Fara Adik Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

Aku terbangun dari tidurku mencari-cari handphone (hp) ku yang sebelumnya aku taruh dengan asal di atas ranjang tadi. Aku tak menemukannya, aku melirik jam dinding di atas meja belajarku yang dulu, tanpa aku beranjak dari ranjang tetap dalam posisi tubuh tengkurap, menunjukkan pukul 05.00 pm. Aku tidur lumayan lama batinku dalam hati. Aku menggeliat malas, tanpa sengaja kakiku menendang sesuatu. Terasa empuk di kakiku.

“Aduh..” Ada seseorang mengaduh di kamarku. Aku setengah kaget dan aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata Fara adikku satu-satunya. Duduk di ranjang bagian kakiku, dan aku menendang perutnya tadi. “Sorry sorry. Gak sengaja,” kataku. Fara tak membalas perkataanku, matanya tertuju ke suatu benda empat persegi panjang tipis berukuran diagonal 5,5 inchi, yang dibawanya. Dia melihat dengan serius sekali. Baru aku sadar dia yang membawa hp-ku tadi.

“Aish. Kemarikan hp-ku.” Kataku pura-pura merajuk.
“Pinjam sebentar.” Katanya memelas.
“Aish. Tidak boleh Fara meminjam hp orang tanpa sepengetahuan pemiliknya, privasi tahu,” kataku lagi.
“Nyoh.” katanya sembari menyodorkan hp-ku.
“Kamu nggak buka sms atau chat room-ku kan?” Kataku memastikan.
“Nggak lah.” Katanya setengah bergumam.

Fara terpaut enam tahun denganku, Fara yang kini bersekolah kelas X SMA, dia cantik, bukan bermaksud memuji saudariku hanya saja aku pikir dia mirip ‘Jannina weigel” artis youtube asal thailand saat Fara lepas jilbabnya jika kau tahu orang yang ku maksud. Aku Andre saat ini bekerja sebagai karyawan tukang copy paste data di salah satu perusahaan asing. Dan juga aku seorang pria dengan wajah yang sangat ganteng. Kalimat yang barusan adalah majas hiperbola, lupakan. Jika akhir pekan tiba seperti sekarang aku sering menghabiskan waktu di rumah, aku jarang hang out, bersama teman-teman aku lebih memilih beristirahat di rumah saja hanya saja ada saatnya aku ke luar juga bersama teman-teman jika akhir pekan jika ingin. Tentu saja Fara selalu menemaniku di rumah selain ayah dan ibuku.

Tak heran jika aku dan Fara sangat dekat. Fara adalah anak yang penurut, pemalu, sedikit bicara, tidak banyak menuntut, dan patuh kepada ayah dan ibu. Sebenarnya aku gak masalah tadi dia meminjam hp tanpa sepengetahuanku, hanya saja aku ingin menggodannya, toh dia juga bisa membuka kunci pola layar hp-ku tanpa aku kasih tahu pun kodenya. Aku juga heran kenapa dia bisa melakukan itu lain kali aku akan tanyakan ke dia bagaimana dia bisa melakukannya. Aku yakin dia meminjam hanya untuk mendownload novel-novel ebook kesukaannya, berhubung buku-buku novel yang telah ia beli dengan menyisihkan uang jajannya telah habis terbaca semua. Karena hp dia hanya hp bermerek nok*a yang mendukung penerangan senter, yang tentu saja tidak mendukung untuk browsing dan download.

Fara sangat suka sekali membaca, itu jelas sekali terlihat dari luar penampilannya karena dia memakai kacamata baca di usia muda. Walaupun dalam garis keturunan keluarga kami tidak ada yang memakai kacamata. Sempat dulu aku berpikir ingin sekali aku memakai kacamata baca, dan mempunyai mata minus, aku pikir itu terlihat keren. Namun setelah aku tahu dari keluhan Fara ternyata mata minus itu, menyakitkan, sering pusing, bola mata sering terasa perih dan berat, kadang kala juga mengeluarkan air mata, maka sejak saat itu aku berubah pikiran.

Aku mengecek bbm messenger, email, dan sms. Seperti dugaanku kosong tak ada pesan masuk atau pemberitahuan apa pun, kadang aku berpikir ini hp atau kuburan kok sepi sekali. Memang saat ini tak ada seseorang yang akan repot-repot menanyakan selamat pagi, selamat malam, selamat bobo cayank, atau udah makan belum, dan blabla.. emang gak seret apa, cuma makan aja gak pernah ditanyain udah minum belum. Aku menyodorkan lagi hp kepada Fara, memberitahukan kalau downloadannya sudah selesai. Dengan girang dia menerimanya.

“Kenapa novel ‘Ayah’ punya andrea hirata ini tak ada, ya Bang ebooknya?” kata Fara.
“Memang ada novelnya yang berjudul ‘Ayah’?” tanyaku penasaran.
“Ada baru rilis belum lama ini,” jelasnya kemudian.
“Oh baru louncing mana ada versi ebooknya, gak mungkin ada lah kalau baru keluar adanya versi cetak biasanya,” jelasku sok tahu. “Wah sayang sekali, padahal aku udah lama pengen baca, harganya berapa?”
“Seratus ribu,” jawabku sekenanya.
“Mahalnya.” Katanya yang dengan mudah mempercayaiku.
“Ibu masak apa tadi, kenapa kamu tidak membantunya?” tanyaku.
“Opor ayam kesukaan Abang, sudah tadi aku bantu sudah hampir selesai sekarang,” jelasnya.
“Fara pijitin aku dong, aku cape banget nih,” kataku dengan nada memelas.
“Iya bentar, setelah aku salin file ini ke komputer,” katanya.

Fara adalah adik yang penurut tak pernah dia melawan perkataanku, jika aku menyuruhnya sesuatu apa pun dia pasti akan menurutinya, pernah dulu waktu aku membelikannya baju seragam, maksudku membawanya ke tukang jahit seragam yang terkenal bagus di kota kami tinggal, dan Fara senang sekali saat diukur badannya agar sesuai dengan seragam yang akan dibuat. Setelah itu hampir tiap malam aku menyuruhnya memijit aku dan dia dengan senang hati melakukannya, aku memang agak terdengar abang yang kurang baik seperti memanfaatkan Fara.

Tapi saat aku tidak menyuruhnya memijit dia malah menawarkan pijitannya kepadaku. Kadang aku memintanya memasakkan sesuatu yang aneh aneh tapi tetap saja dia melakukannya. Fara mulai memijit punggungku, dengan satu tangan sambil tangan lainnya memainkan hp. Hp-ku memang tak bisa diam saat berada di rumah, tentu saja tangan Fara selalu tak bisa diam dengan jari-jarinya yang lentik dan panjang selalu menari-nari di atas layar touchscreen itu. Entah apa yang dibukanya atau hanya sekedar main game pilhannya.

“Bang, ada chat masuk,”
“Dari siapa? buka aja,” kataku.
“Janet, Bang,”
“Apa isinya?” tanyaku lagi.
“Cuman PING!! doang,”
“Halah,”
“Tunggu dia sedang menulis pesan,”
Setelah beberapa saat.

“Lagi apa katanya, aku balas ya?” kata Fara.
“Huum, balas aja, lagi melakukan sesuatu yang cewek gak boleh tahu,” kataku.
“Apa maksudnya tuh Bang?” tanya Fara.
“Udah ketik aja,”
“Oke,”
“Apa jawabannya?”
“Belum di balas dibaca doang,”
Setelah beberapa saat.
“Kampret katanya, terus pakai emot melet,” kata Fara.
“Tanyain kamu lagi di mana?” pintaku.
“Okey Bang.”

“Dibalas?”
“Belum,”
“Di depan kamarmu,”
“Hah?!” kataku dan Fara hampir bersamaan.
“Dan aku masuk,” katanya bertepatan dengan pintu dibuka.
“Hai Fara?” katanya.
“Hai,”
“Boleh aku duduk?”
“Sejak kapan kau minta izin dulu di rumah ini?” kataku.
“Hehehe,” katanya.

“Ndre anter aku yuk?” katanya.
“Aku lagi gak pengen ke mana-mana,” kataku.
“Ayolah ke rental film doang,”
“Emoh ah lagi males berat, lagi cape, kamu gak lihat Fara lagi mijitin aku,” kataku sok jual mahal.
“Ayolah, entar aku belikan martabak,”
“Oke, negosiasi selesai, ayo berangkat..” kataku sambil langsung bangkit.
“Huhh.. matre,” kata Janet.
“Kadang-kadang hidup matre itu perlu,” kataku sambil ngakak.
“Huhh…” kata Janet.
“Tunggu dalam hitungan ke-50 aku akan kembali.” kataku sambil menuju ke kamar mandi.

Janet, sepupuan denganku, dia adalah anak dari kakak ayahku, umurnya 3 tahun di bawahku. Harusnya aku memanggil dia kakak, tapi aku ogah karena aku lebih tua darinya. Janet berperawakan tinggi ramping, rambut lurus panjang, mata belo, hidung bangir agak mencuat ke depan, jujur dia sebenarnya tipe cewek idamanku, tapi berhubung kami sepupuan dia tidak termasuk. Janet sudah seperti anak kandung di keluarga ini.

Jam 09.00 pm, aku masuk kamarku aku dapati Fara tertidur di ranjangku, dia tidur lelap sekali aku tak tega membangunkannya. Dia memang sering tidur di kamarku meski dia punya kamar sendiri. Dia masih memegang hp-ku, aku mengambilnya pelan-pelan, tanpa berusaha membangunkannya. Aku membuka pola layar hp-ku, langsung muncul halaman yang belum sempat Fara tutup tadi di aplikasi us browser, yang isinya artikel tentang review novel yang berjudul, “Ayah” milik andrea hirata, aku coba scroll halaman ke bawah ada sinopsisnya juga di situ. Aku membuka aplikasi chat, masih sepi kayak kuburan. Aku taruh martabak dari Janet tadi di dekat komputer. Aku menggelar kasur lantai dan tidur di samping ranjang Fara. Jam 04.15 am, aku terbangun mendengar alarm meraung.

Cerpen Karangan: Arie Alkatiri
Facebook: Arie Alkatiri

Cerpen Fara Adik Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah Maafkan Aku

Oleh:
Namaku Fitria, panggil saja dengan panggilan Fitri… Kini aku duduk di bangku Sekolah menengah pertama, tepatnya aku kelas VII. Sejak kecil aku buta, aku mempunyai seorang ayah yang bernama

Satu Ginjal Satu Dunia

Oleh:
“Hei, Alex. Tetaplah hidup sampai aku kembali!” Itulah kata terakhir yang diucapkan Ray padaku sebelum ia berangkat menuju Singapura untuk mengejar cita-citanya, yaitu menjadi dokter. Dan saat itu aku

Imayani

Oleh:
“Mamak! Daeng Sira kena bom!” Ijal berteriak dari pintu depan. Astaga, cepat-cepat ku tinggalkan kupasan kerang hijauku. Dari jauh ku lihat orang kampung sudah ramai berkumpul di Puskesmas pulau.

Tangis di Malam Takbiran

Oleh:
Aku meninggalkan bangku sekolah sejak berumur 13 tahun karena orangtuaku tidak sanggup lagi membiayaiku untuk bersekolah, padahal aku berharap bahwa aku bisa melanjutkan sekolah sampai ke tingkat SMA. Aku

Senyum Terakhir

Oleh:
Makan malam sudah siap, semuanya pun berkumpul. Dengan tangan yang bergetar Mbok Darmi pun turun ke bawah untuk makan malam. “Ini mak.” kata anaknya sambil menyodorkan piring kayu. “piring

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *