ECHO

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 September 2017

Pagi ini, aku dibangunkan oleh kesepian dan kesunyian. Tidak seperti biasanya, duniaku saat ini sangat sepi. Aku melongok ke jendela di sampingku, matahari sudah bersinar dengan terangnya ditemani langit biru. Namun berbeda suasananya dengan kebun bunga milik ibuku. Sunyi, dan sepi. Ke mana ibuku pergi? Dan ke mana ayah yang selalu memarahiku karena aku bangun kesiangan? Serta di mana Mona? Kakak sialan yang sering memukuliku itu? Di mana semua orang?

“Hello?” sapaku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Dengan langkah perlahan aku menuju kamar Mona. Kosong. Ke mana dia? Kelayapan lagi? Batinku menebak. Lalu kulanjutkan langkah kakiku menuju kamar kedua orangtuaku. Kosong juga. Ke mana mereka? jadi ayah dan ibu pergi bersama? Mungkin dengan Mona juga ikut bersama mereka? Cerocos batinku bingung.

Kenapa harus bingung? Tentu saja aku bingung, hari ini adalah hari sabtu. Kedua orangtuaku jarang bepergian dihari libur, mereka lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Beberes rumah. Kata ibuku. Mona juga, ia jarang kelayapan dihari libur, ia lebih senang menghabiskan waktunya di rumah dengan segala perawatan kulit sialannya yang ia beli secara online maupun saat ke toko kecantikan. Namun ke mana mereka? kenapa rumah ini begitu sepi?

Pukul 09.00 aku sudah selesai mandi, dan membereskan kamarku. Kau tahulah, apa arti dari membereskan kamar untuk seorang cowok. Hanya menyingkirkan selimut dan barang-barang yang tercecer di lantai. Untuk keseluruhannya masih tetap berantakan, hanya lebih memudahkan saja untuk berjalan menuju kasur busa kecilku yang terletak di dekat tembok.

Selanjutnya aku menuju ke taman belakang, taman bunga milik ibuku. Ibuku memiliki kesukaan terhadap bunga yang berwarna-warni. Namun sepertinya ibuku lupa menyiraminya pagi ini. Tentu saja aku akan menyirami taman kecil kesayangan ibuku ini. Selama lima belas menit, aku menyiram bunga-bunga ini. Aku merasa aneh. Ya, aneh.

Sepertinya bukan hanya rumahku saja yang sepi. Tetapi rumah milik Thomson juga terlihat sepi. Biasanya ibunya Thomson mengoceh dengan suara lantangnya dengan Janeeta, kakak Thomson. Serta rumah di seberang jalan, milik keluarga Stuurtd yang selalu menyetel lagu kuno 90-an dengan suara keras dan sangat mengganggu itu. Ke mana mereka? kenapa begitu sunyi. Apakah ada piknik satu kompleks? Dan mereka tidak memeberitahuku? Ahh konyol bila benar demikian. Setidaknya Mona pasti akan menjadi yang paling heboh menyiapkan segala pakaian mini yang ia punya, namun hal tersebut tidak terjadi. Semalam ia asyik mengecat kukunya dengan warna tosca. Serta mengoceh dengan pacarnya lewat handphone semalaman. Lalu ke mana mereka semua?

Malam pun menjelang, sejak aku bangun tidur sampai sekarang aku hanya berdiam diri di rumah. Aku takut meninggalkan rumah, karena firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Aku berjalan perlahan ke ruang tenah dan mengitip dari balik gorden tebal pemberian bibiku.
“Astaga!” pekikku kaget. Ada apa ini? Kenapa rumah-rumah itu tak menyalakan lampu mereka? kenapa segelap ini? Bila mereka memang sedang piknik setidaknya mereka tidak lupa untuk menyalakan mesin penyala lampu otomatis kan? Lalu dengan terburu-buru aku berlari ke lantai atas sembari memanggil keluargaku. “Mona!” teriakku saat berlarian di tangga. “Ibu! Ayah!” pangilku saat sampai didepan kamar mereka, aku terus mengulang dan membuka setiap ruang yang ada di rumahku. Tidak ada. Mustahil, ke mana mereka?

Lalu dengan nekat aku pergi ke luar rumah serta membanting pintu rumah, sengaja kulakukan agar setidaknya ada seseorang yang mendengarku. Tapi tidak ada. Benar-benar sunyi. Sekarang aku benar-benar ketakutan, ke mana mereka? ke mana Thomson? Ke mana si tua brengsek itu? Ke mana semua orang?

“HELLO?” teriakku keras hingga suaraku serak. Panik, aku panik sekarang. “HELLO?!!” ulangku dan terus kuulangi. Aku benar-benar seperti orang gila, berlarian tidak tahu arah dan terus berteriak. Gelap semuanya gelap, hanya cahaya bulan yag menerangi langkahku. Aku tak tahu harus ke mana, tidak ada cahaya lampu. Mustahil orang-orang menghilang.
Hingga akhirnya aku merasa kelelahan, dan aku berjalan pelan. Ke manapun, kaki ini melangkah. Kusadari satu hal, ternyata aku tak sendiri. Aku ditemani bayanganku dan juga suara gemaku. Bagaimana mungkin hanya aku sendiri yang tersisa, dengan bayangan dan gemaku. Konyol.

Kupejamkan mata ini, berharap hanya mimpi buruk. “1.. 2.. 3..” ujarku lirih karena tenggorokanku sakit sekali. Lalu kubuka mataku perlahan, gelap. Tetap gelap. “HELLO!!!” lolongku panjang. Rasanya sampai sulit bernapas, ke mana mereka? kenapa aku menjadi sendirian dan sesengsara ini.
“Seseorang… kumohon siapapun, jawab aku.” Rintihku dengan air mata menetes deras membasahi pipiku. Lalu kupejamkan kembali kedua mataku.

“Romy.” Rintih ibuku, ya aku sangat mengenali suara ini. Ibuku yang cantik secantik bunga-bunga yang ia tanam.
“Hi Bro… bangun bro, kau sudah tidur terlalu lama. Ayo buka matamu.” Ucap Thomson pelan dan terbata-bata. Satu lagi suara yang aku kenali.
“Jahat, kau sudah lama tertidur. Apa aku harus menonjok mukamu yang jelek itu agar kamu segera bangun? Dan menghentikan candaanmu ini?” terdengar suara tawa sumbang milik Mona.
“Pergilah nak, dan beristirahatlah dengan tenang.” Lalu kudengar suara ayahku yang berat itu. Namun kali ini lebih berat dari biasanya.

“Sayang… entah mengapa aku merasa Romy masih di sini, bersama kita.” Ucap Ibuku lirih dengan kepala disenderkan ke bahu ayahku yang kokoh itu.
“Ya, seakan dia baru saja membereskan kamarnya walau tidak akan rapi, karena memang lebih mirip dengan kapal pecah ketimbang kamar.” Timpal Mona dengan suaranya yang bergetar.
“Dan… seakan dia baru saja… menyiram kebun… bungamu Bibi.” Sambung Thomson masih terbata-bata.
Serta ayahku yang tak ikut mencerocos, ia hanya menggangguk-anggukan kepala saat Ibu, Mona, dan Thomson berbicara.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nova Tris
Blog: kembardampit24.wordpress.com

Cerpen ECHO merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman di Langit Awangga

Oleh:
Awan mendung menggelayut langit Awangga. Angin dingin berhembus menerkam kebahagian. Semua berganti muram. Awangga telah lelah dipermainkan oleh alam. Dan saat ini negara itu telah jatuh dalam kemurungan. Kesedihan

Arif dan Aruf

Oleh:
Seharian kesana-kemari hendak mencari kerja namun tak satupun tempat yang ia datangi menerimanya untuk bisa dipekerjakan. “Ya Allah!! Harus kemana lagi kaki ini melangkah untuk mencari rizkymu? Lirinya dalam

Menjemput Kebahagiaan Dona

Oleh:
Sehelai bulu mata, nampak jatuh, mengalir bersama benda basah ke pipi. Sendiri, diam, tanpa ada siapapun menyapa, atau bahkan menyentuhnya. Dona. Perempuan berumur 5 tahun dengan boneka usang yang

A B S

Oleh:
“Hei sayang kamu cantik sekali” ujar lelaki di dekatku menggoda wanitanya “Ah gombal” balas wanita itu Tanpa kupedulikan aku yang saat itu sedang duduk diam membaca sebuah novel di

Kakek Inspirasiku

Oleh:
Kakek adalah sosok yang luar biasa bagiku. Kakek yang selama ini selalu menjadi motivator di dalam hidupku. Kakek yang selalu memberikan semangat dan inspirasi untuk cucu-cucunya. Waktu aku kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *