Diana dan Si Pussy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 28 June 2017

Diana sekarang telah duduk di bangku kelas lima di Sekolah Dasar. Keluarganya sedang bermigrasi ke kota, tetapi Diana tidak, Dia tetap tinggal bersama kakek, nenek, pamannya Kholil dan bibinya di desa.
Diana senang sekali berkebun dan bertani, Dia sangat cinta dengan tanaman, terutama tanaman kesukaannya yaitu tanaman anggrek. Itulah sebabnya, ketika Ayahnya mengajaknya ke Kota, Dia malah menolak.
Selain bertani, Kakek Diana juga memelihara banyak itik, dan Diana pun sering membantu kakeknya memberi makan itik-itik kesayangan kakeknya itu.

Pada suatu hari Diana terkejut, ketika melihat seekor Itik kesayangan kakeknya itu mati, itik itu memiliki enam ekor anak. karena induknya telah mati, anaknya pun terus berkwek-kwek. Melihat kejadian itu Diana pun segera berlari menuju kakeknya.

Sesampainya di rumah, Diana pun memanggil kakeknya dengan suara keras. “Kakeeeek… kakeeeeeek… kemari kek…”
“Astagfirullooh… ada apa sih?” saat itu, kakek sedang enak-enaknya beristirahat mendengar sahutan Diana kakek pun segera bergegas keluar menuju cucu kesayangannya itu.
“iyah.. ada apa Nak?…” jawab kakek dengan lembut.
“itu.. ituuu… salah satu itik kesayangan kakek mati.” Diana terengah-engah.
“Astagfirulloh… yang mana Neeeng?” Kakek terlihat panik.
“yang… sedang beranak enam itu keeek… ayo kek kita ke sana…” jawab Diana.
“He’euh atuh… hayu ke sana…” respon kakek.
Mereka pun segera pergi menuju perkandangan milik kakek Diana itu.

Sesampainya di sana.
“Ini Kek.. Itiknya…” kata Diana.
“Ya Ampuun…” sahut kakek.
“Kek… kira-kira, ayam ini mati karena apa yah?” Tanya Diana
“yeuuuh… ini mah, matinya karena ada binatang yang menggigitnya.. apaa.. itik ini digigit oleh musang?”
“Tapi kek… kan gak ada bekas luka di tubuhnya itu keek…”
“Hmm… mungkin, digigit ular?” kata kakek.
“hmm.. benar juga kek… mungkin saja seperti itu… ya sudah kek.. kubur saja itik itu…” usul Diana
“Ya Sudah, akan kakek kubur.., tidak baik, kalua terus didiamkan, karena bisa menyebabkan penyakit.”
“penyakit? Penyakit apa kek?”
“Flu burung… penyakit yang begitu berbahaya bagi manusia, kalau kita terserang penyakit itu, akibatnya bisa fatal, kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit, dan bisa meneybabkan orang meninggal.”
“Hah, seberbahaya itu kek..”
“Memang begitu Nak…”

Mereka berdua pun menuju ke bawah pohon Jambu, kakeknya mengubur induk itik yang sudah mati itu, sedangkan Diana mengurung anak-anak itik yang kehilangan induknya itu ke kandang. Selesai mengubur itik tersebut, datanglah si Pussy, kucing kesayangan Diana, mendekati kuburan itik yang baru saja mati itu.
“Hus… huss.. jangan ke sini… nanti kamu ikut mati lagi… hus hus sana” kata Diana. Si Pussy pun terus mengedus-endus tanah yang menjadi tempat penguburan itik itu.

Tiba-tiba Paman Kholil datang dan bertanya Pada Diana.
“Ada apa Diana?” Tanya Paman Kholil pada Diana
“Sayang yah paman.., salah satu itik kesayangan kakek mati.”
“Hah Mati? Yang mana?”
“yang anak-anaknya baru saja menetas.” tegas Diana.
“ooh yang sedang beranak itu…” kata Paman
“iyah…”
“Sayang sekali…” kata paman menyesal.

Tidak lama mereka pulang, si Pussy pun ikut pulang bersama digendong Diana. Diana pun segera mandi dan melaksanakan solat ‘Ashar berjamaah dengan Neneknya. Sedangkan kakeknya, segera bergegas menuju masjid. kemudian, Diana pun menceritakan apa yang terjadi tadi kepada Neneknya.
“Nenek… nenek tahu gak.. tadi siang itik kesayangan kakek yang sedang beranak itu, mati.” kata Diana
“Ah Masa…” jawab nenek Kurang percaya.
“iyah nek benar… tanya saja pada kakek”.
“Aduuh.. sayang banget yah..” respon Nenek, dengan rasa penyesalan.

Keesokan harinya…
Pagi itu matahari bersinar begitu cerahnya, Diana segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sebelum berangkat sekolah, seperti biasa, Diana selalu memberi makan si Pussy, kucing kesayangannya itu, saat Diana ingin memberi makan si Pussy, si Pussy terlihat sedang memainkan sesuatu di dekat perkandangan itik milk kakeknya itu. Ketika sudah dekat benar, barulah Diana tahu, benda apa yang sedang Pussy mainkan itu.

“Ya Ampuun… Ulaaaar… kakeeeeekkk… pamaaaaaann… ada Ulaaaarr…” Diana berteriak sekencang-kencangnya.
Kakek yang sedang mengarit rumput di belakang rumahnya itu, mendengar jeritan Cucu kesayangannya itu. Tidak lama, Kakek pun segera bergegas menuju cucu kesayangannya itu.
“Ada apa Diaana?” Tanya Kakek..
“Kek, ada ulaar kekk…” Diana Panik.
“Di mana?”
“itu kek…”
“Awas… menghindar Diana… berbahaya ini… itu ular sendok!” Tegas Kakek.

Rupanya Si Pussy adalah kucing yang pemberani, dia tidak takut dengan ular itu. Dia malah mempermainkannya. ular itu menggulung dan mengeluarkan bisa. Setiap ular itu, mengangkat kepalanya, si Pussy mengayunkan kaki depannya, menampar ular itu, kuku-kukunya tajam dan mencakar kepala ular pucuk itu. ular itu terus ditampar sampai ular itu melemah. ular itu pun telah berlumuran darah di kepalanya. Diana dan kakenya pun menyaksikan kejadian menegangkan itu.

“Diana… Ambilkan kakek kayu yang ada di sana…”
“baik kek…” Diana pun segera menuruti perintah kakeknya.
“ini kek…” Diana pun segera memberikan kayu yang telah diambilnya itu.
“Apa yang ingin kakek lakukan?” Tanya Diana.
“Lihat saja.” ujar kakek.
Kakek pun tidak segan-segan, memukuli ular itu. Dan akhirnya, Ular itu pun mati.

“meong… meooung…” Si Pussy menghampiri Diana.
“kamu memang Kucing yang Hebat…” kata Diana Senang.
“Ooh… jadi memang benar, Ular itu yang telah mematikan itik kesayangan kakek ya kan?” Kata Diana kepada kakek.
“benar itu.” jawab kakek.

Cerpen Karangan: Bagja Putra
Facebook: adenbagjaputa

Cerpen Diana dan Si Pussy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Percikan Api

Oleh:
Sudah lima menit ia menatapi percikan api yang timbul saat mesin las menyentuh pipa besi. Memerhatikan ayahnya yang sedang bekerja. “Kamu nggak main, Nak?” tanya si Ayah, sambil terus

Pianis Cilik

Oleh:
Kenalkan namaku Marisa alica putri biasa dipanggil putri umurku 9 tahun. Aku bermimpi bisa menjadi pianis terkenal, walaupun aku sedikit pemalu tetapi aku ingin belajar piano. “ma, putri boleh

Tempe Goreng

Oleh:
Hah? Di mana aku? Kukerdipkan mataku beberapa kali, berusaha memulihkan kesadaranku. Oh, aku baru ingat, aku sedang berada di asrama. Mimpi barusan benar benar terasa nyata, membuatku sempat lupa

Hamburger Shop

Oleh:
Sore itu, aku dan Ibu tengah melayani pelanggan terakhir kami sebelum kami menutup toko. Setiap hari, aku dan Ibuku sudah biasa capai karena saking banyaknya pembeli. Tapi kami senang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *