Dibalik Rencana Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 August 2014

Bagian 1 (Awal ibu meninggalkan ku)
Awal saat ibu pergi meninggalkanku serta ayah dan juga kakak-kakakku, sejak saat itu aku memutuskan untuk ikut tinggal bersama tante serta om ku. karena sudah sejak kecil aku dekat sekali dengan mereka maka aku tidak keberatan untuk ikut tinggal bersama mereka, dan kini usia ku telah menginjak 16 tahun masa remaja, setelah kepergian ibu aku melewati hari demi hari di keluarga kecil tante serta om ku. Mereka juga mempunyai seorang putri yang berusia 10 tahun, ia bernama ajeng dan ia gadis yang manis dan juga pandai kini ia telah aku anggap sebagai adikku begitu juga dengan ajeng ia juga menganggapku sebagai kakaknya. Aku belajar di sekolah menengah atas di kawasan Surabaya utara, di tempat baru ku belajar aku pun tak kesulitan untuk mendapatkan teman baru.

2 bulan telah berlalu, di mana aku yang hanya gadis biasa tinggal di kota Surabaya memanglah tidak mudah. Di sini aku harus lebih pintar untuk menjaga diri karena memang kota Surabaya adalah kota yang lumayan bebas, tapi aku bersyukur om dan tante selalu mengingatkanku ku untuk selalu menjaga diri dan rajin-rajin shalat serta mengaji. Bagi ku di tempat tinggal ku sekarang dan yang dulu sama saja tak ada yang berubah kecuali dulu aku bahagia bersama keluarga dari ayah dan ibu, tapi tidak dengan sekarang dan kini aku hidup di keluarga baru dari om dan tante. Sore itu aku dan ajeng pergi ke taman kompleks untuk mencari makanan dan juga jalan-jalan, saat kami berjalan menuju taman kami bertemu dengan rudi teman sekolah ku, dia anaknya gendut dan memakai kaca mata dan bicaranya pun tidak lancar.

“hai rudi.” Sapaku padanya.
“ehh kaa..u nisa, bersama si..apa kau?”
“aku bersama ajeng rud, adik ponakan.. aku duluan ya.”
“iy..aa sii..lahkan”.

Sesampai di taman ajeng pun mengajak ku untuk membeli kebab kesukaannya, tapi tidak dengan ku aku malah konsen dengan buku yang ada di tangan ku dan sampai-sampai ajeng geregetan dengan sikap ku yang membaca buku dari rumah hingga sampai taman, aku tidak menyadari kalu ajeng benar-benar marah dan hingga akhirnya aku meminta maaf padanya.
“ajeng, maafin kakak ya yang dari tadi tak menghiraukan mu. Kalau kamu sudah tak marah lagi ayo kita naik keranjang gantung di sebelah sana.” Ajak ku padanya

“ayo ..ayo.” dan kami pun menikmati permainan itu dengan sangat senangnya, rasanya aku kembali di masa kecil ku dulu. Setelah kami merasa puas mulai dari membeli kebab, balon, buku, dan juga menaiki keranjang gantung kami berdua pun pulang, sesampai di rumah tak tau kenapa tiba-tiba kepala ku migran dengan hebatnya hingga membuat ku pingsan tak sadarkan diri.

Bagian 2 (Sakit itu mulai datang)
Aku pun sadar dari pingsan, saat aku membuka mata aku sadar bahwa aku sekarang ada di rumah sakit, tapi kenapa aku bisa berada di sini dan memangnya aku sakit apa?

“mbak nisa, udah sadar? Pa ..mbak nisa udah bangun cepat kesini.”

Cepat-cepat om dan tante masuk ke ruangan ku, aku melihat mereka dengan wajah tersenyum. Hati ku mulai merasa ada yang ganjil rasa-rasanya tidak sehat dengan kondisi ku saat ini, dan lusa lalu waktu olah raga di sekolah aku mimisan. Aku sejak kecil tidak pernah mimisan tapi kenapa tiba-tiba aku mimisan dan aku juga sering sakit kepala tapi rasanya tak seperti biasanya, sakitnya sangat menyiksa.

“om kenapa nisa bisa berada di rumah sakit, memangnya nisa sakit apa?”
“kita tunggu hasil dari tes darah kamu dari dokter hendri dulu ya nis, dan om yakin kamu hanya sakit kepada biasa saja.”
“tapi kenapa kalau nisa hanya sakit kepala biasa kenapa harus dirawat?”

Dokter hendri pun memanggil om untuk datang ke ruangannya, di sana dokter hendri mengatakan suatu hal yang menyangkut kesehatan ku dan itu membuat om terkejut tak percaya, sampai-sampai om menangis saat dokter hendri mengatakannya.

“indra (nama om ku) ini mungkin berat bagi kau dan nisa, tapi pemeriksaan medis telah menunjukkan hasil seperti ini.”
“memangnya nisa sakit apa dri?”
“dia mengindap leukimia stadium lanjut, dan dari ilmu dokter sakit ini tidak ada obatnya.”
“bagaimana mungkin nisa mengindap sakit seperti itu, dia kelihatannya sehat-sehat saja.” Ujar om sambil meneteskan air mata
“namun memang itu kenyataannya, nisa terkena leukimia dan kanker ini termasuk ganas yang di mana sel darah putih lebih banyak perkembangannya di banding sel darah merah hingga akhirnya sel darah putih menjadi ganas serta merusak kekebalan tubuhnya.” Jelas dokter hendri

Om keluar dengan mimik wajah sedih, dia mungkin masih tak percaya dengan perkataan dokter hendri tadi. Tapi hasil medis telah menunjukkan jelas kalau aku mengindap penyakit leukimia, aku tak mengingankan penyakit itu datang menyerang kesehatan ku tapi harus gimana lagi ini memang takdir tuhan untuk menguji kesabaran ku kembali setelah kepergian ibu.

“om, apa kata dokter hendri tadi, memangnya nisa sakit apa?”. tanya ku
“apa nisa sungguh ingin tau, nisa sakit apa?”
“tentu om, nisa ingin tau.”
“nisa yang sabar ya, nisa mengindap leukimia tingkat lanjut dan sakit itu belum ada obatnya di kalangan medis”.

Aku menangis, kenapa tuhan biarkan sakit itu datang menyerang ku saat aku baru memulai semangat hidup baru setelah ibu pergi meninggalkan ku. Aku tak mengira bahwa sakit ku benar-benar menyiksa ku hingga membuat ku tak bisa menulis cerpen kembali.

Setelah aku boleh pulang dari rumah sakit setiap hari makanan wajib ku adalah obat, pernah suatu hari aku kesal dengan diri ku sendiri hingga membuat ku menjadi pucat karena 2 hari tak meminum obat. Tante ku yang mengerti mencoba untuk membujuk ku dan memberikan semangat untuk ku.

Siang itu aku absen dari belajar sekolah, karena memang waktunya untuk cuci darah dan memeriksakan keadaan ku pernahkah kau tau teman saat aku cuci darah, saat itu tubuh ku seperti ditusuk-tusuk oleh jarum-jarum yang tajam sehingga membuat ku merintih sakit. Oh tuhan, kapan penderitaan ini berakhir kenapa sakit ini harus menjadi musuh nyata ku. Seusai cuci darah aku dan om datang ke ruangan dokter hendri kini kami mendapat kabar baik dari om hendri, bahwa sakit ku bisa sembuh dengan jalannya kemoterapi namun hasilnya tidak 100% berhasil tapi aku, om dan dokter hendri yakin serta berusaha untuk membuat ku sembuh.

Siang itu di sekolah saat aku menyimak pelajaran bahasa Indonesia, tiba-tiba darah keluar dari hidung ku dengan derasnya dengan segera aku permisi keluar menuju toilet, di toilet aku membersihkan darah yang keluar dari hidung ku tau kah kau teman rasanya sakit sekali saat darah itu keluar dari hidung ku sampai-sampai aku tak bisa menahan sakitnya, dan sahabat ku pun datang menghampiri ku.

“nis, apakah kamu tidak apa-apa?”
“tidak kok, aku tidak apa-apa ini kan sudah biasa bagi ku.”

Melihat itu Tania (sahabat ku) menangis dan memeluk ku, dia adalah sahabat yang baik bagi ku bahkan dia pernah menjadi pendonor darah untuk ku saat aku membutuhkan sel darah merah dulu. Tania bukan hanya sebatas sahabat bagiku namun dia juga mejadi seorang kakak untuk ku, entah bagaimana aku membalas kebaikan hatinya itu. Saat ini hanya Tania yang mengetahui sakit ku ini, awalnya aku tidak mau bilang kepadanya kalau aku mengindap penyakit itu tapi akhirnya aku tak tega untuk menyembunyikannya dari dia.

Malam minggu ini aku lewati bersama tante dan om di rumah sakit karena memang besok minggu pagi aku mulai menjalani kemoterapi dan aku sangat takut untuk menunggu besok. Pagi pun datang di mana aku mulai ganti baju dan memasuki ruangan bersama suster-suster serta para dokter, sebelumnya tante berpesan kepada ku.

“nisa, tante di luar sini berdoa untuk kesembuhan mu jadi semangat ya dan jangan takut yakinlah bahwa kau akan segera sembuh dengan cara kemoterapi ini.”
“iya tante, nisa pasti kuat.”

Dan kemoterapi pun dimulai diawali dengan menyuntikkan bius di tubuh ku hingga membuat ku tertidur, tau kah kau teman saat kemoterapi dimulai dengan menyuntikkan obat-obatan kimia di darah ku itu rasanya sangat menyiksa ku. Itu saja terlalu sakit saat aku sudah diberi obat bius apalagi kalau tidak memakai obat bius tersebut mungkin aku akan menjerit teman, kemoterapi sangat lama hingga 2 jam lamanya. Seusainya aku siuman dari obat bius tersebut, saat aku membuka mata rasanya tubuh ini sangat dingin dan tak bisa digerakkan mungkin karena pengaruh obat-obatan itu.

“nisa, kau sudah siuman?”. Dan aku pun mengangguk perlahan tanpa menjawab pertanyaan dokter hendri.
“ya sudah, istirahat lah dulu”. Lanjut dokter hendri

Bukan sampai di sini teman penderitaan yang aku jalani dengan kemoterapi hampir sebulan sekali aku harus menjalani kemoterapi itu sampai-sampai membuat tubuh ku lemas hingga tangan ku tak bisa untuk digerakkan, tuhan sampai kapan semua ini harus aku terima sakitnya. Teman, mungkin kau tak akan pernah tau bagaimana sakitnya merasakan sakit ku ini tapi aku berharap kau tak akan merasakannya cukup aku saja tuhan.

“sore nisa, bagaimana kabar mu?” sahabat ku datang menjenguk ku. Aku pun senang saat melihat Tania datang
“sore, sudah agak mendingan kok nia daripada kemarin.”
“syukurlah, ini nis aku bawakan kamu novel dari agnes davonar. Kau suka?”
“suka nia, terima kasih banyak ya.”
“iya sama-sama sobat tapi cepat sembuh ya, teman-teman sudah merindukan mu.”
“iya nia, pasti aku segera sembuh.”

Kamis pagi aku diperbolehkan pulang oleh dokter hendri, dia berpesan untuk selalu menjaga kesehatan dan meminum obat secara teratur. Tak lama kemudian om ku menjemput ku dan kami pun pulang, di tengah perjalanan om bertanya kepada ku.

“nisa, ayah mu perlu tau tentang sakit mu ini, apa kau tak ingin memberitahunya?”
“tidak om, nisa gak mau melihat ayah gelisah mendengar kondisi nisa karena ayah mungkin masih tertekan dengan kepergian ibu.”
“tapi ia juga orangtua mu nis?”
“memang ia adalah orangtua nisa, tapi apakah ayah menganggap nisa ini sebagai anaknya om setelah ibu meninggal? Dan mengapa ayah memberikan tanggung jawab asuhnya kepada om dan tante, om keberatan ya untuk mengasuh nisa yang sakit-sakitan ini?”
“jelas tidak nis, kau sudah om anggap sebagai putri om sendiri, jadi kau jangan pernah berfikir seperti itu nis kau juga putri om.”

Sesampai di rumah aku langsung masuk menuju kamar, aku berfikir pertanyaan om tadi apakah aku salah kalau menyembunyikan penyakit ku ini dari ayah, tapi aku tak ingin membuat ayah tertekan kembali dengan kabar sakit ku ini. Maaf kan nisa ayah, dan kini hari demi hari berlanjut dan aku pun masih belajar seperti dulu dengan keadaan yang mulai membaik. Hingga akhirnya dokter hendri mengatakan bahwa sakit ku berangsur-angsur membaik, mendengar kabar tersebut aku, tante, om, ajeng dan juga Tania bahagia sampai-sampai malam itu tante mengadakan syukuran sebagai ucapan syukur kita kepada tuhan. Sebegitu sayangnya dan peduli om dan tante terhadap ku sampai-sampai dia mau melakukan apa saja demi kesembuhan ku, oh tuhan terima kasih untuk kasih sayang mu.

Bagian 3 (Aku pergi meninggalkan mereka)
Semuanya berakhir begitu singkat, setelah aku mempunyai kesempatan untuk bisa sembuh namun tidak dengan keadaan sekarang. Sakit itu datang lagi bahkan semakin parah, pagi itu saat aku sarapan bersama keluarga tiba-tiba darah menetes dari hidung ku, segera aku menugusapnya namun tante ku segera mengetahuinya.

“hidung mu berdarah lagi nis?”. Dan aku tak bisa berbohong kepada tante
“iya tante, nisa mimisan lagi.”
“kalau gitu nanti sepulang sekolah kita ke dokter hendri ya?”. Dan aku pun mengangguk, dalam hati ku menangis. Akankah penyakit itu datang lagi menyerang ku, akankah aku akan pergi meninggalkan dunia ini.

Sepulang sekolah aku dan tante pergi ke rumah sakit di sana kami bertemu dengan dokter hendri, dan aku pun mulai memasuki ruang seperti kapsul sebelum itu aku ganti baju pasien, di dalam sana aku seperti disorot oleh lampu-lampu yang membuat tubuh ku merasa panas. 15 menit berlalu, dan aku pun keluar dan berganti baju kami pun menunggu hasil dari pemeriksaan ku, tapi saat dokter hendri menjelaskan keadaan ku, aku hanya boleh menunggu di luar dan saat aku menunggu di luar tak sengaja aku melihat seorang laki-laki kecil yang memakai baju rumah sakit sedang menangis dan aku pun mendekatinya.

“kau kenapa menangis?”
“aku tidak ingin minum obat, rasanya tidak enak.”
“ini, kakak punya coklat tapi kamu harus datang ke mama mu dan meminum obatnya baru kamu boleh ambil coklat ini.”
“iya kalau begitu aku mau minum obat kak.”
“ya sudah ini coklatnya buat kamu, adik pintar.”

Tante pun keluar dari ruangan dokter hendri, dia mengatakan bahwa aku hanya infeksi hidung. Tante berbohong kepada ku bahwa sebenarnya kanker darah ku mulai tumbuh kembali dan malah semakin ganas, namun tante tidak mengatakan itu pada ku. Setelah kami pergi dari rumah sakit kami memutuskan untuk mencari makan terlebih dulu sebelum pulang, seperti biasa tante mengajak ku untuk makan masakan khas padang. Seusai itu aku pun pergi pulang bersama tante, dan sore itu tak sengaja aku mendengar percakapan om dan tante yang membuat ku begitu terkejut. Tante mengatakan tentang kesehatan ku pada om indra bahwa kanker ku tumbuh lagi dan makin ganas dari kemarin, dan hal yang membuat ku menangis ialah umur ku yang tinggal menghitung bulan. Oh tuhan tak sanggup aku untuk mendengarnya, jadi ini yang membuat tante harus berbohong kepada ku tentang sakit ku.

Tak ada jalan lain, saat mendengar berita kanker ku tumbuh kembali segera om mendorong dokter hendri untuk melakukan kemoterapi kembali kepada ku, entah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan tante daan juga om ku. Aku hanya bisa berdoa kepada tuhan agar tuhan yang membalas semua kebaikan mereka.

Kini aku mulai melakukan kemoterapi seperti dulu kala, sakitnya juga sama seperti dulu dan aku beruntung saat aku menjalani kemo sahabat ku Tania selalu ada di samping ku untuk memberi ku support, awal dari kemo berjalan dengan baik dan dokter hendri sempat mengatakan bahwa kemoterapi kali ini akan berhasil.

“indra, kemo hari ini berjalan dengan lancar dan tak ada penolakan dari tubuh nisa untuk obat-obat kimia ini.”
“syukurlah, semoga ini yang terakhir ndri, terima kasih banyak?”
“iya sama-sama ndra, sekarang kita berdoa saja agar kemo kedua besok juga berjalan lancar.”

Akhirnya kemoterapi kedua pun berjalan, namun tidak sebaik kemarin. Ada penolakan dari tubuh ku, tubuh ku mengalami peningkatan suhu dan jantung yang tak terkendali sehingga membuat kemoterapi pun dihentikan hingga membuat ku mengalami masa kritis. Saat aku kritis dokter hendri mengatakan kepada om dan tante.

“ndra, sepertinya nisa tidak akan bertahan lebih lama lagi. Tubuhnya sudah sangat lemah dan tak bisa menerima obat kimia lagi.”
“jadi apa yang harus kita lakukan ndri?”
“relakan kalau memang nisa ingin pergi ndra, kasihan dia yang selalu merasakan sakit. Kalau memang tuhan mengambilnya relakan saja.”
“tidak mungkin nisa akan segera pergi, aku tau dia gadis yang kuat.”
“tapi kasihan dia, dia tersiksa dengan kemoterapi ini meskipun dia mencoba untuk menahan sakitnya.”

Melihat semua itu om dan tante pun pasrah dengan keadaan ku yang semakin memburuk setelah kemoterapi kedua kemarin, kini aku yang terbaring lemah melawan kanker ini menanti doa dari orang-orang di sekeliling ku agar aku bisa sadar dari masa kritis ini. Ayah pun datang menjenguk ku karena memang om ku memberi tau tentang keadaan ku saat ini, ayah pun mendekati ku dan mencium kening ku meskipun aku masih kritis namun nurani seorang ayah dan anak akan selalu bersatu, aku pun meneteskan air mata saat ayah mencium kening ku.

Seminggu sudah aku kritis di rumah sakit, dan dokter hendri pun menyarankan om dan tante untuk membawa ku ke Amerika karena hasil dari informasi dokter, di sana ada tempat pengobatan bagi penyakit ku. Segera om dan tante mengirim dan mempersiapkan data-data ku ke rumah sakit tersebut, namun hasilnya mengecewakan rumah sakit di sana tidak bisa menerima karena kanker ku yang sudah menyebar ke seluruh tubuh ku termasuk otak ku jadi rumah sakit di sana tak ingin mengambil resiko. Om dan tante pu kecewa dengan keputusan rumah sakit albert di Amerka.

Tuhan pun memberikan anugerahnya kepada ku sehingga aku sadar dari masa kritis itu, semua menyambutnya dengan perasaan senang termasuk sahabat dan ayah ku. Tanpa mereka ketahui bahwa aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya.

“Alhamdulillah, kau sudah sadar nis?” ucap om indra.
“hem …”
“nisa kalau mau pergi, pergi saja om dan ayah serta semuanya sudah ikhlas kok.” Isak mereka menahan tangis

Sebelum aku meninggalkan mereka semua, hati ku mengucapakan dan menyebut nama ALLAH.

“terima kasih untuk kasih sayang kalian, nisa sayang kalian. Nisa akan selalu hidup di hati kalian semua.”

Aku pun memejamkan mata untuk selamanya dan meninggalkan kenangan-kenangan yang indah bersama orang yang menyayangi ku, ini lah rahasia dari rencana tuhan. Tuhan mengambil ku dari tengah-tengah keluarga baru, dan tuhan mengijikan bertemu bersama ibu. Aku pergi meninggalkan seribu senyum dan tangis bagi mereka, senyum bagi ku yang meninggalkan mereka dan tangisan bagi mereka yang aku tinggalkan.
Tuhan terima kasih untuk indahnya dunia yang kau berikan selama hidup ku. Sekarang bagaimana semua orang menyimpan semua kenangan bersama ku dulu saat aku masih bersama mereka.

Cerpen Karangan: Nur Afida Ry
Facebook: Nr Afida Ry
namaku nur afida roiny anak bungsu dari 4 bersaudara, kini aku kelas XII, saat ini aku masih duduk di bangku SMA. aku suka menulis terutama menulis cerpen.
email: afidary[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Dibalik Rencana Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ricky Ferdian

Oleh:
Waktu itu, menjelang penerimaan siswa baru. Aku yang baru saja lulus Sekolah Dasar (SD) tentu saja ingin sekali melanjutkan sekolahku ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMP. Sungguh

Arang

Oleh:
Pagi ini aku sudah mandi dan sudah mengganti baju santai ke baju resmi. Baju yang biasa aku pakai untuk mengajar. Kemeja lengan panjang warna abu-abu polos dan celana kain

Berdua Selamanya

Oleh:
Ini adalah kisah tentang cinta sejati. Cinta yang telah membawa mereka ke setiap lorong-lorong hati. Cinta yang telah mendorong mereka untuk berjuang membesarkan kami, putri-putrinya. Cinta yang telah mengiringi

Siapa Diriku

Oleh:
Pagi mulai menampakkan siratan cahayanya, semerbak harum pagi kian menyapa dengan iringan suara cicitan burung yang bertengger. Pagi masih menyisakan rasa dingin, ya semalam hujan deras dengan kilatan petir

Rindu Istana Kecil

Oleh:
“Buk, ibuk..” lirih dibalik mimpi seorang gadis kecil di dalam tidurnya. Kelopak mata sayunya terbuka perlahan. Cahaya berkabut melingkupi pandangannya, seiring dengan sebutir air mata yang lolos dari pelupuknya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *