Di Mana Aku Bisa Merasakan Kebahagiaan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 July 2018

Susah untuk diungkapkan, susah untuk dijelaskan. Pikiranku bercampur aduk. Antara rasa bingung dan putus asa, keempat cerpenku yang kukirim ke sebuah media online belum lolos seleksi. Padahal ku pikir jika ku lolos seleksi, orangtuaku bakal kagum kepadaku. Ma, Pa? Ku ingin sayangmu, ku ingin cintamu, ku ingin kasihmu, Mama dan Papa. Aku tak ingin amarahmu, aku tak ingin dendammu. Mama dan Papaku selalu membedakan aku dengan Kakak-Kakakku, meski pun aku dibiayai terus, aku hanya ingin mendapat belaian mereka. Bukan uang mereka. Lagu All Of The Stars yang dinyanyikan oleh Ed Sheeran terdengar dari IPhone-ku. Aku langsung mengangkatnya itu telepon dari Mama, ya Mama.

“Dira, kamu bisa ke ruangan Mama sekarang sambil membawakan kertas resep buat pasien? Nanti suruh aja Kakakmu nganter kamu dan jangan lupa kertasnya ada di laci kamar Mama” Tanya Mama. “Bisa, ma. Tunggu ya,” Jawabku. Mama langsung mematikan teleponnya terlebih dahulu. Aku segera menghampiri Kak Dika, yaitu Kakakku yang cowok. Aku memiliki 2 Kakak, yaitu Kak Fariz dan Kak Dika. Mereka kembar, hanya beda 2 menit. Muka mereka sangat mirip, tapi sayangnya muka Kak Dika lebih putih dibandingkan Kak Fariz dan juga Kak Fariz berkacamata sedangkan Kak Dika tidak berkacamata. Aku mendapati Kak Dika sedang merendam kakinya di kolam renang rumahku.

“Kak anterin aku ke rumah sakit ya, kak,” Kataku.
“Lah mau ngapain, dir?” Tanyanya.
“Mau ke Mama lah Mama minta tolong aku untuk mengantarkan kertas resep, oke?” Jawabku lagi.
“Oke, yuk.”

Sesampainya di rumah sakit, Kakakku tetap menunggu di mobil. Aku meminta izin kepada suster untuk menemui Mamaku ketika sedang praktek. Setelah izin, aku segera menemui Mama di ruang kerjanya yang kebetulan sedang istirahat, Mamaku adalah seorang dokter onkologi sekaligus penulis.
“Maa ini,” kataku, “Ya makasih, pulang sana, sus lanjut.” Balasnya dengan ketus sambil menyuruh suster memanggil pasien berikutnya. Padahal aku tidak tahu apa kesalahanku. Aku pun sampai di rumah. Lalu, aku tertidur di sofa kamar Mamaku, bukan kamarku. 4 jam kemudian, aku serasa disiram oleh air, aku pun terbangun dan melihat sekitar. Entah kenapa, kepalaku sangat pusing, suhu badanku juga mungkin agak naik. Di sampingku ada Mama yang sedang membawa ember berisi air dingin.

“Kenapa ma?” Tanyaku.
“Santai-santai aja, mandi dulu sana bau.” Jawabnya ketus seperti tadi.

Aku pun ke luar kamar Mama dengan lemas dan ngantuk. Kolam renang di rumahku ada di paling belakang rumahku, kamarku ada di sebelah kanan ujung belakang rumahku. Jadi kalau mau ke kamarku harus melewati kolam renang terlebih dahulu. Karena ngantuk, aku terpeleset dan tercebur di kolam renang setinggi 2 meter. Aku berteriak minta tolong kepada penghuni rumah karena aku tidak bisa berenang. Kolam itu dibuatkan untuk kami sejak sebelum kami lahir, di keluargaku hanya akulah yang tidak bisa berenang. Pembantuku kaget dan segera menolongku, aku pun tidak sadarkan diri. Begitu terbangun, aku sudah berada di rumah sakit tempat Mamaku bekerja. Ternyata waktu sudah menunjukan jam 9 malam. Di sampingku ada suster yang sedang memberiku cairan infus melalui tangan kiriku. Agak nyeri rasanya.

“Nyeri sayang?” Katanya dengan halus. Aku sangat merindukan belaian seorang Ibu. Aku dirawat di ruang kelas 1, yang 1 kamar berisi 2 orang.
“Sedikit sus tapi nggak masalah kok,” jawabku, “sus kalau boleh tahu, yang nganterin aku ke sini siapa?” Tanyaku lagi.
“Kakak dan Mamamu sayang, kebetulan Mamamu juga ada pekerjaan mendadak jadi sekalian deh.” Jawabnya, “Dira, ini jangan ditarik-tarik ya kalau tidur juga hati-hati.” Setelah selesai, dia ke luar.

Keesokan harinya aku melihat anak kecil di sebelah ranjangku tersenyum manis padaku, aku pun membalas senyumnya.
“Hai kak. Kakak sakit apa? Kakak namanya Dira ya kak?” Katanya.
“Iya, sayang. Aku cuma demam biasa kata dokter, sebenernya masih dilakukan pengecekan lanjutan nanti.” Jawabku.
“Oh gitu ya kak, Kakak istirahat ya kak. Semoga semuanya baik-baik aja,” Timpalnya.
“Makasih ya fas, you too.”
“Hm anak ini tabah banget ya.” Pikirku dalam hati.

Tiba-tiba dokterku masuk, temennya Mamaku. Namanya Haura, nama yang bagus.
“Hai dir, gimana kondisimu?” Tanyanya.
“Gitu deh dok susah jelasinnya hehe,” Jawabku.
“Ya udah dokter periksa dulu ya, hasil pemeriksaan total kemarin udah ke luar. Kamu positif anemia.” Katanya. Aku hanya bisa diam. Lalu dokter Haura membuat lawakan lucu aku pun tertawa.
“Dir kalau nanti malam keadaanmu udah pulih, besok pagi kamu boleh pulang. Tapi obatnya tetep dilanjutin, oke?”
“Iya dok,” Jawabku. Lalu dokter Haura menghampiri anak kecil di samping ranjangku. Mereka bercanda canda ria, aku kesepian sebenernya.

3 hari kemudian, aku masih di rumah sakit. Kondisiku makin memburuk, entah karena apa. Setiap hari disuntik, mual setiap makan, memakai oksigen kalau emang kondisiku gak kuat. Aku melihat Fasya. Di sampingnya terdapat beberapa obatnya. “Fasya,” Kataku memulai percakapan.
“Iya kak?” Jawabnya.
“Kamu nggak minum obatnya?” Tanyaku.
“Nunggu dokter, kak.” Seorang dokter memasuki kamar kami dan menuju ranjang Fasya, ya aku kenal dia. Namanya dokter Risa, mungkin dokter Risa yang menjadi dokter anaknya Fasya.
“Hai Fas, gimana keadaanmu?” Tanyanya ramah kepada Fasya.
“Pusing dok.” Katanya jujur.
“Minum obat dulu yuk? Udah makan belum?” Tanyanya.
“Udah makan tadi disuapin suster. Belum dok aku sengaja nunggu dokter,” Jawabnya.
“Ya udah minum dulu ya, bangun sayang.” Kata dokter Risa sambil menyuapi obat untuknya dengan lembut.

Dokter Haura entah kenapa masuk lagi ke kamarku dan mengarah ke ranjang Fasya. Lalu mereka bertiga mengobrol-ngobrol sambil dokter Risa memeriksa Fasya. Aku agak iri melihatnya, lalu aku merasakan pusing yang amat hebat. Aku menjerit, kedua dokter itu dan Fasya kaget. Lalu dokter Haura menghampiriku.
“Dira? Kenapa kamu sayang?” Tanyanya.
“Mual dok, kepalaku pusing banget,” Jawabku lemas. Entah kenapa aku menjadi drop gini.
Aku ingin muntah tapi aku sudah minum obat dan makan jadi kutahan.
“Ya udah,” Kata dokter Haura enteng sambil mengalihkan perhatiannya ke Fasya. Aku mencoba untuk ke kamar mandi sendirian, aku tidak ingin merepotkan dokter Haura. Lalu aku hampir pingsan di depan ranjangku ketika aku mau ke kamar mandi. Dokter Haura mau marah, tapi dicegah oleh Dokter Risa. Akhirnya dokter Risa menghampiriku dan membopongku ke ranjang.

“kalau mau ke kamar mandi kenapa gak bilang sayang?” Katanya.
“Gak kuat dok, bener-bener gak kuat.” Kataku lemas.
“Ya udah tidur aja ya, kuat-kuatin. Yakin kalau kamu bisa, dokter tahu kamu hebat.” Jawabnya sambil meninggalkanku.

Selama aku dirawat, Mama dan Papaku serta Kakak dan adikku sama sekali tidak ada yang menengok. Padahal Mama sendiri ada jadwal praktek di saat aku dirawat. Kepalaku makin sakit padahal aku sudah diberi obat. Aku mengambil hp-ku dan segera mengecek bbm-ku, terdapat beberapa bbm dari Mama menanyakan keadaanku dan bilang ternyata Kak Dika dirawat karena terserang penyakit dbd, dia ada di rumah sakit tempatku dirawat. Kondisiku semakin menurun. Tetapi dokter Risa dan dokter Haura tetap aja bercanda ria dengan Fasya. Fasya sudah tertidur. Aku pun menangis tanpa ada yang tahu bahwa aku menangis. Tapi ternyata dokter Risa menghampiriku.

“Dira kamu kenapa lagi? lihat dokter dong sayang,” Katanya lagi sambil meletakkan tangannya di atas kepalaku. Aku hanya menggelengkan kepala tanpa memandangnya. Lalu dokter Haura menghampiriku juga, “Dir kenapa sih? Nanti kondisimu memburuk lagi, jangan dibawa stres.” Katanya. Akhirnya aku memandang mereka. Dokter Risa menghapus air mataku dengan tisu, dokter Haura mengelus-ngelus kepalaku.

“Dira ayolah jujur sama dokter, dokter sayang sama kamu,” Kata dokter Haura.
“Mukamu pucat banget, Dir.” Timpal dokter Risa membantuku untuk duduk. Akhirnya aku duduk di antara dokter-dokter itu. Dan hanya bilang, “Makasih buat kalian, tapi..” aku pingsan di pangkuan dokter Haura. Mereka panik dan segera memanggil suster untuk membantu mereka. 5 jam kemudian, aku sadar. Aku berada di ICU, aku melihat hanya ada suster suster penjaga. Aku asing di sini, tapi dokter Haura ada di sampingku sedang tertidur. Akhirnya aku mencoba untuk membangunkan dokter Haura, dia bangun. Badannya sangat panas. Masya Allah, dokter kenapa? Ya Allah tolong bantu aku, batinku.

Dokter Haura menyapaku, “Dira, udah bangun? Ada apa?” Tanyanya lembut.
“Dokter sakit? Dokter gak usah jagain aku begini, aku bisa sendiri dok.” Jawabku lemas. Akhirnya dokter pergi, aku segera dibawa ke ruangan rawat biasa. Aku kembali berada di samping Fasya. Ada seorang suster dan dokter Risa masuk ke kamarku dan Fasya sambil mengecek serta mengambil darah Fasya untuk pengecekan lanjutan. Fasya histeris dan dipegangi dokter Risa dan suster yang lain. Aku hampir tertidur, tapi hp-ku berdering. Pas aku melihat layar, ada nama dokter Haura tertulis di situ. Aku mengangkatnya.

“Kenapa ma?” Tanyaku lemas, “Dira? Ini dokter Haura sayang, kamu kangen Mamamu?” Katanya. Aku baru sadar ternyata yang menelepon itu dokterku sendiri.
“Hah? Eh iya deh, ada apa dok?” Jawabku. Tangisan Fasya masih histeris.
“Itu Fasya? Kenapa?” Katanya.
“Lagi cek darah dok.” Jawabku.
“Oh, jadi gini tujuan dokter telepon kamu. Dokter lagi sakit sayang, dokter gak bisa memeriksamu sampai dokter pulih. Maafkan dokter ya, kamu sementara ini sama dokter Risa aja dulu, maaf.”
“Iya dok, dokter istirahat yang cukup ya. Dira selalu sayang dokter,”
“Dokter juga sayang Dira. Dira juga ya jangan sampai drop lagi.” Jawabnya. Lalu dia memutus teleponnya.
Aku terbaring lemas di ranjangku, kompres dan oksigenku sedang kupakai.

“Dir?” Katanya sambil memandangku. Aku tidak menghiraukannya, dan aku pun pura-pura tertidur. Aku berdoa semoga dokter Haura sembuh. Aku kangen leluconnya meskipun kadang suka gak bisa mengendalikan emosinya.
“Dira, Mamamu kecelakaan.” Katanya singkat.
“Astaghfirullah, sekarang Mama di mana dok?” Kataku benar-benar syok.
“Di ICU, mau ke sana?” Katanya.
“Iya mau dok, tolong anterin aku ke sana.” Lalu suster mengambil kursi roda dan menyuruhku duduk di kursi itu. Dokter Risa sedang memeriksa Fasya ditemani suster yang satu lagi.

Sesampainya di ICU, aku melihat Mama lemas tak berdaya. Kata suster di situ, Mama mengalami kerusakan ginjal. Belum ada pendonornya, aku menawarkan diri, suster kaget. Dia bilang bahwa aku gila, tapi mau gimana kalau Mamaku harus pergi dari hidup kami semua? Aku tertidur di samping Mama, memeluknya. Pas aku terbangun, ada dokter Haura di sampingku. Aku benar-benar kaget. “Dira? Dokter udah baikan kok, dokter hanya masuk angin.” Katanya.

“Dokter, Mama?” Jawabku. Aku menyebut nyebut kata ‘Mama’. Aku menangis.
“Dokter tahu sayang apa yang kamu rasakan, dokter tahu. Mamamu baik-baik aja, sudah ada pendonornya.” Katanya.
“Lebih baik aku mati dibanding Mama harus terbaring lemah begitu dok. Aku rela,” Timpalku sambil menangis lagi.
“Eh Dira gak boleh gitu dong? Gak ada yang tahu kapan ajal kita, tabah ya sayang.” Aku benar-benar putus asa, serasa separuh diriku hilang entah ke mana. Aku hanya ingin Mama sadar. Aku gak mau Mama merasakan sakit, aku sayang Mama. Aku menangis di pelukan dokter, tiba-tiba aku sesak napas. Dan aku segera dibawa ke ruang rawat biasa oleh suster dan dokter Haura. Aku diberi oksigen, tetapi kondisiku malah semakin memburuk. Dokter menenangkanku dan bilang kalau Mamaku tak apa-apa, aku hanya bisa nangis dan nangis. Fasya bangun dari tidurnya.

“Dokter Haura? Kak Dira? Ada apa?” Sapanya. Dokter menghampirinya dan meninggalkanku. Dia pun berbisik dengan Fasya.
“Fas, kak Dira kondisinya makin memburuk karena pengaruh stressing. Mamanya kecelakaan dan mengalami kerusakan ginjal, Mamanya belum sadar juga.” Jawab dokter Haura.
“Maksud dokter, dokter Hana kecelakaan?”
“Iya Fasya, nanti malam operasinya. Dia udah dapat pendonor ginjal, entah siapa pendonornya.” Aku sudah tertidur pulas.

Keesokan harinya aku dikabarkan bahwa operasinya berhasil, aku sangat berterima kasih kepada pendonornya entah siapakah itu. Aku diberi tahu oleh Kakak, ternyata pendonor ginjalnya itu adalah dokter Haura sendiri. Sekarang, ia hanya memiliki 1 ginjal. Aku sangat berterima kasih kepadanya. Dan aku segera ruang rawat Mama dan dokter Haura. 3 hari kemudian, kondisiku membaik. Dokter Haura bilang ke Mama bahwa ia rela melakukan apa aja asalkan aku tetap bertahan. Ternyata dia rela menyumbangkan ginjalnya demi keluarga kami, dia tidak mau melihat aku sedih. Aku dan Kak Dika pun diperbolehkan pulang meski pun harus rawat jalan. Sesampainya di rumah, aku langsung istirahat.

2 hari kemudian saat aku mau pergi les, aku harus jalan kaki. Di belakangku ada mobil menghantamku, kondisiku tambah memburuk. Aku masuk UGD lagi, para dokter segera menanganiku. Mereka bilang bahwa aku kekurangan darah. Besok pagi ada transfusi darah untukku, Alhamdulillah. Kondisiku sangat memburuk, dokter Haura sedih melihatku seperti itu. Malammnya aku kritis, aku koma, tidak sadarkan diri. Sebelum transfusi darah dijalani, tepat jam 1 malam, Dira meninggal dunia di ulang tahunnya yang ke-13 tahun. Semua menangisi kepergiannya, dokter Haura menangis histeris. Keluarganya menyesali apa yang mereka perbuat. Dokter Haura menemukan sebuah surat di kantung celana Dira.

Depok, 27 Juni 2014.
“Buat semuanya yang pernah ada di hidupku. Ma, Pa, aku sangat merindukan kasih sayang kalian. Kumohon, cukup aku saja yang merasakan ini semua. Aku gak tega kalau anak-anak di luar sana tidak mendapat kasih sayang orangtuanya dengan utuh. Aku sayang kalian. Aku gak mau kalian merasakan kesedihan karena aku, tapi satu pertanyaanku, di mana aku bisa merasakan kebahagiaan? Makasih untuk 13 tahun yang kalian berikan untukku, makasih buat Kakak-Kakakku yang senantiasa ikut menjagaku dan juga untuk Adikku satu-satunya. Buat dokter Haura dan dokter Risa, dengan kalian, aku merasa tenang. Aku merasa bahagia jika kalian mengkhawatirkanku, maaf aku gak bisa jujur sama kalian. Seringkali aku harus menyembunyikan apa yang aku rasakan. Makasih buat kalian yang senantiasa ada di sampingku untuk menjagaku. Aku sayang kalian.”

“Buat Fasya, Fas mungkin kalau kamu baca surat ini, Kakak udah gak ada di dunia ini. Kakak percaya suatu saat nanti kamu pasti sembuh, kamu pasti gak bakal ngerasain sakit sekali pun. Kakak sayang kamu Fas, cepet sembuh. Aku hanya ingin kalian semua jangan pernah melupakan aku, aku hanya ingin pergi dengan tenang. Tapi satu pesanku, tolong pantau halaman web pengiriman cerpen yang ada di bookmarks hp-ku. Lihat atas nama Adira Zaura. Makasih semuanya, Dira sayang kalian.
Salam Sayang, Adira Aurelia Zaira.”

Keesokan harinya, Dira dimakamkan di samping makam eyangnya. Semuanya berkumpul, termasuk staff rumah sakit dan teman temannya. Selamat Jalan Dira, kami selalu sayang denganmu. Perjalanan yang panjang untuk Dira, dia mengidap penyakit jantung bawaan dari kecil. Lalu keempat ceritanya yang dia post di sebuah media pengiriman cerpen akhirnya lolos moderasi sekaligus. Keluarga dan Dokternya kaget, ternyata dia menyembunyikan selama ini kepada kami semua. Semua usaha Dira tidak sia-sia, dia tetap membanggakan orang-orang di sekitarnya meskipun telah tiada. Di surat itu benar-benar tertulis tulisan yang tak asing bagi mereka, yaitu tulisan Dira.

Cerpen Karangan: Roro Adinityas
Facebook: Adinityas Supandi Tyas
Twitter: @RoroAdinityas
Line: roroadinityas

Cerpen Di Mana Aku Bisa Merasakan Kebahagiaan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Love Mom and Dad

Oleh:
Aku terus berjalan tanpa hentinya, walaupun sekarang hujan lebat aku tak perduli. Ini belum seberapa oleh apa yang di lakukan Mama untukku. Mama telah banyak berkorbaan demi aku. Tapi

I Love You Mom

Oleh:
Pada Tanggal 5 Januari 2014 Semua keluargaku sepakat untuk membawa mamah ku ke rumah sakit, kami memaksa mamah agar mengikuti kemauan kami. Setelah tiba di rumah sakit tersebut sebut

Kebahagiaan di Batas Maut

Oleh:
Keysha cawek cantik, bermata jernih, berambutnya lurus indah melambai-lambai jika terkena angin. Dia tumbuh di keluarga sederhana. Semenjak kecil hingga menginjak dewasa dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *