. Secret Days says:

    Bagus.

Leave a Reply to Secret Days Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *