Father

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 January 2018

Aku terduduk diam, dalam heningan siang itu. Hembusan angin yang seakan menjadi saksi antara air mata yang berjatuhan di pipiku, ku mengingat kenangan indah dalam memori ingatanku. Memori yang seakan kembali terekam, air mata terus menetes karena tak sanggup menahan kesedihan yang begitu mendalam.

Seorang gadis kecil dan ayahnya yang sedang tertawa bersama menikmati hari itu dengan penuh tawa, kebahagiaan yang terukir indah jelas di sana canda, tawa, kebahagiaan yang terukir tak ada sedikitpun sebuah kesedihan yang terjadi. Gadis kecil yang begitu ia sayangi yang ia perhatikan, yang mungkin kini tak pernah lagi ia tengok atau pun bertanya bagaimana hatinya. Jelas, aku merindukan semua itu darimu ayah. Sayangnya, aku tak bisa berbuat apapun bagaimana pun juga kau akan tetap pada sikapmu, kau akan selalu bersikap seolah aku orang asing di matamu.

Aku ingat ketika kau mengatakan “Ceritalah sesukamu, jangan pernah bersedih karena ayah akan bersedih jika kau pun bersedih” ayah kau ingatkah itu? Kata kata yang sering kali kau ucapkan padaku. Air mata yang dulu terjatuh dan kau orang pertama, yang akan selalu bertanya apa kesedihanku, apa lukaku, bagaimana hatiku, apa yang membuatku sedih dan sebagainya.

Dulu, yang sering kali menengok dan menoleh padaku, ketika aku merasa sedih. Dan kini? Tak sedikitpun kau toleh aku? Perasaan yang dulu selalu kau mengerti, tentang diriku. Hingga kini tak sedikitpun kau tau bagaimana hatiku, dan segala hal tentangku. Dulu ketika aku sering bercerita, kau adalah orang pertama yang mendengarkanku hingga, kini semua itu hilang. Hanya sepi, dan air mata yang menemani balutan luka hatiku ayah.
“Ayah aku merindukanmu”

Angin yang semakin kencang menemaniku dalam kesepian dan lukaku. Tak adakah hasratmu untuk bertanya padaku bagaimana keadaan hatiku, bagaimana cerita hidupku.

Ayah kau tau? Kau memang tak membuat sedikitpun luka pada fisikku. Tapi kau membuat luka yang dalam pada hatiku yang tak pernah kau sadari.

Kau tahukah mengapa aku tak pernah berbicara sedikitpun ketika kau marah padaku? Ketika kau kecewa padaku? Aku hanya tak ingin kau tau bagaimana lukaku lalu aku memilih untuk diam dam membiarkan air mata yang menjawab segala halnya. Kau tahukah, itu sangat menyayat hatiku

Dulu ketika aku belum beranjak dewasa, kau selalu bertanya bagaimana cerita kehidupan yang selalu aku alami dan aku lalui, tapi? Mengapa setelah aku beranjak dewasa, kau mulai sedikit menutup diri dan berbicara sedikit padaku. Cerita dan kisahku yang dulu, sering kali kau dengarkan hingga kini semua hanya sebuah luka yang kusimpan dalam hati.

Ketika saat itu kau bertanya “Apakah kau tidak ingin tinggal bersama ayah?” pertanyaan yang membuat hatiku tertusuk, yang membuat air mata tak kunjung terhenti jatuh dari mataku. Ayah aku tau, banyak sekali kesalahan yang sering aku lakukan kepadamu hingga kadang rasa kecewa pun sering aku berikan untukmu. Ya aku akui aku banyak kesalahan padamu tapi aku tak sedikitpun berniat untuk membuatmu seperti itu. Mengertilah, kadang aku melakukan hal yang membuatmu sakit hanya karena aku ingin kau tau bagaimana sakitnya aku juga ketika kau lakukan hal hal itu kepadaku.

Bukan aku tak ingin tinggal padamu, aku pergi hanya untuk mengejar impian dan melanjutkan pendidikanku. Aku hanya ingin kau tau, bahwa aku tidak ingin sedikitpun merepotkanmu. Hanya saja, kau selalu memandang aku jahat dan kejam padamu. Jika aku, tak banyak bicara padamu itu karena sering kali aku kau abaikan. Jika aku sering kali menjadi pendiam itu karena kau tak pernah sedikitpun berbicara padaku.

Seringkali aku menyimpan kesedihanku,
Seringkali aku menyimpan luka hatiku,
Seringkali aku menyimpan dukaku,
Itu semata mata hanya ingin kau tau, bahwa aku akan selalu merasa bahagia meski tawa dan senyuman itu bohong. Paling tidak, aku bisa menyembunyikan semuanya dengan baik.

Ayah,
Tak banyak yang kuinginkan darimu..
Aku hanya ingin kau tau bahwa aku merindukan masa masa dimana ketika aku bisa menjadi anak gadismu yang selalu kau pedulikan. Bukan soal materi dan fasilitas bukan soal kebutuhan juga.
Tapi ini soal kehidupan dan kasih sayang lebih yang selama ini kurang kudapati darimu.

Jika saja materi bisa membuat aku bahagia aku mungkin akan selalu bahagia
Tapi sayang, materi tak mampu membuat kebahagiaan yang utuh. Aku hanya butuh kesederhanaan yang lengkap, kasih sayang yang tiada batas, keluh kesah yang sering kau dengarkan, itu saja sudah cukup membuat kebahagiaan yang tiada hentinya.

Pesanku, inginku hanya satu,
Aku hanya ingin bersamamu walau hanya beberapa menit
Tetapi paling tidak, aku mempunyai waktu untuk bersamamu. Bersamamu berbagi cerita kehidupanku yang selama ini, tak pernah sempat kusampaikan dan ceritakan padamu ayah.

“Ayah, aku merindukanmu”

Cerpen Karangan: Mutya Zulmi
Facebook: MutyaaZulmi
Ig: mutzlmy_
Line: mutyaazulmyy21

Kamsahamnida 🙂

Cerpen Father merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan 23 Oktober

Oleh:
“Namanya Pak Hasir. Adalah petani sayuran. Ia single parent, istrinya meninggal saat melahirkan anak semata wayangnya. Keluarga kecilnya -Pak Hasir dan Nining anaknya- tinggal di lereng bukit daerah Bogor.

Pesan Terakhir Melisa

Oleh:
“Dia datang sepagi ini, sungguh mengherankan” heranku saat melihat Melisa menyandarkan kepalanya di meja kelasku. Tidak seperti biasanya, dia selalu terlambat masuk kelas dan hukumanlah yang selalu diberikan pak

Setetes Air Surga (Part 1)

Oleh:
Pagi hari sebelum berangkat, bayi berumur empat bulan itu memberinya kado muntahan susu di jas kerjanya. Pembantunya memberi kado sarapan roti yang gosong. Sopir taksi yang lamban mengadoinya absen

Kado Duka

Oleh:
Hari ini aku kembali untukmu sahabat membawa setangkai bunga kesukaanmu, aku merindukanmu sahabat. Lima tahun lalu di saat hari ulang tahunmu kita bersama disini mengunjungi bundamu Membawakan seikat bunga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *