Detak Berdetak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 September 2017

Kenalkan, aku Jean. Aku anak yang paling nakal dari banyak siswa nakal yang kalian tau! Hei, jangan remehkan aku! Aku pernah memecahkan pot bunga kesayangan guru biologiku, aku pernah merusak pintu toilet wanita, berkelahi dengan teman pria, dan yang paling parah adalah aku pernah mengunci guru di toilet. Hal yang sangat luar biasa bukan? Kalian berani?

“Jean!” jerit sebuah suara dengan keras. Tepatnya membentak.
Ah! Pasti Bu Reina!
“Apa?” tanyaku sambil membalikan wajah menengok ke arah asal suara itu.
“Ibu mau kamu belajar dengan rajin! Sebulan lagi kamu akan menghadapi ujian!” ucap Bu Reina cukup lembut.
“Oh.” Ucapku singkat kemudian aku segera membalikan badanku lekas pulang. Ups.. tepatnya bermain.
“Tunggu!” ucap Bu Reina. Aku diam. “Bagaimana? Bagaimana dengan keluargamu?”
“Bu saya harus belajar untuk UN. Ijinkan saya pulang.” Ucapku cepat.
Aku segera berlari ke arah lapangan sintetis di belakang sekolah. Jantungku berdegup tak karuan.

6 tahun lalu
“Aku benci mama! Aku benci papa! Dasar orangtua aneh! Tidak bisakah bicara dengan baik?! Memalukan!” Jeritku keras dalam kamar.
Aku luapkan semua kekesalanku entah apapun itu. Kamarku segera mengeluarkan suara yang tak karuan. Entah berapa barang yang rusak dan hancur aku lempar.

“Jean!” Suara lembut nenekku memanggilku. “Jean! Kau baik-baik saja?” tanya nenek.
Aku segera membuka pintu kamarku dengan lembut, kemudian memeluk nenek.
“Nek!” ucapku tersengal-sengal.
“Jean, kau sudah dewasa, tak baik seperti ini. Kau harus bisa menjaga emosimu.” kata nenek menenangkanku.
“Dengan ayah dan ibu yang tuli bisu?” tanyaku yang melepas pelukan nenek seraya menghapus air mata.
“Tentu! Seorang yang hebat adalah seorang yang bisa menjaga emosi, yang bisa mengatur emosinya.” jelas nenek. “Nenek lebih suka kamu menyayangi dan menghormati kedua orangtuamu. Ibumu adalah orang yang telah melahirkanmu, ayahmu yang telah menghidupimu, membiayaimu hingga bisa juara kelas seperti ini.” Jelas nenek lembut sambil memberi kecupan kecil di kening. “minta maaflah pada mereka.”
Aku mengangguk kecil tanda setuju. Nenek pergi meninggalkanku.

Sehari itu ku tidak keluar kamar. Aku merenung. Entah apa perasaanku, semuanya kacau. Antara merasa bersalah dan takut. Apapun itu, sepertinya benar kata nenek aku sudah berlebihan. Eh tunggu! Besok aku ulang tahun. Aku rasa aku akan minta maaf besok pada kedua orangtuaku. Kuharap, mama dan papa tidak marah tentangku hari ini. Semoga ya Tuhan, ampuni dosaku.

Pagi sekali aku sudah bangun dan mengganti pakaian. Pukul 6.00 aku segera turun dari kamarku di lantai 3. Kupikir mama dan papa akan membangunkanku, ternyata tidak. Apakah mereka masih marah? Kecewa padaku?
“Yuli… Yuli… Siapa yang urus anakmu nanti? Siapa? ..” tangisan nenek membuatku berlari turun dari tangga.
“Nek kenapa? Ada apa?” tanyaku.
“Mamamu Jean! Mamamu… dosa apakah dia?” tanya nenek sambil penuh air mata di pipinya. Di tangan dan di lantai kulihat tisu berserakan.
“Mamamu meninggal Jean. Tertabrak mobil pulang membelikan kue tart untuk ulang tahunmu.” ucap nenek seraya menunjuk ke arah meja.

Segera aku lari ke arah meja makan. Jantungku seolah berhenti berdetak. Sebuah kue tart berukuran besar dengan tulisan “Selamat Ulang Tahun Anakku Jean Semoga Sukses Selalu”. Air mataku menetes membasahi kedua pipiku. Di sebelah kue kulihat ada selembar kertas dilipat kecil. Segera aku buka.

“Jean, selamat ulang tahun yang ke-12. Papa dan mama selalu menyayangimu. Maafkan mama dan papa tidak bisa membuatkan ulang tahun ke-12mu seindah dan semewah perayaan ulang tahun teman-temanmu. Mama rasa kamu akan malu nanti bila teman-temanmu tau bahwa mamamu ini tuli bisu. Mama harap kamu bisa jadi anak yang sukses. Rajinlah belajar, jangan pernah putus asa. Jadilah orang yang tekun dan berguna. Mama dan papa mencintaimu.”
Membaca titik terakhir, mataku gelap. Pingsan.

Sejak hari itu hidupku berubah. Emosiku semakin tidak bisa dikendalikan. Papaku tidak pernah mengobrol denganku dan memilih berdiam di kamar hingga akhirnya ia juga meninggal karena stroke. Nenekku selalu memarahiku. Sejak ayahku meninggal, aku mulai keluyuran. Bermain ke mal sampai malam, menginap di rumah teman, membantah guru. Aku ingin sekali agar tidak naik, bahkan lebih baik jika di DO (Drop Out). Tapi semuanya tidak pernah terjadi.

Sampai aku beranjak ke jenjang SMA. Ini akan lebih menarik pikirku. Semua guru tidak pernah suka padaku. Justru sebaliknya aku suka dengan kebencian mereka padaku. Namun entah mengapa, jika aku tidak mengerjakan tugas, justru wali kelasku rela mengajariku dari siang hari sepulang sekolah sampai malam. Ketika aku tidur di pelajaran, tapi tidak di pelajarnnya. Namaku selalu disebut di kelas ketika pelajarannya berlangsung.

Ibu Reina. Entah mengapa, aku berat mengucap namanya. Dia tahu tentang masa laluku. Entah dari siapa, yang jelas dia tahu semuanya.
“Detak berdetak.” Kata guru kimia di hadapanku.
“Apa?” tanyaku
“Detak berdetak.” Ucapnya sekali lagi dengan lembut. “sebuah hati akan mati tanpa detak. Sebaliknya dia akan hidup dengan detakan.” Ujarnya lagi.
Aku terdiam bingung.
“Jantungmu akan berdetak dengan cinta. Kekuatan yang luar biasa dari tubuhmu, itulah cinta sesungguhnya. Kekuatan yang positif dan keteguhan yang menghidupkan detak jantungmu.” Ucap Bu Reina. “Saat masalah menimpamu, tetaplah teguh dan gigih. Kegigihanmu yang membuatmu tetap hidup. Tuhan selalu besertamu. Kekecewaan bukanlah segalanya. Semua yang bisa kau lakukan adalah membanggakan kedua orangtuamu.”
Sedikit tetes air bening menuruni pipiku.
Ibu Reina tersenyum. “Berdetaklah bersama cinta. Itulah hidup. Berdetaklah bersama mimpi. Itulah semangat.”

Cerpen Karangan: Davina Senjaya
Facebook: Davina Senjaya

Cerpen Detak Berdetak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Membawa Korban

Oleh:
Ayu menangis tanpa mengeluarkan suara, di tengah malam yang sunyi di atas ranjangnya. Dia sangat sedih karena Ayah dan Ibunya berpisah, semenjak umur 3,5 tahun Ayu tinggal bersama wanita

Dear Papa dan Mama

Oleh:
Chelsea duduk manis sambil membaca buku. Chelsea membaca buku cerita rakyat. Dia tersenyum membaca buku itu. Buku yang sangat bermanfaat dan menyenangkan. “Non Chelsea, ayo makan siang dulu,” pinta

Harapan

Oleh:
Aku terbangun. Dari tidurku. Aku merasa di sebuah tempat yang sangat asing. Di padang rumput yang sangat luas dan cuacanya sangat cerah. “adit.. Kesini dong..” terdengar suara perempuan memanggilku.

Haruskah Sama Sama Lagi

Oleh:
Apakah cuma aku yang di dunia ini yang tidak bisa punya barang sendiri? Harus terus berbagi dan berbagi. Mentang-mentang aku lemah dan tak bisa apa-apa bukan berarti aku tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *