Fate

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 July 2016

Deburan ombak, suara angin pantai dan riuh suara orang-orang di pinggir pantai yang sedang berpesta menyapau gendang telingaku. Aku berdiri di depan rumahku yang berada tak jauh dari pantai menyaksikan ombak dan kerumunan orang yang tertawa gembira larut dalam pesta nelayan yang diadakan setiap tahunnya di sini. Aku tersenyum miris melihat keramaian itu, 10 tahun lalu aku juga ikut dalam luapan kegembiraan seperti mereka hingga luapan kegembiraan itu menguras seluruh kebahagiaan yang tersisa dari hidupku.

“Mommy…” seseorang berteriak padaku, aku mencari-cari arah suara itu dan melihat seorang anak berdiri di dekat pantai dan melambai padaku. Aku tersenyum dan balas melambai ke arahnya, dia yah dia adalah putraku bukti nyata jika kejadian mengerikan itu benar-benar terjadi padaku.

10 tahun lalu aku adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang sangat terobsesi untuk menjadi seorang chef. Saking terobsesinya aku sampai menempuh jarak cukup jauh untuk sekolah di SMK tata boga yang memang berada di kota. Sebagai anak yang hidup di desa nelayan pesta nelayan yang diadakan setiap tahun adalah agenda wajib bagi kami untuk pulang kampung dan merayakannya. Kebetulan pesta nelayan saat itu bebarengan dengan liburan semester jadi aku pulang ke kampung halamanku begitupun dengan kakak laki-lakiku yang sedang kuliah semester akhir.

Juan kakak laki-lakiku pulang membawa 3 orang temannya yang ingin ikut melihat pesta nelayan. Juan memperkenalkan mereka bertiga padaku, Dimas pria berwajah pribumi, Ryu berwajah jepang dan Ethan berwajah bule. Ketiga teman kakakku sangat ramah bahkan Mei adik perempuanku langsung terpesona pada mereka.

Malam hari saat pesta kami semua langsung menuju pinggir pantai menikmati ragam masakan laut yang dijajakan di sana ditemani musik tradisional. Malam semakin larut tibalah saat acara puncak yaitu menerbangkan lampion harapan agar tahun ini para nelayan mendapatkan hasil ikan yang melimpah. Kebiasaan keluargaku kami selalu menerbangkan lampion sama-sama yah meskipun ayahku bukan nelayan tapi dia juga untung besar kalau ikan melimpah karena dialah pengepul ikan disini.

“April, kakakmu dan teman-temannya tidak ada cari mereka gih biar kita bisa nerbangin lampion bareng-bareng” pinta mamah
“males ah mah telepon aja suruh mereka dateng kesini” ucapku sambil nyemil cumi kering.
“mamah gak bawa handphone udah cepetan gih sebelum acara dimulai.” suruh mamah maksa.

Aku terpaksa pergi mencari mereka sambil ngomel-ngomel sepanjang jalan. Aku terus berkeliling mencari Juan sambil meneriakan namanya hingga seorang anak menarik bajuku.
Aku berbalik melihat si black dengan cengirannya.
“Kak April cari kak Juan yah?” tanyanya
Aku mengangguk menanggapi pertanyaan bocah kecil itu.
“kak Juan ada di karang deket gua bareng pacarnya” ucapnya

Aku berterima kasih dan memberikan permen pada si Black lalu beranjak mencari Juan sambil ngomel-ngomel, gimana gak ngomel kakiku sudah pegal mencari Juan kemana-mana nyatanya dia malah pacaran. Aku berjalan ke tempat yang ditunjukan si Black dan berteriak memanggil Juan, tidak ada siapa-siapa di sana tapi aku bisa melihar siluet orang berlari tak jauh dari sana. Aku yakin itu Juan dan pacarnya yang lari karena takut ketahuan mojok olehku. Aku berusaha tak peduli dan berbalik hendak pergi tapi sebuah tangan mencekalku dan menarikku. Aku berteriak minta dilepaskan tapi tiba-tiba ada yang membekap mulutku dan menyeretku untuk masuk ke gua.

Rasa perih, sakit, lapar dan dingin itulah yang kurasakan ketika pertama kali membuka mataku di tempat asing yang tak kukenal. Aku melihat luka lebam-lebam di tanganku dan seluruh tubuhku yang tak tertutup sehelai benang pun. Air mata dan tangisku menggema di tempat kotor itu berharap seseorang akan datang menolongku. Tak berapa lama suara anak kecil mendekat, si Black melihat ke arahku dan berteriak kaget lalu langsung berlari. Aku hanya diam memandangi kepergian anak itu dengan air mata yang terus mengalir dari pipku. Selang berapa lama kerumunan orang datang ke gua itu, aku tak dapat melihat jelas orang-orang itu karena rasa sakit di sekujur tubuhku membuat semuanya gelap.

“Mommy…” Suara panggilan itu menyadarkanku untuk kembali dari ingatan masa laluku.
Aku berbalik ke arahnya dan tersenyum ketika mata birunya menatapku. Aku acak-acak rambut pirangnya lembut ketika dia memberikanku cumi kering makanan kesukaanku dulu. Dave nama putraku tersenyum ketika aku memakan cumi kering pemberiannya.
“Omma bilang mommy menyukainya jadi aku membelikannya di pesta tadi. Uh pestanya seru sayang mommy tak ada disana.” ceritanya antusias.

Aku menatapnya sedih, Dave putraku berusia 9 tahun yang kudapatkan akibat peristiwa mengerikan malam itu. Dave anak yang baik dia tak pernah nakal dan sangat mengerti keadaanku meskipun tak bisa kupungkiri terkadang ada rasa benci ketika melihatnya tapi rasa sayangku tetap mendominasi perasaanku apalagi melihat sorot mata teduh dari mata birunya membuatku merasa beruntung memilikinya.

Aku tak begitu mengingat jelas peristiwa setelah malam mengerikan itu sampai aku merasakan gerakan dalam perutku. Sesuatu bergerak dalam perutku dan memberikan rasa hangat pada seluruh jiwaku yang mati terenggut malam itu. Aku menghabiskan hariku di kamar sendirian sehingga tak ada yang tahu tentang makhluk hidup yang bergerak-gerak di perutku hingga mamahku histeris melihat perutku yang membesar. Keluargaku membawaku ke rumah sakit dan mereka langsung menangis setelah tahu aku sedang hamil.

Setelah tahu keadaanku orangtuaku mengungsikanku ke rumah bibi ibuku dan disanalah aku memualai hidup baruku sebagai seorang ibu tunggal dan pembuat cake and bakery di toko milik bibi dari ibuku itu.

“Mommy bisakah kita kembali kesini tahun depan?” tanya Dave
Aku tersenyum menanggapinya dan merangkul tubuhnya agar mendekat padaku. Aku tak sanggup memberikan jawaban apapun dan membawanya masuk ke rumah orangtuaku. Setelah Dave tidur aku ke luar dari kamar dan mendapati mamah dan Juan sedang duduk di beranda. Aku duduk ikut bergabung dengan mereka, mamah dan Juan melihat ke arahku, mereka menatap sendu ke arahku. Yah tatapan sendu itu selalu mereka perlihatkan ke arahku sejak 10 tahun lalu. Mamah dan Juan sama-sama merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku apalagi setelah Dave lahir rasa bersalah Juan semakin terlihat jelas di matanya.

“berhentilah melihatku seperti itu, semua sudah berlalu dan aku sudah tak mengingatnya lagi. Semua sudah berlalu jadi berhentilah merasa bersalah padaku” ucapku sambil berlalu meninggalkan mereka.

Yah jika aku dalam keadaan tak sadar, aku sering menyalahkan mereka. Jika hari itu mamah tidak menyuruhku mencari Juan, jika malam itu Juan tidak pergi dengan pacarnya yah mungkin hal buruk itu tak akan terjadi padaku tapi semua sudah berlalu dan takkan bisa diubah. Satu-satunya hal yang tak pernah kusesali adalah memiliki Dave yah terlepas dari bagaimana aku mendapatkannya aku tetap mencintainya.

Aroma roti dan kue yang baru dibakar menyelimuti hidung dipagi hari, Rose cake and Bakery disinilah aku tinggal dan bekerja dengan 12 orang karyawanku. toko kue legendaris milik nenek Rose kini aku kelola sendiri setelah beliau meninggal. Jika di dapur penuh dengan para pegawai yang sedang membuat roti dan kue maka di lantai atas toko tersebut Dave sibuk membuat pr yang lupa dia kerjakan karena berlibur di rumah neneknya. Aku menggeleng melihat tingkah putraku dan menyuruhnya agar cepat karena bis sekolah sudah hampir tiba.

Dave berlari ke luar toko dengan tergesa-gesa hingga menabrak pelanggan yang berdiri di depan pintu. Aku meminta maaf pada pelanggan itu atas tingkah Dave dan untungnya pria bule yang ditabrak Dave tadi tidak mempermasalahkannya. Aku terseyum pada pria itu dan pria itu langsung memperkenalkan namanya. Aku masih tersenyum menangggapi pria bule yang bernama Ethan itu meskipun aku bisa melihat pria itu menatapku sendu dan terlihat sedih tanpa alasan yang aku ketahui.

Setelah kejadian itu pria bernama Ethan terus datang ke toko setiap hari untuk membeli roti keju. Ethan masih selalu menatap sendu padaku bahkan pada Dave, terkadang matanya berkaca-kaca melihat Dave berlalu di hadapannya. Aku tak mengenal pria asing itu tapi aku dapat merasakan pria itu seperti memikul beban berat di balik mata birunya. Sebenarnya ingin sekali aku memahami apa maksud ekspresi sendu yang dia tunjukan tapi mengingat kami hanya orang asing rasanya tak sopan jika aku bertanya.

Karena pria itu sering berkunjung hingga dia mengenal semua karyawan di toko bahkan dia sudah mengenal Dave dengan baik. Melihat interaksi Dave dan Ethan kariyawanku bilang mereka seperti ayah dan anak karena mereka sama-sama berwajah bule. Aku hanya tertawa menanggapinya meskipun lama kelamaan aku juga merasa risih melihat Dave begitu senang menghabiskan waktu bersama Ethan padahal dia sosok anak yang susah dekat dengan orang asing.

Aku menceritakan kedekatan Dave dan Ethan pada Juan dan entah kenapa aku bisa melihat jelas raut tegang di wajah Juan ketika aku menyebut nama Ethan. Aku bertanya apakah dia mengenal Ethan? Juan tak menjawab dan malah mengganti bahan pembicaraan lain. Rasa penasaranku tentang hubungan Ethan dan Juan terjawab beberapa hari kemudian, aku melihat Ethan dan Juan bertemu tak jauh dari tokoku dan mereka terlihat akrab. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan tapi aku bisa melihat sorot kesedihan di wajah mereka.

Akhir pekan Ethan meminta izin untuk membawa Dave, awalnya aku menolak tapi karena Dave merengek mau tak mau aku mengizinkan. Hingga larut malam Dave belum pulang dan itu membuatku khawatir. Aku menghubungi Juan untuk meminta bantuan tapi berulang kali di telepon dia tak menjawab. Hingga entah percobaan ke berapa puluh kali akhirnya Juan menjawab.
“Hallo…” ucapnya serak
“Hallo Juan… ini aku April… Juan tolong Dave belum pulang di bawa Ethan” ucapku menahan tangis.
“Dave dibawa Ethan? yah sudah biarin aja Ethan kan bapaknya” ucapnya.
“apa kau bilang Ethan bapaknya Dave?” tanyaku heran.
“apa? Apa yang kamu katakakan?” tanya Juan gelagapan sepertinya dia baru sadar.
“Juan datang ke rumahku sekarang juga.”

Aku bolak balik di depan pintu rumahku menunggu kedatangan Dave yang tak kunjung datang juga kedatangan Juan untuk menjelaskan maksud ucapannya tadi. Tak berapa lama Dave pulang diantar Ethan, dia tertidur dan Ethan meminta izin untuk menidurkannya di kamar. Aku mengizinkannya meskipun hatiku ragu, entah kenapa ucapan Juan tadi betul-betul mengganggu pikiranku. Ethan pamit akan pulang tapi aku mencegahnya dan memintanya untuk menunggu sebentar.

Juan dan Ethan sama-sama kaget ketika bertemu di rumahku, aku melirik mereka bergantian dan dapat terlihat wajah cemas di mata mereka. Aku bertanya apa mereka saling mengenal tapi mereka hanya diam saja tak menjawab. Aku meminta mereka menceritakan hubungan di antara mereka tapi mereka masih diam. Aku bertanya tentang maksud Juan tentang Ethan ayahnya Dave mereka juga diam tapi kecemasan di antara mereka terlihat jelas. Melihat mereka hanya diam akhirnya aku menyerah dan menyuruh mereka pulang tapi tiba-tiba Ethan berlutut di hadapanku.
“Maafkan aku, sepertinya sudah saatnya kamu tahu bahwa aku memang ayahnya Dave.”
ucapnya sambil menunduk.
Aku menatap was-was pada Ethan, perasaan tak enak meyelimuti hatiku dan kejadian 10 tahun lalu berkelebatan di kepalaku.
“Maafkan aku Aprilia sebenarnya aku adalah satu dari tiga orang yang memperk*samu 10 tahun lalu” ucapnya
Aku langsung terhunyung jatuh saking shocknya mendengar ucapannya. Aku tak percaya di hadapanku sekarang berdiri salah satu bajingan yang telah menghancurkan hidupku. Tanganku mengepal begitu keras ingin menghajarnya tapi tanganku bahkan tak sanggup untuk digerakan. Aku melihat pria itu berlutut dan menangis di hadapanku tapi tak sedikitpun rasa iba di hatiku melihatnya.

Juan mendekat dan ikut bersimpuh di hadapanku sambil menunduk.
“Maafkan aku juga, sebenarnya 3 orang yang melakukan kekejian itu padamu adalah teman-teman yang kubawa pulang ke rumah. Dimas, Ryu dan Ethan” ucapnya sambil menangis.
Aku menatap marah padanya,
“sejak kapan kau tahu semua itu? kenapa kau tak melaporkan mereka pada polisi? kenapa kau malah melindungi mereka?” tanyaku marah.
“Aku baru tahu semua ini 4 tahun lalu sebelum Dimas meninggal dia menceritakan semuanya padaku. Sebenarnya aku sudah curiga saat Dave lahir dan mirip sekali dengan Ethan tapi aku tak memiliki bukti apa-apa. Saat itu juga aku kehilangan kontak dengan mereka semua jadi aku tak bisa berbuat apa-apa selain memberikanmu semangat hidup”
“keluar sekarang dari rumahku?” tegasku sambil menunjuk ke arah pintu.

Juan dan Ethan tetap diam di tempat tanpa menghiraukan ucapanku. Aku berdiri dan hendak berjalan ke arah pintu agar mereka segera ke luar dari rumahku tapi tangan Ethan mencekalku. Aku melirik tajam ke arahnya dan dia langsung melepaskan tangannya.
“aku tahu aku pria brengsek tapi bisakah kamu tetap mengizinkan aku bertemu dengan Dave walau bagaimanapun dia anakku darah dagingku”
“atas dasar apa kau mengakui Dave sebagai anakmu? Dave bukan anakmu dia hanya anakku” ucapku sinis.
“Mommy… apa itu benar?” tanya Dave dengan suara parau.
Kami melihat ke arah Dave yang berdiri dengan simbahan air mata. Aku berjalan mendekat ke arahnya tapi dia malah mundur tak ingin disentuh.
“Mommy jawab aku… apa benar uncle Ethan Daddyku? apa benar aku hadir karena Mommy diperk*sa?” tanyanya dengan isakan.
Aku hanya diam sambil terisak mendengar pertanyaannya, aku merasa miris melihat putraku diusianya yang baru 9 tahun dia harus mendengar masa lalunya yang menyakitkan. Ethan mendekat ke arah Dave dan berlutut di hadapannya. Juan juga mendekat dan memeluk tubuh Dave yang bergetar karena isak tangisnya.
“mommy jawab aku…” pinta Dave
Aku semakin terisak dan ikut terduduk di samping Ethan yang berlutut.
“Sorry sweet heart… memang benar kamu lahir karena perk*saan tapi percayalah Mommy menyayangimu sangat menyayangi. Bagi mommy kamu tetaplah anak mommy buah hati mommy” ucapku sambil mengelus-elus pipinya.
Dave menangis semakin kencang mendengar ucapanku, aku tahu ini menyakitkan baginya tapi akan lebih menyakitkan lagi jika aku berbohong dan dia tahu semuanya dari orang lain.
“jadi benar kata teman-temanku kalau aku ini anak haram” isaknya.
“tidak sayang, tidak ada yang namanya anak haram di dunia ini, semua anak sama semua terlahir dalam keadaan suci begitupun juga kamu sayang kamu bukan anak haram.”
“tapi tetap saja kan aku tak punya ayah”
“siapa bilang sayang… kan Dave punya ayah Juan, Dave juga sekarang punya Daddy Ethan ayah kandungnya Dave. Dave punya ayah, punya Daddy dan juga Mommy jadi jangan sedih lagi” hibur Juan sambil memeluk Dave.
Dave memandang kami bertiga bergantian dan beralih memelukku.
“Maafin Dave mom” bisiknya
“Maafin mommy juga sayang bisikku.
Karena lelah menangis akhirnya Dave jatuh tertidur, setelah menidurkan Dave aku beranjak untuk menemui Juan dan Ethan yang duduk di ruang tamu. Tapi langkahku terhenti ketika mendengar pembicaraan mereka.

“Sorry Juan aku sudah membuat kekacawan di keluargamu, menghancurkan hidup adikmu dan menjadikan keponakanmu hidup seperti ini”
“sudahlah semua sudah terjadi, sebenarnya apa yang terjadi saat itu hingga kalian khilaf seperti itu? aku ingin tahu cerita lengkapnya dari versi kalian karena sebelum meninggal Dimas tak menceritakan kornologinya dan hanya mengakui perbuatannya lalu minta maaf. Dia juga berpesan padaku agar jangan membenci kalian karena kalian juga sudah mendapatkan ganjarannya”
“Sebenarnya aku tak begitu ingat secara jelas, yang kuingat saat pesta nelayan itu ada bapak-bapak yang menawari kami minuman khas daerahmu, awalnya kami menolak tapi dia memaksa lalu kami meminumnya. Aku tak tahu kenapa setelah meminumnya kami merasa pusing dan kepanasan lalu kami pergi mencarimu untuk meminta obat. Kami terus mencarimu hingga kami mendengar suara seorang wanita memanggilmu. Kami mengikuti suara wanita itu dan mendapati seorang wanita berdiri di balik karang. Entahlah saat itu wanita itu membuat kami merasa semakin panas lalu kami mendekatinya. Wanita itu terus berontak ketika kami menarik tangannya hingga akhirnya menyeretnya ke gua. Aku tak tahu setan apa yang menguasai kami saat itu hingga kami melakukan perbuatan keji itu padanya.”
“Saat kami sadar wanita itu sudah tergeletak tak bergerak kami langsung takut kalau dia mati jadi kami segera pergi meninggalkannya. Saat kami sudah di jalan aku melihat sebuah cincin wanita di jari kelingkingku barulah aku sadar akan apa yang telah kami lakukan. Kami berdebat aku meminta untuk kembali sedangkan Dimas yang menyetir tak mau kembali hingga akhirnya kami rebutan setir dan terjadilah kecelakaan”
“aku tak ingat apa yang terjadi tapi ketika sadar aku sudah ada di London bersama kedua orangtuaku. Aku tak ingat apapun selama bertahun-tahun hingga cincin itu mengembalikan ingatanku lagi. Aku kembali kesini dan mencari kabar tentang kalian ke kampus kita dulu. Ternyata hanya kamu yang berhasil lulus, Ryu meninggal saat kejadian itu dan Dimas berakhir mengalami gangguan jiwa karena stress berkepanjangan”
“awalnya aku tak tahu kalau wanita yang kami perk*sa itu adikmu sampai aku melihat Dave bersama April. Sekali lihat Dave aku tahu kami berhubungan darah karena dia sama persis seperti aku waktu kecil. Aku terus menyelidiki semuanya hingga aku mengetahui kenyataan ini. Selama 2 tahun aku terus berada di samping adikmu dan memperhatikannya dari jauh tanpa berani mendekat”
“aku sudah mengakui perbuatanku pada orangtuamu mulanya ayahmu menggerekku ke polisi tapi karena kasusnya sudah ditutup dan tak ada bukti lain selain pengakuanku polisi enggan memprosesnya”
“setelah semua ini apa rencanamu?”
“aku akan menerima apapun kemauan adikmu. Jika dia memperbolehkan aku tinggal di samping Dave aku akan tinggal jika dia menyuruhku pergi aku akan pergi. Tapi jika dia menyuruhku pergi bisakah kau menjaga Dave dan memberitahukan perkembangannya padaku?”

Aku terdiam mendengar cerita Ethan, meskipun ke tiga pria itu brengsek tapi aku kasihan juga mendengar nasib naas yang menimpa mereka. Melihat kesungguhan Ethan dan juga nasib Dave rasanya aku tak berhak untuk terus menghakiminya. Walau bagaimanapun tuhan sudah memberinya hukuman berat di hidupnya rasanya tak adil jika dia tidak diberi kesempatan untuk berbuat baik.
“tinggalah di samping Dave tapi jangan berani-beraninya membawa dia pergi dariku” ucapku sambil berlalu.
Aku melihat wajah semuringah di wajah Ethan, aku tersenyum sekilas dan berlalu dari hadapan mereka. Tuhan sudah memberi Ethan untuk memperbaiki kesalahannya dan sebagai makhluknya rasanya tak adil jika aku tak memberinya kesempatan untuk hidup lebih baik bersama darah dagingnya sendiri.

Apa yang telah ku lalui memang menyakitkan tapi aku menerima semua itu jika ini memang takdir terbaik yang digariskan tuhan.

THE END

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerpen Fate merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Matahari

Oleh:
Seperti biasa, sang Ibu membangunkan anak lelakinya yang mulai remaja. Seorang anak bertubuh kekar yang diberi nama Sutrimo. Menurut orang Jawa, Su berarti baik dan Trimo berarti selalu menerima

Hujan Dalam Gelap

Oleh:
Rintik air menari di jemariku. Aku memandang langit berwarna kelabu sambil terus memainkan jari-jariku di tetesan hujan yang turun tanpa henti. Gelap, gelap! Ku katakan langit kelabu, ketika raja

Pelangi di Langit Magenta

Oleh:
Salahkah jika pelangi mencintai magenta?! Hari ini langit sore masih tetap sama seperti hari kemaren. Senyumnya masih tampak, menyambut insan-insan yang telah letih dan gusar menghabiskan waktu bersama siang.

Nino dan Coklat

Oleh:
Masa kecil nino berkecukupan, anak orang kaya. Ia anak seorang bupati di kotanya, nama bapaknya solu sumardi, hidupnya amat enak, dia besar di sekitar perumahan. Ia tidak pernah tahu

Kucing dan Beruang

Oleh:
Seekor burung pipit terbang rendah. Mengeja kata membentuk kepakan berirama untuk menuju sarang. Di sarang, beberapa anaknya telah membuat sebuah penantian dengan mulut menganga, tanda lapar. Tangis anak pipit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *