Dinding Yang Retak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 June 2013

Goresan hati ini yang tak akan hilang, air mata ini tak akan kering, jikalau penderitaan ini tak akan berakhir. Mungkin kini aku hanya mempunyai satu teman yang bisa membuat ku tersenyum, di kala masalah itu terus mengalir. aku hanyalah seorang laki-laki yang lemah, yang hanya bisa pasrah dan menyerah dengan ujuan yang mungkin jika ku berusaha aku dapat melewatinya. Namun inilah aku, aku yang dulu, yang sampai sekarang tak bisa berubah.

Penderitaanku ini bermula ketika aku menikah dengan seorang gadis cantik, pandai, dan ia merupakan anak dari seorang pengusaha sukses di kota Bandung, ia adalah SHAFA. Jalinan pernikahan ini bermula, dari perjodohan. Dulu ketika aku masih sekolah aku pernah mendapatkan piagam penghargaan dari ayahnya shafa, namanya OM ABDUL. Aku mendapatkan penghargaan karena aku menjadi winner pada olimpiade fisika tingkat provinsi yang disponsori oleh perusahaan om abdul. Sejak itu aku berkenalan dengan beliau, saat itu juga aku dan om abdul jadi semakin akrab. Aku cerita panjang lebar tentang perjalanan hidupku, ini yang membuat ku semakin dekat dengannya. kemudian lambat laun setelah aku lulus dari SMA. Om abdul menawarkan pekerjaan padaku. Ia menawarkan aku agar bekerja di perusahaannya, sekalian ia juga ingin mengenalkan putrinya padaku, akupun menyetujui tawaran itu. Pastilah orang miskin sepertiku mau-mau saja ditawari pekerjaandengan Cuma-Cuma.

Dua bulan berlalu, aku jadi semakin dekat dengan shafa. Ada hal yang pernah terjadi pada shafa, ketika itu shafa sedang menjalankan study S-2 nya di jember, tak ada hujan tak ada angin, aku melihat shafa kecopetan. Pelakunya lari tanpa jejak. sehingga ia tak mempunyai uang sepeserpun. padahal uang itu baru saja ia ambil dari pos, kiriman dari ayahnya. dan saat itulah hanya aku yang dekat dengan shafa, alhamdulillah, waktu itu uangku masih cukup untuk membayarkan semua administrasi shafa, pada 1 semester.

Aku memang sudah cukup umurlah untuk menikah, akhirnya sejak kejadian itu, kejadian yang waktu shafa kecopetan itu, dan aku yang menanggung biaya kuliahnya, maka om abdul semakin yakin dan percaya padaku. Ia pun bermaksud untuk menikahkan aku dengan shafa, dan kami pun setuju. Semua keluarga aku dan keluarga shafa juga setuju. Malah mereka semua mendukungku.

Bulan november awal, aku menikah dengan shafa. pesta pernikahan berlangsung selama 7 hari 7 malam, berbagai hiburan telah di datangkan. Wajarlah seperti itu, biaya semua pesta pernikahan ini semua di tanggung oleh om abdul.

Lambat laun 1 tahun telah berlalu, perjalanan hidup sedih, senang telah ku jalani dengan shafa. Aku benar-benar tidak menyangka aku bisa menjadi menantu orang kaya atau pengusaha sukses di kota bandung. Namun, saat inilah kenyataannya, awal mula aku benar-benar merasakan kebahagiaan, lihat saja jika akau ini adalah anak seorang yang tidak punya, dapat menikahi gadis sekaya dan sebaik itu, semenjak itu kehidupan aku berubah, mulai dari kebutuhan, gaya hidup dan yang lainnya. Semua serba mewah, aku tahu kalau aku ini hanyalah orang miskin yang tak punya apa-apa. Tetapi dalam hal pendidikan aku juga tidak kalah dengan mereka yang kaya. Dan inilah puncak permasalahanku, shafa telah melahirkan anak dari darah dagingku, ia ku beri nama RAFA itu adalah singkatan dari namaku dan nama istriku rama shafa (rafa), seperti itulah.

Sekarang rafa sudah berumur empat tahun, aku pun telah menjalankan kewajiban aku sebagai suami yang terbaik untuk anak dan istri aku. Mencuci, memasak, mengurus rafa itu semua aku yang menanggung, karena shafa sedang melanjutkan kuliah S-3 nya di singapura, mungkin hanya sebulan sekali ia menengok rafa. Yang lebih membuat ku menderita, sekarang ini aku tinggal bersama Mertua, Mertua ku ini adalah orang terhormat di lingkup masyarakat. Untung saja aku tak ada masalah dengan om abdul. tapi aku sangat bermasalah dengan dengan ibu mertua aku. ia bilang padaku” kamu ini hanyalah orang miskin yang tak tau diri” dan katanya aku ini tak bisa memberikan apa-apa untuknya. Ia juga bilang kalau aku ini tidak punya malu, karena sudah numpang di rumah mertua, ia bilang aku ini lelaki yang tidak bertanggung jawab. Subhanalloh, apa maksud dari ini semua, benarkah diriku seperti itu, apalah semuanya yang telah ku lakukan. Ia tak pernah peduli dengan keadaan ku, bahkan ia tak pernah mengasihi rafa, bahkan mungkin ia tak pernah mengakui rafa sebagai cucunya. Memang aku ini hanyalah orang miskin, tapi hatiku tak semiskin hartaku. Kata-kata itu hampir setiap hari di utarakan kepadaku. Wajar jika aku tak tahan dengan semua yang aku hadapi sekarang ini, aku selalu dikucilkan di dalam keluarga ini, semakin hari shafa semakin berubah sikapnya padaku, yang awalnya ia bisa menerima aku apa adanya, kini ia sering menuntutku. Ingin aku menangis rasanya, tapi aku ini adalah seorang laki-laki yang pantang untuk menangis, pantang untuk pasrah, dan menyerah, tapi apalah daya aku ini sebagai seorang manusia. Dan posisi ku sekarang ini sedang terjepit, bagai telur di ujung tanduk. Bila aku harus menyerah apalah arti jiwa laki-laki ku ini.

Hingga shafa pulang dari singapura, akhirnya aku memutuskan tuk angkat kaki dari rumah mertuaku ini, yaitu ibu mertua yang aku tak mengerti alur fikirannya tentang dunia, harta, penampilan, begitu dia fikir, mungkin itu yang ada di hati ibu mertua ku. Yang telah membuat aku sedih adalah aku akan meninggalkan rafa, istriku, semua orang yang terdekat yaitu salah satunya adalah kak deni yang selalu memberiku semangat baru, dalam perjalanan masa-masa sulitku, dan semua orang yang ku sayang.

Dengan aliran air mataku ku langkahkan kaki ku tuk menuju kampung halamanku kembali. Mungkin aku akan terpisah ikatan yang terjalin selama 4 tahun persis dengan umur anakku rafa. Maaf kan ayah rafa. hanya sampai di sini ayah bisa menemanimu, hanya sampai di sini ayah bisa mendengar tangisanmu sayang. Maafkan semua kesalahan ayah rafa dan istriku maafkan aku, jika aku tidak bisa membahagiakan kalian, tak bisa menjadi suami yang baik untuk mu dan ayah yang baik untuk rafa.

Aku ini adalah laki-laki terkejam yang ketika anak ku menangis dan memanggil “Ayah mau kemana? rafa ikut…” aku hanya bisa menangis dan pergi meninggalkannya. Aku merasa bahwa aku ini adalah lelaki yang sangat berdosa. Aku ayah yang tidak bisa menjadi sandaran bagi anak ku. Maafkan… sekali lagi maafkan ayah, jika kau tahu, ayah sangat menyayangimu, ayah akan selalu merindukan mu rafa. Entah kapan kita bisa bertemu kembali dan dapat berkumpul dengan mu. Ayah berhrap jika suatu saat kau sudah besar nanti, kau tak lupa dengan ayah dan kembali pada ayah. Hanya kau lah harapan ayah satu-satunya rafa.

“SAMPAI JUMPA RAFA, ISTRIKU, dan SEMUANYA, aku sangat mencintai kalian semua” dengan tetesan air mata yang tak sanggup ku tahan aku berjalan meninggalkan rumah dan orang-orang yang kusayangi

Cerpen Karangan: Holy Fikriya Luqis
Facebook: holy fikriya luqis

Cerpen Dinding Yang Retak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata

Oleh:
Di atas bukit ini ada sebuah janji yang pernah diucapkan oleh seseorang. Janjinya untuk menjadi mata bagi gadis malang yang tidak bisa melihat itu. Mata yang selama ini gadis

25 November

Oleh:
Sore ini kembali aku rasakan sakitnya. Lukanya terlalu dalam. Malam nanti, bersama gerimis aku akan pergi tinggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan di sini. Aku rapuh jika tak segera

Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

Potret Hitam (Part 2)

Oleh:
Aku mendapatkan telepon dari seseorang. Aku mengucapkan salam dan terdapat sahutan disana. Ternyata itu seorang perempuan “apa betul saya bicara dengan Nona Arsitania?” tanyanya. “iya, ini saya, maaf ibu

Surat dari Langit

Oleh:
Hujan yang semula gerimis menjadi lebat seketika. Diiringi bunyi atap seng yang berdentam-dentum karena diterobos derasnya hujan, suhu di kamar kos kecil nan sumpek ini menjadi dingin bukan main.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *