Di Tebing Itu Aku Mengerti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 May 2013

Hmmm, burung-burung berkicau merdu. Pohon kelapa nyiur melambai. Angin sore berhembus lembut. Matahari tinggal tiga per empat saja. Yang seperempat sudah terlelap di peraduannya. Menambah syahdu suasana senja. Bunga melati jatuh di sebelah kaki Tiara. Tiara memungutnya dan mencium aromanya. Wangi. Ia kembali berjalan menuju rumahnya. Rasanya penat sekali setelah beraktifitas seharian di sekolah. Dari mengikuti pelajaran sampai ekstra kulikuler paduan suara. Dalam perjalanan pulang itu Tiara menyanyikan lagu Bring Me to Live-nya Evanescence. Walaupun lagu itu menghentak tapi di buat slow versi Tiara.

Ia menginjakkan kakinya di halaman rumah yang luas. Beralaskan rumput jepang. Dan dihiasi mawar biru serta dua pohon palem. Tiara berhenti sejenak, menghirup segarnya udara di depan rumah bergaya Eropa itu. Kemudian melanjutkan langkahnya.
“Assalamu’alaikum. Maa. Tiara pulang.” Tiara membuka pintu. Tidak terkunci.
“Ma…! Tiara pulang. Mama di mana sih?!” Tiara mencari mamanya. Dari kamar mamanya sampai seluruh ruangan di rumah besar itu. Tapi tak ada mamanya. Hanya kesunyian yang menyambutnya.

Praanggg!

Tiara terperanjat mendengar suara itu. Ia bergegas lari ke dapur. Tapi tiba-tiba Tiara berhenti di dekat pintu dapur. Ia mendapati papanya sedang di landa amarah. Dan mamanya bersimpuh di lantai sambil menangis.
“Ini hidupku! Aku berhak melakukan semua yang aku mau. Toh itu semua juga dengan uangku! Kamu di sini ngapain?! Cuma numpang! Numpang! Hah, sejujurnya aku kasihan padamu, Astri. Kau ini cuma wanita kere. Aku menikah denganmu karena terpaksa. Terpaksa karena ibuku yang memohon padaku untuk menikahimu! Hidupmu sekarang bisa seperti ini karena aku! Aku! Camkan itu!”
Tiara terhempas. Terduduk di lantai. Ia tak pernah menyangka. Papanya yang selama ini lembut. Hari itu. Detik itu mengeluarkan kata-kata yang sangat pedas. Sangat tidak pantas untuk diucapkan. Hatinya bagai diiris pisau berkarat. Dan mengeluarkan cairan. Naik ke kerongkongan dan keluar lewat matanya. Dia tak sanggup menyaksikan kejadian di dalam rumahnya. Papa mengeluarkan kata-kata kasar di depan mamanya. Tiara berlari menghampiri mamanya kemudian memeluknya erat. Seakan berbagi kepedihan.
“Ma… Mama jangan nangis.” Ia berusaha menghibur mamanya.
“Ma, ke kamar yuk mama tenangin diri dulu.”
“Iya, Sayang.” Mama bangkit.
“Ma, cerita dong sama Tiara, mama sama papa ada masalah apa? Tiara kan anak papa dan mama.”
Mama hanya diam seribu kata.
“Ya sudah nanti saja mama cerita. Sekarang Tiara ambilkan minum dulu ya?” Tapi mama mencegah Tiara.
“Tidak usah Sayang. Tiara di sini saja temani mama.” Pinta mama.
“Mmm, iya deh. Tapi mama cerita ya. Tiara mohon.” Tiara memelas di depan mamanya. Mamanya pun tidak tega padanya. Walaupun ini akan jadi yang menyakitkan cepat atau lambat Tiara akan tahu. Jadi lebih baik diceritakan sekarang.
“Tapi Tiara janji ya. Jangan marah atau sedih. Tiara harus bisa terima.”
“Iya. Tiara janji.”
“Tiara, sebenarnya selama ini sudah berbuat tidak benar. Dia berjudi. Tiara.”
Bagai di hantam palu godam, hati Tiara langsung miris. Tapi dia berusaha biasa saja mendengar kelanjutan cerita mamanya.
“Mama sudah berusaha menyadarkan papamu. Tapi sifat papamu yang keras kepala itu tidak bisa di ubah. Tiara tahu kan? Barang-barang di rumah ini semakin sedikit? Itu untuk menutupi kekalahan papamu.” Mama mengakhiri kisah yang memilukan itu.
“Iya, Tiara mengerti Ma. Tiara mau mandi dulu ya Ma?” Tiara langsung bangkit dan berlari menuju kamarnya. Mengunci pintu, kemudian menuju kamar mandi dan menangis di sana. Menyalakan shower supaya suara tangisnya tidak terdengar sampai luar.

Semakin hari, tingkah papanya semakin menjadi-jadi. Semua barang di rumahnya sudah habis. Hanya tinggal kursi di ruang tamu, dan kursi di ruang makan. Apa yang bisa di jual, di jual papanya untuk menutupi hutang judinya di tambah lagi sekarang papanya suka memukul. Hingga menggoreskan bekas di tubuh Tiara.

Mamanya terbaring lemah di ranjangnya. Mama sakit karena terus-menerus memikirkan papa. Tiara pun semakin tertekan. Tiada lagi keluarga yang rukun bahagia seperti dulu. Tiada lagi canda tawa. Tiada lagi kebahagiaan di rumah itu. Semua sudah sirna dari hidup Tiara. Hidup Tiara sudah hampa. Teman-temannya pun menjauhinya karena dia anak broken home dan anak penjudi. Sahabatnya, Fairus juga menjauhinya. Seolah dunia sudah tidak mendukungnya lagi. Dunia sekarang menjauhinya.

Tiara sekarang ada di tebing. Di bawahnya jurang menganga siap menerima siapapun yang terjatuh ke dalamnya. Di tebing itu Tiara biasa menumpahkan segala yang menganjal di hatinya. Tiara duduk di tepi tebing itu. Ia melepas jilbabnya. Kemudian melepas kuncirnya dan membiarkan angin mengacak-acak rambut hitamnya.
“Ya Allah! Kenapa hidup Tiara seperti ini?! Apa Tiara nggak berhak bahagia, ya Allah?! Apa kebahagiaan Tiara sebuah dosa? Apa kebahagiaan Tiara memporak-porandakan surga?! Apa kalau Tiara bahagia semuanya akan menjadi sedih dan tersiksa?! Di mana letak keadilan-Mu ya Allah?! Di mana?! Jika Tiara harus mencari akan Tiara cari keadilan itu. Ya Allah, apa Engkau tidak tahu perasaan Tiara? Apa Engkau sudah enggan mendengar doa mama dan Tiara selama ini. Apa Engkau sudah enggan menyadarkan papa Tiara ya Allah?!” Tiara sesenggukan dan bersimpuh menyalahkan Tuhan. Menghujat Tuhan tidak tahu apa-apa.
“Ya Allah apa Engkau nggak tahu perasaan Tiara?! Hati Tiara hancur. Keluarga Tiara juga hancur. Dunia menjauhi Tiara! Labih baik Tiara mati daripada harus menderita tekanan batin seperti ini! Sampaikan pada mama dan papa kalau Tiara sudah mati!” Tiara mengakhiri hujatannya itu dan bersiap terjun ke jurang yang menganga itu.
“Ya Allah, Tiara mau matiii!” Tiara sudah menjatuhkan badannya. Tapi tiba-tiba seseorang menariknya dari belakang. Hingga Tiara jatuh terduduk dan tidak jadi di terima oleh jurang yang menganga itu.
“Kenapa kamu tarik Tiara?! Tiara mau mati!” Tiara bangkit ingin menjatuhkan dirinya ke jurang itu lagi. Tapi laki-laki itu mencekal tangannya kuat.
“Lepaskan Tiara! Tiara mau mati!” tapi lelaki itu tetap mencekal tangan Tiara bahkan semakin kuat. Tiara meronta-ronta kesakitan.
“Lepaskan! Sakit! Tiara mau mati! Jangan cegah Tiara!”
“Diam!” lelaki itu membentak Tiara. Tiara malah menatapnya tajam.
“Dengarkan aku! Apa kalau kamu mati masalah akan selesai? Itu malah menambah masalah. Mama kamu akan semakin sedih. Ini cobaan dari Allah untuk kamu artinya Allah sayang sama kamu.” Lelaki itu melembut.
“Panggil Tiara dengan nama Tiara! Tiara nggak suka dipanggil dengan sebutan kamu!” Tiara membentak.
“Baiklah. Kalau Allah memberikan cobaan pada Tiara, nggak mungkin Allah memberikan cobaan di luar batas kemampuan Tiara. Tiara harus kuat. Dengan Allah memberikan cobaan, Dia akan mengangkat derajat Tiara di sisi-Nya. Tiara ngerti?” Lelaki itu menatap Tiara yang terduduk di depannya.

“Kenalin. Nama kakak Arsyad. Nama kamu, eh Tiara, Tiara siapa?”
“Mutiara Kaisaura.”
“Cantik. Seperti orangnya. Kenapa Tiara lepas kerudung tadi?”
“Tiara kepanasan. Biar sejuk. Kakak ngapain ikutin Tiara? Tiara kan bukan siapa-siapa kakak. Semua orang menjauhi Tiara. Nggak ada yang sayang Tiara lagi.” Ungkap gadis 14 tahun itu.
“Tiara, kakak tadi lihat Tiara jalan ke sini sambil nangis. Kakak takut Tiara mau melakukan sesuatu yang bukan-bukan. makanya kakak ikutin Tiara. Asal Tiara tahu ya, banyak orang sayang Tiara. Tiara saja yang kurang peka. Mereka ingin mendekati Tiara tapi Tiara malah menjauh.”
Tiara menyandarkan kepalanya di bahu Arsyad. Entah mengapa Tiara merasa nyaman dengan kehadiran Arsyad. Arsyad membelai Tiara. Ia membiarkan Tiara seperti itu sampai Tiara tenang. Arsyad mengerti bagaimana sakitnya Tiara, karena ia dulu juga mengalami peristiwa yang sama.

“Tiara mau coklat nggak?” Arsyad membuka pembicaraan setelah lama saling diam.
“Mau.” Tiara menjawab singkat.
“Ini buat Tiara.”
“Makasih ya kak Arsyad. Kakak tahu aja makanan favorit Tiara.” Tiara berkata sambil tersenyum. Kemudian membagi dua coklat itu.
“Ini buat kakak.”
“Kenapa di bagi dua, Tiara?”
“Masa Tiara makan, kakak nggak makan. Nggak enak dong.” Celoteh tiara.
“Hmmm, makasih ya. Oh ya, ini sudah jam setengah tujuh lho Tiara nggak sekolah?”
“Nggak. Hari ini kan Minggu.”

Waktu di atas tebing itu dihabiskan Tiara dan Arsyad untuk bercanda. Keceriaan Tiara yang lama terpendam kini mulai naik ke permukaan lagi. Mendung yang selama ini menggelayutinya perlahan pergi.
“Jam berapa kak?” tanya Tiara tiba-tiba.
“Jam sembilan. Tiara mau pulang? Kakak antar yuk!” ajak Arsyad. Ia takut Tiara di cari mamanya. Apalagi Tiara bersama dirinya. Di tempat yang sepi lagi.
“Mmm, iya deh.” Tiara bangkit berdiri di susul Arsyad kemudian mengambil kerudungnya yang ada di pinggir tebing. Tiara iseng melongokkan kepalanya ke bawah. Ia bergidik. Ngeri.
“Kak, kalau Tiara terjun ke sana pasti sakit banget.” Celetuk Tiara.
“Ya iyalah Tiara.”

Mereka berjalan menuruni tebing itu. Arsyad mengantar Tiara sampai di rumahnya. Perjalanan yang lumayan jauh di tempuh dengan berjalan kaki. Sesekali mereka bercanda. Tiara berfikir Arsyad adalah penyelamat hidupnya dan yang membangkitkan kembali semangat yang selama ini terpendam.

Hari-hari Tiara kini berlalu penuh warna. Bagai pelangi jutaan warna. Ya, semua ini berkat Arsyad yang selalu ada di sampingnya. Hmmm… sekarang Tiara dan Arsyad jadi adik kakak lho. Bahagianya lagi mama sangat setuju. Karena kedatangan Arsyad membawa perubahan besar pada diri putrinya. Orang tua Arsyad pun mengijinkan Tiara menjadi adik Arsyad. Walaupun badai sedang menerpa kehidupan Tiara, Tiara bisa menghadapinya dengan tenang karena ada Arsyad di sampingnya.

Pada suatu minggu Arsyad datang ke rumah Tiara. Ia ingin mengajak Tiara jalan-jalan sekalian membicarakan sesuatu.
“Assalamu’alaikum.”
“Eh kamu. Ngapain kamu ke sini ha?! Hardik Rudi, papa Tiara.
“Em, anu om. Saya ingin bertemu Tiara.”
“Tiara tidak ada! Pergi kamu! Arsyad pun keluar halaman rumah Tiara dengan kecewa. Tanpa diketahui papanya, Tiara sudah ada di depan rumah. Ia lewat pintu samping. Dia sudah pamit sama mamanya. Mamanya mengantar sampai pintu samping.
“Kak Arsyad! Sini!”
“Tiara kamu ngapain di sini?”
“Kakak mau ajak Tiara pergi kan? Ayo cepat!” Tiara segera naik boncengan ninja Arsyad. Arsyad pun segera melajukan motornya karena takut ketahuan papa Tiara. Arsyad melajukan ninjanya menuju tebing. Ada jalan lain ke sana selain jalan terjal nan mengerikan itu. Arsyad menghentikan motornya. Dia berfikir: “Di sini awal kita bertemu, Tiara adikku.”
“Kok kakak ngajak Tiara ke sini?” tanya Tiara keheranan.
“Kakak mau ngomong sama Tiara. Boleh kan?” Arsyad tersenyum getir. Sebenarnya tak tega dia mengatakan ini pada Tiara.
“Boleh.” Tiara tersenyum. Amat manisnya hingga lesung pipitnya terlihat. Matanya berbinar memancarkan keteduhan hati pemiliknya.
“Tiara, kakak mau ngelanjutin sekolah di Australia tinggal enam bulan kok.” Keceriaan di wajah Tiara sirna seketika. Bagaimana hidupnya nanti? Tak ada yang menjadi sandaran lagi. Tiara menunduk menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Tiara sama siapa kalau kakak pergi?” kata Tiara parau.
“Masih ada teman-teman Tiara, mama Tiara, banyak orang di sekitar Tiara. Lagian Cuma enam bulan kok.”
“Enam bulan itu lama kakak!” Tiara membentak. Tangisnya sudah pecah. Wajah yang sebelumnya bercahaya kini digelayuti mendung tebal.
“Kakak berjanji begitu selesai kakak langsung pulang ke Indonesia. Kakak langsung temui Tiara. Tiara kasih ijin kan untuk kakak?” Arsyad menatap Tiara, matanya sedikit berpelangi. Tetapi ia tak ingin pelangi itu berubah menjadi air mata.
“Iya.” Jawab Tiara singkat. Arsyad menarik tubuh Tiara yang bergetar menahan tangis dalam rengkuhannya. Ia merengkuh Tiara sangat erat. Ia mendongakkan kepala menatap langit biru.

Tiga hari kemudian Arsyad berangkat. Tiara mengantarkannya sampai bandara. Arsyad sempat memberikan sesuatu kepada Tiara. Dan Tiara menyerahkan Teddy Bear birunya pada Arsyad. Itu satu-satunya benda kesayangan Tiara. Yang sudah semalaman menjadi tempat menumpahkan tangisnya. Tiara menggantungkan kertas dengan pita pink di leher Teddy.
“Jaga diri baik-baik ya Tiara. Kakak pergi. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Jangan lupakan Tiara kak. Tiara selalu rindu kakak.”
“Iya, Sayang.” Ini pertama kala Arsyad memanggil Tiara dengan sebutan “Sayang”. Kemudian berlalu tanpa menoleh lagi.

Sampai di rumah, Tiara langsung masuk kamarnya dan menangis. Papa menghampirinya.
“Ngapain kamu nangis?! Diam! Bikin kuping budek saja! Kamu menangisi anak sialan itu?! Iya! Diam tidak! Tidak diam papa pukul kamu!”
“Pukul! Pukul Tiara! Kalau dengan begitu papa bisa puas. Kalau perlu bunuh Tiara sekalian. Biar nggak ada yang gangguin papa berjudi lagi!”
Papa mengambil kayu panjang di sudut kamar Tiara yang biasa digunakan untuk membuka gorden ventilasi. Kemudian dipukulkan tongkat itu di punggung Tiara berkali-kali. Tiara diam saja sambil menangis. Mama yang tergolek lemah di ranjangnya hanya bisa menangis mendengar teriakan suaminya yang tengah memukuli Tiara, anak semata wayangnya. Puas memukuli anaknya, Rudi meninggalkan Tiara yang menangis kesakitan.

Cerpen Karangan: Dhiyafirsta Swastika
Facebook: Dhista Dhiafanta
Dhiyafirsta Swastika. itu namaku. biasa dipanggil Dhea/Firsta/Tata…
Aku baru belajar menulis cerpen, doakan aku bisa menulis cerpen yang jauh lebih baik ya teman-teman…

Cerpen Di Tebing Itu Aku Mengerti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Restart

Oleh:
Kadang aku ingin pergi dan berlari dari semua masalah ini. Menghentikan sejenak aktivitas, pergi dan menjauh dari kebisingan, menghindari siapa pun lalu pergi dan sembunyi. Ingin rasanya berdiam diri

Ahh… Hidup (Part 2)

Oleh:
Dua jam lebih kami perlukan untuk menempuh jarak dari kota Medan ke kota Jambi. Kami harus mampir ke kota Jakarta terlebih dahulu, agar bisa pergi ke kota Jambi. Kami

Program Penurunan Berat Manja

Oleh:
Melihat aksi tanteku yang lagi sibuk kejar-kejaran dengan Ifha, putrinya yang kelas dua SD, karena susah sekali disuruh mengerjakan PR, diriku teringat pada tulisanku yang akan Anda baca ini.

Promises on The Hill

Oleh:
Waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru saja aku, Danny dan Fern lulus dari SMP. Dan sekarang kami sudah harus berpisah untuk melanjutkan studi ke universitas. Beberapa hari sebelum kami

Andai Kau Tahu

Oleh:
“bukannya gue udah bilang, lo itu nggak usah berhubungan dengan gue lagi. Gue muak harus bersahabatan selama belasan tahun dengan orang munafik kaya elo. Sialnya lagi, elo pura-pura manis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *