Edelweis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 March 2016

Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku tidak mengikuti pelajaran matematika, aku harus pulang mengantarnya, setelah ku dapati kabar kakakku tercinta pingsan dan tak sadarkan diri saat jam olah raga. Aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada kakakku. Kejadian seperti ini selalu terjadi, dia tak pernah mau ke dokter. Dia hanya mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dia hanya lelah, itu yang selalu dikatakannya. Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.

Kakakku satu tahun lebih tua dariku. Sekarang dia kelas 3 SMA. Biarpun dia kakak, tapi tubuhnya lemah. Dia butuh perhatian. Meski selalu terlukis indah di bibirnya sebuah senyum kebahagiaan yang selalu meyakinkanku bahwa dia memang baik-baik saja. Namun, aku selalu mendapatinya murung. Diam, kaku dengan pandangan kosong. Ku tahu masih terbingkai kesedihan dalam benaknya, semenjak ayah dan ibu pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan mobil. Sekarang, aku tinggal bersama om dan tanteku yang telah menganggapku dan kakakku sebagai seorang anak sendiri. Memang, mereka tidak mempunyai keturunan setelah pernikahannya. Aku sangat bahagia dan berterima kasih kepada mereka karena mau merawatku dan kakakku.

Sore itu, ku dapati dirinya duduk sendiri di taman belakang rumah. Di tangan kirinya sedang memegang sebuah foto, dia menatapnya begitu dalam penuh makna. Tangan kanannya memegang sebuah pot kecil yang terbuat dari kayu, diletakkannya di pangkuannya. Bunganya adalah Edelweis, bunga kesayangannya. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya dan mengobrol beberapa kalimat yang bisa membuatnya tersenyum. Aku melontarkan pertanyaan mengapa dia begitu suka dengan bunga putih yang tak pernah layu yang dipegangnya itu. “Bunga ini disebut juga bunga abadi dan kakak ingin sekali seperti bunga ini.” Jawabnya singkat sambil menatap bunga itu. Meski aku tak begitu paham, aku tak melontarkan pertanyaan lagi kepadanya. Aku sedang jalan sendiri di lorong sekolah saat jam istirahat. Sahabatku Masya entah ke mana. Tiba-tiba ku dengar teriakan di belakangku dari kejauhan.

“Claraaaaa.. tunggu..!!” aku berbalik dan berhenti. Itu dia, Masya telah datang. Dia berhenti di depanku, napasnya tergesa-gesa.
“Hei, ada apa?” Tanyaku padanya.
“Itu.. Kak Dinda.”
“Iya, kakakku kenapa?”
“Kak Dinda, pingsan lagi. Sekarang berada di UKS.” Aku kaget dan langsung pergi menuju UKS. Masya mengikutiku, kali ini aku tak akan menuruti keinginan kakakku untuk dibawa pulang ke rumah, jika dia meminta. Kali ini aku akan membawanya ke rumah sakit. Aku sangat cemas.

Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Pada saat dimana kakakku telah berbaring dengan tubuhnya yang lemah dan wajah yang pucat. Aku tak pernah jauh darinya, ku manfaatkan waktu sepulang sekolah untuk menjaganya. Masya sahabatku, om dan tanteku membantuku merawat kakakku ini. Kanker darah (Leukimia) stadium 4. Itu yang dikatakan dokter padaku. Ternyata kakakku benar-benar menyembunyikan sesuatu. Selama ini dia sangat menderita. Dia melawan sakitnya sendiri tanpa sepengetahuanku. Penyakit itu telah menggerogoti tubuhnya sejak dulu, hanya dia bertingkah seperti orang sehat yang tak menderita penyakit apa-apa. Sekarang, dia dilemahkan oleh penyakit itu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku pasrah pada Allah SWT.

Di bulan April, seminggu sebelum ulang tahunnya, ketakutanku akan kehilangan kakakku. Terjadi, aku tak bisa membendung air mata ini. Masya mencoba menenangkanku hari itu, tapi aku tak bisa. Air mataku tak hentinya mengalir. Mengapa aku harus mengalami kejadian ini. Kehilangan seseorang yang sangat ku sayangi untuk kedua kalinya, setelah ayah dan ibu. Setelah mereka meninggalkan tempat terakhir kak Dinda, aku tinggal untuk beberapa menit dan duduk di sampingnya. Masya berdiri di belakangku. Aku mengeluarkan sebuah bunga dari dalam tasku dengan pot yang kecil terbuat dari kayu juga. Sebuah benda yang sengaja ku beli sebulan yang lalu sebagai kado ulang tahun kak Dinda nanti. Ku letakkan di depan nisan itu.

“Ini akan menemanimu, Kak.” Bisikku. Ku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Kemudian ku beranjak pergi, tak lupa ku kirimkan doa untuknya, untuk ibu dan untuk ayah. “Aku yakin, Ayah, Ibu dan Kak Dinda tidak benar-benar pergi meninggalkanku. Mereka masih berada di sisiku..” Batinku.

Cerpen Karangan: Hikmah Maqfirah
Facebook: Hikmah Maqfirah

Cerpen Edelweis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu

Oleh:
Lagu “Afika – you’re my everything” mengalun mesra, Senja kembali hadirkan suasana hening, cahayanya menembus jendela kaca menerpa mataku. Aku terbangun dengan cepat ketika guyuran air comberan menggigilkan tubuh

Fantastic Holiday

Oleh:
Tanggal 30 Desember 2014, aku dan keluargaku pergi liburan bersama. Kami sepakat untuk pergi ke Padang, Sumbar. Pukul 5 pagi, aku dan adikku bangun. Kami merapikan tempat tidur, cuci

Bumbu Sate Mbah Ijah

Oleh:
Embun pagi masih menyelimuti kotaku tercinta ini. Matahari juga masih enggan menampakkan sinar kokohnya. Aku juga masih enggan untuk bangun. Tetapi, dari dalam kamar aku mendengar suara kelontangan di

Gula Jawa Buatan Eyang Indah

Oleh:
Aroma kolak pisang memenuhi ruangan. Aroma yang berasal dari dapur tersebut menyeruak membuat siapa saja berselera untuk mencicipi kolak pisang buatan ibu. “hore ibu membuat kolak pisang…” Seli setengah

Ade Sedang Menungguku

Oleh:
“Permisi Pak.. piket ya?” sapa Bu Ani pada Pak Yudi ramah. “Ya Bu, silakan.. silakan,” jawab Pak Yudi. Ibu Ani adalah guru paling populer dan ramah pada semua rekan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *