Diary Tasya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 October 2016

Tasya, seorang gadis imut yang sangat mungil berusia 5 tahun. Ia baru mempunyai seorang adik bayi bernama Rehan berusia 3 bulan. Tasya kecil sangat suka pada adik laki-lakinya itu. Selain adik, Tasya juga punya seorang kakak perempuan bernama Rere kelas 4 SD. Tasya sangat senang menjadi anak tengah di keluarganya.

Hari-hari yang menyenangkan terus berlalu…
Setahun… 2 tahun… hingga tak terasa 6 tahun berlalu. Tasya telah menginjak kelas 5 SD, hari-harinya yang dulu menyenangkan sekarang tidak lagi. Adiknya yang lucu jadi sangat nakal. Kakaknya yang dulu baik dan senang bermain dengannya sekarang jadi seperti monster bila ia mendekatinya. Orangtuanya yang dulu tak pernah pilih kasih sekarang jadi sedikit tak peduli padanya dan lebih mempedulikan kakak dan adiknya (tentu saja, itu dipandangan Tasya) neneknya yang tinggal di rumahnya, jadi sering marah dengan Tasya walau Rehan yang salah. Hidup benar-benar menyulitkan bagi Tasya.

Derita Tasya belum berakhir, ia juga punya banyak masalah di sekolahnya. Ia dikucilkan teman-teman ceweknya karena iri, Tasya bisa bermain dengan siapa saja (dengan teman cowok dan cewek. Walaupun lebih banyak dengan teman cowoknya) serta karena kepintarannya yang membuatnya sering mendapat juara 1 atau 2. Sayang sekali di sekolahnya tak ada guru BK. Orangtuanya juga jarang peduli padanya. Ini yang membuatnya frustrasi. Ia benar-benar butuh teman dan tempat curhat. Sampai ia pun sedikit aneh. Dia membuat “teman bayangan” nya sendiri. Setiap malam saat ia sendiri, ia seperti berbicara dengan temannya itu, ia bercerita dan bersenang-senang dengan “teman” nya yang “tidak asli” itu.
Tak puas dengan “teman bayangan” nya ia jadi mendekati anak laki-laki di sekolahnya (karena hampir semua teman perempuannya membencinya).

Kurang lebih sekitar setahun Tasya terus bersama gengnya yang beranggotakan banyak laki-laki dan satu perempuan, yakni dirinya. Tasya benar-benar jadi anak yang nakal. Ia berani memanjat dinding dan pagar, membuat anak lain cidera, berkata kotor, mencoret-coren dinding dan lain-lain. Walau kelakuannya seperti itu, orangtuanya tak tau dan menganggap Tasya anak yang “masih” baik. Tasya juga tak peduli jika suatu saat nanti orangtuanya tau dia adalah anak yang bermasalah.

Sejak saat itu, teman-temanyang dulu membencinya sekarang malah membullynya. Dan beberapa dari pembully itu adalah teman laki-lakinya yang diminta para “Tasya Haters” membully Tasya. “Benar-benar tak adil! Aku hanya sendiri, cewek pula! Sedangkan kalian para pembully adalah para laki-laki!” begitu pikirnya. Akhirnya, Tasya pun mendalami bela dirinya dan memiliki dendam amat besar pada semua orang. Ia juga memiliki perasaan jahat ingin membunuh semua orang yang membullynya suatu saat nanti.

Masa-masa SD berlalu. “Mimpi burukku berakhir!” pikir Tasya. Karena Kak Rere ikut jalur akselerasi, dia sekarang telah kuliah dan jauuuh dari rumah. Yah…, setidaknya itu juga yang membuat Tasya semakin lega. Karena monster di dalam rumahnya telah hilang.

Tasya kadang berpikir, “Kenapa hidupku dan kakak-adikku beda? Kenapa orangtuaku bersikap seperti membanding-bandingkanku dengan adik-kakakku? Kenapa begini? Kenapa begitu?” pertanyaan yang sejak dulu bermunculan di pikiran Tasya, ingin ia cari tau semua jawabannya sekarang! Bermodal banyaknya pertanyaan dan beberapa teman SMP nya yang kini bisa ia percaya. Tasya berharap menemukan satu per satu jawaban dari setiap pertanyaannya. Perlu kerja keras memang.

Suatu hari, saat ia menanyakan hal yang sama pada orangtuanya, “Kenapa kakak dan adik begini? Kenapa aku begitu?” orangtuanya sering tak peduli padanya atau hanya menjawab dengan marah, “Kamu ini selalu iri!” dalam hati Tasya ingin menjawab, “Aku iri karena tak pernah merasakannya. Toh selama ini aku kuat, kenapa sekarang aku bertanya begitu saja langsung kena marah?” Akhirnya, Tasya tak pernah membahas hal itu lagi, toh selalu berakhir dia kena marah.

Setelah kerja kerasnya selama 2 tahun, mencari-cari informasi dan belajar. Tasya bisa menemukan sebuah jawaban, yaitu “ANAK TENGAH terutama ANAK KEDUA DARI 3 BERSAUDARA BIASANYA BERBEDA, entah apa yang penting meraka beda!”
Sekarang Tasya semakin dewasa. Setelah ia mendapat jawaban itu, ia tak pernah mengungkit masalah perbedaan-perbedaan itu pada orangtuanya (kecuali mereka yang memulainya) Akan selalu terjadi adu mulut jika mengungkit hal itu. Tasya sekarang sedang berusaha mencari informasi, apakah jawaban yang ia dapat lalu memang 100 persen benar? Tasya juga mencari tau perubahan sikap-sikap kedua orangtuanya yang sekarang berubah lagi menjadi seperti dulu (saat kakaknya telah tak ada di rumah atau kuliah), serta berusaha lebih sabar menghadapi hidupnya yang “berbeda” dari kakak dan adiknya.

Cerpen Karangan: Agustina Dwi Ilmi
Facebook: Agustina Dwi Ilmi

Cerpen Diary Tasya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Asing

Oleh:
Hari ini tidak ada yang menarik sama saja seperti hari-hari yang lalu, selalu membosankan!! itu mulai dirasakan Acha panggilan akrabnya setelah 3 tahun yang lalu dirinya dibawa oleh ayahnya

Untuk Ibu

Oleh:
Dalam gudang yang sempit. Diana, seorang gadis yang tengah meringkuk di sudut ruangan. Dia menangis sesegukan kala mengigat peristiwa itu, dia pun tidak mempedulikan sekitarnya yang dipenuhi binatang kecil

Surat ini Kuberikan Untuk Ibu

Oleh:
Andi duduk di kursi, Seorang dokter ahli jiwa terlihat sedang mengecek kertas-kertas. Suasana begitu tenang, Andi yang terlihat biasa saja bahkan tidak tahu apa yang terjadi mencoba melirik surat

Penyesalan Memang Datang Terlambat

Oleh:
“Ibuuuuu!! Mana uang jajannya?” Teriak Cintya. Seorang pelajar SMP yang baru akan berangkat ke sekolah saat jam sudah menunjukan waktu untuknya harus berangkat saat itu juga. “Kemarin kan sudah

Cucu yang Menyesal (Part 1)

Oleh:
Gubuk tua, kumuh, dan hampir tidak layak pakai. Di sanalah aku dan kakek tinggal. Aku terpaksa tinggal bersama kakek karena orang yang aku hormati meninggalkanku saat aku berusia 1

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *