Dewasa Sejak Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Mentari ini kian membumbung tinggi dan terus memanas saja membakar kulitku. Tak pernah ada jenuh-jenuhnya memberikanku sengatan yang begitu dahsyat dan bahkan sampai melelehkan tubuhku. Sekilas mata memandang, Ibu dan Bapak sepertinya tak pernah mengeluh dengan keadaan hidup ini. Kulit mereka sudah hitam, kurus, dan bahunya.. seperti lagu Ebit. G. Ade itu loh. Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk. Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia. Itulah kedua orangtuaku yang berusaha untuk memberiku kebahagiaan dengan ekstra kerja keras yang semangatnya tak pernah pudar walau dimakan usia.

“Aku harus lebih semangat dari kedua orangtuaku.” tandasku dalam hati untuk menghibur. Seharian bekerja di ladang cukup menguras energiku dan kedua orangtuaku. Orang-orang yang tak seperti kehidupanku pasti mengira menyabit rumput di ladang memang susah daripada di sekolah. Namun semuanya di mata Ibu Bapaku sama saja asal bersungguh-sungguh.

“menyabit rumput di sawah ini ibarat dirimu yang harus memilah mana yang baik dan tidak baik untuk masa depanmu, lalu menyabit rumput di sekolah ibarat dirimu yang harus membasmi seluruh rumput itu agar kamu dapat jalan menuju kesuksesanmu anakaku.” ucapan Ibu segera tertancap dalam benakku. Namun yang sangat aku sayangkan, selama hidup aku tak pernah mendapat kehangatan pelukan Ibu. Ibu hanya bisa melemparkan senyum manis yang memutar haluanku untuk tak lagi ada keinginan untuk memeluknya.

Malam tiba dengan sejuta pesona kelap-kelipnya. siapa lagi kalau bukan bintang sebagai pelakunya dan bulan pun turut berperan malam ini. Aku sengaja memberikan jalan bagi akalku untuk mulai bercengkerama dengan dua tokoh utama ini. “hai bintang. Kenapa kamu bisa memiliki cahaya yang redup-redup dan sedikit mengeluarkan cahaya, tak seperti bulan?” Tiba-tiba Ibu dari belakang membalas pertanyaan tolol untuk anak seusia 10 tahun ini.
“walaupun memiliki cahaya sedikit tapi dia memiliki banyak teman, bukan?”
“eh, Ibuuu hehe iyaa.” balasku sambil cengengesan.

“toloooooong, toloooong..” terdengar dari suara rumah tetangga sebelah. Aku terkejut bersama Ibu, dan tanpa sadar kami berdua langsung berlari menuju arah suara itu. Ternyata itu suara dari Rifal yang berusaha membawa kedua orangtuanya yang sudah terkapar tak bernyawa. Kami sontak terperanjat melihat peristiwa ini. Bapak dan Ibunya telah berlumur darah terkena sabetan benda tajam. Bapak yang melihat langsung mengumumkan dari corong masjid dan Ibu bersamaku membantu menenangkan Rifal yang berusia 9 tahun.

Sejak peristiwa malam kelabu itu, Rifal tetap tinggal di rumahnya namun aku bertanggung jawab menemaninya di situ. Ini permintaan Rifal kepada masyarakat yang pada saat itu sedang rapat di balai desa. Dengan wajah polos dan lugunya bersi keras meminta agar aku sendiri yang menemaninya di rumah megah itu. Aku langsung menyutujuinya karena aku sangat kenal baik dengan Rifal saat ia masih kecil, masih belum masuk SD. Walau maut mengintai dari bilik, aku tegas setuju menemani Rifal tanpa ada niat untuk menikmati hartanya sedikit pun. “yaah, aku harus berani menanggung semuanya meskipun umurku masih 14 tahun.”

Setiap akan berangkat sekolah, aku memasak untuk Rifal agar ia berangkat sekolah dengan semangat. Aku merasa sebagai Ibu bagi Rifal yang masih kelas 3 SD itu. Untung Ibu Bapaknya PNS sehingga ia dapat tunjangan dari pemerintah sampai ia kuliah nanti. Aku masih bisa bersyukur ujiannya hanya waspada pada takdir. “iyaa pada takdir, karena takdirku tak ku tahu akan mati di tangan penjahat seperti Ibu Bapaknya Rifal atau memang takdir dari Allah.” pikirku. Setelah semuanya selesai, aku berangkat bersama Rifal mengendarai Sepeda ke sekolah. Tak lupa kami mampir di rumah Ibu bapakku. Kini mereka hanya tinggal berdua saja sejak aku tinggal di rumah Rifal.

Sesampai ku di sekolah, teman-teman mulai mengejekku dengan kata-kata yang tak ku duga-duga.
“eh teman-teman, si janda muda sudah masuk sekolah.” ujar Nita yang duduk di atas bangkunya. Teman-teman langsung meneriakiku.
“huuuuu, huuuu janda pemberani tuh ceritanya.” balas Roji.

Semenjak aku izin tidak masuk tiga hari, perlahan-lahan di hari ketiga aku masuk sejak peristiwa itu. Mereka sudah mengetahui kalau aku tinggal berdua bersama Rifal di rumahnya. Aku hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan teman dengan sabar. Tiba saat ke luar main, aku ke luar berniat untuk bermain dengan teman-teman seperti biasa. Namun mereka menghindar semua. Rina dan kawan-kawannya yang biasa bersamaku curhat malah menghindar semua.

Indra yang sering bersamaku diskusi dengan susan menghindariku juga. Dan kini sahabat terbaikku sekaligus teman sebangkuku menghindariku saat ingin gabung dengan mereka. Aku tak tahu apa yang telah terjadi pada mereka. Guru-guru juga rupanya pada menghindar dariku. “ya Allah apa yang terjadi pada mereka?” hatiku bertanya-tanya dalam hati. Apa mereka kecewa jika aku sering kali mengikuti lomba tapi tak berhasil-hasil? Atau apa mereka juga terpengaruh dengan peristiwa kelabu yang dialami Rifal?

“aaaaahhhh, tenang lin. Mereka hanya sebentar berubah. Mereka akan kembali kepadamu seperti biasa.” hiburku. Namun aku terima kenyataan, bahwa hatiku berontak untuk terus percaya bahwa gara-gara aku dituduh ingin menikmati harta kekayaan Rifal yang megah itu. Aku lemah dengan prasangkaku tentang sikap dan perubahan dari mereka semua.

“gimana sekolahmu tadi pagi dek” ujarku mengawali saat akan menemaninya tidur.
“teman-teman sangat prihatin denganku kak, guru-guru juga turut berduka cita dengan peristiwa yang ku alami.”
“apa tak ada yang menyebut nama Kakak?” jawabku beranikan diri untuk bertanya padanya.
Seakan ia mengerti dengan maksud pertanyaanku. Ia memilih diam cukup lama dan tertunduk lemas. Seketika ia memelukku dengan erat. Ia menangis tersedu-sedu di pelukanku.
“jangan tinggalkan aku sendiri kak? hanya Kakak yang bisa membuatku nyaman berada di rumah ini.” ujarnya.
“iya dek, Kakak akan selalu menemanimu di rumah ini. Memang apa kata mereka pada adek?”

Napasnya masih tersengal-sengal sambil menangis untuk menjelaskan padaku.” mee..meeereka bilang Kakak cewek matre yang hanya menginginkan hartaku.”
Dugaanku benar bahwa gara-gara Rifal memintaku untuk tinggal di rumahnya, semua orang berubah dan mulai membenciku. Tak sadar air mataku menetes mengenai wajah tampan Rifal.
“Kakak menangis? Maafkan aku kak, gara-gara aku Kakak jadi sedih.” ujarnya merasa bersalah.
“iya dek, tak apa-apa.”

“ini kan kemauan adek, kenapa mereka menyalahkan Kakak. Padahal Kakak gak salah apa-apa.” tandasnya.
“sudaaah, adek gak usah pikirkan itu lagi. Pikirkan pelajarannya adek, tinggal sebentar lagi mau semesteran.”
“iya Kakakku yang manis.”
“sekarang adek tidur yaah sambil Kakak ceritakan tentang si burung dara dan semut. Mauuu?”
“mauuu kaaaak.”

Siluet matahari kini kembali menyapa kehidupanku yang sudah berubah drastis. Mulai banyak cobaan dan rintangan yang diberikan untuk hidupku. Sambil mengayuh sepeda ontel pemberian Bapak, aku berteriak saat melintasi persawahan dengan Rifal di belakangku.
“kami pastiii biissaa!!” Tanpa ku sadari Rifal lebih keras menyambut teriakanku. “melawaaaan, meeereekaaa.”

Tak ku sangka dia walaupun kelas tiga SD sudah bisa memahami perasaanku. Ternyata watak dan sifatnya sangat kental menurun dari kedua orangtuanya yang cerdas dan baik hati. Namun naas sekali takdir mereka berujung pada sebuah benda tajam. Pikiranku lagi-lagi dihantui oleh benda tajam yang siap memutuskan takdirku bersama Rifal. Saat pukul 06.45 WITA, tiba-tiba sepedaku berjalan sangat lamban dan sulit untuk dikayuh.

“sepedanya kenapa kak?” tanya Rifal.
“gak tahu dek, Kakak coba kayuh lagi.. hiiaaak..”
Aku benar-benar gak bisa dan memilih untuk turun.
“aduuuh deeek, ternyata bannya pecah.” keluhku.
“kak, ini ada paku yang nancep di bannya. Aduuh ada orang yang ngerjain kita kak.”
Perasaanku mulai gak tenang, jalanan masih sepi karena masih terlalu pagi.

“adeeek lariiiii .. ayooo lariii.” teriakku seketika untuk menghapus ketakutanku sambil berlari mendorong sepeda.
“aaaaaa, laarriii ada hantuuu, hantuuu.” teriaknya mengikuti tingkahku.
Napas Rifal tersengal-sengal sampai di sekolah. “huuuuh, kak. Alhamdulillah kita sampai.”
Aku pun juga seperti itu, napasku lebih tersengal-sengal daripada Rifal. Tenaga yang ku keluarkan lebih terkuras karena berlari sambil mendorong sepeda ontelku.

“ya sudah, sekarang Rifal masuk dan tetaap semangaaaat, huuuuuh.” ujarku penuh ceria.
“hehe iya Kakakku yang manis.. daaah. Kakak juga semangaaaat.” balasnya sambil melambaikan tangan dari kejauhan. Kata-katanya yang terbiasa memanggilku manis sedikit membuat lucu pada diriku. Dan selalu membuatku tersenyuum.
“hmm, adek, adek.” gumamku.

Sore ini aku mengajak Rifal jalan-jalan mengitari sawah di desa ini. Besok kami sama-sama menghadapi ulangan semester genap. Tujuan saat ini hanya untuk refreshing saja dengan sepeda ontel yang sudah ku perbaiki dua hari yang lalu. Rifal mulai membuka percakapan di sore hari yang indah ini.
“kak, dulu Ibu bilang padaku setiap mengalami kesulitan. Aku disuruh untuk coba lagi, coba lagi, dan coba lagi.”
Aku merespon pertanyaannya sambil mengayuh sepeda dan menikmati udara sore hari dengan hembusan semilir angin. “hanya itu kata Ibu?”
“iya kak, hanya itu. Sampai-sampai jajan yang aku beli yang ada kata berhadiah jika beruntung, pasti ada secarik kertas yang bertuliskan. ‘coba lagi’ di dalamnya.”

“lalu kau apakan secarik kertas itu?”
“adek tempel di semua sudut ruangan kamar setiap dapat itu. Setelah penuh di kamar, aku tempel di seluruh ruangan rumah”
“Ibu gak marah?” tanyaku lagi.
“justru Ibu memaklumi karena itu adalah ajarannya dia.”
“kereeen itu”
“iya kak, kata itu terus mewakili kata-kata Ibu jika aku menerima kesulitan.”
“lalu kenapa sejak Kakak tinggal di rumahmu tak ada kata itu lagi.”

Dia tertegun dan tak bersuara. Sayup-sayup dari telingaku isak tangisnya terdengar merebak di atas sepeda yang sedang ku kayuh. Aku membiarkannya menangis mengenang kenangannya. Aku membiarkannya agar tangisannya itu dapat merubah dirinya dan memikirkan apa selanjutnya yang harus ia pelajari.
“menangislah dek, biarkan air matamu meleleh dan jangan lupa pikirkan tindakan yang harus adek lakukan. Adek harus bisa dewasa sejak kecil. Karena jika Kakak juga tak ada lagi, siapa yang akan mengajarkan adek untuk tetap tegar.” Rifal mengikat tangannya erat-erat di pinggangku tanpa berhenti menangis.
“hiikkss, hiiksss, Kakak benar. Aku harus dewasa sejak kecil.”

Lagi-lagi aku merasakan ban sepedaku pecah lagi. Aku bersama Rifal turun dan kejadiannya tetap sama seperti 4 hari yang lalu.
“Kakak, tempatnya juga sama? Apaaa kitaa mestiii….”
Aku langsung merespon dan berujar. “kabuuuurrr.” sambil berteriak dan berlari.

Namun kami tak menyangka akan pelarian kami yang tak berujung samapai tujuan. Kami dihadang oleh laki-laki bertopeng hitam yang terlihat hanya mata mereka saja.
“eeeehh kamu cewek tengik, serahkan anak itu kepada kami.”
Rifal langsung bersembunyi di belakangku. “tidaaaak, saya tidak akan menyerahkan Rifal kepada kalian.”
“kau mau cari mati yaaah sama kami, haaa!!” ujarnya menggertakku.

Aku merasa takut dan tak ada satu pun orang pada saat itu. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi ketiga orang bertopeng ini. Mereka mulai mengepung kami. Mereka perlahan-lahan menyerang kami berdua. Rifal menyerang dengan gaya tendangan dan amukannya. Sedangkan aku memakai jurus tangan yang biasa ku pakai untuk menyabit. Kami berdua tak bisa berkutik. Aku terkapar dan ku lihat benda tajam yang ku takuti melayang di hadapanku. Aku merasakan sakit yang sangat luar biasa pada bagian perutku. Setelah itu aku tak sadarkan diri, semuanya menjadi hitam. Sempat bibirku menyebut dan mendo’akan Rifal agar selamat dari peristiwa ini.

Semua dekorasi ruangan ini sangat putih sekali dan banyak sekali bunga melati kesukaan Ibu Rifal di sini. Aku juga melihat burung Kakak tua kesukaan Napak Rifal yang begitu pintar dan dirawat sejak lima tahun yang lalu. “mereka berdua mana yaah?” tanyaku dalam hati. Ternyata mereka sedang tersenyum melihatku mengitari halaman rumahnya. Mereka berdua mendekat dan memelukku dengan erat. Ku rasakan seperti pelukan Ibu yang sangat ku nantikan sejak dulu. Aku berlinangan air mata sambil menceritakan kembali peristiwa kelabu yang ku alami kemarin bersama Rifal. Diriku terisak-isak tak kuat menahan rasa takut yang terus mengahantuiku setiap malam. Semua perasaanku ku tumpahkan di mereka berdua. Aku pun memberikan alasanku yang sebenarnya, mengapa aku memilih untuk merawat Rifal.

“aku hanya ingin menolongnya dari marabahaya, saat itu semua tak ada yang ingin tinggal bersama Rifal. Aku hanya tertunduk malu saat Rifal mulai melihat ketulusan dari raut wajahku untuk siap menemaninya. Dia yang memberanikan diri mengajukanku. Dan aku sangat tegas menerimanya agar dapat meyakinkan bapak ketua balai desa bahwa aku benar-benar ingin mengasunhya, namun setelah itu mereka terbalik membenciku.”

“Aku merasakam tersakiti, aku berusaha menahannya seperti katamu pada Rifal. ‘coba lagi, coba lagi, dan coba lagi.’ hingga semuanya kini ku rasakan sama seperti apa yang kalian rasakan 2 bulan lalu. Aku merasakan sakit yang sangat pada benda tajam itu. Tolong aku, siapa lagi yang merawat Rifal, siapa lagi yang mengantar Rifal ke sekolah.. toloong selamatkan takdirkuuu, tolonng…” aku terisak-isak menangis di pelukan Ibu Rifal. Mereka tiba-tiba lenyap meninggalkanku. Kata terakhir yang terucap dari lisan beliau hanya. ‘jaga Rifal untuk kami selamanya.’ aku tertunduk dan menjawab.” pasti kan ku jaga untuk sealamanya.”

Setelah bertemu dengan kedua orangtua Rifal, aku sedikit-dikit bisa membuka mataku perlahan-lahan. Ibuku berada di samping kananku sambil menggenggam tanganku. Ia terlihat begitu cape dan rupanya Ibuku kini semakin hari semakin dimakan usia. Beliaulah yang selalu mengajarkanku menjadi wanita tangguh, pemberani, dan cerdas.
“aku mencintaimu karena Allah, bu.” lirihku dan terpejam lagi semakin dalam.

Ternyata malam itu Ibu mendengarkan lirih suaraku. Ia terbangun dan mengusap kepalaku lalu tidur lagi. Kini suara lantunan Tilawatil Qur’an terdengar sangat merdu di gendang telingaku. Ini yang sangat ku impi-impikan dan selalu ku panjatkan dalam tiap dawai do’aku. Semoga akan ada yang memberikan suara merdunya membacakan kalam ilahi untukku seorang. Suara itu perlahan-lahan menuntunku untuk membuka perlahan-lahan mataku ini. Semua terasa kabur. Namun pelaku pembaca tilawatil Qur’an ini sangat jelas di mataku hingga ku sebut namanya dengan kemurahan hati.

“Riiii.. faaalll…” ujarku terbata-bata.
“Kakak!!” teriaknya gembira sambil memberikan pelukan kasih sayangnya.
Setelah itu, Rifal memanggil Ibu. Namun aku meraih tangannya yang begitu hangat dari tanganku.
“Rifaaal adekku yang tampan?”
“iyaa Kakakku yang maniisss.”
Aku tersenyum mendengar panggilannya yang tak pernah ia lupakan.

“apakah kau masih ingat apa yang harus kau lakukan?” tanyaku.
“iya kak. Aku masih ingat kalau aku harus dewasa sejak kecil.”
“apa kau tahu alasannya?” Ia memelukku kembali dan air matanya tak bisa ditahan lagi. Ia menjelaskan padaku dengan linangan air mata.
“karena Kakak yang selalu membuatku tegar, membuatku semangat, membuatku tersenyum dan yang selalu memberiku motivasi tak selamanya ada.”

Mendengar penjelasannya, aku sangat bangga padanya yang selalu semangat dan tak akan pernah melupakan apa saja yang berarti bagi hidupnya. Aku mengecup keningnya dan menatap wajah tampannya yang begitu putih berseri seperti almarhum Bapaknya. Ku hapus air mata yang masih mengalir dari kelopak matanya. Dengan suara yang masih lemah ku katakan padanya.
“Kakak ingin, kelak air mata ini turun saat kau bisa meraih prestasi yang gemilang di kancah nasional dan internasional. Bukan lagi air mata sedih yang sekarang Kakak lihat ini.”
Dia mulai menyeka sendiri sisa-sisa air matanya yang masih ada.

Cerpen Karangan: Shollina
Facebook: Shollim.wasallim

Cerpen Dewasa Sejak Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah

Oleh:
“Rila… Sini!!!” Teriak Frita “Paan sih ta… Berisik banget” Kataku “Ntar datang ya ke rumah gue” Kata Frita “Iye iye kalo dibolehin ma bokap” Kataku “Yaelah… Plis ril datang

Bintang Merah dan Bintang Biru

Oleh:
Pernahkah kamu mendengar bahwa dibalik kelamnya malam terdapat sebuah untaian kisah yang menyelimuti orang-orang yang tengah terlelap? Pernahkah kamu mendengar pepatah “jangan menilai buku hanya dari sampulnya”? Ya, itu

Aku Ingin Kembali

Oleh:
Setangkai bunga anggrek putih yang sangat aku kagumi memberikan kesejukan hati di kala aku memandangnya. Tapi kali ini bunga anggrek putih yang indah itu tak cukup mampu memberi ketenangan

Ku Kehilangan Sosok Penyemangat

Oleh:
Dulu aku memiliki seseorang yang mampu membuat aku tertawa lepas, seakan dunia ini hanya milikku saja! Disaat aku kehilangan arah, dia mencoba membuatku tersenyum seakan lupa akan sebuah masalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *