Derai Air Mata Untuk Sang Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Di sebuah rumah, tinggal seorang anak muda bersama Ibunya. Hari masih dalam keadaan pagi. Anak tersebut buru-buru ingin sampai ke Sekolah, alasannya bukan karena giat atau rajin, itu karena ia ingin mempunyai waktu untuk berpacaran.

“Bu aku berangkat” kata si Anak berjalan menuju pintu.
“Nak, bisakah kamu mengantarkan beras itu ke pasar terlebih dahulu sebelum ke Sekolah?” minta Ibunya sambil menunjuk sebuah karung besar berisi beras.
“Apaan sih Bu, udah mau berangkat juga. Entar telat gimana?” Dengan nada sedikit kesal anak muda itu menjawab.
“Sebentar saja Nak” Sang Ibu memelas.
“Ya ampun Bu, kenapa gak sama Ibu sendiri sih?”
“Kaki Ibu tiba-tiba sakit.”
“Ya udah nyuruh orang lain aja kali ah, udah aku berangkat daripada telat” Anak muda itu pun pergi.

Seperti biasanya anak ini berpacaran setiap pagi sebelum masuk pelajaran di Sekolah, sampai pada waktu mulai sore hari. Anak ini berjalan pulang ke rumahnya, seperti biasa ia melewati rute melewati pasar. “Kok rame gitu?” Si anak ini berjalan mendekati kerumunan pasar yang tidak seperti biasanya tersebut, dan melihat apa yang terjadi.
“lihatin apaan sih? Gak ada apa-apa.” Ternyata tidak ada apa-apa, hanya terlihat bercak darah sedikit saja, karena penasaran si anak ini bertanya kepada seorang pedagang permen di sebelahnya.

“Ada apa sih Pak?”
“Tadi ada kecelakaan.”
“Bapak lihat?”
“Sangat jelas Nak, kejadiannya tepat di depan mata Bapak”
“Boleh tahu gak Pak?”
“Jadi ada seorang Ibu, lagi bawa sekarung beras gitu. Kasihan. Bapak tadinya mau ngedatengin itu Ibu, tapi tiba-tiba Ibu itu jalannya goyah. Terus jatuh tersungkur, sialnya lagi banyak kendaraan motor. Kepala Ibu itu. Ah udahlah Bapak juga nangis lihatnya” Sang Pedagang meneteskan air mata.
“Oke Makasih Pak” Anak muda itu langsung berlari menuju rumah.

Dari kejauhan sudah terlihat rumahnya ramai dengan orang-orang, ia sudah tahu. Ia mengerti. Apa yang terjadi. Yang hanya bisa ia lakukan adalah berharap bahwa keramaian itu adalah sebuah acara menyenangkan, bukan seperti apa yang ia kira. Semakin mendekat, langkah kaki anak ini semakin melemah. Semakin tidak berdaya, seolah semua energinya tersedot oleh pikirannya sendiri. Langkah demi langkah membuat air matanya bertetesan satu per satu, semakin mendekati pintu rumah. Semakin ia tidak bisa berkedip. Semakin ia tidak bisa menyangkal dengan apa yang ia gambarkan dalam imajinasinya.

Tentu saja pintu rumah tersebut tidak ditutup karena banyaknya orang di sana yang keluar-masuk. Anak ini pun langsung memasuki rumah, tak menghiraukan tatapan kasihan dan iba yang orang lain pancarkan kepada dirinya. Memang persis seperti apa yang ia pikirkan, terlihat seorang wanita yang terbaring dengan kain putih menutupi setengah badannya, anak ini tahu. Bahwa itu adalah Ibunya. “Ibuu..” Sang Anak menangis.

Seketika itu juga, semua kenangan atas sang Ibu mengalir deras dalam pikirannya. Mulai dari kenangan pertama kali masuk taman kanak-kanak yang setiap hari sang Ibu antar dan temani, kenangan dimana sang Ibu menangis jika anak ini dipukul oleh Ayahnya. Dan ketika Ayahnya meninggal, anak ini menyalahkan kematian tersebut kepada sang Ibu, melampiaskan semua emosinya kepadanya. Sang Ibu tahu apa yang anak ini rasakan, makanya ia selalu menerima apa yang anak ini lontarkan.

Namun kejadian sebenarnya, Sang Ibu pun merasakan kepedihan yang amat luar biasa, bahkan setiap malam sebelum 40 hari ayah anak ini meninggal, Ibu selalu menangis. Namun kembali kepada rasa sayangnya kepada si anak, ia menutupi semuanya. Meski pada akhirnya si anak tidak menyadarinya, malah kenangan terakhir yang anak ini ciptakan kepada sang Ibu hanyalah kepedihan. Tidak ada jalan lagi bagi anak ini untuk bisa mengembalikkan sang Ibu ke dunia. Derai air mata itu pun percuma, hanya suatu reaksi penyesalan akan rangkaian kenangan bersama ibunya.

Cerpen Karangan: Mochamad Syah Rizal
Blog: http://rizalzalle.blogspot.com
Twitter: @Rizalzalle_
Facebook: Mochamad Syah Rizal (Rizalzalle)
Hanya seseorang yang haus akan berkarya meski hanya karya kecil.

Cerpen Derai Air Mata Untuk Sang Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Untuk Mama

Oleh:
‘Ah gimana nih?’ Batin Putri, Putri sedang memikirkan kado apa yang pas untuk mamanya karena sebentar lagi adalah hari ibu, ia ingin memberi kado yang biasa saja tapi berkesan

Dia Yang Tak Kukenal

Oleh:
Aku meletakkan sepatuku di rak khusus alas kaki yang terbuat dari kaca. Aku memasuki rumah sederhana yang terletak di sebelah selatan Surabaya. Hari ini, Aku pulang sangat terlambat. Biasanya,

Kau Yang Terindah

Oleh:
Nama ku Dewi, aku menemukan cinta pertama aku saat duduk di kelas 3 SMP. Mungkin terlalu dini untuk aku mengenali arti sebuah cinta saat masih berumur 14 tahun. Aku

Waiting

Oleh:
Sebuah rasa yang lama terkubur, menyesakkan dan menyakitkan. Itulah rindu. Rasa yang muncul begitu saja tanpa sebab, namun memberikan luka yang teramat menyayat. Lamunan itu muncul lagi, seperti biasanya

Sephia

Oleh:
Sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati. Menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *