Do Painting French

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 April 2013

Di hari yang cerah ini, aku mau bilang sama kalian semua … bahwa besok, aku dan keluarga mau pindah ke Prancis, lebih tepatnya lagi ke Paris. Aku hanya bisa berharap semuanya dapat mekmaluminya … sekian, dan terima kasih. Aku turun dari panggung sekolah serta diiringi isak tangis dan di ujung sana semuanya tersenyum. Keluargaku.

Aku memeluk mereka juga sahabat-sahabatku yang lain. Serta para guru-guru yang telah mengajarkanku banyak hal tentang pelajaran dan pengalaman yang telah terjadi. Kini aku dan keluargaku berjalan menuju mobil, aku sangat lemah seakan ingin jatuh tetapi aku berusaha untuk tegar menerima semuanya. Ini sudah takdir.

Bandara Soekarno-Hatta, lalu lalang orang-orang memenuhi jalan dan pastinya pada menunggu pesawat. Jam keberangkatan tinggal 30 menit lagi, aku dan keluarga berfoto-foto dahulu di tempat tunggu. Ketika sudah puas berpose untuk hari terakhir, aku menyempatkan diri membuka handpone, ya … untuk internetan dong. Karena di tempat tunggu kan, ada wifi-nya.

“Attention … jadwal keberangkatan untuk maskapai Garuda Indonesia, akan segera di berangkatkan. Di mohon untuk para penumpang segera menuju ruang pemeriksaan … terima kasih.”

Aku tersenyum tegar dan berjalan, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Intinya untuk Indonesia tersayang. Kata ayahku, aku akan kembali lagi setelah dewasa nanti. Di pesawat yang nyaman dan bersih, semuanya terduduk rapih dan tidak lupa berdoa.

Akhirnya, pesawat take off … sedikit terjadi guncangan kecil dan berjalan mulus, aku di beri mainan juga adikku. Walau umurku sekarang 13 tahun. Adikku, Shafa pintar matematika tetapi aku tidak. Dia juga sangat berbakat menjadi seorang penulis, buku-bukunya telah di terbitkan dan best seller. Terus aku? Aku tidak berbakat apa-apa! Aku nggak punya bakat atau belum tau? Semoga suatu hari Nanti aku memiliki telenta, like my lovely sister.

Setelah berjam-jam di pesawat. Akhirnya, aku and my family tiba di kota Paris. Katanya masyarakat sih, kota ini … kota teromantis sedunia. Masa sih? Coba yuk buktikan! Kita gali-gali semua informasinya! Tolong di bantu ya, hehe …

Aku jadi takut nih, aku belum terlalu lancar berbahasa inggris juga bahasa France. Ayahku sudah memasukkanku di sebuah high school biasa di Paris. Karena alasannya, aku tidak terlalu pintar, (memang benar!) Sehari sebelum masuk sekolah, aku beristirahat sejenak dulu di kamar dan malamnya, belajar. Puft … belajar lagi!

Wow … sebuah rumah yang indah, garasi yang unik dan sapaan orang-orang ramah. Pepohonan yang sangat rindang, cuaca yang nggak terlalu terik juga anak kecil yang berlarian kesana kemari. Wajah orang sini, unik ya! Beda dari Indonesia, hitam-hitam … hehe. Semuanya yang di sini berwajah manis dan murah senyum.

Ibu dan Ayah menata rapi barang-barang pindahan. Sementara aku dan Shafa hanya membatu yang kecil-kecil aja.

“Uh … capeknya. Bu, aku dan Shafa mau keluar sebentar ya! Mau beradaptasi, hehe!” aku nyengir dan menarik Shafa keluar.
“Beradaptasi? Bisa aja, yaudah … jangan jauh-jauh ya! Udah mau waktunya ashar,” ucapnya sembari menata baju-baju ayah.
“Dadah … Ibu,” kata Shafa melambai.

Free Day! Aku dan Shafa berjalan riang menyusuri kompleks-kompleks, semua orang melihat aku dengan tatapan orang asing. Salah satu orang mendekatiku, sepertinya dia seumuran denganku. Hah! Dia mau ngajak bicara … gawat! Nanti harus jawab apa?

Cowok itu semakin dekat, aku dan Shafa memperlambat kaki dan cowok itu tepat di depanku.

“Em …, tu fais quoi?” ucapnya lancar bahasa France.
Jantungku seakan-akan berhenti! Nanti di kira, aku di nilai buruk lagi dalam berbahasa! Adikku, Shafa hanya melongo mendengar kata-kata darinya.

“Mignon,” ucapnya lagi melirik Shafa.
“Thank’s!” ucap Shafa sok bisa berbahasa.

Kini aku diam terpaku melihat adikku yang bisa menjawab! Padahal arti mignon itu apa? Malu dong malu, badan besar kalah sama bocah cilik.

“Oh, you speking english! What are you doing in here?” ucapnya menoleh kami berdua.
“Cuma jalan-jalan!” ucapku ngawur.
“Speaking english please!” Shafa mencubit lenganku. Aku kesakitan dan menahan malu lagi.
“We are refreshing, brother handsome,” kataku tak menyadari. (aku berkata dia handsome!)
“Ouh, thank you!” kini nadanya malu-malu kucing. Nge-fly tuh cowok baru di bilang begitu. Dia meninggalkan kami, dan dia belum memberi tahu namanya. Semoga ketemu lagi, dan aku mau nanya namanya!

Setelah insiden tadi, aku dan Shafa segera pulang karena jam sudah mau setengah empat. Sholat ashar yuk! Malam yang indah berseri, aku belajar di kamar baruku. Motif cat dindingnya lucu! Gambarnya di bikin abstrak! Like it!

Setelah puas dengan soal-soal yang membingungkan, aku menuju kamar Shafa. Letak kamarnya nggak jauh cuma di sebelahku. Aku dan Shafa menempati kamar atas. Aku mau nanya tentang bahasa france itu, kok bisa ya dia menjawab!

“Shafa! Buka dong pintunya,”
“Buka aja Kak, nggak di kunci kok!”
Aku berjalan menuju Shafa yang sedang membaca kamus france. Oh, pantes dia bisa!

“Kamu tau arti, tu fais quoi? Dapet darimana?” aku menyelidik dengan tatapan memelas bak orang miskin belum makan.
“Dapet dari belajar! Waktu itu sebelum aku dapet kamus ini, aku belajar di internet seminggu sebelum kita pindahan,” ujarnya santai banget.
“Oh, ngerti-ngerti! Terus artinya apa?”
“Kamu lagi apa? Terus yang ‘mignon’ itu lucu,”
“Pantes banget, waktu cowok itu bilang mignon ke arahmu, kamu bisa jawab! Curang nggak bilang-bilang, kalau kamu belajar bahasa france,” aku mencubit pipi chuby-nya.
“Haha! Belajar dong belajar! Matematika jelek terus bangga,” katanya meledekku.
“Hu… uhh,” aku segera beranjak pergi meninggalkanya. “Evil sister,” ujarku kesal.

Untuk mengusir kekesalanku, aku mendengarkan musik pop di MP3 punya ayah sambil bersenandung ria.

Pertama sekolah di Paris. Aku turun dari mobil beserta ayah, sedangkan Shafa bersama ibu di sekolah barunya. Teman-teman sebayaku menatap tanda tak mengenal, ada yang sinis dan ada yang hanya senyum serta jijik. Apaan sih jijik? Memang aku bangkai kucing gitu! Awas saja, nanti kalau aku sudah mahir bahasa france. Batinku kesal.

Setelah bertemu sang kepala sekolah, aku diantarkan oleh seorang guru yang bernama Miss Hana ke kelas baruku. Ketika memasuki kelas, aku malu-malu dan takut akan siapa tempat duduk sebangkuku. Aku di tempatkan oleh salah satu orang cowok yang pernah aku kenal. Siapa ya? Aku mengingat-ngingat.

“Oh ya, cowok itu!” pekikku pelan.
Dia menoleh karena mendengar perkataanku. Aku hanya tersenyum manis menanggapinya. Semoga saja dia nggak ngerti bahasaku. Setelah pelajaran selesai, di mulailah perbincangan yang nggak aku mengerti sekali.

“Hmm, where you come from? Japanese?” ucapnya pelan.
“No! I’am come from Indonesia,” kataku gugup.
“Oh, Indonesia. Beautiful country,”
“Thank’s. Hehe …,” aku terkikik.
“My name is Keen,”
“Keen …? I’am Yasmin,”

Hari pertama pun selesai juga. Setelah pulang, aku dan keluarga bercerita-cerita banyak tentang kejadian sekolah. Keesokan harinya, aku memulai seperti biasanya. Tetapi hari ini boleh mengambil pelajaran bebas. Aku ingin mengambil seni aja deh, untuk pelajaran terakhirku biar talentaku bisa di search.

Ketika, tema hari ini menggambar. Semua anak yang mengikuti pelajaran seni di suruh menggambar sesuka hati asal bernuansa alam. Dengan berat hati, aku menggambar sebisaku. Aku melirik kanan dan kiriku. Apakah aku paling jelek? Semoga saja tidak.

Setelah itu di kumpulkan, dan di jelaskan kembali tentang cara-cara membuat gambar yang baik dan bagus.

Dan keesokan harinya. Aku terkejut bukan main, gambaranku paling bagus sekelas. Aku juga di ikutkan lomba menggambar se-kota Paris. Awalnya aku menolak tetapi ya sudahlah. Terima saja, lumayankan kalau menang dapat piala terus ayah dan ibu juga bangga.

Setelah pulang sekolah, aku berpikir keras tema apa yang akan aku buat nanti. Shafa juga ikit membantu.

“Shafa, enaknya apa ya?” tanyaku meliriknya.
“Kalau menurutku sih ya, tentang nuansa alam aja! Kan imajinasinya bisa keluar tuh, nanti dapet deh … inti dari gambar tersebut,” ucap Shafa sok pintar lagi.
“Pintar amat sih, Kakak saja nggak kepikiran sampai situ,” gerutuku.
“Yaiyalah, siapa dulu dong Shafa Khanzana!”
“Iya, iya tapi tetap saja Kakaknya, Yasmin Khanza! Berarti kepinterannya nggak beda jauh tuh,”

Waktu perlombaan pun tiba, aku sudah memakai sweater berwarna coklat bergambar kucing, rambut di gelung ke bawah, dan celana jeans coklat muda. Perpaduan yang menarik. Aku sudah punya ancang-ancang gambaran apa yang nanti aku gambar nanti.

“Temanya adalah … tentang alam! Harus ada orangnya juga,” kata panitia lantang.

Semua peserta mengambil alat-alat masing-masing dan mulai menggambar. Ada yang pake crayon, cat air dan serbuk warna. Aku memakai cat air, karena membuatku lebih rileks dan detail. Waktu dua jam pun selesai.
Semua anak mengumpulkan hasil karya-karyanya, termasuk aku.

Sebulan kemudian, pengumuman kejuaraan menggambar akan diumumkan. Aku mendapat juara ke dua, walaupun ke dua aku tidak berkecil hati karena hal wajar toh aku juga baru belajar. Semoga kedepannya menjadi pelukis terkenal. Amin …

Cerpen Karangan: Tifa Raisandra
Facebook: Tifa Raisandra
Cerpen keempat nih! Alhamdullilah, sudah empat ya … nggak kerasa. Aku masih belum puas pengen yang lebih-lebih dari itu. Semoga aku bisa melakukannya. Nggak ada kata menyerah buat Tifa 😀

Cerpen Do Painting French merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Juara Pertama Untuk Ibu

Oleh:
Terdengar suara orang yang sedang membuka pintu, dan ternyata itu adalah ibuku. Adikku yang sangat gembira menyambut ibuku yang sudah pulang dari kantornya. Dan dia memberikan sebuah kado untuk

Perjuangan Ayahku

Oleh:
Perjuangan seorang ayah baru disadari Abeng sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu dirinya baru menjelang melihat pergulatan ayahnya mencari penghidupan sebagai Pegawai Negeri. Sementara temannya

Derita Di Penghujung Usia

Oleh:
Ia hanya terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya tak bertenaga lagi. Tak sejaya dulu saat berusia 30an. Kini wajah cantiknya yang selalu terpoles sepabrik bedak kosmetik itu mulai keriput. Rambutnya

Merindukan Keharmonisan Itu Kembali

Oleh:
Kebahagiaan adalah saat dimana kita dapat berkumpul dengan keluarga inti kita, ada Ayah, Ibu, Kakak dan Adik kita, dan dihiasi dengan cinta serta kasih sayang di dalamnya. Ya, itulah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *