Dirga di Bulan April

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 11 November 2015

Suasana udara dingin di pagi buta, seiring dengan kilaunya mentari yang perlahan menampakkan sayapnya, menemani langkah sepasang Kakak-Adik yang perlahan melangkah satu demi satu pijakan. Panas mentari yang begitu menyengat membuat sepasang saudara ini sepakat untuk berteduh sejenak.
“Ya Alloh, hari ini panas sekali ya kak, cape banget rasanya.” kata April memecah keheningan.
“iya nih de, oh ya minum dulun gih” kata Dirga dengan menyodorkan air mineral.

Setelah sejenak beristirahat mereka pun tak ingin berlama-lama lagi dalam perjalanan, mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan mereka menuju desa terpencil di sebelah selatan kota Bone, desa itu bernama desa “Bajoe” Perjalanan yang melelahkan itu kini membawa mereka sampai ke tempat tujuan, mereka disambut dengan hangat oleh penduduk setempat. Mereka pun diberi tempat tinggal untuk sementara waktu.

Penduduk setempat umumnya bermata pencarian sebagai nelayan, sumber kehidupan mereka pun berasal dari laut. Penduduk setempat pun sangat ramah, sehingga tak heran April dan Dirga merasa nyaman dan tentram tinggal di desa itu. Kedatangan mereka hanya untuk mencari pengalaman dari penduduk desa tersebut, waktu mereka pun terbatas, mereka hanya memiliki waktu empat bulan di desa tersebut, jadi harus dipergunakan dengan baik. Malam pun tiba, suasana malam pun sangat berbeda dengan di kota, tak terdengar lagi hiruk-pikuk kendaraan yang silih berganti, hanya bunyi jangkrik yang menemani. Dirga dan April duduk terpaku menatap cahaya bintang yang temaram dan hangatnya api unggun yang menyelimuti mereka hingga fajar terbit.

Pagi pun menyapa. Mentari di ufuk timur mengundang perhatian mereka seakan ingin tahu indahnya panorama hari ini.
“kak, lihat deh, indah banget” seraya menunjuk ke arah pantai.
“iya ya, kamu mau ya de kalau aku ambilin?”
“Mmm lebay deh, emang bisa ya kak?”
“bisa aja kalau kamu mau, hehehe” ucap Dirga sambil ketawa.
“Kakak nih sembarangan aja, ayo kita jalan lagi.” seraya menarik tangan Dirga.

“April, kalau begini suasananya Kakak betah tinggal di desa ini lebih lama lagi.”
“April juga pengennya gitu kak, tapi Kakak kan tahu kalau waktu yang dikasih Papa dan Mama cuma empat bulan kan kak? tapi bulan April masih lama kok kak, tenang aja, kangennya ntar lumutan loh.” ucapnya dengan polos.
“iya juga sih de, emangnya kamu sudah kangen ya sama Mama dan Papa?” tanya Dirga.
“kangen juga sih kak, baru dua hari di sini, gimana ntar kalau dua bulan? Bisa-bisa April ngigau terus nih kak.” ucapnya manja.
“dasar anak manja kamu” seraya mengelus rambut April.

Dirga hanya mampu menatap April dengan senyumnya, namun hati Dirga berbisik.
“Aku akan berusaha buat kamu tetap tersenyum April, walau sebenarnya kamu bukanlah adik kandungku, tapi rasa sayang ini melebihi rasa sayangku pada diri sendiri.”
Tiba-tiba April melihat Dirga melamun, dan diam-diam mengagetkannya. “hayoo ngelamunin apaan kak? ntar kesambet loh” seraya menepuk pundak Dirga.
Dirga pun tersentak. “eh gak kok, Kakak gak ngelamun, yuk jalan lagi.” ucapnya dengan santai.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, kini waktu mereka semakin dekat, namun mereka tidak menyia-nyiakan waktu mereka. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk membantu permasalahan pendududk setempat, sehingga perlahan penduduk mulai hidup rukun dan damai. Suatu ketika di sisi lain entah mengapa Dirga mulai menyukai April, sedangkan ia pun tahu kalau April layaknya adik kandungnya sendiri. Namun perasan itu datang dengan sendirinya, hingga suatu ketika Dirga berusaha mengungkapkan semuanya.

Saat senja pun tiba, mentari yang redup pun menjadi saksi bisu dari percakapan mereka.
“Ada apa kak? sepertinya ada hal penting yang ingin Kakak sampaikan ke saya?” tanya April dengan sikap dinginnya.
“Mmm gini de, tapi kamu harus janji dulu sama Kakak, kamu tidak boleh sedih atau berkecil hati setelah apa yang akan Kakak ceritakan sama kamu.”
“Insya Allah Kakak.”
“Gini de, sebenarnya kita bukan saudara kandung.” kata Dirga memecah keheningan.
“Maksud Kakak apa dengan perkataan itu? apa aku bukan anak dari Mama dan Papa?” tanya April.
“April, waktu kecil kamu diadopsi sama Mama dan Papa ketika umurmu masih dua tahun, karena dulu Mama sangat membutuhkan seorang bayi perempuan, berkat usul dari Papa mereka pun mengadopsimu, April.” jelas Dirga.

Mendengar penjelasan Dirga, April tak kuasa menahan tangisnya, orangtua yang selama ini membesarkannya dengan penuh kasih dan cinta rupanya bukanlah orangtua kandungnya. Hal yang tak pernah terlintas di benak April, tak kuasa menerima kenyataan yang ada, April hanya duduk terpaku dan seakan-akan tatapannya tak lagi memancarkan kebahagiaan, lesung pipi yang biasanya menghiasi setiap senyumannya kini pun tak nampak lagi. Sebenarnya Dirga tak sanggup menceritakan, namun Dirga merasa April sudah sepantasnya mengetahui hal tersebut. Sebab selama apapun dan sampai kapanpun orangtuanya menyembunyikan hal itu, maka akan lebih menyakitkan buat April nantinya.
Dalam benak April pun berkecamuk, muncul seribu satu macam pertanyaan di hatinya. “Apakah aku dilahirkan tanpa seorang Ayah dan Ibu?”

Walaupun seperti itu kenyataannya April tak ingin terus menmerus larut dalam kesedihan, walau Mama dan Papanya itu bukanlah orangtua kandungnya, tapi buat April merekalah harta satu-satunya yang ia punya. Tanpa kasih sayang dari mereka, tanpa didikan dari mereka, mustahil April bisa menjadi wanita Salehah seperti sekarang ini. April pun beranjak dari lamunannya, seraya berkata.
“Kakak, April ikhlas menerima kenyataan kalau Mama dan Papa bukanlah orangtua kandung April, toh itu tidak merubah rasa sayangku ke mereka”
“terima kasih Adikku, kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami” kata Dirga.

Mereka pun kembali ke rumah, dan keesokan harinya April memutuskan untuk pulang, tentunya keputusan April untuk pulang jauh dari apa yang mereka rencanakan sebelumnya. Dirga heran dengan keputusan April untuk pulang secepat ini, namun Dirga paham apa yang betul dengan keputusan April. Dengan langkah pelan Dirga mendekati April.
“Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini?” tanya Dirga dengan suara pelan.
Seraya menyeka air matanya, “Insya Allah kak,”
“Bakilah, jangan nangis lagi ya, hari ini juga kita pulang dan akan kita bicarakan baik-baik sama Mama dan Papa.”

Hari itu juga mereka berpamitan dengan penduduk setempat, isak tangis warga mengantar kepergian mereka, penduduk berharap kiranya Dirga dan April dapat berkunjung ke desa itu lagi. Di tengah perjalanan mereka, datang sebuah mobil sedan yang akan menjemput mereka. Sampailah mereka di rumah, orangtua mereka sudah menanti mereka sedari tadi. Tanpa basa-basi April langsung memeluk kedua orangtuanya. Dan di saat itu pula April meminta penjelasan dari kedua orangtuanya.

Sehingga terjawab sudah semua pertanyaan di benak April, ia pun lega bahwasanya dirinya adalah anak dari yatim yang beruntung mendapatkan orangtua yang amat menyayanginya.
Sebulan berlalu, suatu ketika Dirga merasa perasaannya terhadap April semakin dalam, sulit baginya untuk memendam hal itu, dan pada akhirnya Dirga memberanikan diri untuk mengatakannya kepada April. Dengan perlahan mendekati April, Dirga mengungkapkan perasaannya, April terkejut akan pernyataan sosok yang ada di hadapannya itu, yang tidak lain dan tidak bukan Kakaknya sendiri. Sejenak terdiam tanpa sepatah kata pun April berusaha tenang dalam mengambil sikap, seraya menghela napas April pun berkata.

“Sejak kapan Kakak memiliki rasa itu terhadapku? Dan jika Mama dan Papa tahu, apakah mereka akan merestui hal ini kak?” tanya April.
“Salahkah jika aku menyukaimu? sedang pula kita bukan saudara kandung, entah mengapa perasaan ini selalu saja menghantuiku. Tidakkah kamu memiliki rasa yang sama terhadapku April?”
“Tidak kak, hal ini gak boleh terjadi, aku menganggap Kakak seperti saudara kandungku sendiri, aku gak mau merusak keluarga ini lagi dengan adanya rasa cinta Kakak ke aku.” jelas April.
Mendengar jawaban April, Dirga merasa terpuruk, dia berusaha menceritakan hal itu kepada orangtuanya, namun hanya mendapat tentangan dari mereka dengan alasan dirinya dan April adalah saudara, dan sampai kapan pun akan tetap mnjadi saudara.

Kini kalender pun berganti posisi, tibalah bulan April, yang dimana bulan itu adalah bulan kelahiran April. Mengapa Dirga harus ada di bulan April? mungkinkah semua rasa ini hanyalah sebuah retorika kehidupan? Itulah Cinta, terkadang cinta datang di saat kita enggan untuk berkata siap, dan ketika kita siap mencari di manakah cinta itu? untuk siapakah gerangan? dan sampai kapan kita harus menunggunya di saat hati ini berkecamuk? Tak ada yang mampu menjawabnya, maka di situlah kita tunjukkan seberapa besar sikap kita dalam bertawakal, menanti cinta dari Allah yang merupakan Anugerah terbesar dalam hidup ini, dan hanya satu kata yang mampu menjawabnya “Wallahualam.”

Sekian

Cerpen Karangan: Afrilian Hasyimahsyazwan

Cerpen Dirga di Bulan April merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Memang Diriku Ini Siapa

Oleh:
“Ini tidak seperti yang kamu pikiran Sonia! Semuanya bohong, semuanya khayalan. Tidak, tidak, tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini,” rutuk Sonia pada dirinya sendiri dalam hati. Bagaimanapun Sonia

Sahabatku Adalah Kembaranku

Oleh:
Rani Nuraini, itulah namaku, saat ini aku duduk di kelas XI. Suatu hari berkenalan dengan seorang teman yang tak kusangka dia akan menjadi sahabatku, dari perkenalan itulah kami menjadi

Amanah

Oleh:
Waktu terus berjalan semakin larut. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun wanita tua itu belum juga tidur. Beliau masih terjaga di depan pintu. Hatinya gelisah dan cemas.

Kenangan yang Terlupakan

Oleh:
Aku memandang papan tulis yang kosong di depan kelas. Sudah 5 menit semenjak bel pulang berbunyi. Hanya aku sendiri yang berada di kelas sekarang. Perasaan ini selalu muncul setiap

Belum waktunya

Oleh:
Assalamu’alaikum wr.wb Dias, sepertinya hubungan kita selama ini sudah terlalu jauh. Aku merasa terlalu banyak mudharat yang terjadi di antara kita. Mungkin lebih baik kita mengakhiri saja semua ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *