Dunia Luna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 May 2017

Luna berjalan menemui Ranti di rumahnya, sahabat dari SMP yang selalu bersamanya. Namun saat di rumah Ranti, Luna melihat Ranti sedang bersama seseorang yang Luna kenal yaitu Alvin, Alvin adalah kekasih Luna dan mereka berpacaran hampir 3 tahun. Mata Luna terpaku pada pandangan yang dilihatnya, mereka berpelukan dan bermesraan, jantung Luna bedetak sangat kencang, tubuh Luna seolah ditusuk ribuan pisau dari belakang. Luna menghampiri mereka dengan langkah berat, menguatkan hatinya untuk tetap tegar tanpa, menahan isak tangisnya agar air matanya tak keluar.

“Kalian…” suara lirih Luna mengagetkan Ranti dan Alvin, dengan segera mereka memberi penjelasan kepada Luna.
“Apa yang aku lihat sudah mewakili penjelasan dari kalian, aku hanya punya satu pertanyaan, sejak kapan kalian bermain api di belakangku? Sejak kapan Ranti, Alvin?” Suara tinggi Luna kembali mengejutkan mereka, Luna yang polos baru pertama kali berbicara dengan nada tinggi seperti ini.
“Jawab aku Ranti, kita bersahabat dari kita kelas 1 SMP sampai kita mau lulus kuliah, dan kamu tega seperti ini, apa salah aku Ran ke kamu, apa…?”
“Kamu mau tahu, oke aku akan kasih tahu kamu semuanya…”
Alvin seakan menghalangi Ranti yang hendak menjelaskan, namun mata Ranti seolah menyimpan dendam kepada Luna.
“Asal kamu tahu Lun, Alvin ini sudah berpacaran sama aku hampir 5 tahun, aku sengaja membuat skenario ini, aku masuk di kehidupan kamu, lalu meminta Alvin untuk jadi pacar kamu, dan memanfaatkan kamu, ini semua sudah skenario dan rencana aku untuk menghancurkan hidupmu, karena apa, karena Ibumu sudah merusak rumah tangga keluargaku, Ibumu yang membuat Ayahku menceraikan Mamaku saat aku berumur 8 tahun, ini semua balasan atas apa yang sudah Ibumu perbuat, penghancuran dibalas dengan penghancuran, dan nyawa dibalas dengan nyawa…”
Luna langsung menampar Ranti. Air mata Luna sudah tak bisa ditahan lagi.
“Luna, aku minta maaf…” Ucap Alvin yang merasa bersalah, entahlah Alvin tak tega melihat Luna mengetahui semua ini. Luna juga menampar Alvin.
“Aku pernah merasa hidupku sangat berarti saat aku menemukan sahabat yang aku kira sangat baik, namun saat ini hidupku berhenti sejenak saat aku tahu sahabatku sendiri mengkhianatiku. Mulai detik ini juga, aku tidak akan pernah mau kenal sama kalian, semoga Tuhan membalas skenario kalian secara adil…”

Luna pergi dengan tangisan dan luka di hatinya, Luna juga tidak bisa menerima kenyataan ini, apa yang Luna alami sekarang merupakan dendam dari seorang anak yang kehilangan Ayahnya, setelah Ayah Luna meninggal karena kecelakaan saat Luna masih berumur 5 tahun, Ibunya memutuskan menikah dengan ayah Ranti saat Luna berumur 11 tahun, Ibu Luna bukanlah penyebab perceraian orangtua Ranti, pernikahan Ibu Luna juga terjadi setelah 3 tahun Ayah Ranti bercerai. Ranti hanya membenci perceraian orangtuanya hingga harus membalaskan dendam itu kepada Luna, karena 1 tahun setelah perceraian itu Ibu Ranti meninggal karena sakit. Luna pergi menemui Ibunya, meminta penjelasan tentang semua ini, orangtua Luna juga baru menyadari bahwa sahabat Luna yang selalu diceritakan Luna adalah Miranti, namun mereka mengenalnya bukan Ranti tapi Mira. Ayah Ranti sangat marah dan ingin langsung menemui Ranti, namun dilarang oleh Ibu Luna.
“Jangan datangi dia, sudah anggap saja ini musibah, Luna masih kuliah 1 kampus dan akan sidang skripsi, sudah biarkan saja, kita doakan saja agar Mira mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang benar, bagaimanapun Mira tetap anak mu, tidak ada mantan atau bekas anak di hidup ini…”

Luna kembali menjalani perkuliahannya, namun karena terlalu banyak pikiran Luna tidak bisa menyelesaikan bab III skripsinya, Luna sudah tidak bisa berpikir lagi.
“Lun, ada yang bisa aku bantu? Apa ada masalah dengan skripsimu?” Suara Tomy mengejutkan Luna yang sedang bersandar di pojok perpustakaan. Tomy teman sekelas Luna yang selama ini diam-diam menyukai Luna. Luna dengan segera menggelengkan kepalanya, namun Tomy melihat ada banyak coretan dosen di naskah skripsi Luna.
“Kalau kamu mau, ayo belajar bareng sama aku. Aku juga ada revisi kok, nanti rencana mau ke toko buku dan perpustakaan di kampus lain buat cari referensi”
Luna hanya terdiam, dia mengingat perkataan Ibu nya sebelum Luna tidur, “tidak semua musibah itu buruk, justru itulah cara Tuhan untuk memberi kamu sesuatu yang lebih baik lagi, bersabarlah Tuhan sedang mengujimu”. Luna menerima tawaran Tomy, mereka pergi bersama, dan hampir setiap hari Tomy dan Luna belajar bersama, Ranti yang melihatnya pun tak hanya diam, Ranti menyebarkan isu di kelasnya tentang berita palsu bahwa Luna lah yang sudah membuat hidupnya hancur.

Tomy yang mendengarnya pun langsung mencari Luna, Tomy menemukan Luna sedang berada di taman belakang kampus sambil menangis. Tomy langsung menemui Ranti, mengancam dan meminta Ranti untuk tidak menyakiti Luna lagi.
“Apa hak kamu Tom? Kamu suka sama Luna?”
“Iya, aku menyukainya bahkan sangat mencintai Luna, ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu!”
“Sampai kapanpun aku tidak akan berhenti menyiksa Luna pelan-pelan”
“Kalau kamu tak punya mimpi seperti orang lain, bukan berarti kamu harus menghancurkan mimpi orang lain juga hanya karena kamu iri kan? Bukan Luna yang harus menanggung dendam mu, kamu bisa temui ayah mu sendiri, dan kamu akan tahu bahwa ini hanya kesalahpahaman mu, kamu bisa mempengaruhi orang lain untuk tidak berteman dengan Luna, Luna tidak butuh teman yang hanya mau menumpang payung saat hujan, namun saat hujan hilang dia juga hilang. Satu sahabat yang tulus lebih berharga daripada ribuan orang sekalipun”
Tomy meninggalkan Ranti dan menemui Luna. Namun Luna sudah tidak ada, ditelepon juga tidak diangkat, Tomy mencari di semua sudut kampus, namun Luna tidak ada.
Tomy akhirnya pergi ke suatu tempat, dan benar tujuan Tomy, Luna ada di makam ayahnya. Luna menangis dan menceritakan semua dan memeluk batu nisan ayahnya. Tomy menunggu Luna selesai dan mengantar pulang.

Hari minggu esoknya, Luna dan orangtuanya ziarah ke makam Ibu Ranti. Tomy yang mengetahuinya langsung mengajak Ranti untuk melihatnya juga, Ranti pun tersentuh melihat betapa pedulinya mereka terhadap makam ibunya.
“Jika dengan melihat ini kamu tidak juga sadar, aku rasa mungkin kamu tidak punya hati, sama sekali tidak ada niat untuk balas dendam kepadamu atas perlakuanmu ke Luna. Lalu apa kamu masih ingin menghancurkan hidup orang yang sama sekali tidak mengenal Mamamu?”
Ranti menyangkal awalnya ini hanya sandiwara mereka agar Ranti tidak menyakiti Luna lebih dalam lagi. Ranti pergi, namun saat Ranti menyeberang, Ranti tertabrak oleh mobil. Dan saat di rumah sakit, Tomy meminta maaf karena sudah mengajak Ranti dan tidak bisa menahan Ranti untuk pergi. Namun kembali lagi, Ibu Luna sama sekali tidak menyakalahkan siapapun, Ranti membutuhkan darah, dan hanya Ibu Luna yang mempunyai golongan darah yang sama, setelah mendonorkan darahnya, dan saat Ranti sadar ternyata Ranti mengalami kebutaan, melihat tak tega Ranti buta seperti itu, Ibu Luna kembali menolong Ranti dengan mendonorkan satu buah kornea matanya untuk Ranti, awalnya Ayah Ranti menolak namun akhirnya terpaksa menyetujui permintaan Ibu Luna. Dan ketika Ranti bisa melihat, dia melihat ada Luna, Ayah Ranti, Ibu Luna, Tomy dan Alvin. Ranti begitu malu atas apa yang sudah dia perbuat selama ini. Ibu Luna rela hidup dengan satu mata agar Ranti bisa tetap melihat. Ranti memeluk Ibu Luna, suasana haru dan air mata pecah saat Ayah Luna juga memeluk mereka.

1 teman yang tulus dan rela berbagi lebih baik daripada memiliki ribuan teman yang hanya mau dalam kesenangan saja. Apapun kondisi terburukmu, keluargamu lah yang pasti bisa menerimanya tanpa mengharap imbalan, karena sejujurnya sahabat sejati adalah keluargamu, ibu mu, ayah mu, dan saudaramu. Datang dan peluklah mereka selagi masa ada, kebahagiaan sejati adalah bisa berkumpul dengan keluarga.

Cerpen Karangan: Anis M
Facebook: Nder Bunder
IG: NDER20LF
“Teruslah berkarya lewat tulisanmu”

Cerpen Dunia Luna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Real Monster (Part 3)

Oleh:
Fakta baru kembali menghampiri Flor beberapa hari kemudian, saat diam-diam Ia mengikuti teman-temannya pergi ke sebuah tempat. Sebuah tempat kumuh di balik bangunan tua tak berpenghuni. Tempat yang ternyata

Surya Di Ujung Senja

Oleh:
Sepasang matanya memandang sayu bunga di perkarangan. Begitu banyak bunga yang tumbuh dengan subur namun kali ini ia tertuju pada bunga mawar merah yang hendak merekah. Aah, mawar merah

Menjamput Toga

Oleh:
Perempuan berhijab itu namanya Bela. Gadis pendek namun supel, dia mempunyai banyak teman di sekolahannya. Bela lulusan SMA tahun ini. Usianya kini sudah menginjak 19 tahun dan sudah waktunya

Aku Menyayangi Mu, Maafkan Aku

Oleh:
Hari yang cerah ini aku akan mulai tahun pertamaku sebagai murid sekolah menengah ke atas atau yang sering disebut SMA. Namun kali ini aku bukan ke sekolaah SMA umum

Love or Friends

Oleh:
Hoaaaammm.. Aku terbangun seiring dengan bunyi alarm. Aku bangun dengan langkah sempoyongan dan bergegas berjalan ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah ke jenjang berikutnya, SMA,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *