Derita Seorang Anak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 December 2017

Di suatu desa terpencil, ada keluarga yang hidup harmonis. Mereka hidup berkecukupan, ayahnya bekerja sebagai seorang petani dan ibunya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kehidupan mereka sangat bahagia. Mereka mempunyai 2 anak yang bernama Bagas dan Santi. Bagas sekarang masih menginjak SD kelas 5, sedangkan adiknya, Santi menginjak SD kelas 2. Mereka bersekolah di SD yang sama. Hingga pada suatu hari ibunya menderita penyakit. Entah penyakit apa, mereka tidak mengetahuinya, karena tempat mereka jauh dari kedokteran/rumah sakit, sehingga mereka tidak dapat memeriksakan ibunya. Awalnya mereka ingin membawa ibunya ke rumah sakit yang ada di kota, namun uang mereka tidak cukup. Dan ayah mereka berfikir untuk mencari pekerjaan di kota agar dapat mengobati ibunya.

“Bagaimana ini? Apakah ayah tidak mempunyai uang untuk pengobatan dan pemeriksaan ibu?” Tanya Bagas
“Bukanya ayah tidak mempunyai uang, tetapi uang kita cuma sedikit, dan itu hanya buat makan sehari-hari kita.” Jawab ayahnya
“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, ayah?” Tanya Santi
“Iya, apakah aku harus ikut bekerja juga? Sementara kondisi ibu sudah parah, ayah..” lanjut Bagas
“Apakah kalian setuju jika ayah mencari uang ke kota? Karena ayah berfikir jika bekerja di kota, upahnya lebih besar daripada di sini. Dan jika uang ayah sudah terkumpul, ayo kita bawa ibu kalian untuk berobat.” Pendapat ayahnya
“Baiklah, terserah ayah saja. Jika menurut ayah ini yang terbaik, maka aku dan adik menyetujuinya.” Jawab Bagas
“Tapi bagaimana aku dan kakak, ayah?” Tanya Santi
“Kalian bisa kan jika merawat ibu kalian? Ayah pasti akan mengirim uang untuk kalian” jawab ayahnya.
“Baiklah, ayah. Jika itu menurut ayah yang terbaik, maka kami akan melaksanakannya”

Selang beberapa minggu setelah rencana untuk ke kota dibuat, ayah mereka mengirimkan lamaran pekerjaan dan diterima. Lalu ayah mereka segera bersiap-siap untuk pergi ke kota.
“Ayah pamit bekerja dulu ya.. Jaga ibu kalian baik-baik”
“Iya ayah.. Ayah cepat pulang ya..” jawab Bagas
“Aku pasti sangat rindu ayah” kata Santi
Mereka bertiga langsung berpelukan. Dan setelah itu ayahnya pergi ke kota.
“Ayah hati-hati di jalan” kata Bagas dan Santi sambil melambaikan tangan.

Sesampainya di kota, ia bertemu dengan wanita yang sangat kaya, cantik, dan baik hati. Wanita itu merupakan atasannya di kantor. Setelah bekerja selama 1 bulan, ia mengirimkan uang untuk anaknya, begitu juga dengan bulan selanjutnya. Namun pada saat sudah 1 tahun lebih, ayahnya tidak kunjung mengirimkan uang. Sementara kondisi ibunya di desa semakin kritis. Bagas dan Santi bingung mengapa ayahnya tidak mengirimkan uang, padahal biasanya ayah mereka selalu mengirimkan uang. Hingga pada suatu hari ibu mereka meninggal, tetapi ayahnya tidak mendengar kabar itu.

“Mengapa ayah tidak mengirimkan uang untuk kita, kak? Aku sangat lapar.” Tanya Santi.
“kakak juga nggak tau, dek” jawab Bagas.

Setelah kematian ibunya, Bagas dan Santi sangat menderita, dan mereka heran mengapa ayahnya tidak mengirimkan uang dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa kelaparan karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Lalu Bagas memutuskan pergi ke kota bersama adiknya untuk menyusul ayahnya. Di kota, mereka tidak mempunyai tujuan. Agar mereka tidak merasa sangat kelaparan, terpaksa mereka mengemis di pinggiran jalan.

Pada saat hujan turun dengan deras, mereka berdua berada di pinggir jalan dengan pakaian yang robek. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di samping mereka, dan orang yang ada di mobiil itu turun menghampiri mereka. Ternyata yang keluar dari mobil itu seorang wanita berhijab yang baik hati, namun sepertinya wanita itu sedang mengandung.

“Apa kalian baik-baik saja?” Tanya wanita itu.
“Iya, kami baik.” Jawab Bagas dengan kebingungan.
“Kak, siapa orang itu?” Tanya Santi ke Bagas dengan suara pelan. Bagas hanya menggelengkan kepala karena dia juga nggak mengetahuinya.
“Di mana orangtua kalian? Mengapa kalian di sini?” tanyanya lagi dengan nada rendah dan lembut.
“Ibu kami sudah meninggal, dan kami tidak tau keberadaan ayah kami. Kami di sini juga tidak mempunyai tempat tinggal, rumah kami di desa. Tujuan kami ke sini untuk mencari ayah kami.” Jawab Bagas sambil menangis.
“Kalian sekarang tenang saja, tante akan membantu kalian. Apakah kalian mau ke rumah tante?”
“Mau tante” sahut Santi
“Tapi.. apakah kami tidak merepotkan tante?” Tanya Bagas
“Tidak sama sekali. Oh iya, nama kalian siapa?”
“Namaku Santi, dan ini kakakku namanya Bagas” jawab Santi
“Baiklah ayo kalian ikut sama tante”

Sesampainya mereka di rumah tante itu, mereka melihat seorang laki-laki dari belakang. Orang itu kelihatan mirip dengan ayahnya jika dilihat dari belakang. Kemudian lelaki itu menoleh, dan ternyata benar itu ayahnya.
“Bagas, Santi, itu suami tante”
Lalu Bagas dan Santi menghadap ke arahnya, dan mereka terkejut karena melihat ayahnya.
“Mana suami tante? Itu??” Tanya Bagas sambil menunjuk ke arah lelaki itu.
“Iya, itu suami tante”
Setelah mendengar jawaban dari perempuan tersebut, Bagas dan Santi terkejut, begitu juga dengan ayah mereka.

“Jadi, selama ini ayah ke sini bukan untuk bekerja? Melainkan untuk menikah dengan wanita lain? Apakah ayah sudah melupakan kami? Apakah ayah sudah enggak ingat sama ibu? Ayah di sini senang-senang dengan wanita lain, tapi di desa, kami menderita ayah.. ibu meninggal gara-gara penyakit yang dideritannya, itu juga kesalahan ayah karena ayah tidak memberikan kami uang!” Kata Bagas
“Ayah tega sama aku dan kakak. Aku dan kakak menderita ayah, kami mencari uang untuk makan kami dengan cara mengemis. Tapi ayah di sini malah enak-enakan.” lanjut Santi dengan kesal. Ayahnya hanya diam seakan tidak sadar dengan apa yang terjadi. Sedangkan istrinya hanya memperhatikan apa yang sedang terjadi sekarang.
“Tidak, itu tidak seperti yang kalian ucapkan anakku..” Jawab ayahnya.
Ayahnya belum selesai berkata, namun Bagas dan Santi sudah meninggalkan mereka. Entah bagaimana keadaan mereka selanjutnya, yang jelas sewaktu pergi yang dirasakan Bagas dan Santi hanyalah kekesalan, kebencian, dan amarah.

TAMAT

Cerpen Karangan: Rina Triasih Rhomadani
Facebook: Rina Triasih Rhomadani
SMPN 1 PURI 8A

Cerpen Derita Seorang Anak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengertilah Bi

Oleh:
Hari hari aku bagaikan awan hitam yang menyelimuti langit di angkasa, tak ada sinar cahaya yang menuntunku untuk bisa menyinari orang yang ku sayangi. Perasaan sakit, tak rela, semua

Antara Aku Cinta Dan Maut (Part 1)

Oleh:
Matahari berada di ufuk timur menandakan hari menjelang pagi dan datangnya hari baru. Seorang gadis kecil tampak bangun dari tempat tidurnya. Gadis itu bernama Rere. “Re. Ayo mandi terus

Little Xarlin

Oleh:
Seorang gadis kecil berumur 7 tahun berdiri sambil merundukkan kepalanya. Air matanya menggenang di kelopak matanya, ia menahan air mata agar tak jatuh. Ia kini berdiri seperti orang yang

Dari Rahim Yang Sama

Oleh:
Seharian penuh mentari menyinari bumi pertiwi. Kini ia telah kembali ke peraduannya, bercumbu dengan belahan bumi lainnya. Pendarnya yang memancar dari sela-sela awan sore di petala langit senja, kini

Doa Ku Selalu Untuk Mu, Sayang

Oleh:
Marisa Anastasya itulah adik kesayanganku umurnya 18 tahun. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Risa, dia anak yang baik, lucu, dan cantik. Jadi tak heran jika banyak lelaki yang menyukainya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *