Depressed

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 June 2016

“Kamu itu gimana sih? Masa kamu kalah dari teman kamu si Winda itu, bagaimana bisa IP kamu tertinggal jauh sama IP dia?” omel seorang wanita paruh baya, yang sedang berdiri di hadapanku sambil mengacung-acungkan kertas berisi transkrip nilai akademikku. Ya, dia adalah mamaku.
“Ya bisa ajalah. Kan si Winda itu memang pinter, dan rajin belajar. Jadi, wajar lah kalau nilai dia lebih bagus dari aku, Ma.” Ujarku tak peduli dengan omelannya, yang selalu sama saja.
“Dinar, di dunia ini nggak ada orang yang pintar atau bodoh. Di dunia ini cuma ada tipe orang yang pekerja keras dan orang yang malas. Jadi, si Winda itu bukannya pintar. Tapi dia itu bekerja keras untuk belajar, kalau kamu belajar lebih keras lagi kamu pasti bisa melampaui dia.” Jelas mama panjang-lebar.
“Ma, aku ini udah belajar semampu aku. Kemampuan setiap orang itu berbeda-beda, Ma. Mama nggak bisa dong, maksa aku untuk melakukan hal yang diluar dari kemampuan aku.” Sanggahku dengan nada keras pada mama. Mama membanting kertas nilai ku ke atas meja.
“Cukup. Masalah ini, kita anggap selesai. Mama nggak peduli tentang apapun alasan kamu, yang mama mau kamu harus dapat nilai yang lebih tinggi dari sekarang. Kamu ngerti, kan?” ucap mama tepat di hadapan wajahku, kemudian mama pergi meninggalkan aku sendirian.

Ya, hampir setiap hari mama mengomeli aku karena masalah nilai dan persaingan dengan teman kuliah. Mama sangat tak menyukai, jika ada temanku yang memiliki nilai atau kemampuan yang lebih unggul dari aku. Terutama kalau sudah menyangkut tentang Winda, temanku sejak SD yang sejak kecil selalu dijadikan mama sebagai sainganku dalam segala aspek kehidupan. Bahkan hingga saat ini pun, mama masih tetap membanding-bandingkan aku dengan Winda, dan memaksa aku agar selalu lebih unggul dari Winda.

Sebenarnya aku tahu, mama melakukan ini karena ingin bersaing dengan Tante Siska, mamanya Winda. Mama dan Tante Siska seringkali bertemu di semacam pertemuan arisan, di sana Tante Siska sering sekali berkoar-koar. Bercerita mengenai keunggulan dan prestasi anaknya, Winda. Setiap cerita tentang Winda, yang keluar dari mulut Tante Siska selalu mendapat berbagai pujian dari ibu-ibu lain yang ada di pertemuan tersebut.
Hal ini menyebabkan mama juga ikut bercerita tentang aku dan sederet prestasiku, yang aku tahu itu hanya bualan mama saja. Tanpa diduga para ibu-ibu itu jadi antusias dan malah ingin bertemu denganku, tentu saja mama jadi sangat bangga mendengarnya. Sejak saat itulah, mama jadi gila pujian tentang anaknya dan selalu memaksakan aku untuk mengikuti semua kemauannnya.

Hari ini, aku merasa sedang tak enak badan. Rasanya seluruh tubuhku pegal dan lemas, aku berniat untuk tak berangkat kuliah hari ini dan memilih untuk melanjutkan tidurku. Tak sampai beberapa menit aku kembali tidur, terdengar suara mama yang berteriak menyuruhku untuk segera bangun.
“Dinar! Ayo Bangun, kamu kuliah pagi, kan? Ayo cepat bangun Dinar.” Seru mama dari arah ruang makan. Dengan kesal aku segera bangun dari tempat tidur, dan berjalan gontai menuju ruang makan.
Aku menghampiri mama yang tengah menyiapkan sarapan, dengan masih memakai baju piyamaku. Mama yang melihat aku dalam keadaan baru bangun tidur langsung kembali mengomel.
“Ya ampun, Dinar! Kamu kok belum mandi sih? Kamu cepetan mandi terus, berangkat kuliah. Nanti kamu telat gimana?” tanya mama dengan nada suara tinggi.
“Ma, hari ini Dinar nggak kuliah deh. Dinar lagi nggak enak badan, kayaknya Dinar mau sakit deh, Ma.” Ucapku dengan nada kemas. Mama langsung menggenggam lenganku dengan kuat.
“Dinar, jangan mulai manja! Sekarang juga kamu mandi terus siap-siap berangkat kuliah. Mama nggak mau dengar alasan apapun, kamu harus perbaiki nilai kamu yang jelek itu. Ngerti?” ujar mama sambil sedikit mendorong tanganku. Aku memandang mama dengan perasaan sedih, sembari berjalan kembali ke kamar.

Tak lama kemudian, aku sudah berada di dalam taksi bersama mama. Suasana di dalam taksi sangatlah hening, mama sama sekali tak bicara sepatah kata pun bahkan tak menoleh padaku. Pandangannya hanya lurus tertuju ke depan. Aku pun juga sama sekali tak mempedulikan keadaan di dalam taksi itu. Aku memilih, untuk menatap pemandangan jalan raya melalui jendela taksi. Sambil sesekali memejamkan mata karena merasa pusing.
“Dinar.” Panggil mama padaku, suaranya memecah kesunyian di dalam taksi itu.
“Hmm…?” sahutku sambil menyandarkan kepalaku ke kaca jendela taksi.
“Kamu harus ingat. Kamu adalah satu-satunya anak mama, yang sangat mama banggakan. Mama ingin, kamu bisa memenuhi semua keinginan mama.” Kata mama, matanya yang sudah terpejam kembali terbuka lebar mendengar perkataan mamaku.
“Keinginan mama nggak banyak, kok. Mama cuma minta kamu, harus menjadi yang terbaik melebihi Winda, teman kamu itu…” lanjut mama, tanpa menoleh padaku. Mendengar ucapannya itu, aku langsung menengok ke arah mama dengan perasaan kesal.
“Ma! Cukup, Ma! Cukup! Bisa nggak sih, Mama nggak usah bahas hal itu lagi? Aku depresi, Ma! Kenapa sih, apapun yang aku lakukan selalu saja kurang di mata Mama. Mama harusnya sadar, kalau mama kayak gini terus. Lama-lama, aku bisa mati karena depresi!” sergahku pada mama, lalu aku menghentikan taksi itu dan segera turun meninggalkan mama sendirian.

Aku berjalan dengan langkah gontai menuju ke dalam gedung kampus, setelah aku turun dari taksi yang mengantarku sampai di depan gerbang kampus. Aku benar-benar nggak memiliki semangat untuk kuliah hari ini, sudahlah aku merasa nggak enak badan ditambah lagi dengan kejadian di dalam taksi tadi, makin membuat aku malas untuk kuliah. Aku berjalan sambil melamun, dan tanpa sengaja aku menabrak seorang gadis yang ternyata sedang berdiri di depanku. Dan tubuhku mendadak terhuyung.
“Lho? Dinar, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget.” Gadis yang aku tabrak itu menahan tubuhku, yang sudah hampir jatuh terjerembab ke tanah. Aku menatap wajah gadis itu, dan aku terkejut saat mengetahui bahwa gadis itu adalah Winda.
Dengan cepat aku langsung menepis tangannya yang menahan tubuhku, dan melangkah mundur ke belakang menghindari Winda. Winda terlihat bingung dan terkejut dengan reaksiku yang sangat spontan dan aneh.
“Dinar, kamu kenapa? Kok kamu jadi aneh gini, sih. Ada apa?” tanya Winda dengan raut wajah bingung dan khawatir, dia berusaha kembali menahan tubuhku yang sudah mulai goyah.
“Jangan sentuh aku!” seruku dengan suara menggelegar, yang aku sendiri nggak tahu dari mana asalnya. Winda terkejut mendengar seruanku, sehingga dia menarik kembali tangannya yang sudah terulur.
“Kamu pikir kamu hebat, hah?! Kamu tahu, mamamu selalu saja membanggakan berbagai kehebatanmu di depan mamaku dan semua teman-temannya.” Seruku menumpahkan semua perasaanku. “Gara-gara hal itu, aku selalu jadi korban obsesi mamaku. Obsesi untuk membuat aku selalu sama seperti kamu!” lanjutku dengan nada lantang. Aku sudah terlalu depresi, menghadapi semua hal ini.

Winda terlihat terkejut dan kebingungan, dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia tak bisa bicara apapun saat aku membentaknya. Perlahan Winda berjalan mendekatiku dan meraih tanganku, dan menggenggam tanganku.
“Dinar, aku nggak tahu apapun yang terjadi selama ini antara mamaku dan mamamu. Ataupun apa yang terjadi di antara kita berdua. Tapi, tolong kamu jangan marah-marah gini sama aku. Kalau kamu marah-marah sama aku kayak gini, aku malah makin nggak ngerti.” Ucap Winda dengan nada lembut berusaha menenangkanku. Kepalaku yang sejak tadi sudah berat, malah jadi semakin berat mendengar omongannya.
“Udahlah. Kamu memang nggak akan pernah mengerti, tentang perasaan orang seperti aku. Orang yang selalu ditekan, dituntut, dan dipaksa untuk menjadi seperti orang lain. Kamu nggak pernah merasakan itu, jadi sampai kapanpun kamu nggak akan ngerti.” Sergahku dengan nada kasar, sambil menghempaskan tangan Winda sekali lagi lalu berjalan meninggalkannya dengan langkah gontai menuju gerbang kampus.
“Dinar! Dinar! Dinar! Tunggu, aku mau ngomong sama kamu.” Seru Winda berusaha memanggil aku. Namun, aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku terus berjalan.
“Dinar! Dinar! Dinar! Mama mau bicara sama kamu. Kamu harus dengarkan Mama! Dinar!” Sayup-sayup aku mendengar suara mama, yang memanggilku. Langkahku sedikit goyah mendengar suara itu.

Flashback
“Dinar! Apa ini? Kenapa nilai rapor kamu kayak gini semua, hah?! Kamu pikir dengan nilai seperti ini, kamu bisa menyaingi Winda? Hah?!” suara mama menggema di seluruh sudut ruang tamu, sembari melempar buku rapor SMA-ku ke arah wajahku.
“Ma, apa yang salah sih? Nilai aku ini udah bagus, Ma. nggak ada satu pun nilai merah di raporku. Lagian aku juga dapat peringkat kedua, di kelas. Kurang apa lagi sih, Ma?” sahutku sambil mengambil buku rapor yang dilempar oleh mama.
“Apa kamu bilang? Jadi kamu bangga dapat peringkat kedua? Kamu bangga kalau kamu berada di bawah Winda dan jadi budaknya?”
“Ma! Mama tuh, apa-apaan sih? Kenapa mama selalu membandingkan aku sama Winda? Bisa nggak sih, sekali aja mama berhenti melakukan ini? Aku capek, Ma kalau begini terus!” seruku tak sanggup lagi menahan amarahku atas perlakuan mama padaku. Aku segera berbalik hendak pergi ke kamarku.
“Dinar! Dinar! Dinar! Mama mau bicara sama kamu. Kamu harus dengarkan mama! Dinar!” teriak mama padaku, aku sama sekali tak menghiraukan panggilannya itu. Terdengar mama menghela napas kesal.
“OK! Kalau memang kamu nggak mau menuruti kemauan mama. Kamu tinggal pilih, kamu mau lihat mama mati atau kamu menuruti semua kemauan mama, selama mama masih hidup. Silahkan tentukan pilihan kamu.” ujar Mama dengan nada tegas.
Kakiku segera berhenti melangkah, mendengar hal itu. Telapak tanganku mengepal, dan airmata mulai mengalir di pipi karena menahan kesal. Perlahan aku memejamkan kedua mataku kuat-kuat, dan aku menjawab pilihan dari mama.
“Baiklah. Aku akan menuruti semua kemauan mama. Tapi, aku akan melakukannya selama aku masih sanggup melakukannya.” Jawabku dengan nada datar. Aku yakin, saat itu mama sedang tersenyum di belakangku.
Flashback end

Aku terus melangkahkan kakiku untuk berjalan, hingga aku tak menyadari bahwa aku sudah keluar jauh dari gerbang kampus. Kenangan masa laluku, membuat aku tak bisa lagi menggunakan akal sehatku. Samar-samar aku mendengar suara orang-orang yang berteriak, mereka memanggil namaku dengan panik. Di antara suara mereka aku juga mendengar suara Winda, yang dengan histeris meneriakkan namaku.
Suara klakson sebuah mobil berhasil membuat tersadar, bahwa aku telah berada di tengah jalan raya. Klakson mobil kembali terdengar dan kini aku melihat sebuah mobil tengah melaju kencang ke arahku, di sisi lain aku juga melihat Winda yang tengah berlari ke arahku dengan panik. Dan saat itu aku sadar, jika aku tidak menghindar dari mobil itu. Maka, nyawaku berada dalam bahaya.
Namun aku memilih untuk tidak bergerak dari sana, aku memilih untuk membiarkan nyawaku berada dalam bahaya. Mungkin dengan ini, aku bisa mengakhiri tugasku untuk memenuhi semua keinginan mama. Ku pejamkan kedua mataku dengan kuat, sembari kuucapkan maaf dan salam perpisahan untuk mama di dalam hatiku.

Tak sampai lima detik, sebuah minibus melaju menyambar tubuhku yang sudah pasrah di tengah jalan raya tersebut. Tubuhku terhempas jatuh di atas aspal, disertai bunyi tulangku yang remuk. Dengan pandangan tertutup airmata, aku masih bisa melihat Winda yang berlari menghampiri tubuhku sambil menangis. Setelah itu semuanya gelap. Gelap!

TAMAT

Cerpen Karangan: Maria Hervina
Facebook: Maria Hervina Ena

Cerpen Depressed merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1000 Hari Papa

Oleh:
Menghabiskan senja hari untuk duduk di pinggir pantai bersama Dave adalah salah satu hal yang kusukai. Aku dapat bercerita segala hal yang mungkin bagi orang lain ceritaku sangat membosankan

Bidadari Bermata Bening

Oleh:
Namaku AZILA MARCELLA di lumajang. Aku terlahir di keluarga kaya raya dan dipandang terkenal karena nenekku punya gudang beras. Setiap minggunya banyak orang miskin yang ngantri di rumah. Aku

Secercah Kebahagiaan

Oleh:
Baru lima bulan Ayah dan Ibu berpisah, kini Ayah telah mendapatkan calon istri baru. Menyebalkan sekali, bukan? Aku benci ayahku. Ia juga yang menyebabkan Ibu pergi dari rumah karena

Cukup Luka itu yang Terakhir

Oleh:
Kadang , kita selalu mempercayakan diri sepenuh nya kepada sahabat , karena sahabat itu , adalah tempat dimana kita mengalami susah , kita berlindung kepada sahabat di pelukan ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *