Ego

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 June 2018

Masih di pojokan kamar yang gelap. Dengan rambut acak acakan, mata berkantung dan sayu aku terlihat seperti orang gila.

“Ayka, buka pintunya nak, ibu harus bicara sama kamu” teriak ibu dari luar.
Aku masih tetap di tempatku. Bersikap diam lebih baik pikirku.

Tuk.. Tuk.. Tuk..
Suara sepatu berjalan di lantai.
Itu ayah. Aku bisa mengetahuinya dari dalam. Seakan-akan ada CCTV di luar kamarku.
“Kamu apakan Ayka? Kenapa dia tidak mau keluar?” Tanya ayah dengan kasar
“Apa kamu bilang? Aku sangat menyayangi Ayka, mana mungkin aku bersikap kasar padanya.”
“Pembohong kamu!”

Ini alasanku kenapa aku tidak keluar rumah. Ayah ibu terus bertengkar. Aku berterima kasih pada Tuhan, karena ibu pernah keguguran waktu hamil calon adikku, bagaimana jika ia hidup? Apakah ia mampu menelan ini semua? Cukup aku yang mengalaminya.

HP ayah berdering
“Oke kiy, aku akan ke sana” kata ayah.
Kiy?? Ya, dia adalah penyebab pertengkaran ini terjadi. Entah apa salah ibu, ayah lebih memilih Kiy, padahal ibu adalah perempuan yang sangat baik dibanding Kiy.

“kamu akan nemui Kiy mas?” Tanya ibu dengan suara parau nya, aku bisa mendengar dari sini kalau ia sangat sakit.
“Lah, kenapa? Emang itu urusan kamu?? Ingat ya Fin, sebentar lagi kita akan cerai. Aku akan memberikan harta aku 50% ke kamu, dan rumah ini juga untuk kamu, jangan berani berani kamu halangi aku” kata ayah dengan pedasnya

Mataku memanas, sesuatu keluar dari mataku. Ya, aku menangis. Apakah ayah tidak sadar aku ada di dalam sini? Aku benar benar ingin membunuh Kiy.

Kudengar ayah melangkahkan kakinya pergi, dan terdengar ibu menangis. Oh, wanita emang lebih memilih menangis dibandingkan melawan, begitu baiknya ibuku.

Ibu pergi, dan tak terdengar suaranya lagi.

Di pagi hari, ini jadwal ku sekolah. Aku kelas 11. Tak ada sarapan seperti biasanya, ibu sedang terpuruk, pikirku.
Kulihat di kamarnya ibu menangis di atas sajadah. Entah apa dosa perempuan ini sehingga ia harus menghadapi masalah ini.

Aku pergi ke sekolah, pelajaran pelajaran yang diberikan tak masuk ke otakku. Semuanya hanyalah asap bagiku. Yang kupikirkan adalah siapa Kiy ini.

Tak terasa, jam sekolah berakhir. Aku terkejut ada wanita asing menjemputku.
“Hay Ayka, ayo ikut tante”
“Apa kau pikir aku anak 10 tahun?”
“Kau masih manis, disebut umur 8 tahun pun tak mengapa.” Kayanya
“Hah? Masih manis kau bilang? Apa kau pikir aku kenal kau?” Jawabku jutek
Ia masih sabar menghadapiku
“Aku Kiy. Calon mama baru kamu. Dulu kita sering main bareng lho. Kit jalan jalan ke mall. Kamu udah lupa? Iya wajar ajalah, soalnya tante baru pulang dari Thailand. Kamu bisa manggil say dengan mama. Oh ya, papa kamu suruh mama jemput kamu” katanya panjang lebar
Plaak..
Tamparku, aku ingat dia. Dia adalah bunga manis beracun. Aku membenciya, aku ingat dia siapa.
“Ayka, mana etika kamu?” Katanya teriak sambil memegang pipinya yang kemerahan.
Aku tak peduli seberapa banyak orang yang melirik ke arah kami. Bahkan ada yang berhenti untuk melihat drama ini.

“Yaa!! Apa kau tau? Aku 2 kali membunuh orang, dan masuk penjara. Untung ayah orang kaya. Ia bisa menebusnya. Tapi tidak denganmu. Aku harus membunuhmu” kataku
Sontak semua orang yang berada di situ menghentikan aksiku
.
Aku dipulangkan oleh Keysha, temanku. Sampai rumah aku melihat ibu tidur, pasti ia sakit.
Aku datang berdiri di hadapannya. Aku bukan orang yang bisa romantis dengan orangtuanya. Aku diam, ibu memandangku, meraih tanganku, mencium keningku, aku pun membalasnya.

Tak lama, ayah pulang, aku tau Kiy pasti mengadu. Toh aku tidak takut! Ternyata ayah tidak marah padaku, namun ia berkata “Ayka, kau sudah besar. Pahamilah posisi ayah, terimalah kiy”
“Ayah, dirimu lebih besar. Bahkan kau sudah bau tanah. Fikirkan ibu dan posisikan jika kau berada di tempatnya”
“Apa katamu?”
“Apa ayah tua ini tuli?”
“Stoop Ayka! Ayah bisa melukaimu”
“Silahkan. Apa ayah fikir aku akan diam saj? Pasti aku akan membalasnya”
“Durhaka kamu! Ini yang sudah diajari ibu kamu?”
“Tidak ayah, ibu mengajariku untuk bersabar menghadapi masalah, tidak mencari, pelarian. Kenapa ayah tidak jenguk ibu yang sedang sakit? Aahhh.. Iyaaa!! Aku tahu, ayahku tak lagi punya hati, ya kan? Terus fikirkan Kiy ayah! Fikirkan saja makhluk mati itu di kepalamu!” Kataku setengah berteriak. Posisi kami jauh dari kamar ibu.
“Aku tidak akan memberimu warisan dan juga pada ibumu”
“Silahkan, aku akan membunuhmu dan juga Kiy”
“kurang ajar”

Aju akhiri perkelahian ini, aku kembali ke kamar ibu. Aku merasakan hal aneh. Ibu pucat, badannya dingin. Aku menggendong ibu menuju garasi. Aku emang perempuan, tapi tenagaku laki laki.
Mobil kunyalakan dan kustir menuju Rumah sakit.

Terlambat, ibu sudah meninggal dari tadi, mungkin sejak perdebatanku dengan ayah.
Aku menangis. Ibu, ajari aku atas kesabaranmu.

Jenazah telah dikubur, ayah datang dan duduk di sampingku. Ia memelukku, meminta maaf padaku. Agh! Dasar bodoh.
Baru kusadari, ibu menderita penyakit jantung. Jantungnya tiba tiba melemah. Tapi kenapa kami tidak ada yang tahu? Perkawinan Kiy dan ayah dibatalkan, ayah berjanji tidak akan mencari wanita lagi karena ibu adalah segalanya, dan kiy berjanji padaku akan meninggalkan kami dengan kembali ke Thailand. Aku dan ayah kembali bahagia seperti dulu, walau kini tak ada ibu. Ibu, i love you

Cerpen Karangan: Ellya Syafriani
Blog / Facebook: Ellya Syafriani
Bercita cita sebagaii penulis…
Tamataj SMP Eka Dura Lestari, Rokan Hulu, dan sekarang dei MAN 2 MODEL PEKANBARU.
Mohon kritikannya dan saran. Baru pemula

Cerpen Ego merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku

Oleh:
Sekitar jam 12 malam, terdengar deringan handphone, kemudian di ambil handphone itu oleh tiara “Hallo, siapa yah?” “ini aku kak Nanda!” “iya kak, ada apa malam-malam begini telfon?” “Tiara,

Selamat Jalan Adikku

Oleh:
Gundukkan tanah ini adalah tempat peristirahatan terakhirnya, sosok rapuh yang selama ini menjagaku. Wajah tampannya masih terbayang-bayang di otakku, senyuman beserta lesungnya masih melekat di memori hidupku. Ya Tuhan,

Perjuangan Revita

Oleh:
Nama gue Revita, gue tinggal di Jakarta Selatan. Sekarang gue sekolah di salah satu sekolah favorit dan terkenal di Jakarta, yaitu SMA Negeri 1, gue baru masuk tahun kemarin.

Selamat Jalan Pak Dudung

Oleh:
Ah, tak ada yang bisa kugambarkan secara detail tentangmu teman paling lucu, paling cengeng dan paling menjengkelkan. Pak Dudung entah kapan kita bertemu di sekolah ini dan entah kapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *