Disleksia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 May 2017

Kosakata baru dalam hidupku yang sekarang sudah berumur lima belas tahun.
“Woy!” Teriak seseorang di belakangku
Benar dugaanku. Orang itu lagi.
“Hey!” Balasku sekenanya.
“Dasar penyakitan!” Tambahku.
Sontak raut mukanya berubah, yang tadinya riang kini muram.

Semua berawal sekitar sebulan yang lalu.
Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan, kupikir. Aku hanya memiliki satu kekurangan yaitu tidak punya kelebihan. Sungguh. Hampir semua orang yang pernah kutemui pasti menganggapku idiot. Faktanya, pada hasil tes IQ ku beberapa bulan yang lalu membuatku dapat mendongakkan sedikit kepalaku. Seratus empat puluh lima. Hasil tes tertinggi di sekolahku dan yang pastinya hal itu menunjukkan bahwa aku ini bukan seorang idiot.

Sejak kecil aku hidup serba mewah dan aku menyukai itu. Mobil ada, motor ada, sekolah di sekolahan bergengsi pun kudapati. Bahkan apartemen yang sebenarnya tak terlalu kubutuhkan pun ada. Akan tetapi, setelah beranjak remaja aku mengerti. Aku tahu bahwa orangtuaku memberikan semua itu hanyalah untuk kesenangan sesaat saja. Hidup tanpa kasih sayang mereka memanglah menyedihkan. Mereka berdua sibuk dengan uang, uang dan uang. Entah mau dikemanakan uang itu nantinya. Bahkan pertemuanku dengan mereka dapat kuhitung menggunakan jemari tanganku ini.
Sampai pada waktu itu, sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar aku berkata kepada Mamaku.

“Maa… Ajarin aku mbaca dong..” Kataku, yang rela tidur larut malam demi menunggu kepulangan Mamaku, dengan nada merengek.
“Duh.. Sayang. Jangan bilang kalau tulisannya nari-nari lagi yaa. Sekarang Mama capek banget nih, mau istirahat dulu. Besok Mama cariin guru privat deh.” Perkataan yang membuatku bosan mendengarnya.

Aku hanya terdiam saat itu. Tak menolak atau pun menyetujui. Ya, aku memiliki masalah dalam membaca saat itu. Bahkan hingga aku duduk di bangku SMA sekarang ini. Walaupun tak separah waktu dulu, tetap saja ketika aku membaca, tulisan yang kubaca bergerak-gerak seperti bernari. Dan yang kurasakan adalah pusing, sakit kepala, atau sakit perut saat membaca. Aku juga sering kesulitan dalam membedakan huruf sehingga tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’. Aku pun jadi sulit memposisikan letak huruf pada sebuah kata atau kalimat, seperti “bola” menjadi “boal”, “aid” menjadi “adi’, dan sebagainya. Bagiku membaca dalam hati lebih baik dari pada membaca lisan. Hal itu dikarenakan durasi waktu dalam membaca pasti akan memakan banyak waktu..
Oleh karena itu aku sering dicap malas, bodoh, ceroboh, tidak dewasa, tidak mau berusaha atau anak bermasalah. Kurasa aku tak seburuk itu. Dan kurasa ada yang salah dalam diriku ini.

Siang ini udara sangat panas. Saat yang tepat sekali untuk tidur. Ditambah lagi angin yang masuk ke dalam kelas X MIA 2 membuat mata semakin berat. Maklum, kelasku terletak di lantai ke tiga sekolahku. SMA Pelita Bangsa. Sekolah pilihan orangtuaku. Aneh memang. Kedua orangtuaku yang tak pernah memperhatikanku malah memaksakan kehendakku waktu itu.

“Arkhan, besok kamu ikut Mama sama Papa ya!” Kata Mamaku ketika kami sedang makan malam bersama.
“Ke mana?” Tanyaku heran.
“Ke SMA Pelita Bangsa. Mama sama Papa udah daftarin Arkhan. Ada jalur prestasi di sana. Arkhan kan punya banyak sertifikat juara melukis, jadi pas banget nih.” Jawab Mamaku antusias.
“Arkhan mau di sekolah seni Maa..” Kataku tak menyetujuinya.
Intinya aku sangat kesal dan marah waktu itu. Namun, apa boleh buat, aku masih sangat bergantung dengan mereka. Mau tak mau aku harus menurutinya.

Baru saja terlelap sebentar, Pak Juli selaku guru bahasa Indonesia masuk ke kelasku dengan memakai kaca mata bifokalnya.
“Pagi anak-anak!” Sapa Pak Juli kepada kami.
“Pagi, Pak!” Kata kami dengan kompak.
“Ehm.. sekretaris kelas sepuluh MIA 2 siapa yaa?” Tanya Pak Juli.
“Dina, Pak! Tapi nggak masuk.” Jawabku.
“Ketua kelas?” Tanya Pak Juli lagi.
“Saya, Pak” Jawabku sambil mengangkat tangan kananku.
“Tolong diktekan materi ini yaa..” Pinta Pak Juli kepadaku.
Bapak Juli pun izin keluar. Tak mungkin menolaknya. Aku pun mulai bersiap membaca. Dan hal yang seperti biasanya terjadi.
Glekk!
Tulisan itu bergerak seperti bernari-nari.

“Cepet dong Khan! Kita nungguin nih.” Protes Rayi, teman sebangkuku.
“Iyaa cepet. Bentar lagi habis nih jamnya.” Tambah Mirza, temanku yang dududk di belakangku.
“Sini biar gue aja.” Ucap Kiki.
Syukurlah.

Kiki adalah siswi yang pintar menurutku. Tidak ada nilai ujian yang harus mengulang. Pengetahuannya pun cukup luas. Namun, ada dua hal yang membuatku prihatin kepadanya. Yang pertama ia adalah anak yatim piatu dan sekarang tinggal bersama pamannya. Dan yang kedua, ia selalu menumpang dengan siapa pun. Baik berangkat ke sekolah maupun pulang ke sekolah. Baik yang naik motor atau pun mobil. Untung saja aku belum pernah ditumpanginya. Karena aku pasti akan kebingungan arah. Dan sebenarnya masih ada satu lagi yang mengganjal dalam dirinya, yaitu ia jarang memanggil aku dan teman-teman yang lainnya dengan nama panggilan kami. Ia selalu memanggil kami dengan panggilan Woy, Eh, Weh, dan sebagainya.
Dan hal yang kutakutkan pun akhirnya menjadi nyata.

“TETT TETT TETT TETT” Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi tepat pukul 14.15.
“Yeey pulang!” Sorak anak-anak kelasku.
“Hmm.. Harusnya kan ini tugas lu yaaa” Ucap Kiki sembari berjalan mendekatiku ketika kelas sudah sepi.
“Terus?” Tanyaku sekenanya.
“Gue minta bayaran dong!” Ucapnya.
“Stop!” Katanya ketika aku mengeluarkan dompet hitamku.
“Hah?” Ucapku heran.
“Cukup tebengin gue aja sampe rumah. Beres.” Ucapnya sambil tersenyum licik.
Yaa hari ini aku sial. Aku tak menjawab. Aku langsung saja bergegas ke parkiran.

“Woy! Gue nebeng yaa!” Seru cewek yang aku ingat siapa namanya dari nametag miliknya. Kiki.
Belum sempat aku mengiyakan, cewek itu tiba-tiba naik motorku.
“Eh, lu Arkhan ya kan? Iya gua nggak salah.” Tambahnya ketika aku baru saja menambah kecepatan motorku.
“Belok kanan yaa!” Pintanya.
“Eh, buset dah. Dasar idiot disuruh belok kanan malah belok kiri! Udah gue turun di sini aja. Makasih.”
“Masih baek gue mau nebengin lu.” Kataku di belakangnya.

Tak langsung berbalik arah, aku lihat dari kejauhan ada seorang pria sebayanya duduk di teras rumahnya. Namun sedikit terlihat lebih tua karena mengenakan baju kulit. Mungkinkah itu pacarnya?
Tiba-tiba seorang ibu berperawakan besar datang.
“Ehh, bayar gih utang lu!” Seru Ibu tadi.
“Maaf, Bu. Saya janji kalau saya sudah dapat kerjaan lagi, pasti saya bakal lunasin semuanya, Bu.” Ucap pria itu memelas.
“Emm.. iya, Bu. Paman saya ini baru saja dipecat.” Tambah Kiki.
Oh ternyata pamannya yang tinggal bersama dan membiayainya adalah pria sebayanya itu. Tak tahan melihatnya, aku bergegas ke arahnya.

“Berapa, Bu?” Tanyaku kepada Ibu tadi.
“Dua ratus rebu!” Jawab Ibu tadi dengan kesal.
“Nih!” Ucapku dengan nada yang lebih menyebalkan dan memberi dua lembar uang seratus ribu.
Kemudian, Ibu itu pun pergi entah kemana.
“Woy makasih yaa!” Ucap Kiki kepadaku yang aku balas dengan anggukan.
“Mampir dulu yuk!” Ajak Pamannya.
“Tapi bentar gue ke kamar mandi dulu yaaa” Tambahnya.
Tak menjawab. Seakan mengiyakan Paman itu meninggalkan kami berdua. Sepertinya Kiki sedang mencari sesuatu dari diriku. Dipandangnya lekat-lekat nametag yang kupakai di seragamku.
“Arkhan..” Ucapnya
“Dih lu ngapain liatin gue? Suka?”
“Dihh najis!”

“Buku apaan sih ini? Dari tadi di sini terus.” Kataku sembari mengambil buku yang sedari tadi berada di meja tamu.
“Ehh jangan! Rahasia.”
Dengan cekatan aku merebutnya. Aku berusaha membaca judulnya.
“Dis.. Dis.. Dislek.. Disleksiii… Disleksia”
“TK nggak lulus nih.”
“Bodo amat. Apaan sih disleksia?”
“Baca aja sendiri.”
“Loh kata lu gue nggak lulus TK.”
Kali ini aku menang. Kiki bersedia membacakan beberapa isi buku itu.

“Menurut Wikipedia, disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis.”
“Terusin dong? Penasaran nih gue.” Ucapku ketika Kiki malah berhenti membaca.
“Kata disleksia berasal dari bahasa Yunani dys yang artinya kesulitan untuk dan lexis yang artinya huruf atau leksikal. Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orangtua.”
“Bisa sembuh nggak tuh?”
“Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. Ketidak mampuannya di masa anak yang nampak seperti menghilang atau berkurang di masa dewasa bukanlah karena disleksianya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksianya tersebut.” Ucapnya setelah membolak-balik beberapa halaman buku tebal itu.
“Ngeri juga yaa? Ciri-cirinya dong!” Pintaku.
“Ada banyak nih. Beberapa aja ya!”
Aku hanya mengangguk.
“Ehm.. Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya. Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay. Huruf tertukar-tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’. Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat. Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”). Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”). Tidak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai. Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama). Daya ingat jangka pendek yang buruk. Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar. Kesulitan membedakan kanan kiri, dan…”
“Dan apa?”
“Kesulitan mengingat nama-nama.”

Glekk!
“Dan itu berarti aku adalah penderita disleksia. Gue gak bakal tahu nama lu, kalo lu nggak pake nametag.” Ucapnya sembari menundukkan kepalanya.
Nafasku menderu, dan tanganku tidak bisa berhenti gemetar. Detak jantungku berdentam keras dan menggaung di telingaku, memenuhi kepalaku. Jantungku seakan melewatkan satu kali detakannya. Detak jantungku mulai tak beraturan. Kupaksakan tubuhku untuk segera pergi dari tempat ini secepatnya.
Aku bingung. Kepalaku sakit. Perasaan apa ini?
Bagaimana jika aku ini positif disleksia?
Kenapa baru sekarang aku mengetahuinya?
Aku merasa semuanya salah.
Di mana kasih sayang dan perhatianmu?
Papa? Mama? Ah, sama saja!
Hanya uang yang dipikirkannya.
Kau tahu?
Aku tak butuh uangmu.

Melihat wajah muramnya, aku malah tertawa geli.
“Biasa aja kali. Hahaha.” Ucapku.
“Udah biasa kok. Aku kan memang penyakitan.” Jawab Kiki.
“Bercanda loh.”
“Enak yaa, yang udah nggak masuk sebulan.” Sindirnya.
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Memang benar kalau aku ini tidak masuk sekolah selama sebulan dengan alasan sakit. Lucu memang. Toh, penyakitku tidak membuatku harus berbaring di rumah sakit. Dan semua teman-temanku percaya itu. Masalah guru percaya atau tidak, aku tak peduli. Ini juga kulakukan sebagai aksi protesku kepada Papa dan Mama yang kurang memperhatikanku.
Kemudian kami sama-sama tak bersuara. Kurasa aku harus mengutarakannya saat ini juga. Sebuah pengakuanku kepadanya. Sudah sebulan ini aku memendam kata-kata ini.

“Gue positif sebagai penderita disleksia berat. Sekarang gue milih sekolah di SLB aja. Kemungkinan kecil buat gue untuk nyesuain cara belajar kalian di sekolah ini.”
“Dasar penyakitan!”
Sebuah respon yang tak kuduga.
“Eit.. bukannya terima kasih gitu. Saingan lo kan jadi berkurang satu di kelas. Huu..”
“Sorry.. lu bukan level gue. Weksss” Ucapnya yang disusul dengan sebuah juluran lidah.
“Iya dah. Sorry ya selama ini gue banyak salah sama lo. Salamin buat temen-temen semua yaa. Gue buru-buru nih, Papa Mama gue udah selesai ngurus surat keluar dari sekolah. Bye-bye!” Ucapku dengan nada terburu-buru.
“Good luck, deh! Maafn gue juga udah ngejek lu idiot.” Ucapnya sembari melambaikan tangan kanannya ke arahku.

Walaupun tidak masuk dalam kategori ‘terbelakang’ atau ‘tertinggal’ ataupun ‘cukup buruk’ untuk mendapat perhatian dan bantuan khusus dalam urusan pelajaran dan sekolah, aku tetap memutuskan untuk belajar di sebuah sekolah luar biasa (SLB) bersama teman-teman penyandang disabilitas. Dan aku menikmatinya.
Tidak ada anak yang bodoh, melainkan cara membimbingnyalah yang salah. Setiap anak unik dan memiliki kelebihan masing-masing.

Cerpen Karangan: H. Adhimah
Facebook: Hikmatul Adhimah

Cerpen Disleksia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Namira

Oleh:
Plak…!, suara tamparan itu masih terngiang di telinga Namira, di sela sela sedu tangisnya di malam itu, ya.. orang tua mereka sedang bertengkar, bahkan mungkin ketika ia telah tertidur,

My SunFlower is You

Oleh:
Matahari mulai bergerak turun menuju tempatnya beristirahat. Ia mulai menyisakan cahaya-cahaya indah di langit bekas jejaknya. Menjadikan sore itu panorama indah yang biasa kulihat akhir-akhir ini. I Want You..

Maniak (Lucifer)

Oleh:
Pagi yang gerah, aku mendumal dalam hati. Baru saja memasuki gerbang sekolah, aku harus beriringan dengan manusia setengah ular di sampingku. “Ki..” Aku segera berbalik mencari sumber suara yang

Baju Kaptan Untuk Ibuku

Oleh:
Ada seorang yang bernama janu, dia adalah anak ke empat.. janu slalu dimanja oleh kedua orang tuanya… sampai suatu ketika ia telah dewasa janu pun di ajak ole saudaranya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *