Diary Elza

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 1 December 2016

Lembar demi lembar buku diary milik Elza sudah terisi deretan tulisan Elza yang begitu rapi. Entah apa jadinya jika lembar demi lembar itu sudah penuh oleh kata-kata ungkapan dari hati Elza. karena hanya buku diary itulah yang menjadi suatu pusat curahan kepedihan hidup Elza.

‘Sejak saat itu, aku semakin takut. Aku takut kehilangan dia. Aku tau ia tidak pernah menyukai kehadiranku. Tapi kumohon tuhan, aku masih ingin dia tetap di dunia ini.’

Elza menutup buku diarynya lantas menuju meja makan untuk sarapan. Sudah seperti biasa orang yang ia sayangi tak ada disitu. Untuk kesekian kalinya ia menghela napas panjang untuk meluapkan kepedihan yang ada di dalam hatinya.

“Kak Adit udah berangkat ya ma” ucap Elza. Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa memang seseorang yang ia tanyakan itu sudah ke sekolah.
“Iya. Oh ya, buku kakak ada yang ketinggalan, nanti kamu antar ke kelasnya ya” ucap sang mama.
“Oke ma”

Sesampai di sekolah, Elza mengantar buku milik Adit. Dia menuju kelas Adit yang kebetulan masih satu sekolah dengannya. Elza mengetuk pintu kelas yang terbuka.
“Kak Adit ada?” tanya Elza pada seorang teman sekelas Adit yang saat ini di hadapannya.
“Ada. Bentar ya…”
“Nggak usah kak. Ini aja kakak kasih ke kak Adit. Makasih ya kak” sembari memberikan buku milik Adit.
“Oke deh”

‘Dear diary, andai saja kak Adit tidak sebenci itu padaku. Aku tau aku hanyalah adik yang tidak berguna baginya. Tapi aku juga tidak tega melihat mama yang tak pernah dianggap oleh kak Adit. Dan di sisi lain aku tak ingin kak Adit merasa tersakiti’

“Elza, makan dulu yuk” ucap seseorang yang baru saja membuka pintu kamarnya.
“Iya ma” jawabnya.

“Kak Adit, ini tadi uang saku kakak ketinggalan” ucap Elza pada Adit saat bertemu di sekolah.
“Udah gue bilang, jangan pernah panggil gue kakak. Sekarang lo pergi dan nggak usah sok perhatian sama gue lagi. Pergi!!!” Tiba tiba Adit pingsan. Dan dia pun segera dibawa ke rumah sakit. Ternyata ginjalnya rusak. Padahal 6 bulan yang lalu satu ginjalnya baru saja diangkat.

“Ini semua salah lo. Coba lo nggak datang ke hidup gue. Gue pasti nggak akan kaya gini. Pergi lo! pergi!!…” Adit memaki keras adik tirinya. Elza hanya bisa tertunduk dan menangis. Dan sejak saat itu mereka tidak pernah berinteraksi sosial lagi. Dan keadaan ginjal Adit kian memburuk, membuat rasa takut untuk kehilangan menghantui Elza hingga detik ini.

“Dit, kamu harus akur sama Elza. Kasihan dia” ucap sang papa pada anak sulungnya itu.
“Papa nggak pernah ngertiin perasaan Adit. Apa papa tau. Sejak Elza datang, semuanya berubah. Papa jadi nggak peduli lagi sama Adit”
“Nggak kok kak. Papa peduli sama kakak. Kalau kakak benci sama aku. Nggak apa apa. Tapi jangan bicara gitu lagi sama papa. Papa nggak salah” ucap Elza yang baru saja datang.
“Udah gue bilang jangan panggil gue kakak. Emang bukan sepenuhnya ini semua salah papa. Tapi salah lo juga!!! Ngapain masih disini? pergi!”
Elza berlari ke luar rumah, dia menangis dan sakit hati. Sampai kapan sikap kakaknya akan terus seperti itu. Mamanya pun mengajaknya pulang.

‘Dear diary, kali ini aku bener benar sudah lelah. Lelah dengan hidupku. karena kutahu sampai kapanpun tak akan pernah menyukakiku. Tapi kumohon tuhan, berikan kak Adit kesempatan untuk hidup. Dan berbicara padaku walau hanya sepatah kata untuk yang terakhir kalinya’.

“Adit, kamu udah sadar” ucap sang papa.
“Baguslah, kalau begitu, dokter akan segera memeriksa keadaanmu”
Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Adit.
“Besok Adit sudah diperbolehkan untuk pulang” ucap dokter.
“Terimakasih dok”
“Saya permisi dulu” Adit tersenyum tipis.

Kini Adit sudah menjalani rutinitasnya seperti biasa dulu. Meskipun ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Namun, ia tak pernah menghiraukan hal itu.

“Dit, gue turut berduka cita” ucap salah seorang teman Adit.
“Emang kenapa?”
“Kan ad…” kalimat temannya terpotong oleh temannya yang lain.
“M..m..maksudnya kita seneng soalnya kamu udah sembuh”
“Oke, makasih. Aku ke kantin dulu ya…” Adit pun beranjak menuju kantin.

“Lo gimana sih?”
“Sori keceplosan”
“Dasar!!!”

Saat di kantin, Adit bertemu dengan Dina, teman dekat Elza. Dina tersenyum yang dibalas senyuman oleh Adit.
‘Aneh, udah 1 minggu gue nggak lihat Elza. Ihh… gue mikir apaan sih. Bukannya seharusnya gue seneng’ gumam Adit dalam hati.
Tiba-tiba Adit melihat Elza sedang duduk di salah satu bangku kantin bersama Dina, dan Elza tersenyum padanya. Entah mengapa ia langsung membalas senyuman Elza. Setelah kesembuhannya, ia menjadi berubah, kini ia tak membenci Elza lagi.

Sepulang sekolah, nampak raut kesenangan tergambar di wajah Adit. Ia menuju kelas Elza dan berniat untuk mengajaknya pulang bersama, sekaligus untuk meminta maaf atas sikapnya selama ini pada Elza. Namun, setelah sampai di kelas Elza, kelasnya sudah kosong. Mungkin Elza sudah pulang duluan pikirnya. Entah mengapa ia sangat rindu pada Elza. Ia benar benar ingin meminta maaf atas sikapnya yang sebelumnya yang selalu kasar pada Elza. Adit memilih untuk pulang berjalan kaki. Saat di perjalanan, ia melihat Elza berlari di depannya. Ia pun mengejar Elza dan ia melihat Elza menjatuhkan sesuatu. Saat ia mengambilnya, ternyata sebuah buku diary. Ketika ia akan mengejar Elza lagi, ia sudah tak melihat Elza.

Krietttt, Adit membuka pintu kamar Elza tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ia tak sabar ingin bertemu dan meminta maaf kepada Elza. Namun ia tak melihat Elza di kamarnya.
“Elza dimana sih…? Emmm, mending aku baca dulu aja deh” ucap Adit dengan nada jahil. Ia pun membaca lembar demi lembar buku diary milik Elza.

“Ah, cie… si Elza suka sama si Veri. Tapi nggak apa apa lah, Veri kan juga lumayan ganteng” ucap Adit geli.
“Hmmm, kok kebanyakan nyangkut aku ya. Maafin aku ya Elza” sejak tadi ia bebicara sendiri. Dan kini pun ia sampai pada lembar terakhir. Tulisannya begitu banyak, namun Adit tetap membacanya karena ia pikir ini mungkin yang terpenting.

‘Dear diary. Aku senang kak Adit sembuh. Aku sangat senang dan bersyukur kak Adit masih tetap ada di dunia ini sesuai harapanku. Meski aku menyesal tak sempat mengucapkan kalimat terakhir untuknya. Terima kasih tuhan, aku masih tetap bisa melihatnya dari tempat yang indah ini. Meski ragaku tak dapat menyentuhnya lagi. Namun jiwaku selalu menemaninya. Mungkin dengan cara ini aku akan dikenang. karena keinginan terbesarku hanyalah, dapat melihat kak Adit bahagia. Dan aku lebih bahagia lagi disini melihat senyumannya yang selalu aku rindukan. Aku bahagia melihat ia tak merasa kesakitan lagi. Dan aku akan bangga pada diriku sendiri. Kak Adit, aku titipkan kedua ginjalku ini padamu, kuharap kau senantiasa menjaganya untukku. Aku tau kakak akan menolak jika aku berbicara langsung padamu kak Adit. Maka dari itu, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Sampai suatu saat, waktu akan memberitahukan semuanya pada kakak. Selamat tinggal kak Adit.’

Adit menangis tanpa suara, namun isak tangisnya terdengar sangat jelas. Ia tak percaya akan apa yang berusan ia baca. Ia berlari menuju kamarnya dan menemukan sesuatu di meja belajarnya. ‘I MISS YOU MY BROTHER’ setelah ia menanyakan pada kedua orangtuanya, ternyata semuanya benar. Elza telah mendonorkan kedua ginjalnya pada Adit.
“Sudahlah, mama yakin Elza akan bahagia disana. Mama tau papa sama mama salah telah menyembunyikannya darimu. Namun ini semua adalah permintaan terakhir Elza. Kita semua kehilangan Elza. Ikhlaskan dia demi ketenangannya disana” jelas mama menenangkan Adit yang masih terus menangis sambil mengusap usap batu nisan makam Elza.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Reyska Wurry Khoiriyah
Facebook: Reyska Wurry

Cerpen Diary Elza merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hati Seorang Ayah

Oleh:
Tengah tersandar dari lelah yang menguras semua tenaganya, juga tetesan peluh rela ia buang, bersama hari-hari yang dipenuhi sandaran doa di setiap langkahnya.. Begitulah ratapan hidup seorang lelaki tua

Mukena Cantik Ala Tarisha

Oleh:
Pada bulan puasa yang mendekati hari raya idul fitri, semua umat islam membeli kue kering, dekorasi rumah agar menarik, dan lain hal sebagainya. Tak terkecuali keluarga Tarisha. Mereka akan

Dear Mama Papa

Oleh:
Pagi yang sunyi, di temani rintikan hujan yang membasahi dunia ini, aku termenung di sebuat kursi di depan balkonku. Di temani secangkir teh hangat. Namaku Sasya Angel Salsabil. Aku

Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Tujuh belas tahun… Bukan waktu yang singkat jika dijalani dengan kehidupan yang tidak normal. Ya, aku menganggapnya waktu yang tidak normal. Karena aku hidup di tengah-tengah keluarga yang menjijikan.

The Orphan (Part 1)

Oleh:
Sabtu Pagi… Seluruh siswa kelas 5 SD 009 Sangasanga sedang harap-harap cemas. Mereka sedang menunggu hasil pembagian raport. Seperti halnya dengan teman-temannya yang lain, Rio pun merasakan hal yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *