December 22nd

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 June 2017

Ibu, kau tau, ia adalah bidadari tanpa sayap yang telah dipercayakan oleh Tuhan menjadi tamengmu, menjadi pedangmu, dan menjadi rumah tinggal bagimu. Menyayanginya? Tentu saja, Mengecewakannya? Lebih dari sering.
Ibu memberi nama aku Keishadara Anugrah, aku adalah sebuah anugrah baginya.

“Dara, makan cepat” teriaknya.
“Iya” jawabku dengan teriakan pula dan berjalan menghampirinya.
“Suapin” pintaku.
Walaupun aku sudah kelas X, tapi tetap saja ibu masih menyuapiku. Aku menyayanginya.

Pernah suatu ketika, ketika aku tengah berimajinasi di dalam sebuah ruangan berukuran dua koma lima meter, tepatnya adalah kamarku, membayangkan sesuatu yang tak bisa dibayangkan, membayangkan ketika ibuku telah tiada, meninggalkan lantai tanah rumah kami, apa yang akan terjadi jika ia telah terkubur oleh tanah. I can’t imagine.

Oh ya, ibuku adalah kekuatanku, penggembrak jiwa dan raga ini. Ibuku adalah seorang pedagang sayur keliling, berkeliling dengan sepeda tua yang sering bocor bannya, rela menembus hujan dengan plastik kresek di kepalanya, rela berhadapan dengan matahari yang menyengatnya.
Setiap kali aku berangkat sekolah, aku selalu bertemu dengan ibu. Aku selalu melambaikan tangan dan memasang senyum terlebarku untuknya sembari berteriak memanggilnya dengan kata “ma’e” bahkan aku juga memanggilnya dengan sebutan “bro”. Aku tak malu dengan itu, buat apa malu dengan sesuatu yang membanggakan.

Ibuku selalu berkata “selalu sekolah, sekolahlah dengan benar, jangan putus sekolah, harus dapat ranking, jangan permalukan mbokmu yang miskin ini” itulah yang memotivasi aku, untuk belajar, aku ingin suatu saat ibuku tak akan mengeluarkan uang lagi untukku, sudah terlalu banyak harta yang ia kerahkan demi aku.

Mendengar tawanya adalah seperti mendengar nyanyian para bidadari surga, lalu melihatnya meneteskan setetes air matanya membuat goresan yang sulit tersembuhkan oleh obat semujarab apapun.
“Ma’e, besok adalah hari terakhir bayar uang studytour wajib”
“Ke mana harus mencari hutangan lagi” katanya yang ingin membuatku menarik perkataanku tadi.
“Bapak akan mengusahakan meminta bayaran kuli bapak dua hari lalu, kalau dua hari lagi bagaimana?”
“Iya… tapi..” kataku tak tega melanjutkannya. Ah sudahlah lupakan.

Hal yang mengecewakannya, tak terhitung banyaknya. Mendapatkan rangking 4 kebawah atau artinya Tidak mendapatkan ranking adalah salah banyaknya. Aku tak tau kenapa selama aku kelas 8 SMP peringkatku selalu 4, berbeda dengan ketika aku masih SD yang selalu pendapat ranking 1. Aku tak ingin bembahas kebodohanku lagi.

Mungkin lirik lagu Kasih Ibu itu benar, kasihnya tak terhingga sepanjang masa. Di 22 Desember ini aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuknya.

“Satu hal yang terindah untukku, kau ada di dalam hidupku, kau anugrah terhebat untukku, aku ada karena cintamu, tiada pernah kau lelah untukku, senyummu selalu menemaniku, walau aku suka semauku dan terkadang kecewakanmu, ku tau. Mama, I thank you for you love in me, mama, jangan pernah worry worry, mama, ku gak akan nakal lagi, mama ku sayang kamu. Tak ada cinta di dunia yang lebih baik, tak ada cinta di dunia yang lebih indah, tak ada cinta di dunia yang lebih hebat selain cinta dari dirimu”

Cerpen Karangan: Eva Nugraeni
Facebook: Eva Drew

Cerpen December 22nd merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Schizoprenic

Oleh:
“Kau kejam.” “Aku hanya berharap dia mati, di mana letak kejamnya?” “Berharap seseorang mati bukankah berarti menghapus keberadaannya? itu harapan yang kejam.” “Kau melihatnya kan? Dia hampir menghantamkan Pot

Dari Malas Menjadi Pintar

Oleh:
“Reenn, main yuk..?” Teriak Sandy. Rendinya lagi belajar, sahut ibu rendi lirih dari dalam rumah. Rendi adalah orang yang rajin belajar, ia selalu mendapatkan nilai yang bagus dan peringkat

Kuntilanak Penguji Iman

Oleh:
Malam itu jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Risty masih berkutat di meja belajarnya. Buku-buku pelajaran terlihat berserakan di mana-mana. “Huaahhh, udah jam segini tapi materi pelajarannya masih banyak. Mana

Cobaan Hidup

Oleh:
Tak pernah aku bayangkan, hubungan yang selama ini aku pertahankan akhirnya berantakan juga. Tak terasa sudah hampir 8 tahun aku menjanda. Awalnya aku mengira bahwa keputusanku untuk menikah lagi

Seribu Malaikat

Oleh:
Nisman terperangah. Entah kenapa matanya langsung berair, tak pernah-pernah dia menangis begitu mudah selama ini. Kebahagiaan dalam hatinya membuat dia beku. Saat kesadarannya sudah kembali disalaminya Bu Bidan dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *