Dulu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 January 2019

“Hey kak, bagaimana kabarmu? Belakangan ini jarang sekali mengirim pesan. Kenapa? Oh aku tau, kakak lagi ingin sendirian kan? Okey, tapi buat saat ini aku ingin bicara denganmu. Aku duduk di sampingmu ya?”

“Hah, kenapa diam saja kak? Jangan bilang karena kakak sudah tua jadi sekarang lebih milih diam. Ah ya sudahlah.”

“Kak, apinya mau padam, aku tambah kayunya ya? O iya, aku jadi ingat waktu kita kecil dulu. Waktu itu aku masih TK, kakak mengajariku bermain korek api. Kakak menyusun batang korek itu membentuk pola yang unik tapi kakak membakarnya lalu wushh, api pun menyala hebat. Haha, bahkan ibu sampai terkejut dan akhirnya kakak kena marah. Yah, begitulah. Kakak selalu kena marah.

Dulu juga, saat itu kakak menggendongku dan kita dikejar anjing galak itu. Masih ingat kan kak? Kakak berlari secepat mungkin sampai akhirnya kita jatuh dan aku menimpamu, aku masih ingat wajah kakak yang penuh luka gores gara-gara tertimpa tubuhku, tapi kakak tidak menangis. Aneh, aku tau itu pasti sakit.”

“Huff, saat aku masih SD kakak juga mengajariku soal burung besi yang mengudara itu. Tentang Wilbur dan Orville Wright dengan “The Flyer” mereka. Tentang pesawat berbaling-baling rancangan Igor Sikorsky “Ilya Muromets” dari Rusia tahun 1913, ada lagi “Vickers Vimy” tahun 1918, “Dornier DO-X” tahun 1929, “B-29 Superfortress” tahun 1942 dan “Spruce Goose” tahun 1947 atau lebih dikenal sebagai “H-4 Hercules” yang menurut kakak karya orang gila bernama Howard Hughes, seorang pilot, Produser film, Miliarder dan Hypochondriac. Lalu tentang super jet “B-52 Straatofortress” tahun 1952, jumbo “Boeing B747” tahun 1968, “Antonov An-225 Mriya” tahun 1988 dan super jumbo dari Airbus “A380″. Hah, entah kakak dapat semua itu darimana aku tidak tau. Tapi kakak mengajarkan semua itu padaku. Sejujurnya aku tau itu tidak pernah diajarkan di sekolah, tapi kakak bisa mengajariku sebanyak itu. Kau tau kak? Kakak adalah orang terhebat selain ibu.”

“Iya, kakak memang orang yang hebat. Sejak saat itu, saat ayah meninggalkan kita pergi ke tempat lain begitu saja tanpa pamit ataupun bicara. Dia bahagia jauh di sana sedangkan kita mencoba bertahan hidup berempat, kakak, ibu, kak devi dan aku. Huff, waktu itu aku baru masuk SMA. Kakak juga yang mendaftarkanku di sekolah itu namun saat pengumuman penerimaan ternyata data kita dikembalikan hanya karena kita dari kabupaten sedangkan yang diizinkan masuk di sekolah itu cuma dari kota. Aku masih ingat jelas saat kakak mencari kepala bagian penerimaan dan protes terhadap kebijakan tersebut. Dan saat pak itu kalah berdebat dengan kakak, dia dengan entengnya bilang kalau itu peraturan dari wali kota. Aku tau kakak kecewa, aku juga sama. Tapi saat keluar dari ruangan itu dengan santainya kakak mengajakku bercanda dan dengan tingkah konyolmu aku berhasil tertawa. Haha, kakak benar-benar hebat.

Padahal aku tau saat itu saat yang sangat sulit bagi kakak. Kakak harus menjadi kepala keluarga seketika saat ayah pergi dan bersamaan dengan itu kakak kehilangan pekerjaan, bahkan kekasih kakak juga pergi. Sampai sekarang aku tidak tau kenapa kakak tidak mencari penggantinya. Mungkin karena kegagalan dalam keluarga kita atau memang kakak ingin fokus denganku dan kak devi. Hah, kakak memang misterius. Aku tidak tau jalan fikiranmu kak. Tapi kakak adalah lawan yang hebat untuk berdebat. Seringkali aku kalah denganmu lalu kakak mengajariku melihat dari sudut pandang yang lain. Saat aku mencobanya, ternyata tidak semudah yang aku kira. Pernah suatu ketika aku ingin menjelaskan pendapatku pada seseorang tapi kakak menahanku. Katamu percuma, mereka tidak akan mendengar sekalipun aku menjelaskannya panjang lebar. Iya kak, kau benar.

Mereka selalu melihat dari sisi mereka dan mereka juga berdiri di atas asumsi mereka sendiri tanpa tau benar salahnya. Yah itulah mereka. Kita tidak akan bisa merubah paradigma mereka. Hah, entahlah kak. Tapi kakak benar-benar hebat.”

Sejenak suasana menjadi hening. Hangat dari bara api di tungku pemanas pun sudah berkurang. Kakak masih tetap terdiam sembari menggoyangkan kursi duduknya. “Kau terlihat sudah tua dengan rambut putihmu itu kak”, gumamku.
“Kamu tau, sekarang kamu terlihat cerewet seperti ibu”, ucap kakak singkat seraya memandangku.

“Lihat, apinya mau padam, ambilkan kayu dan buku di atas lemari itu”, lanjutnya. Aku mengangguk pelan dan mengambil buku usang yang ditulis berpuluh tahun yang lalu. Aku tidak tau isinya apa tapi aku yakin itu adalah hal yang istimewa bagi kakak.
“Ini kak”, ucapku menyerahkan buku yang dimintanya. Perlahan kakak memakai kaca mata baca miliknya dan membuka lembar demi lembar buku itu. Aku tau kakak suka membaca, tapi aku yakin itu bukan buku bacaan biasa. Entah apa aku tidak tau.

“Kak aku pulang dulu ya. Istriku sudah mengirim pesan.”
“Hati-hati, kamu adikku yang paling kecil dan paling nakal. Jangan buat sakit hati istrimu, ingat ibu!”
“He’em, iya kak”, ucapku sambil berdiri dan mencoba melirik ke arah buku yang dibacanya.
“… Hari Bersamamu.”

Cerpen Karangan: Wahyu Danarga
Facebook: facebook.com/ergayosa
Wahyu Danarga
Pujangga Yang Terkurung Dalam Kamar Kosnya

Cerpen Dulu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Ayah

Oleh:
” Seorang AYAH selalu ingin yang terbaik buat ANAKNYA ” Sabtu selalu menjadi hari kebebasan buatku , lepas dari segala rutinitas yang membuatku selalu ingin berdiam diri di kamar

Goobye Ibu

Oleh:
Hai, nama gue Bella. udah satu tahun di tinggal ibu, rasanya sepi banget ini rumah ga ada ibu. biasanya ibu yang ngisi hari-hari gue. kalo inget-inget tentang ibu, gue

The Secret of Adriana (Part 2)

Oleh:
“Mas Rasydan!!” seru wanita itu sambil berlari, Rasydan yang tengah memandangi desain bangunan seketika menoleh, wanita itu mendekat, wajahnya sumringah. “Mas, aku bawa berita apa coba?” Rasydan mengernyitkan dahinya.

Mimpi Kecil Dinda

Oleh:
Gadis kecil dengan rambut ekor kuda berjalan dengan tergesa-gesa membelah kesenyapan lorong rumah sakit. Tembok-tembok yang serba putih, dan aroma khas obat-obatan yang begitu mengusik ketenangan batinnya. Kekhawatiran hati

Cahaya Cinta Sejati

Oleh:
Impian adalah sebuah keinginan, bayangan masa depan yang diharapkan. Aku punya banyak sekali impian, dari yang sederhana sampai yang terasa mustahil untuk terwujud. Aku ingin membanggakan kedua orangtuaku dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *