Desa Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Liburan
Lolos moderasi pada: 24 February 2016

Tiin, Tiinn suara klakson mobil terdengar di mana-mana, kanan kiri depan belakang semua mobil tak bisa bergerak, setiap hari selalu begini sarapan pagi dengan kemacetan itulah Jakarta, tapi walau mengeluh tetap saja papa nggak mau pindah, alasannya tugas kantor, dan tugas kantor. “Papa, kan udah Rinjani bilangin, tinggal di desa aja sama Nenek, kan lebih asyik udaranya sejuk kalau di jakarta huh,” keluh Rinjani.
“Ya mau gimana lagi sayang, pekerjaan Papa di sini,” seru papa sambil mengendarai mobilnya. Rinjani rindu masa kecil di desanya, udara sejuk, pohon-pohon yang hijau menyegarkan mata yang memandang, dengan ayunan kecil di bawah, dulu ia dan teman-teman di desanya sering bermain di situ, terkadang ia suka memanjat pohon jambu yang buahnya segar, sampai-sampai nenek memarahinya karena nenek takut Rinjani jatuh.

Rinjani masih ingat masa-masa ia SD kelas 1 dulu Rinjani ingat semua masa masa indah itu. Pagi itu, udara sejuk masuk ke celah-celah jendela kamar Rinjani, Rinjani kecil terbangun dari tidurnya, segera ia berjalan ke luar kamarnya menuju kamar mandi dekat dapur nenek. “Rinjani, salat subuh sek yo,” kata nenek dengan logat jawanya. “Iya, Nek,” kata Rinjani sambil mengusap matanya yang masih dalam kantuk. Rinjani mengambil air wudhu yang mengalir dari kendi di atas batu yang dipenuhi lumut itu, ibu mengawasi Rinjani dari kejauhan kalau-kalau Rinjani terpeleset.

“Selamat pagi, Bu,” Rinjani memeluk ibunya. Ibu tersenyum dan mengusap rambut Rinjani.
“Ibu, nanti Rinjani masuk sekolah kan?” Rinjani kecil baru saja diterima sebagai murid baru di SD dekat rumah nenek. Ia bahagia sekali.
“Iya, Rinjani diantar Ayah ya,”
“Oke, Bu,” Rinjani tersenyum memamerkan lesung pipitnya. Rinjani sejak kecil sudah terbiasa mandiri, kata nenek anak yang rajin akan mendapat nilai bagus, padahal kata ibu, kalau kita rajin itu bisa bermanfaat bagi semua kegiatan kita, Rinjani belum terlalu paham pesan pesan itu, tapi toh, Rinjani terus semangat.

“Ayo Nak, kita berangkat,” kata ayah, sambil menyalakan motornya.
“Assalamualaikum, Nek dadah Ibu,” Rinjani melambaikan tangan.
“Yeye Rinjani sekolah Yeyeye,” Rinjani bersenandung riang, membawa terbang kebahagiaan Rinjani ke langit biru.
Tapi itu semua memori Papa tetap saja begitu, tak akan pernah mau mengulangi masa-masanya, mungkin karena tugasnya (lagi).

“Nak, kamu kenapa sih? Kok murung gitu?” tanya Ibu.
“Ibu, liburan besok ke rumah Nenek ya,”
“Tumbenan, kamu ngajak ke rumah Nenek?” Ibu memegang pundak Rinjani.
“Ya Rinjani bosen aja Bu awal awal sih di Jakarta enak Bu serasa anak gaul gitu tapi lama-lama pengap, udaranya kotor, pokoknya nggak enak Bu Rinjani kangen aja sama desa Nenek Rinjani pengen pulang ke desa boleh kan Bu?” Rinjani memohon. “Ya, Ibu sih boleh aja kan kamu sudah libur kamu bisa menghabiskan waktu di desa selama dua minggu tapi kendalanya Ayah itu ada meeting full di kantor, dan itu tidak bisa ditinggalkan jadi gimana?” Ibu terlihat bingung menatap anak semata wayangnya.

“Gini aja aku naik kereta gimana Bu?” Rinjani masih menatap mata ibu penuh harap.
“Sendirian? Apa kamu berani Nak?” Ibu meragukan apa yang baru saja Rinjani katakan.
“Yee Ibu ngeremehin Rinjani nih? Ibu kan tahu Rinjani ini sudah besar nggak cengengan kayak dulu lagi Ibu sendiri kan yang bilang kalau Rinjani harus mulai mandiri?” Rinjani menjelaskan dengan pelan berharap ibu benar-benar mengerti perasaannya. “Oke kalau gitu Ibu bicarakan dulu ya sama Ayah kamu yang sabar,” Ibu mengecup kening Rinjani, lalu berdiri menutup pintu kamarnya.
“Yees!” Rinjani bersorak.

Malam masih belum terlalu gelap keluarga Rinjani sedang menghabiskan makan malam mereka. Rinjani senyum-senyum sendiri tapi matanya masih menatap ayahnya menanti kata ‘setuju’ dari mulut ayahnya. “O iya, tadi Ibu sudah cerita semuanya ke Ayah, ya Ayah sih setuju setuju aja karena itu sebagai pengalaman pertama kamu naik kereta, iya kan?” Rinjani tak percaya pada apa yang ayah katakan.
“Serius Yah? Yess thanks ya Yah,” Rinjani bersorak senang.
“Kalau gitu sekarang persiapkan barang-barang yang akan kamu bawa, jangan sampai ada yang terlupa,” Pesan ibu sambil tersenyum melihat anaknya bahagia.
“Siip laksanakan!” Rinjani hormat kepada ibunya, dan berlari ke kamarnya, hatinya bahagia.

Suara mesin kereta api terdengar nyaring, Ibu mengantar Rinjani ke stasiun, Rinjani sangat tidak sabar untuk duduk di kursi dalam kereta api. “Kayaknya kamu seneng banget sih Nak?” tanya ibu keheranan.
“Iya dong Bu eh keretanya datang Bu, Rinjani pamit dulu ya. Assalamualaikum,”
“Iya Nak, hati hati ya jaga diri,” Ibu melambaikan tangan sesaat.

Rinjani menghirup napas dalam dalam, aroma tanah di desa ini terus membuat Rinjani bersemangat, gemericik air di sungai yang berkilau diterpa sinar mentari, walau hari itu panas tapi tetap saja adem karena banyak rerimbunan pohon yang meneduhkan, Rinjani sudah tidak sabar bertemu nenek, setelah 5 tahun tidak bertemu. “Nenek,” Rinjani berteriak melihat nenek yang sedang menyapu halaman, rumah nenek masih sama, hanya taman yang indah di halaman nenek yang membuatnya sedikit berbeda, tapi memori Rinjani dengan rumah nenek masih teringat.

“Rinjani kamu sudah besar ya kelas berapa sekarang kamu, Nduk?” nenek tersenyum, hihi nenek giginya sudah ada yang ompong. “Kelas 6 Nek, o iya katanya sekarang Dila ya yang menemani Nenek?” Rinjani menanyakan sepupunya.
“Iya, itu dia lagi asah-asah,”
“Ayo, masuk dulu,” kata nenek lagi.

Rinjani merebahkan badannya di kasur. Dulu ini kamarnya, sekarang Dila yang memakaianya, rapi sekali, pasti Dila anak yang rajin. “Hai Rinjani, kapan kamu datang? Aku kok ndak tahu?” Dila mengibatkan tangannya yang basah.
“Baru saja kok kamu apa kabar?” Rinjani memeluk sepupunya itu.
“Baik-baik aja eh sampeyan mau minum apa?” Dila tersenyum manis.
“Air putih aja deh eh tapi kamu nggak usah repot-repot loh nanti aku buat sendiri nggak apa-apa kok,” kata Rinjani sambil beranjak ke luar. “Eh, sebelumnya temenin aku jalan-jalan keliling desa ini yuk, jalan kaki aja mau nggak?” tawar Rinjani, Dila mengangguk.
“Mbah, Dila badhe ngancani Rinjani mlampah-mlampah,” Dila dan Rinjani pamit lalu mencium tangan Nenek.
“Ya, mengko Rinjani bobo karo koe yo nduk,”
“Nggeh Mbah. Assalamualaikum,” kata Dila, lalu berjalan di samping Rinjani.

Sore itu Rinjani menghabiskan waktu menikmati indahnya desa, dengan sungai yang menghiasinya, dan warna hijau yang menyegarkan mata, kini, ia berhenti di sebuah sawah, ia mengambil duduk di atas rerumputan mengamati para petani yang masih bekerja di sawah, angin sore kala itu berhembus perlahan, rambut panjang Rinjani ikut terbang pelan tertiup angin.

“Enak kan tinggal di desa?” tanya Rinjani, Dila mengangguk.
“Kalau pagi, banyak anak sekolah jadi rame,”
“Di Jakarta, tepatnya di kotaku uhh hampir setiap hari cuman klakson mobil aja yang kedengeran, apa lagi kalau macetnya pas siang hari udah udara panas, polusi, pokoknya serasa di neraka!” keluh Rinjani sambil bertopang dagu. “Tapi, sebenernya kamu pindah ke sana kan karena Bapak kamu bekerja, kudune sampeyan bersyukur,” Dila memandang lurus ke sawah hijau.
“Iya juga sih. Kamu bener makanya aku memilih liburan ke sini, ke rumah Nenek pasti banyak hal yang bisa aku ulang dari masa kecilku lagi pula liburan ini Papa nggak bisa nemenin waktuku sepenuhnya,” Rinjani beranjak.
“Pulang yuk pasti Nenek udah nungguin kita, makasih ya udah nemenin aku,” Rinjani tersenyum, lalu memandang langit jingga.

Rinjani sudah mau tidur sambil menarik selimutnya, Dila sudah berada di sampingnya, lagi-lagi ia teringat saat dimana rumah nenek belum ada listrik, jadi masih pakai lampu minyak, waktu itu ia mengeluh digigit nyamuk-nyamuk nakal, tapi sekarang rumah nenek udah ada listriknya, udah banyak direnovasi juga, Rinjani menutup matanya dan mulai bermimpi.
“Nenek, Nenek itu sekarang umur berapa?” iseng-iseng Rinjani menanyakan umur nenek.
“Emm pira ya? 57 po ya?” nenek menggaruk rambutnya.
“Oh gigi Nenek juga mulai ompong hihi oiya, rambut Nenek juga mulai memutih tapi nggak apa-apa, nenek is the best!” Nenek mengernyitkan dahi.
“Isetbes? Isetbes ki panganan opo?” Dila tertawa.
“Is the best Mbah, is the best, artine apik banget, ngaten Mbah, sanes panganan,” Dila menjelaskan. Nenek mengangguk mengerti.

Stasiun ini, yang akan menjadi saksi perpisahan Rinjani, tapi ia masih berharap ada kesempatan bertemu nenek lagi. “Nek, Nenek nggak bakal lupain Rinjani kan, walau Nenek sudah tua?” Rinjani menatap wajah keriput nenek, matanya sayu. “Ora, ora,” nenek memeluk Rinjani erat.
“Dila, jaga Nenek ya,” Dila mengangguk pasti. Rinjani melambaikan tangan, lalu kakinya melangkah masuk ke dalam kereta, memandang nenek dan Dila dari kaca kereta, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah, panjangkanlah umur Nenek, sehatkanlah badan Nenek, agar aku bisa bertemu Nenek lagi Amin.”

Cerpen Karangan: Izzatus ‘Adilla Ahda
Facebook: Izza Ahda

Cerpen Desa Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Untuk Ditangisi

Oleh:
Hari itu aku ingin tersenyum selebar mungkin. Bukan karena ada sebuah kebahagiaan mendalam dibaliknya, aku ingin hari itu segalanya berjalan dengan lancar, tanpa aku harus melihat adanya tangis ataupun

Merindukan Ayah

Oleh:
Waktu sore hari, aku berniat untuk pergi ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Waktu di perjalanan menuju taman aku sempat berhenti melihat seorang, anak yang sedang

Sayangi Aku Ibu

Oleh:
TENG… TENG… suara bel berbunyi cukup keras hingga sampai di telinga murid murid SMP Negeri 03 DOKO. Siang itu fara tidak langsung pulang ke rumah namun ia pergi ke

Kakek

Oleh:
Malam ini terasa sepi, sunyi. Hanya terdengar jangkrik bernyanyi. Semuanya terasa hampa. Seorang gadis sedang duduk di dekat jendela kamarnya. Lia nama gadis tersebut. Ia sedang memandang ke arah

Andai Kita Tau Hari Esok

Oleh:
Dini hari Pak Darto dan istrinya Bu Lasmi, biasa berbincang lepas di teras, kebiasaan yang telah lama mereka lakukan sebelum keberangkatan Pak Darto ke pasar. Sambil menyajikan sarapan dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *