Diam Bukan Berarti Tak Merasakan (Jangan Sebut Kami Pendiam)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

3 tahun bersama kini saatnya aku harus meninggalkan mereka. Putih biru yang ku banggakan dulu kini berganti menjadi putih abu-abu. Hari ini adalah hari pertama aku masuk SMK. Tidak begitu menyenangkan bagiku! bahkan aku tidak banyak bicara di sini. Aku hanya mau berbicara pada seseorang yang menurutku baik. Kelas ini tidak begitu menyenangkan, bahkan cenderung membosankan. Wajah-wajah kritikus banyak terlihat di kelas ini. Sepertinya aku salah masuk kelas? Sesampainya di rumah aku tidak berhenti menyalahkan ibuku yang memasukkan aku di sekolah ini. Aku tahu jika aku tidak boleh berbicara seperti itu. Sangat tidak pantas sekali. Aku sama sekali tak punya niat untuk masuk apalagi belajar di sekolah ini. Mungkin ini yang dimaksud kakakku: “Orangtua kita lebih tahu mana yang terbaik untuk anaknya.” padahal kata-kata itu tidak selamanya benar. Banyak anak-anak yang frustasi bahkan gila gara-gara hal itu. Dan mereka mempunyai nasib yang sama sepertiku.

Pagi hari. “Krkrk..” Seseorang membuka pintu kamarku, dia membuka jendela dan menarik selimutku. Aku bergegas bangun sebelum ibu mencubit pahaku lagi. Selesai mandi dan bersiap-siap. Saat ke luar kamar rupanya ibuku sudah menyiapkan sarapan untukku. Aku harus segera menghabiskan sarapanku karena waktu sudah pukul 06.15. Aku segera mengambil helmku dan berangkat ke sekolah. Tak lupa aku mencium tangan kedua orangtuaku dan mengucapkan salam pada kedua orangtuaku. Setelah 15 menit perjalanan. Sampailah aku di gerbang sekolah. Sekolah ini mempunyai banyak aturan. Setiap siswa yang akan memasuki sekolah diwajibkan untuk mematikan sepeda motor, melepas jaket, dan bersalaman dengan minimal satu guru.

Saat aku mulai memasuki kelas, wajah-wajah sinis mulai menyapaku. Senyum untuk mereka mungkin sedikit membantu. Aku duduk di meja nomer dua dari depan maklum saja mataku ini sedikit rabun. Aku duduk dengan seorang anak perempuan dia memakai jilbab. Wajahnya kalem tidak seperti yang lain, dia juga memiliki paras yang cantik. Aku mulai mengajaknya ngobrol. Ternyata anak yang duduk di sampingku ini namanya Intan. Orangnya baik, ramah, dan tidak banyak bicara. Dia juga lebih banyak diam sepertiku. Saat aku mengenalnya lebih jauh, Intan bukan pendiam. Dia sama seperti yang lain. Hanya saja, dia tidak bisa terbuka dengan sembarang orang. Sebab dia diam selama ini adalah karena dia mempunyai nasib yang sama sepertiku.

Dia tidak merasa nyaman dengan kelas ini apalagi orang-orangnya. Hal ini yang membuat Intan tak pernah bergaul. Aku sudah cukup lama duduk di kursi ini. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan tempat dudukku terutama meja ini. Kejengkelanku mulai terasa saat aku menyeret mejaku dan menukar mejaku dengan meja lain, tiba-tiba saja teman sekelasku menertawakanku. Aku tidak tahu apa yang salah denganku? sementara aku menyeret meja yang berat ini tidak orang satu pun yang berniat untuk membantuku. Dengan wajah flat mereka hanya melihatku. Itu mengesalkan sekali bukan? aku hanya bisa memendam kekesalan ini dalam hati. Entahlah siapa yang aneh? mereka atau aku? dan itu bukan yang terakhir kalinya.

Tet.. Tet.. Bel jelek itu berbunyi dua kali, ini artinya waktu belajar sudah selesai. Ketika aku mendengar suara bel jelek itu rasa bosanku tiba-tiba hilang. Mungkin ini yang dinamakan refleks. Kalian juga begitu kan? kita samaan? Pulang sekolah aku tak langsung pulang ke rumah aku malas sekali jika harus bertemu dengan orang-orang rumah. Mereka selalu ribut di depanku dan aku harus mendengarkan ocehan mereka yang tidak layak didengarkan anak seusiaku. Jika aku dewasa nanti aku tidak mau menjadi seperti mereka. Sungguh tidak pantas sekali untuk dijadikan panutan. Lapangan dekat rel kereta, inilah tempat di mana aku bisa menenangkan pikiranku. Di sini aku selalu berangan-angan untuk menjadi photographer. Itu cita-citaku sejak masih kecil. Suatu saat nanti aku ingin kembali ke tempat ini dengan membawa kamera DSLR memakai bawahan jeans belel, kemeja kotak-kotak, dan memakai topi. Keren bukan? selain suka memotret aku juga memiliki cita-cita lain yakni menjadi desainer.

Ketika aku mencoba bilang pada ibu tentang 2 hal itu. Ibu tertawa dan berkata, “Cita-cita kok jadi tukang photo.”
Sepupuku mencoba untuk membelaku. “Gajinya besar kok Bu,” ibuku menyahutinya, “Iya kalau ada job kalau tidak bagaimana? mau makan apa kita.” lalu kami berdua diam saja agar suasana tidak semakin keruh.

Tak terasa lebih dari satu jam aku di sini. Lebih baik aku pulang sekarang daripada nanti diinterogasi. Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan wajahku dari debu-debu yang menempel. Yah.. begitulah kebiasaanku sepulang sekolah. Aku takut wajahku ditumbuhi jerawat. Kalian tahu sendiri kan semenjak pohon-pohon di tepi jalan ditebang untuk perluasan jalan. Cuacanya semakin panas karena tidak ada lagi penghalang bagi matahari untuk menyorot wajah kita. Kalaupun harus ditanam lagi pasti prosesnya lama.

Selepas membersihkan wajahku aku berbaring di ranjangku untuk menghilangkan rasa lelahku. Aku tidak bisa membayangkan jika selama 3 tahun ke depan aku harus hidup dengan orang-orang yang seperti ini. Apakah Tuhan tidak tersentuh untuk membawaku pergi dari tempat ini. Bahkan ini lebih buruk dari takdir yang digariskan Tuhan. Adakah seseorang yang bisa merubah hidupku? ku mohon.. bawalah aku pergi. Tapi aku percaya bahwa Tuhan tak akan memberikan cobaan melampaui batas umatnya. Hanya kata-kata itu yang selalu menguatkanku. Sekarang aku menyadari, Tuhan tidak sedang menghukumku karena aku nakal. Tapi Tuhan memperlakukanku begitu spesial di antara anak-anak lainnya. Ini tampak konyol sekali. Mereka merusak mentalku. Oke baiklah. Kalian bisa berbuat apa yang kalian suka dan aku juga akan mencari kebahagiaanku sendiri. Tempat ini dikelilingi banyak orang bodoh. Ya Tuhan.. apa ini memang yang terbaik untuk hidupku?

Cerpen Karangan: Devi Anggelina
Facebook: Devi Anggelina

Cerpen Diam Bukan Berarti Tak Merasakan (Jangan Sebut Kami Pendiam) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salahku

Oleh:
Aku Ayana, seorang siswi di sebuah SMA Negeri di Bandar Lampung. Hari ini adalah hari pertama aku memijakan kaki di kelas ini, 2 a. Kata teman-temanku, aku orang nya

Pernikahan 2 Tahun Selesai Hanya 15 Menit

Oleh:
Mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia itu adalah cita-cita oleh setiap insan. Tidak terkecuali diriku. Tapi bagaimana jika keinginan itu belum tercapai? Tahun 2006 adalah tahun yang bersejarah bagi

Je T’aime (Part 3)

Oleh:
“Dek cepetan ke sini sekarang!! Emergency!!” teriak kak Cello tiba-tiba setelah Chika mengangkat telponnya. Chika menjawab dengan bingung, “Kemana kak? Apa yang emergency?”. “Pokoknya sekarang kamu ke rumah sakit,

Nenekku Wanita Yang Hebat

Oleh:
Aku punya seorang nenek namanya Riyati, dia punya 5 orang anak. Anak pertama sudah bekerja menjadi pengusaha ikan asin dan mempunyai 2 putra, anak ke dua dia gak mau

Story of My Live

Oleh:
Langit begitu cerah. Yucan, yang biasa dipanggil Can itu tinggal bersama keluarga kecilnya. Ia memiliki adik laki-laki yang bernama Rey. Suatu hari, Can sedang duduk di ruang tamu. Tiba-tiba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *