Duka Mentari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 March 2014

“Tari, kami turut berduka cita ya atas wafatnya mamamu.” Ilham mewakili teman-teman sekelas Mentari mengucapkan bela sungkawa. Mentari yang biasa dipanggil Tari pun mengangguk dengan lirih. Teman-temannya memaklumi dengan kesedihan yang dialami Tari. Padahal, pada kesehariannya ia anak yang ceria.

“Ah, mama kenapa secepat itu mama pergi meninggalkan Tari.” Ujarnya sambil meneteskan air mata.

Terbayang ingantannya kemarin sore. “Tari, kenapa sih kalau bawa motor selalu ngebut?” omel mama yang duduk di boncengan Tari. “Aduh mama, kalau gak ngebut kita kapan sampainya?” sahut Tari ketus. Tari pun menambah kecepatannya. Mama berpegangan erat pada perut Tari “Aduh mama!!”. “Mentari, mama papa beliin kamu motor supaya kamu gampang ke sekolahnya. Bukan untuk ngebut-ngebutan gini.” Ujar mama kembali.

Sayangnya, Tari tidak mandengarkan omongan mamanya. Ia sibuk dengan motor-motor sebelahnya yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ia tak memperhatikan lampu yang berubah menjadi merah itu. Tari kehilangan kendali dan membanting motornya. Tari yang hanya lecet-lecet tak kuasa melihat mamanya tergeletak. Seketika itu mama Tari meninggal dunia.

Malam itu, Tari meratapi nasib mamanya yang kini telah meninggalkannya. Papa mengetuk pintu kamar Tari dan meminta izin untuk masuk. Papa duduk di sebelah Tari dan berkata “Sudahlah Tari. Kita harus ikhlas untuk melepas kepergian mama. Lebih baik, kita sekarang instropeksi diri.” Mendengar kata-kata itu, Tari makin tenggelam dalam tangis.

Setelah papa keluar dari kamar Tari, ia merenung memikirkan kata-kata papanya. “Benar kata papa, aku harus bisa melepas kepergian mama dengan ikhlas.” Tari pun membulatkan tekadnya untuk masuk sekolah besok pagi dan mencoba untuk mengikhlaskan kepergian mamanya.

Esok harinya seusai sholat subuh, Tari mempersiapkan segalanya. Ia bergegas untuk masuk sekolah. Langit mendung mengantarkan kepergian Tari, seolah menggambarkan mentari yang sedang bersedih. “Life must go on. Aku harus bisa melepas kepergian mama. Semoga dengan kepergian mama, menjadi cambuk semangat untukku.” Ujar Tari dalam hati. Ia pun melangkahkan kakinya dengan semangat.

Cerpen Karangan: Dini Kartika
Facebook: Dini Dinkar Kartika

Cerpen Duka Mentari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Datang Terlambat (Part 1)

Oleh:
Namaku Clara Sylonica. Nama yang cukup aneh bagiku. Kota Manchaster City adalah kota kelahiranku sekaligus kota tempat aku tinggal. Aku adalah anak dari pasangan Pak Aryo, seorang perantau asal

Kado Terakhir Dari Ibu

Oleh:
Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Ya itulah yang dialami bu Ratmi. Nadia, tak pernah menyukai ibunya. Ia selalu uring-uringan. Ia ingin seperti teman-temannya yang pulang pergi

This Is My Life (Part 2)

Oleh:
Sampainya di rumah, aku mencari Risa yang tadi berada di kamar Ibu. Ibu dan Risa masih sama, hidung yang mengalir darah segar dan tangan yang berlumuran darah, tampak seperti

Cara Melewatinya

Oleh:
“RRooaarrr!!” Suara dari mesin itu berteriak seolah dia yang terhebat. Mereka saling bersahutan seakan menantang siapapun yang ada di sampingnya. Seorang wanita berdiri tepat di hadapan mereka dengan sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *