Di Atas Kertas Ku Berjanji

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Ku tuliskan secarik kertas itu, tanda kekesalanku hari ini. Aku tak mengerti mengapa aku dianggap berbeda. Tatapan mereka, menganggapku seperti hewan yang menjijikkan bahkan lebih dari itu. Aku hanya terdiam menahan rasa yang begitu menyakitkan ini.

“Diam, anak culun.”
“Dasar, anak Mama.”

Kata itulah yang sering mereka berikan kepadaku. Hingga aku menyerah dan tidak ingin pergi ke sekolah lagi. Aku malu, sangat malu. Aku marah, tapi aku tak berdaya di hadapan mereka. Tuhan.. mengapa kau berikan cobaan seberat ini? Aku mengambil kertas lalu ku tuliskan, “Aku akan menjadi lebih jahat daripada kalian.”

Hingga suatu hari, penderitaanku berakhir. Aku lulus dengan nilai nem yang memuaskan dan aku masuk ke sekolah menengah atas favorit di daerahku. Kini aku bisa merubah penampilanku, agar perspektif mereka kepadaku tidak menganggapku sebagai orang culun lagi. Ku pakai celana sekolahku yang telah aku modifikasi menjadi celana pensil, ku lepaskan kacamata, ku pakai jaket kulit dan menenteng tas bercorak tengkorak layaknya seorang jagoan. Hari baru hidup baru, kini pergaulanku sangat bebas. R*kok merupakan cemilanku sehari-hari. Aku merasa bangga dan senang bisa memiliki hidup ini. Rasa beban terhadapku ketika dulu sudah musnah tak tersisa. Hidupku kini bebas. Pergi pagi, pulang malam. Ibuku sangat khawatir dengan perubahanku. Perubahan yang menurutnya tidak baik tapi menurutku luar biasa.

“Mas, kamu kok sekarang pulang malem terus? Apa ada kerja kelompok ngerjain tugas sekolah?” Tanya ibuku dengan wajah yang menunjukkan rasa khawatir.
“Enggak kok Bu.” Jawabku yang selalu ku ucapkan ketika ibu bertanya.

Hingga saat itu tiba…
“Den, cobain nih gue punya barang enak?”
“Apaan tuh?”
“Organik nih, enak lah pokoknya. Stres lo hilang, lo bakalan bahagia.”

Aku mencobanya, aku merasakan hal yang luar biasa. Perasaan euforia yang terjadi, membuatku tertawa sendiri. Rasa melayang dan nikmat menjalar ke seluruh tubuhku. Sejak saat itu, aku merupakan pelanggan dalam mencoba barang haram itu. Kehidupanku berubah 180 derajat. Aku menjadi mudah marah, malas, dan bodoh.. bahkan seorang yang telah melahirkanku aku bentak hanya demi barang itu. Uang, uang, dan uang. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan uang agar dapat membeli barang itu. Banyak cara aku lakukan. Mencuri, membegal, semua jalan ku halalkan untuk membeli barang itu. Hingga akhirnya ibuku mengetahui bahwa aku pengguna nark*ba. Aku melihatnya bergetar hebat saat mengetahuinya. Butiran bening mengalir di pipinya. Terisak-isak dia dibuatnya. Ibuku sangat terpukul, dia tak menyangka anak kecil manisnya yang pintar kini telah berubah menjadi seseorang yang melanggar hukum negara dan agama.

Aku tidak menyesal dan tidak tersentuh sedikit pun. Aku bahkan memaki-makinya dan bilang kepadanya bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku pergi dari rumah. Aku kendarai kuda besiku menuju tempat solidaritas. Ya, solidaritas yang membawaku hingga sejauh ini. Solidaritas yang mendoktrinkan bahwa mereka semua adalah keluarga. Aku merasa aman dan rileks saat berada di sini. Tawa dan canda selalu menghiasi tempat ini. Aku bahkan tidak memikirkan keluargaku lagi. 3 bulan sudah berlalu, 3 bulan juga aku tidak berkomunikasi dengan keluargaku. Entah bagaimana aku sudah tidak peduli lagi. Kini aku mempunyai keluarga baru. Teman-temanku mempunyai sebuah rencana. Rencana untuk mengharumkan nama keluarga, ya.. keluarga solidaritas.

“Bagaimana kalau kita serang mereka.”
“Tapi mereka salah apa sob?” Tanyaku.
“Kemaren, dia udah ngatain tempat ini, lo gak merasa malu coy? Nama kita udah mulai tercemar. Kita harus balikin lagi nama tempat ini.” Kata seorang teman solidaritasku.

Rencana pun diaksikan. Kami melakukan tawuran. Seluruh kekuatan dari kedua kubu dikerahkan. Kemudian polisi tiba-tiba datang. Entah dari mana mereka mengetahui tentang rencana itu. Aku berlari bersama keluarga solidaritasku. Aku tersandung dan terjatuh. Aku meminta tolong kepada temanku. Temanku hanya melihat sesaat dan tidak membantu. Mereka terus berlari agar tidak tertangkap oleh polisi. Aku terdiam dan kecewa. Mereka yang ku anggap sebagai keluargaku sendiri ternyata meninggalkanku.

“Solidaritas? omong kosong!!” Dalam benakku.

Aku tertangkap polisi kemudian mereka mengetahui bahwa aku adalah pengguna nark*ba dan merehabilitasiku. Keluargaku mengetahui hal tersebut setelah polisi menghubungi mereka. Setiap hari keluargaku mengunjungiku dan memberi semangat. Semangat bahwa di setiap kegelapan pasti ada titik kecerahan. Aku menunduk dan menangis. Kini aku sadar, keluarga sesungguhnya adalah keluargaku sendiri. Solidaritas hanyalah omong kosong yang tidak memiliki isi. Solidaritas hanyalah ajakan yang mengajak kepada keburukan.

Jadilah dirimu sendiri, dan banggalah menjadi kamu niscaya kamu akan menemui jati dirimu sendiri. Bertemanlah dengan setiap orang tapi jangan bertemanlah dengan setiap pergaulan. Ibu benar aku telah berubah, aku sujud dan mencium kaki ibu seraya meminta maaf kepada dia. Kerutannya terlihat, dia memberikan senyum teduhnya kepadaku. aku benar-benar menangis saat itu. Kini ku ambil kertas yang pernah ku tuliskan dahulu dan merubahnya.

“Aku akan berubah menjadi lebih baik mulai detik ini.”

Cerpen Karangan: Aldi Murti Firdaus
Blog: aldimurtifirdaus.blogspot.com
Facebook: Aldi Murti Firdaus

Cerpen Di Atas Kertas Ku Berjanji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mampu Diam

Oleh:
Hiks.. hiks.. suara isak tangis terdengar untuk kesekian kalinya selama hampir satu minggu ini. Cila, begitu orang memanggilnya, gadis kecil dengan rambut panjang tengah terisak menangisi ulah kekasihnya yang

Denganmu Cinta

Oleh:
Aku Lia, Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara, Aku hidup dalam keluarga yang berkecukupan dan hidup dalam Kasih sayang yang berlimpah. Hari ini, Hari pertama ku masuk ke

Adalah Waktu

Oleh:
Putaran jarum jam dinding yang berdetak mengitari angka-angka yang tercantum dengan ditemani dinginnya udara yang tercipta dari hembusan AC yang menyala di sebuah ruangan yang lumayan cukup luas untuk

Kalian (Dika, Novi) Part 1

Oleh:
“Dika!!!” suara itu sangat jelas terdengar… Dia menyebut namaku… Kudengar itu dari belakangku, kutolehkan kepalaku ke belakang… Dan kulihat itu adalah dia, ya… Dia.. Namanya novi… Dia… “Lo ngerok*k

Mencari Kata yang Tepat

Oleh:
Langit mulai mendung ketika Dira melangkahkan kaki untuk berangkat sekolah, dengan hati yang tetap senang ia menunggu bus di halte. Tidak lama kemudian hujan mulai turun dan Dira merasakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *