Dear Papa dan Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 November 2015

Chelsea duduk manis sambil membaca buku. Chelsea membaca buku cerita rakyat. Dia tersenyum membaca buku itu. Buku yang sangat bermanfaat dan menyenangkan.
“Non Chelsea, ayo makan siang dulu,” pinta mbak Ira, pembantu sekaligus pengasuh Chelsea.
“Mbak Ira, hari ini lauknya apa?” tanya Chelsea.
“Lihat sendiri aja, Non. Non pasti suka,” seru mbak Ira. Chelsea langsung membuka tudung saji dan menatap senang makanan hari ini.
“Yei… ada ayam panggang sama sup asparagus!” seru Chelsea kesenangan saat melihat makanan hari ini. “Hmm… tambah lengkap dengan green tea shake!” Chelsea melahap makanan yang sudah disediakan oleh mbak Ira.

Tin… tin… terdengar suara klakson mobil. Chelsea tersenyum mendengar klakson mobil Mamanya. Mamanya pulang untuk makan siang bersamanya.
“Mama! Ayo makan bersama aku, Ma!” seru Chelsea senang.
“Maaf, Sayang, Mama pulang hanya untuk mengambil berkas Mama yang ketinggalan! Maaf, ya, Sayang, Mama masih ada meeting dengan klien Mama!” seru Mama sambil buru-buru menyimpan berkas-berkas penting yang tertinggal di rumah ke dalam tasnya.
“Tapi, Ma…”
“Bye, Honey, i love you so much!” potong Mama sambil mencium kening Chelsea.
“Me too…” lirih Chelsea. Chelsea mengusap keningnya yang tadi dicium Mamanya.

“Aghh… sakit! Mbak, kepalaku sakit, mbak!” jerit Chelsea.
“Non Chelsea kenapa? Non Chelsea!” panggil mbak Ira sambil mengguncang pelan tubuh mungil Chelsea yang jatuh pingsan.
Mbak Ira sangat panik. Dia terus berusaha agar Chelsea segera terbangun. Tak lama, mata Chelsea mulai terbuka dan mulutnya menggumam pelan.
“Jangan katakan kejadian ini kepada Papa dan Mama!” pinta Chelsea.
“Baik, non!”

“Anybody home?” tanya Mama saat memasuki rumahnya yang mewah dan megah.
“Mama!” seru Papa kaget. “Mama baru pulang?”
“Iya, Pa!” jawab Mama.
“Ya ampun, Ma! Ini udah jam sebelas malam dan Mama baru pulang?” tanya Papa sambil menepuk keningnya.
“Papa, Mama tuh sibuk!” seru Mama menekankan kata sibuk.
“Iya, Papa tahu tapi, kamu sebagai seorang istri seharusnya pulang cepat!” seru Papa.

“Kok Mama yang salah, sih? Mama sudah naik jabatan jadi Mama sangat sibuk! Mama harus profesional dong!” seru Mama mulai memanas.
“Mama itu sudah jadi ibu rumah tangga, tugas Mama hanya ngurusin rumah dan anak!” balas Papa.
“Kan, ada Ira! Gaji Ira seutuhnya berasal dari Mama! Papa gak ada ikut membayar jadi sama saja Mama sudah mengurus rumah dan anak!”
“Mama hanya menggaji bukan langsung bekerja melakukan tugas itu, kan! Sama saja tidak!”
“Papa selalu sa….”
“Sudah diam! Mama dan Papa sama-sama salah! Tak perlu saling menyalahkan!” lerai Chelsea yang ada di dalam balutan piyama pink. Mama dan Papa terdiam.
Mama dan Papa menatap Chelsea dengan tatapan menyesal karena telah pulang lambat dan berkelahi di depan Chelsea. Mereka berjanji akan berusaha untuk tidak pulang terlambat lagi.

Chelsea berbaring di atas kasurnya ditemani Mama. Mama mengelus kepala Chelsea.
“Sayang, tidur yang nyenyak, ya! Mama tinggal dulu!” seru Mama.
“Jangan, Ma! Aku masih mau lama-lama bersama Mama karena aku takut, Ma!” seru Chelsea sambil menahan tangan Mama.
“Sayang, besok Mama harus kerja dan kamu harus sekolah jadi, sebaiknya kita sama-sama tidur cepat, ya, Sayang!” seru Mama. “Lagi pula kamu takut sama apa, sih, Sayang?” Chelsea diam.
Mama menarik napas panjang. Mama memeluk dan mencium kening Chelsea. Kemudian, Mama berdiri, mematikan lampu lalu ke luar dari kamar Chelsea. Tanpa disadari Mama, Chelsea tersenyum dan menghembuskan napasnya yang semakin lambat dan pelan.

“Non Chelsea, sudah pagi! Ayo bangun, non!” panggil mbak Ira sambil membuka tirai kamar Chelsea. Hening, tak ada jawaban ataupun tanda-tanda Chelsea akan bangkit dari tempat tidurnya. “Non, ayo nanti kesiangan, loh!” mbak Ira mengguncang tubuh Chelsea. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu.
“Tuan, nyonya!” teriak mbak Ira. Papa dan Mama segera berlari ke kamar Chelsea.
“Ada apa, mbak?” tanya Papa dan Mama bersamaan.
“Non Chelsea… non Chelsea… non Chelsea telah tiada!” seru mbak Ira sambil menangis.

“Ti… tidak! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Chelsea, bangun, Sayang! Bangun! Mama enggak akan pergi kerja hari ini! Mama akan menemani kamu, Sayang! Chelsea!!!” teriak Mama histeris.
“Nyonya yang sabar, ya! Non Chelsea pasti sudah bahagia di sana!” seru mbak Ira sambil mengelus punggung Mama.
Hari itu, seluruh keluarga, kerabat dan orang terdekat Chelsea dirundung kesedihan mendalam karena harus kehilangan seorang gadis dengan sifat ceria itu. Meninggalnya Chelsea membuat semuanya merasa terpukul.

Mama yang masih dirundung kesedihan mendalam memasuki kamar Chelsea dan duduk di atas kasur Chelsea. Mama tersenyum getir sambil mengusap-ngusap sprei yang melapisi kasur Chelsea. Mama mengambil bantal Chelsea lalu menghirup aroma khas Chelsea yang masih sangat terasa di bantal itu. Saat ingin mengembalikan bantal itu ke atas kasur itu Chelsea, tak sengaja Mama melihat sebuah amplop berwarna pink. Mama mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalamnya ada kertas berwarna pink dengan sayap putih suci di setiap bagian pojok surat itu. Mama segera membaca surat itu.

“Dear, Papa dan Mama.
Aku gak tahu tapi aku merasakannya. Aku merasakan sakit yang teramat sangat di kepalaku. Tapi, sakit ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang ku rasakan selama ini. Aku tahu, aku tahu bahwa aku adalah seorang gadis berpenyakitan. Aku terkena kanker otak stadium satu dan aku tahu bahwa semakin lama pasti akan semakin parah. Aku tahu penyakit ini dari pemeriksaan terakhirku dua bulan yang lalu. Papa dan Mama tidak tahu akan hal ini karena saat itu, hanya mbak Ira yang mengantarkanku dan hanya aku yang tahu akan hal ini.”

“Aku selalu berharap Papa dan Mama bisa menemaniku. Kenapa Papa dan Mama hanya memikirkan pekerjaan kalian? Kenapa Papa dan Mama tidak memikirkan aku? Apa aku tidak berharga? Pa, Ma, jika saja aku memiliki adik atau seekor hewan peliharaan saja, aku pasti akan sangat bahagia. Setidaknya aku memiliki teman bermain dari pada diam begini.
Apa Papa dan Mama tahu kenapa aku tidak bermain dengan teman-temanku? Atau setidaknya bermain dengan Lilly, sahabatku? Karena tak ada yang ingin berteman denganku lagi. Dulu, aku pernah tak sengaja menghilangkan boneka kesayangan Lilly. Berita itu tersebar dengan sangat cepat dan semua orang bilang bahwa aku iri kepada Lilly dan oleh sebab itulah aku menghilangkan boneka kesayangan Lilly.”

Sejak saat itu, setiap aku mendekati mereka, mereka akan berbisik-bisik mengatakan bahwa aku adalah seorang pengiri dan mereka akan pergi begitu saja. Jadi, siapa yang menemaniku? Mbak Ira, hanya mbak Ira! Tapi, itu pun masih kurang karena mbak Ira masih harus bekerja. Aku kesepian, sendiri dalam diriku yang rapuh dan menangis. Aku berharap ada yang mau bermain denganku…
Sabtu, 10 Mei 2014
Chelsea Maria Anatha.”

Mama menangis melihat surat itu. Mama marah pada dirinya sendiri. Sekarang Mama sadar, tak ada yang lebih penting dari keluarga. Mungkin uang sangat berharga, tapi tanpa keluarga, kita bukan apa-apa. Memang penyesalan selalu datang terlambat, tapi setidaknya itu memberikan arti dan hikmah yang berharga.

Cerpen Karangan: Dewi Candra Putri
Facebook: dewi.candra168[-at-]yahoo.com
Hai, semuanya! Ini cerpen keduaku yang diplubikasikan ke cerpenmu.com. Cerpenku yang pertama adalah ‘Peri Gigi Tania’. Kalau mau berkenalan denganku lebih lanjut, add aja facebookku dewi.candra168[-at-]yahoo.com. Salam Manis, Dewi Candra Putri. 😀

Cerpen Dear Papa dan Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permintaan Terakhir

Oleh:
Matahari telah menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Menggantikan tugas sang rembulan. Sinarnya menyorot jendela kamar rawat seorang gadis yang telah bangun Dari tidur nyenyaknya. Yang telah selesai melaksanakan kewajibannya

Amarylis

Oleh:
“Hei, kenapa kamu marah kubilang cantik?” Galih menarik tanganku. “Jangan merayuku lagi! Aku nggak suka!” “Tapi aku suka.” “Galih..!!!” Buku yang kupegang spontan melayang padanya. Itu lima tahun lalu.

Sahabat Sejati Takkan Pernah Mati

Oleh:
Jarum jam menunjukan sekarang pukul 06.30 WIB, aku bergegas menuju kamar mandi dan berpakaian sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku di sekolahku yang baru “Pichi buruan berangakat!!!” seru ibuku

Dia Dan Mimpi

Oleh:
“Hei kamu ngelanjut SMA mana? Kuliah?” Tiba-tiba kamu menanyakan itu padaku. Dengan semangat aku langsung menjawab dengan menyebutkan SMA dan Universitas terbaik dunia. “jangan kebanyakan mimpi, itu yang kamu

Nasihat Ayah

Oleh:
Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *