Dia Kakak Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 24 September 2015

“Ly, kamu baik aja kan?” Lily segera mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia mencoba tersenyum pada Mimi, sahabatnya.
“Aku baik aja kok”
“Yakin?” tanya Mimi lagi. Lily mengangguk.
“Pulang, yuk!” ajak Mimi kemudian. Lily cuma mengikutinya berjalan meninggalkan pekarangan sekolah. Sesekali ia masih menoleh ke belakang, matanya tak lepas menatap sosok yang sebenarnya sangat ia rindukan itu.
“Huftt!!!” Lily menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir segala pikiran-pikiran bodoh yang kembali hadir di benaknya.

“Sudahlah, Ly. Dia sudah bahagia dengan Lisa. Kamu tak perlu mengusik mereka lagi.” bisiknya pada diri sendiri. Ia berusaha mencari kekuatan untuk dirinya yang saat ini benar-benar merasa terpuruk. Tapi lagi-lagi gagal oleh tuntutan dari sebuah keadilan.
“Tidak! Aku harus jujur padanya!”
“Walau harus mengorbankan perasaannya? Apa kamu tega?” pertanyaan itu selalu berhasil membuatnya mundur dan memilih tuk menjadikan semuanya tetap sebagai rahasia.

“Mi! Ayo cepat! Hari ini kak Amal bertanding basket. Kita wajib nonton!” kata Lily setengah berteriak sambil menyeret Mimi ke luar dari kelas.
“Duh, Lily! Belum menyerah juga ya? Ngapain sih repot-repot menonton pertandingan tidak penting itu?” Lily menatap Mimi dengan wajah memelas.
“Hmm… Jangan menatapku seperti itu. Kamu tahu kan aku paling tak tahan melihatmu sedih. Hmm… Ya sudah, ayo!”
“Yess! Berhasil!” Lily tersenyum penuh kemenangan. Ia hapal betul sifat sahabatnya itu. Pasang wajah menyedihkan sedikit saja dia sudah bisa luluh.

Dengan setengah berlari Lily dan Mimi menuju lapangan basket. Sialnya, saat berbelok mereka tidak sengaja menabrak Lisa.
“Uuhh! Kamu lagi, kamu lagi! Cari masalah ya?” bentaknya.
“Maaf.. Aku tidak sengaja…”
“Oh, aku tahu, pasti kamu sengaja untuk mencari perhatian kak Amal kan? Jangan mimpi deh! Kak Amal tidak akan pernah suka sama orang sepertimu!” Lily dengan wajah memerah menahan tangis lagi-lagi cuma bisa diam menunduk. Mimi yang sedari tadi diam langsung membentak Lisa.
“Masalah kamu apa sih, Lis? Seenaknya saja mengatai orang! Kamu pikir kamu siapa? Hah? Dasar cewek sombong!” Lisa melotot mendengar kata-kata Mimi. Dalam hitungan menit mereka sudah saling jambak. Suasana jadi riuh saat siswa yang lain ikut berkerumun.

“Mi, sudah..” Lily pun tak bisa apa-apa. Bahkan suaranya seperti tertelan keriuhan hingga Mimi tak sedikit pun mendengarkannya. Suasana makin riuh saat tiba-tiba Lily pingsan.
“Ly! Kamu kenapa?” Mimi segera mendekati Lily yang lunglai ke lantai. Wajahnya sedikit memerah, mungkin karena tadi sempat terkena tamparan Lisa.
Saat sadar Lily sudah ada di ruang UKS sekolah.
“Hey,” sebuah senyum menyambutnya saat pertama membuka mata. Dilihatnya Mimi sedang berdiri di dekatnya.
“Aku kenapa, Mi?” tanyanya kemudian.
“Harusnya aku yang nanya kamu kenapa. Tiba-tiba pingsan gitu. Ada apa sih? Kamu sakit?” Mimi memegang dahi Lily tapi segera ditepiskannya tangan Mimi.
“Aku baik aja kok,” Lily berusaha tersenyum untuk menutupi rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya.

“Ah, kamu malah pingsan segala. Padahal tadi lagi seru-serunya. Aku belum puas menghajar si Nenek lampir itu!” kata Mimi dengan nada sedikit kecewa.
“Ah, kamu ini. Tak ada kapok-kapoknya. Kalau guru sampai tahu kamu bisa dihukum.” Mimi tersenyum getir.
“cuma kena skors 3 hari kok.”
“Tuh kan, gara-gara aku, kamu diskors lagi. Ayo, biar aku jelaskan sama guru, biar aku aja yang dihukum,” Lily segera bangkit tapi ia malah nyaris jatuh. Kepalanya terasa pusing.
“Udah, Lily sayang. Tidak usah. Kan tadi aku yang berantem jadi tidak apa kalau dihukum. Lagi pula aku senang bisa menghajar cewek sombong itu. Dan yang paling penting, dia juga diskors. Jadi kan impas. Hehehe…”

Sepulang sekolah, Lily memaksakan diri berjalan pulang. Kepalanya masih terasa pusing.
“Ly, kamu benar tidak apa-apa?” tanya Mimi sedikit cemas melihat sahabatnya berjalan lambat. Lily tersenyum.
“Iya, aku tidak apa-apa kok.”
“Hey!” tiba-tiba seseorang menarik tangan Lily dengan kasar. Belum sempat Lily bicara, sebuah tamparan cukup keras telah mendarat di pipinya. Rasa sakit dan perih mulai membuatnya menangis.

“Eh, kak, apa-apaan ini?” Mimi merasa kesal melihat sahabatnya diperlakukan begitu kasar.
“Kamu tak usah ikut campur! Ini masalahku dengan dia!” dengan setengah berteriak kak Amal menunjuk Lily. Mimi hendak maju tapi Lily menahannya.
“Heh, kamu tidak ada kapok-kapoknya juga ya. Selalu saja mengganggu Lisa. Masalah kamu sebenarnya apa? Dengar ya, aku tidak akan tinggal diam kalau kamu mengusiknya lagi!” katanya hendak beranjak. Lily yang selama ini sudah cukup bersabar kali ini mulai bicara.
“Sudah puas, kak?” Amal menghentikan langkahnya.
“Atau masih kurang? Kalau kurang, ayo tampar lagi!” Amal hanya terdiam.

“Selama ini aku diam saja dengan perlakuan kasar kalian. Aku terima saat Lisa terus-terusan menfitnahku di depan Kakak. Aku cuma tak mau masalahnya makin rumit…” Lily mengusap matanya.
“Mungkin sekarang ini Kakak menamparku. Tapi ku yakin nanti Kakak akan menangisi kepergianku…” Amal tersenyum sinis.
“Mungkin Kakak sedikit lupa, tapi akan ku coba membantu Kakak mengingatnya. ‘Kapan pun, dimana pun, bagaimana pun waktu membawa kita menjauh, membuat jarak kita semakin jauh, setiap saat, setiap waktu, Kakak kan selalu mengingatmu. Tak peduli waktu kan mempertemukan kita dalam keadaan apapun, aku pasti bisa mengenalimu.’ Masih ingat kata-kata itu?” Lily mengusap matanya.
“Kata-kata itu…” Amal mulai bingung. Ia teringat sesuatu.

Tiba-tiba ingatannya kembali ke masa 10 tahun lalu. Masa terpahit dalam hidunya. Saat itu kedua orangtuanya bercerai, membuatnya tak hanya harus kehilangan kasih sayang Ibunya tapi ia juga harus terpisah dengan Adiknya, Lia. Amal sangat menyayangi Adiknya itu. Dan saat orangtuanya berpisah, mereka pun harus berpisah. Ia ikut Ayahnya, sedang Lia ikut Ibunya. Sangat menyesakkan bagi mereka, terlebih karena mereka berdua sangat dekat. Di mana ada Amal pasti Lia selalu bersamanya. Perpisahan itu membuat hidup mereka pun ikut berubah. Terutama kehidupan Lia.

Setahun setelahnya, Ibunya meninggal dan karena ia tak tahu alamat Ayahnya, ia pun harus tinggal di panti asuhan. Amal pernah mencoba menemui Adiknya di rumah mereka yang lama, tapi tak didapatinya apapun selain kabar bahwa Ibunya telah meninggal. Dan bahwa Adiknya sekarang tinggal di panti asuhan, walau tidak ada yang tahu di mana. Ia pun lalu mencari Adiknya. Ditelusurinya setiap panti yang ada di pelosok kota. Hingga 10 tahun berlalu. Akhirnya mereka bertemu kembali. Walau ada yang sedikit aneh, tapi ia yakin kalau Lisa adalah Adiknya.

Kalung yang dipakai Lisa persis seperti kalung yang dulu diberikannya pada Adiknya. Tapi kehadiran Lily membuatnya kadang ragu. Walau banyak siswa di sekolah menjuluki Lily sebagai “cewek gila” gara-gara sering mencari perhatiannya, tapi ia merasa sangat dekat dengan cewek itu. Ia selalu merasa bahwa Lily adalah Adiknya. Tapi pikiran-pikiran itu segera dienyahkannya saat bersama Lisa. Lisalah Adiknya, itu yang berusaha diyakininya. Ia menjaga dan melindungi Lisa selayaknya seorang Kakak yang sayang pada Adiknya. Tapi kata-kata Lily tadi membuatnya kembali ragu.

“Jangan-jangan… ah, tidak mungkin!” benaknya kembali berkecamuk.
“Bagaimana? Sudah ingat?” Pertanyaan Lily membuyarkan lamunan panjang Amal. “Apa maksudmu sebenarnya?” Lily hanya menghela napas panjang.
Lalu, “Ya sudahlah kalau tidak mengerti. Lupakan saja.” Lily beranjak pergi. Ia benar-benar merasa sakit, tapi sedikit lega karena sudah bicara.
“Oya, kak,” Lily menghentikan langkahnya.
“Apa Kakak yakin bahwa Lisa adalah Adik kandung Kakak?” Lily tersenyum dan tanpa sadar air matanya menetes.
“Kakak bilang akan langsung bisa mengenali Adik Kakak itu. Apa Kakak yakin bahwa dia benar-benar Adik Kakak?” Lily kembali terdiam.
“Ya sudahlah.. Maaf kalau hadirku cuma mengganggu kalian. Tapi tenang aja, kak, setelah ini aku tidak akan mengganggu Kakak lagi,” lanjutnya sambil beranjak pergi meninggalkan Amal dalam keadaan mematung.

Mimi mengikuti Lily seperti orang bodoh. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya bisa membuat cowok menyebalkan itu sampai mematung seperti itu. Tapi ia juga penasaran ingin tahu ada apa sebenarnya dengan Lily.
“Ly! Tunggu!” Lily tak menghiraukan sahabatnya itu. Sampai tiba di rumah pun ia tetap membisu. Ia sungguh tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya pada Mimi. Seusai salat asar Lily langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
“Hei, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali!” Mimi sedikit panik melihat Lily yang benar-benar tampak kelelahan. Wajahnya semakin memucat.
“Ly,” sedikit lirih Mimi pun mendekati sahabatnya itu. Lily memejamkan matanya.
“Mi, ada hal yang selama ini ku sembunyikan darimu. Maaf ya…” suara Lily sedikit terdengar lemah. Mimi ikut tiduran di dekat Lily.
“Apa?” Lily lalu mulai menceritakan semuanya pada Mimi. Tentang hidupnya selama ini, tentang alasannya mendekati dan selalu mencari perhatian Amal selama ini.

Semua diluar dugaan Mimi. Ia baru sadar bahwa selama ini sahabatnya begitu menderita. Sedikit menyesal karena sebagai sahabat ia kurang peka dalam memahami Lily. Dan dalam sekejap Mimi pun ikut menangis.
“Kenapa tidak cerita sebelumnya? Kita kan sahabat. Harusnya kamu tidak menyimpan semua masalahmu sendiri. Kau tidak percaya padaku?” Lily tersenyum tanpa membuka matanya.
“Mi, bagiku, kamu bukan hanya sahabatku, tapi juga saudaraku. Dan aku tak ingin membuat saudaraku ikut sedih karena masalahku. Maaf, tapi sungguh, aku hanya tak ingin kamu sedih,” suara Lily terdengar bergetar. Rasa sakit itu kembali menyerang kepalanya. Tapi sebisa mungkin ditahannya agar tak terdengar keluhan dari bibirnya.

“Mi.. Boleh aku minta tolong?” kata Lily lagi, masih dengan mata terpejam. Lanjutnya.
“Tolong sampaikan maafku pada kak Amal, juga pada Lisa, dan semua teman-teman di sekolah yang mungkin pernah tersakiti oleh perbuatanku. Katakan bahwa aku pun telah memaafkan mereka. Hmm.. Dan kamu, apa aku belum pernah bilang bahwa aku sangat menyayangimu?” Mimi tersenyum mendengar kata-kata Lily.
“Belum,” candanya.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Ingat selalu kata-kataku ini ya. Aku sangat menyayangimu. Tak akan cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa bersyukurnya aku mengenalmu. Hal terindah dalam hidupku adalah mengenal kalian, kamu dan kak Amal. Makasih untuk hari-hari indah yang telah kau beri untukku. Bila aku tak ada lagi kelak dan kau rindu padaku, saat kau merasa sedih, terpuruk dan putus asa, cukup pejamkan mata, bayangkan aku ada di depanmu, tersenyum dan berkata padamu. Semangat! Everything’s gonna be OK! semoga itu bisa membuatmu semangat lagi. Walau itu tak akan membantu menyelesaikan masalahmu, setidaknya itu bisa membantumu tuk bertahan lebih lama.. huuffttt!” Lily menghela napas panjang.

“Katakan itu juga pada kak Amal ya, Mi.. Katakan bahwa aku sangat menyayanginya. Dan ku harap ia tak akan lupa padaku…”
“Kenapa tidak kamu katakan saja sendiri. Besok juga pasti ketemu dia lagi,” Mimi sedikit heran dengan tingkah Lily.
“Tidak bisa, Mi. Aku sudah terlalu lelah. Aku cape. Aku ingin istirahat. Aku butuh tidur, kali ini tidur yang lama. Hingga siapa pun tak bisa mengusik tidurku. Aku cape, Mi. Aku, ingin istirahat. Hmm..” Suara Lily terdengar makin melemah.
“Ya sudah kalau cape. Kamu istirahat aja. Nanti aku bangunkan kalau sudah magrib. Met istirahat ya…” Mimi segera bangkit dari tidurnya dan hendak beranjak ke luar. Diliriknya Lily yang tidur dalam keadaan tersenyum. Amat manis dengan jilbab hijau yang dipakainya. Ditatapnya lekat-lekat wajah sahabatnya itu, seolah ia tidak akan melihat wajah itu lagi.

“Ah! Kenapa juga aku jadi mikir yang aneh-aneh begini?” diusirnya jauh-jauh segala perasaan buruk yang tiba-tiba menyelinap dalam hatinya. Sebelum ke luar, diciumnya pipi Lily. Terasa dingin.
“Ly? Badanmu dingin sekali! Ly!” segera dipegangnya tangan sahabatnya itu. Rasa takut mulai menghinggapinya saat tak dirasakannya denyut di nadi Lily.
“Ly! Bangun, Ly!” diguncang-guncangkannya tubuh Lily.
“Ly, bangun! Jangan becanda ah! Ini tidak lucu! Ayo bangun!” Lily tetap diam dalam senyumnya. “Ly. Ku mohon,” mata Mimi mulai berkaca-kaca. Tangisnya pun pecah saat ia yakin bahwa Lily telah tiada. Lily meninggal! Kenyataan pahit yang membuatnya sangat terpukul.

Pagi yang cerah kembali menyapa setelah 3 hari hujan turun tiada henti. Amal melepas jaketnya sambil berjalan memasuki pekarangan sekolah. Sempat diliriknya kelas 1A saat lewat. Di kelas itu biasanya ia disambut oleh sebuah senyuman manis yang sebenarnya diam-diam telah meluluhkan hatinya. Walau selalu dibalasnya dengan puara-pura cuek. Sudah 3 hari tak dijumpainya pemilik senyum manis itu. Sejak kejadian ia menampar Lily, cewek itu seperti menghilang, tak ada kabar sedikit pun. Ini juga yang membuat Amal merasa bersalah. Sejujurnya ia pun merindukan sapaan itu.

“Met pagi, Kak Amal!” Bukan! Itu bukan suara Lily.
“Kok kamu sih?” tanyanya spontan. Teman sekelas Lily itu pun menatap heran.
“Emang Kakak pikir siapa?”
“Ah!” Amal segera berlalu meninggalkan cewek itu dalam keadaan bengong.

“Lily ke mana ya? Apa ia sakit hati padaku lalu pindah sekolah?” benaknya.
“Ah ya! Bisa jadi!” serunya kemudian. “Kamu kenapa, Mal?” Amal cuma tersenyum.

Saat istirahat Amal bertemu Mimi di kantin. Setelah 3 hari tidak masuk sekolah, sikap Mimi jadi berubah. Wajahnya seolah menunjukkan duka yang teramat dalam.
“Eh, itu kan Mimi. Mana Lily?” Mimi menemui Amal dan memberikannya sebuah surat.
“Apa ini?” tanyanya penasaran.
“Itu surat dariku. Aku malas bicara denganmu.”
“Hei.. yang sopan sedikit dong. Aku kan Kakak kelasmu!” Mimi tersenyum sinis.
“Itu bukan jaminan bahwa kelakuanmu lebih dewasa.”
“Ah, malas baca surat begini.”
“Heh, baca dulu. Surat itu aku yang tulis, tapi semua isinya adalah pesan Lily sebelum pergi. Baca saja dulu, setelah itu terserah kamu. Yang pasti Lily tidak akan pernah mengganggumu lagi,” tanpa sadar Mimi menangis. Perlahan Amal membuka surat itu kemudian membacanya. Isinya benar-benar membuatnya sesak. Rasa sesal dan haru mulai menyelimutinya.

“Ja, jadi. Di, dia benar-benar Adikku?” Amal masih belum bisa percaya dengan apa yang baru dibacanya.
“Menurutmu apa? Selama ini ia mendekatimu hanya karena ingin membuatmu menyadari kehadirannya. Tapi kalian malah selalu memojokkannya! Dia cuma cewek gila di mata kalian kan?” kata Mimi di sela isak tangisnya. Suaranya membuat suasana di kantin yang tadinya ramai mendadak sunyi. Hanya terdengar suara tangis Mimi.
“Tapi Lisa..”
“Asal kamu tahu, Lisa dan Lily dari panti asuhan yang sama. Lisa merampas kalung Lily saat tahu bahwa Lily adalah saudara kamu. Ia iri melihat kebahagiaan Lily jika sampai kalian bertemu. Makanya ia mengaku sebagai Adik kamu. Ia menikmati kebahagiaan yang seharusnya jadi milik Lily. Sementara Lily hanya bisa tersenyum dalam tangisnya, berdoa untuk kalian dalam tiap sujudnya. Kamu tak pernah tahu kan betapa tiap malam dihabiskannya untuk berdoa, hanya agar kamu bisa menyadari bahwa dialah Adikmu yang sebenarnya!”

“Bohong! Semua yang dikatakannya itu bohong! Akulah Adik kak Amal!” suara Lisa membela diri.
“Apa buktinya? Apa yang kau ketahui tentang Kakakmu ini? Hah?” bentak Mimi.
“Kakak, jangan dengarkan dia. Aku ini Adik Kakak. Apa Kakak lupa saat sebelum Ibu meninggal, ia menyuruh Kakak selalu menjagaku. Heh! Cewek aneh! Sebaiknya kamu diam! Kak Amal tidak akan percaya padamu. Dia…”
“Heh! Kamu yang harusnya diam!” bentakan Amal membuat yang lain kaget.
“Sejak awal aku sudah menduga, kau bukan Adikku. Siapa sebenarnya kamu? Asal tahu aja, waktu Ibu meninggal aku tidak ada di sana. Hanya ada Lia.”
“Tapi bukannya kemarin Kakak bilang kalau Ibu meninggal waktu aku masih bayi?”
“Aku hanya memancingmu. Ternyata benar, kamu bukan Adikku!”
“Tapi…”
“Sebaiknya kamu pergi. Aku tak mau melihatmu lagi!” Dengan kesal Lisa berlari meninggalkan kantin diikuti suara ejekan dari siswa yang lain.

“Itu belum cukup.. Kamu pikir itu bisa memperbaiki keadaan?” Mimi mengusap matanya. “Sayangnya hal itu tidak bisa membuat Lily hidup lagi!” lanjutnya.
“Apa maksudmu? Sekarang di mana dia? Aku ingin minta maaf. Aku sadar aku ini Kakak yang buruk,” lirih suara Amal.
“Lily…” tangis Mimi semakin tak tertahankan. Tapi segera diusapnya matanya lalu ia mencoba tersenyum,
“3 hari yang lalu, ia bilang ia cape. Ia ingin istirahat dan tak mau diganggu siapa pun. Sekarang Ia sudah terlelap dalam tidurnya yang panjang, siapa pun tak akan bisa membangunkannya lagi. Aku juga sangat merindukannya kini, tapi aku yakin sekarang ia telah tenang di sisiNya….”
“Maksudmu, dia…” Amal tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.

Tangisnya mulai pecah, begitu pun dengan yang lain. Mimi mengangguk sedih. Hujan pun kembali turun. Amal larut dalam kesedihan dan rasa penyesalannya. Ia terduduk lemas, seolah masih tak percaya bahwa Adiknya kini telah tiada. Sementara Mimi berjalan menembus hujan, berdiri di lapangan depan sekolah dan membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan. Tangisnya tak juga reda.
“Ly.. Aku merindukanmu. Saat hujan begini aku hanya berharap bisa bertemu denganmu..”

Hujan tak kunjung reda. Seperti duka di hati mereka.

Cerpen Karangan: Mhya Syam
Facebook: Mhya Syam

Cerpen Dia Kakak Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ban Sepedaku Keringat Ibuku

Oleh:
WAJAH ITU IBU, ya ibu. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran aku melihatnya, berada di sampingku menggoyang–goyangkan badanku dan memanggil namaku. Kulihat sekilas wajahnya tampak pucat, suaranya lirih seperti menahan

Hijrah

Oleh:
Rintik-rintik hujan begitu deras menghantam atap rumah yang sudah sangat reot itu. Hampir lima belas tahun aku merasakan kepahitan hidup dibawah garis kemiskinan. Semua berawal ketika aku masih berusia

Terlambat

Oleh:
“Terlambat…” bisiknya lirih. Sorot matanya tajam menatapku tanpa secuil pun kata keluar dari bibirnya. Aku hanya terdiam mematung. Butiran air mata dengan cepat membasahi kedua pipinya. Mata yang sebelumnya

Kupu-Kupu Kertas

Oleh:
Tujuh tahun telah berlalu namun aku masih mengingatnya. Wanita yang tampak begitu sederhana di mataku. Wanita yang sering mengiringi langkahku dengan semangat juangnya yang tinggi. Wanita itu menganggap hidup

Selamat Ulang Tahun

Oleh:
Lantunan bunyi itu terdengar tidak begitu jelas di telingaku, didampingi suara alam yang sahut-menyahut memberikan nyanyian indahnya. Mataku pun mulai terbuka guna melihat suasana sekitar, terlihat di sampingku seseorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Dia Kakak Ku”

  1. Guest says:

    ide ceritanya bagus. tapi kebanyakan dialog. gapapa, sih. tapi diseimbangkan sama deskripnya, yah. sama paragraf juga. bukan kesalahan editor, memang. redaksi, ‘kan, cuma memilah-milah. yang ngedit di awal memang harus penulisnya. semangat, ya! saya cuma kasih saran, kok. itu bukan kritik 🙂

  2. Jennifer says:

    Ceritanya bagus kok ditingkatkan terus ya kak

  3. Jennifer says:

    aku baca berkali Kali sampe nangis
    Hebat cerpennya

  4. Athaya says:

    Bagus banget ceritanya,aku sampe nangis lho. Kak Amal jahat banget sih sama Lily,padahal kan Lily cuma mau Kak Amal menyadari kalo Lily itu adeknya. Mimi sahabat yang baik ya,rela jambak-jambak an sama Lisa untuk melindungi Lily. Lisa kok nyebelin ya? Haha.
    Jujur aja ya,aku awalnya agak susah bedain Lily,Lia(Lily masa kecil,bukan sih?)sama Lisa,habis namanya mirip,hehe.

    Pokoknya cerpen ini sukses besar buat aku nangis! Lanjutkan karyamu! SEMANGAT!! ^^

  5. layla salsabila says:

    Wah ni cerpen sukses bikin aku nangis…. terharu…. jadi terbawa suasana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *