Dunia Melati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 September 2015

Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya, aku begitu kacau. Bangun sangat terlambat, salah memakai seragam dan tidak mengerjakan PR. Cukup untuk menjadi alasan Bu Vita mengirimku ke ruangan Pak Ashar, guru BP kami. Aku kena ceramah pagi ini, dan mungkin nanti ketika sampai di rumah karena surat peringatan yang akan ku beri pada Ibu atas keteledoranku yang sudah kesekian kalinya ini. Entah Ibu akan peduli atau tidak, tapi aku benar-benar menunggu saat seperti ini terjadi, percaya atau tidak percaya, hal itu benar.

Itu mereka, sudah menungguku di meja kantin dengan cengiran seperti biasa. Deta dan Kiki, sahabat karibku, juga Farid, PDKTan-ku.
“Seperti biasa, Mel?” tanya Kiki. Aku hanya mengangguk lemas dan duduk pada kursi kosong di sebelah Farid. Farid mengacak rambutku yang sebenarnya sudah acak-acakan sebelumnya.
“Aku bawa seragam hari ini kok, buat kamu. Nanti habis makan kita ke toilet ya.” Deta selalu siap siaga dengan kecerobohanku. Aku nyengir kuda padanya, hal ini sudah sangat biasa.
“Dan ini, nasi goreng pedas gila-nya.” Kali ini Farid yang sudah sangat hapal menu favoritku itu yang berbicara. Aku makan dengan sangat lahap. Kalau bangun terlambat, siapa yang akan sempat sarapan?

“Kenapa kamu tidak buat PR, Mel?” tanya Ibu menahan kesabaran.
“Lupa, Bu.”
“Seperti biasa?”
“Seperti biasa.”
“Baik.” Ibu menghela napas lelah, pundaknya jadi sedikit turun.
“Apa kamu ada tugas untuk besok?” ia bertanya, tanpa mimik marah.
“Mungkin. Mela nggak ingat, Bu.” Jawabku jujur.
“Sekarang kamu ke kamar, periksa jadwal dan tugas-tugas kamu.” Ibu melipat surat yang aku berikan padanya itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop, dan meninggalkannya di atas meja makan. “Akan Ibu usahakan datang.” Katanya sambil berlalu.

Aku kembali ke kamar sambil mengumpat-umpat dalam hati. Apa susahnya untuk datang besok ke sekolah? Sekali saja aku minta Ibu peduli pada hidupku. Selalu saja urusan pekerjaan dan tiada hentinya bahkan ketika di rumah sekalipun. Tidak ada lagi kami yang mengobrol obrolan basi di depan TV, atau menggosipkan tetangga-tetangga, atau bahkan menanyakan bagaimana hari masing-masing. Apa begini juga nantinya setelah aku dewasa, memiliki pekerjaan, kemudian memiliki anak yang menyebalkan, ditinggal suami pergi, dan kemudian semuanya berubah begitu saja seolah tidak ada kehidupan bahagia sebelumnya.

Beberapa saat kemudian Deta meneleponku, mengajakku pergi nonton bersama Kiki dan juga Farid. Hal yang mustahil aku tolak. Ibu sepertinya masih terlalu sibuk dengan pekerjaannya di dalam kamar. Aku berteriak begitu saja dari luar kamarnya.
“Bu, Mela pergi nonton sama teman-teman.” Kemudian berlari ke luar karena taksi mereka sudah menunggu.

“Kita nonton apa?” tanyaku girang.
“Ada film Bruce Willis baru, loh.” Ujar Farid yang duduk di sampingku.
“Jangan film action.” Teriak kami serempak.
“Begini deh resiko pergi dengan cewek.” Farid mengalah dan akhirnya kami memutuskan untuk menonton film Drama Romance yang diperankan Rachel McAdams.

Aku, Kiki dan Deta ke luar dengan mata sembab akibat menangis, sedangkan Farid ke luar dengan mata mengantuk. Sepanjang film dia tertidur pulas, bukan hal yang baru sebenarnya. Kami memutuskan untuk nongkrong di cafe di depan bioskop sebentar. Sebenarnya aku agak was-was ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Belum terlalu larut memang, tapi besok hari sekolah dan aku sama sekali belum menyentuh PR-ku.

Pukul 11 tepat kami meninggalkan cafe. Setelah mengantar Kiki dan Deta, kini hanya ada aku, Farid dan supir taksi tentunya. Rumahku lumayan jauh jaraknya dari rumah mereka bertiga, namun Farid bersedia mengantarkanku lebih dulu.
“PR kamu udah dibuat?” tanyanya. Aku menggeleng. “Kita bukan anak SD lagi loh, yang harus diingatkan tentang hal yang sama setiap harinya.” Nah, dia akan berceramah sepanjang jalan sepertinya.
“Kalian ngajak nonton.” Jawabku jutek.
“Kita ngajak, nggak maksa, loh.” Farid menyebalkan. Apa sekarang waktu yang tepat untuk bertengkar.
“Kamu mau pergi nonton dengan mereka berdua tanpa aku?” tanyaku tidak percaya. Dia nyengir dan menggeleng.
“Tadi aku tanya Kiki dulu kamu bisa apa nggak.” Mau tidak mau aku tersenyum. Karena dugaanku tidak salah, dia mau ikut karena ada aku.

“Aku nggak bermaksud mendikte hidup kamu, cuma karena aku peduli, aku mau kamu jadi lebih baik.” Dia mulai lagi membuatku kesal. Aku tidak suka orang mengomentari perbuatanku, hidupku. Karena bahkan Ibu tidak pernah melakukannya. Ibu. Astaga, apa yang akan aku katakan nanti.
“Aku akan anggap kamu nggak pernah ngomong apapun yang barusan kamu bilang.” Raut muka Farid seketika berubah. Meski dalam remang cahaya aku masih bisa melihatnya.

“Kapan kamu akan membiarkan orang-orang yang peduli sama kamu buat ngebantu kamu jadi lebih baik?”
“Aku baik-baik aja kok. Kacau, itu memang hidup aku. Kita dibesarkan dengan latar belakang yang berbeda, Farid. Bagaimanapun usaha kamu merubah aku, saat aku kembali masuk ke rumah, aku akan menjadi diri aku lagi, yang kacau.” Tiba-tiba dia meraih tanganku.
“Kamu bisa kalau kamu mau. Sebentar lagi kita jadi mahasiswa dan dunia luar sana jauh lebih kacau. Kalau kita kehilangan kontrol, kita bisa tersesat. Aku nggak akan lepas tangan kamu, jadi kita bisa terus sama-sama, dan nggak akan ada dari kita yang tersesat. Oke?” Mata Farid begitu sayu, menatapku penuh harapan, dan keyakinan.
Aku mengangguk.
“Oke.”

Apa aku dan Farid berpacaran? Tidak, belum. Apa kami saling cinta? Aku rasa begitu. Sejak malam itu, hubungan kami menjadi lebih solid. Entah bagaimana perkataannya berhasil merubah pola pikirku sedikit demi sedikit. Jika aku menjalani kehidupan ini untuk Ibu dan Ibu tidak peduli, aku tidak seharusnya berhenti dan menjadi kacau, aku akan menjalani hidup ini dengan baik untuk diriku sendiri.

“Hari ini aku buat tugas, dan memakai seragam yang benar.” Ketiga sahabatku itu tertawa gembira.
“Tapi masih telat datang?” Kiki bertanya. Aku mengangguk dan kami tertawa lagi.
“Perlahan tapi pasti.” Kata Farid sambil tersenyum padaku.
“Ya, seperti hubungan kalian, kan?” Celetuk Deta.

Mukaku pastinya memerah. Biasanya mereka tidak pernah membahas hubungan aku dan Farid saat ada orangnya di depan kami.
“Oh. Ya. Betul. Yang terpenting itu prosesnya. Bagaimana nanti ujungnya, itu yang pantas untuk kami berdua.” Tanggap Farid dengan begitu bijak. Entah bagaimana lelaki pintar ini bisa suka denganku.
“Mel,” Kiki membuatku terpaksa menengadah dari piring nasi gorengku dan menatap ke arahnya. “Itu Ibu kamu, bukan?” aku menoleh ke arah yang ditunjuk Kiki dan ternyata benar, itu Ibu, sedang berjalan mendekati ruang BP.

“Tapi kenapa?” Aku tidak berulah lagi hari ini menurutku, kecuali terlambat datang, dan ada banyak murid lain yang juga terlambat sama seringnya denganku namun orangtua mereka tidak pernah hadir ke sekolah.
“Kamu mau nyusul ke sana?” aku ragu sejenak. Nasi gorengku masih ada setengah lagi dan laparku belum sepenuhnya hilang.
“Nanti dilanjutkan lagi makannya. Pergi sana.” Farid membungkus keraguanku dan aku langsung berlari ke arah Ibu.
“Ibu.” Teriakku sebelum ia sempat membuka pintu ruang BP.

Ibu memandangku tanpa ekspresi. Oh Tuhan, selama ini aku selalu bertanya-tanya apa Ibu membenciku, apa aku menjadi penghalang ia untuk menjalin cinta dengan lelaki baru? “Kenapa Ibu ke sini?” tanyaku tanpa basa-basi. Basa-basi sudah lama terhapus dari kamus kami.
“Memenuhi surat panggilan tempo hari.” Jawabnya datar.
“Tapi itu panggilan untuk dua hari yang lalu. Hari ini Mela sama sekali nggak buat masalah.”
“Ibu baru bisa hari ini, Mel. Biar Ibu ketemu Pak Ashar dulu.” Aku menghela napas berat.
Tidak ada yang bisa ku perbuat. Kalau Ibu datang dua hari yang lalu ketika memang itu niatku, membuatnya memerhatikan sebentar saja kehidupanku, mungkin aku akan senang. Tapi tidak sekarang. Ibu akan menganggap aku anak yang sangat bermasalah di saat aku sudah mulai berubah.

Ini sudah kelewatan. Rasanya sudah lebih dari satu jam Ibu ada di ruangan Pak Ashar. Aku memakai alasan sakit untuk pergi ke UKS yang berada tepat di depan ruang BP agar bisa berbicara dengan Ibu ketika ia sudah ke luar nanti. Sebentar lagi akan ada pergantian pelajaran dan jika aku belum kembali ke kelas aku akan disuruh pulang, dan yang pastinya pihak sekolah akan menghubungi Ibu yang akan langsung tahu aku berpura-pura dan aku dalam masalah lagi.
Belum sempat hal ku khawatirkan itu terjadi, aku melihat Ibu ke luar. Aku langsung bangun dan berlari ke arahnya.
“Ibu.” Namun aku terhenti beberapa meter darinya. Memandang muka Ibu yang muram dan matanya yang sembab. Apa sebegitu parahnya tingkahku di sekolah ini hingga Ibu merasa terlalu kecewa dan menangis?

Dengan cepat Ibu mengusap matanya, memasang wajah biasa-biasa saja, dan berjalan mendekatiku.
“Nanti sepulang sekolah, kamu langsung pulang. Jangan ke mana-mana.” Begitu saja katanya. Belum sempat aku bertanya Ibu sudah berlalu, berjalan dengan cepat dan bahunya naik turun. Ibu menangis lagi.
“Melati,” Suara Pak Ashar mengagetkanku. Entah sejak kapan beliau berdiri di pintu ruangannya.
“Ya, Pak. Maaf, saya bukan bermaksud bolos. Saya cuma mau ketemu Ibu saya.”
“Bisa ke ruangan saya sebentar?” aku hanya bisa mengangguk. Masalah apa sebenarnya yang sedang ku hadapi.

“Saya dalam masalah lagi, Pak?” tanyaku langsung ketika duduk di hadapan Bapak berperawakan menenangkan ini.
“Biar kali ini saya bertanya lebih dulu dengan kamu. Apa kamu merasa dalam masalah?” Kalau jawaban jujurnya, tentu saja tidak. Aku membuat tugas kok hari ini.
“Rasanya tidak, Pak.” Jawabku.
“Begitu. Saya mau tanya urusan pribadi, boleh?” Deg. Apa lagi ini maksudnya?
“Maksud Bapak?”

“Bagaimana hubungan kamu dengan Ibu kamu?” sebenarnya Pak Ashar sudah tahu hubunganku dengan Ibu tidaklah seerat saat Ayah masih bersama kami, dulu. Karena setiap beliau bertanya alasanku terlambat, jawabanku selalu sama, telingaku tidak mempan dengan alarm, dan tidak ada orang yang bisa membangunkanku karena Ibu sudah meninggalkan rumah dari jam 6 pagi.
“Masih seperti itu saja, Pak.” Apalagi yang bisa ku jawab? Bahwa kini setiap malam kami piknik di bawah sinar rembulan?
“Kamu masih berpikir kalau Ibu kamu tidak peduli? Tidak sayang sama kamu?”

Aku tahu seharusnya tugasku hanya menjawab pertanyaan saja, tapi aku tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Apa Ibu saya menangis tadi, Pak? Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Kita akan sampai di bagian itu, Melati. Jawab saja pertanyaan Bapak dulu.” Oke. Aku akan mengalah.
“Bahkan hari ini saya berpikir Ibu begitu membenci saya, Pak.” Pak Ashar seketika menutup matanya sejenak, mungkin memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan padaku.

“Melati, tidak ada Ibu yang membenci anaknya. Tapi setiap orang punya cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa sayangnya. Saya mau kamu juga melihat dari posisi Ibu kamu. Saya anggap kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti permasalahan ini, Melati.”
“Masalah apa pak?” Pak Ashar berbicara begitu berbelit-belit. Aku benar-benar kebingungan. Apa inti dari semua ini sebenarnya?
“Ibu kamu meminta saya menyampaikan hal ini bukan karena dia tidak sayang dengan kamu. Juga bukan karena dia tidak bertanggung jawab ataupun tidak dewasa. Tapi ada kalanya seorang Ibu memilih cara dan waktu yang bagi kamu mungkin tidak tepat, tapi ia yakin hanya begitu caranya agar ia dan kamu bisa bertahan.”

Otakku bekerja keras mencerna segala hal yang disampaikan oleh Pak Ashar. Namun aku masih belum tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Sebenarnya ada apa, Pak?” aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak ingin terlihat begitu stress karena kebingungan. Bisa-bisa Pak Ashar tidak jadi menceritakan maksudnya padaku.
“Ibu kamu selama ini bukannya tidak peduli dengan kamu, dia hanya menjaga jarak.”
“Menjaga jarak?”
“Ya, membiasakan dirinya berada jauh dari kamu. Dia tidak bisa bicara terlalu lama dengan kamu karena itu akan menunjukkan emosinya.”
“Tapi kenapa, Pak?” Kali ini aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Ibu? Menjaga jarak?
“Ibu kamu terkena kanker hati, Melati. Sudah dua tahun ini. Dia tidak bisa mengatakannya langsung dengan kamu karena rasanya sudah cukup berat saat Ayah kamu pergi. Kemudian kamu menghadapi masa-masa sulit di sekolah, dan semua akan semakin berat jika kamu tahu yang sebenarnya.”

Berita tersebut memang sangat mengejutkanku. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak bisa menangis. Perasaanku kosong. Rasanya seperti telah di bom atom dan meninggalkan lubang yang besar di sana.
“Saya permisi, Pak.” Pikiranku tidak lagi ada di ruangan ini, sudah melayang pada hari-hari ketika Ayah baru saja pergi meninggalkan kami. Bagaimana Ibu mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Bagaimana ia tidak lagi tersenyum apalagi tertawa saat kami kami menonton serial komedi hingga akhirnya aktivitas itu sama sekali tidak kami lakukan lagi.
“Melati,” Pak Ashar membawa kembali kesadaranku ke bumi.
“Hari ini Ibu kamu berangkat ke Singapur untuk menjalani pengobatan. Tante kamu dari Solo akan datang nanti sore untuk menemani kamu selama Ibu kamu ada di sana. Kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu, kamu bisa cerita ke saya ya, Melati.” Aku mengangguk pelan.
“Terima kasih, Pak.” Kemudian aku berjalan kembali ke kelas.

Ketiga sahabatku mungkin merasa aneh karena sepanjang pelajaran aku hanya diam. Tapi mereka tidak bertanya setidaknya hingga saat bel pulang berbunyi.
“Kamu kenapa, Mel?” Kiki yang memberanikan diri untuk bertanya padaku lebih dulu.
“Cuma cape. Aku beneran harus pulang. Aku duluan ya.” Tanpa berani memandang wajah khawatir mereka aku berjalan ke luar kelas, tapi aku mendengar langkah mengejarku.
“Biar aku antar.” Tanpa sempat aku menjawab, Farid menarik tanganku dan menggenggamnnya erat. Seperti janjinya waktu itu.

Jalan menuju rumahku tidak melewati jalan raya, hanya jalan-jalan kecil dari satu komplek ke komplek lain. Sepanjang perjalanan di atas motor Farid, tangan kami masih saling bertautan. Aku merasakan kehangatan di hatiku dan kehangatan itu menjalar hingga ke mataku. Aku tersedu di punggunggnya. Kami masih saling tidak bicara, ia membiarkanku melepas segala emosi yang sudah ku tahan.

Tante Erna, Kakak Ibuku dari Solo sudah menunggu di rumah ketika kami sampai. Farid mengikuti masuk ke dalam. Aku memperkenalkannya pada Tante Erna. Saat itu aku sudah tahu bahwa Ibuku sudah berangkat ke Singapur. Ibu tidak sanggup mengucapkan kata perpisahan denganku, Ibu yang begitu takut menghadapi kenyataan yang akan aku hadapi. Seharusnya aku mengejar Ibu saja tadi, memeluknya, dan mengatakan betapa aku mencintainya dan permasalahan apapun yang ada dalam kehidupan kami akan aku hadapi karena aku punya dia di sisiku.

“Mela?”
“Ya, Tante?”
“Ibu kamu tadi menitipkan ini, nduk.” Aku menerima sebuah kotak dari Tante Erna.

Mengerti keadaanku, Tante Erna meninggalkan kami di ruang tamu. Aku masih belum bercerita pada Farid dan ia juga belum bertanya. Mungkin nanti, pada saat yang tepat aku akan menceritakan semuanya. Perlahan ku buka kotak itu, dan ternyata isinya sebuah jam yang indah sekali.
“Ini” aku membaca sebuah stick note yang diselipkan di bawahnya. “Jangan suka terlambat lagi ya, Sayang.” Begitu saja isi pesannya namun saat itu juga aku tahu betapa Ibu mencintaiku. Kakiku lemas dan aku terduduk di lantai. Farid berlari meraihku, dan aku menangis di pundaknya.

Beberapa minggu lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Tante Erna sudah berjanji akan mengajakku ke Singapur untuk melihat Ibu setelah aku selesai ujian. Aku sudah siap untuk ujian ini. Farid, Deta dan Kiki senantiasa membantuku belajar dan mengejar segala ketertinggalanku. Sekarang aku tahu bahwa hidup tidak berakhir ketika permasalahan datang, justru hidup akan diuji kekuatannya untuk tetap bertahan.

Aku selalu berdoa semoga Ibu memiliki kekuatan itu dalam hidupnya. Karena aku ingin Ibu hadir nantinya saat wisuda sarjanaku, dan juga saat pernikahanku, bahkan bisa menimang anak-anakku dan melihat mereka tumbuh menjadi cucu yang membanggakan. Aku masih butuh Ibu. Dan aku akan selalu cinta Ibu.

The End

Cerpen Karangan: Dhea CLP

Cerpen Dunia Melati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Surah Untuk Kepergianku

Oleh:
Senja kembali menghadirkan warnanya yang indah, warna merah dengan kuning keemasan dan memantulkan cahayanya di lautan hingga tidak nampak lagi lautan biru. Angin meniup kerudungku seakan ingin membawanya bersamanya,

Memento

Oleh:
Ini pagi yang biasa. Hari yang biasa. Melakukan rutinitas selama 5 hari di tempat yang bernama sekolah. Ya, apalagi kalau bukan belajar. Aku hanya seorang remaja biasa, yang duduk

Untuk Pertama Kali

Oleh:
Waktu udah menunjukan pukul 06:15 sudah siap dengan seragam putih abu-abu gue dan tas yang menggantung di pundakku. Yeah gue baru aja diterima di salah satu SMA negeri di

Si Buta Mencari Matahari

Oleh:
(1) DI PERMUKIMAN YANG TERPENCIL Berawal dari sebuah gubug tua yang sudah reot, Kala itu hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak laki-laki.

Ketika Harapan Menjadi Nyata (Part 1)

Oleh:
“Jadi, kamu ikut ekskul apa?” “Entahlah. Mungkin hadrah sesuai untukku” “Hadrah? Sejak kapan kamu menyukai hadrah?” “Entahlah, ini sudah menjadi keputusanku” “Baiklah” “Ibu, aku berangkat. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam, hati-hati di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dunia Melati”

  1. nia ai says:

    suwer keren ceritanya. menyentuh banget. feelnya kerasa. good job. gua seneng baca2in cerpen lu dhea. keep writing ya. terus berkarya ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *