Fia dan Apel Yang Ada di Puncak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 12 May 2016

Fia berjalan sendirian sambil menendang kerikil-kerikil kecil di hadapannya. Kepalanya yang setengah tertunduk seolah memberikan pancaran kemurungan. Padahal dia adalah seorang gadis ceria dan senantiasa bersemangat. Tiba-tiba, langkah kakinya terhenti. Diliriknya pohon apel yang berdiri tegak. Pohon itu sedang berbuah lebat sekali. Dengan tatapannya yang menerawang, Fia pun perlahan mendekati pohon itu. Matanya terus memandangi apel-apel yang sangat menggiurkan. Namun matanya terbelalak pada salah satu apel yang berwarna merah terang dan tampak ranum. Sayang disayang. Apel itu justru berada di atas puncak pohonnya. Bibir mungilnya menyimpul ke samping kiri. Raut wajahnya seolah mengatakan, “Yaah…” Sebuah tanda keputusasaan. Dia pun menjauhi pohon apel itu lalu melanjutkan perjalanannya menuju rumah.

Saat makan malam. Ibu Fia melihat gerak-gerik anaknya yang tak seperti biasanya. Dia yang heran pun mencoba berbicara kepada anaknya itu dengan lembut.
“Fia! Ada apa? Kamu lagi sedih?” tanya sang ibu.
“Fia cuma cape aja kali Bu,” dusta Fia sambil memberikan senyuman terpaksanya. Makanannya di piring terlihat masih menumpuk. Tumben. Padahal hari ini ibunya memasak hidangan favoritnya. Balado telur dan semur ayam.
“Jangan bohong! Kalau kamu cape, harusnya makan yang banyak. Perut pasti laper kan kalau kecapean. Tapi kok, Ibu perhatikan makanan kamu awet-awet aja. Kenapa sih? Coba cerita aja sama Ibu?” bujuk sang ibu sambil menatap wajah anak gadisnya itu dengan serius.

“Fia… Fia emang lagi sedih Bu,” akhirnya Fia mau berkata jujur perihal perasaannya itu.
“Loh, sedih kenapa?”
“Fia sedih aja Bu. Tadi, Fia lihat pohon apel, terus berbuah banyak. Fia pengen petik apel itu,” ujar Fia sambil tertunduk. Tiba-tiba ibunya tertawa cukup kencang. Fia yang keheranan menatapi ibunya yang sedang asyik tertawa.
“Aduh… Fia Fia! Kirain sedih kenapa. Kalau kamu mau petik apel itu, ya petik aja. Kalau punya orang ya minta aja. Hahaha… Ada ada aja kamu,” sahut ibunya membuat Fia kembali lesu.

“Fia bisa aja Bu lakuin itu, tapi. Fia pengen apel yang ada di puncak pohonnya. Itu seperti meraih impian dan cita-cita Bu. Apel yang Fia pengen itu warnanya cerah, dan ranum. Seperti impian Fia. Tapi Fia belum bisa meraihnya,” ucapan Fia seketika membungkam tawa ibunya. Ibunya kini kembali menatap serius anaknya yang puitis ini.
“Fia bisa kok Bu petik apel yang deket. Tapi, itu kayak memilih mimpi yang mudah. Meski Fia pendek, tapi mimpi Fia tinggi. Melebihi tubuh Fia. Fia bertekad pengen jadi orang yang hebat. Apel di puncak pohonnya itu, kayak tujuan Fia dalam menggapai mimpi. Untuk memetiknya, butuh perjuangan. Harus dipanjat sekuat tenaga. Belum lagi ada halangan kayak digigit semut,” kembali Fia melanjutkan kata-katanya. Ibunya tersenyum manis. Lalu mengajukan pertanyaan.

“Kalau diambil pake tongkat gimana? Kan lebih mudah?”
“Iya sih Bu. Tapi itu gak ada perjuangannya. Kayak pake cara gampangan aja, gak bakal bikin bangga. Kalau diambil dengan cara dipanjat, meski cape, terus gatel gatel. Rasanya pasti bangga. Karena lewat perjuangan kita sendiri,” jawab Fia dengan mantapnya. Sang ibu pun mengelus pipi Fia dengan bangga dan kagum. Ternyata putrinya adalah karunia terindah dalam hidupnya. Sehingga hidupnya kian berarti.
“Kamu emang pinter. Kata-kata kamu bijak. Persis almarhum Ayah kamu. Andai dia di sini, dan denger kata-kata kamu tadi. Pasti dia bangga,” kata sang ibu membuatnya teringat akan sosok suaminya yang sifatnya sama persis seperti Fia.

“Ibu jangan sedih. Maafin Fia ya, malah ngingetin Ibu sama almarhum ayah. Ayah pasti bahagia kok Bu di sana. Fia yakin,” Fia mencoba menenangkan ibunya. Tangan mulusnya pun menggenggam tangan ibunya. Seraya memberikan senyuman manis dan penuh aura penyemangat.
“Iya, iya. Kamu gak perlu minta maaf. Ibu bangga sama kamu. Kamu tegar dan kuat meski kini tanpa sosok Ayah. Ibu bersyukur, Tuhan mengkaruniai Ibu anak sehebat kamu. Ibu sayang kamu Fia. Makan ya makanannya. Jangan sampe kamu sakit,” ucap sang ibu lalu membujuk Fia supaya memakan makanannya.

Fia pun tersenyum dan mulai memakan makanannya dengan lahap. Berbeda dengan sebelumnya. Ibunya tersenyum sambil terus melihat anak semata wayangnya itu menghabiskan makan malamnya. Anak gadisnya itu, kini sedang menginjak kelas 7 SMP. Fia adalah sosok yang ceria dan selalu bersemangat. Serta memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Ibunya pernah dibuat pingsan saat bu Rania wali kelas Fia, mengadu perihal Fia yang mencoba melawan copet saat di jalan pulang.

Alhasil copet itu pun berhasil dikalahkan Fia dan bahkan menjebloskan copet yang sudah menjadi buruan di kotanya itu ke dalam sel-sel besi. Sungguh sebuah flashback yang terkadang membuat sang ibu tersenyum-senyum sendiri. Bagaimana bisa seorang anak gadis kelas 7 SMP bisa melawan bahkan sampai menjebloskan copet buronan ke dalam penjara. Suatu tindakan heroik dari sosok Fia yang manis, ceria, dan polos.

Matahari pagi yang cerah menerobos masuk lewat celah-celah jendela. Di dalam kamar yang sudah tertata rapi. Fia sepertinya sudah bangun. Nampaknya matahari kembali gagal membangunkan Fia. Gemuruh suara anak-anak sekolah seolah menjadi instrumen yang sudah tak lazim lagi di tiap-tiap sekolahan. Fia berjalan dengan santai menuju ruang kelasnya. Di benaknya ia selalu berdoa supaya diberikan kemudahan dalam menjalani ujian akhir semesternya kali ini. Setiap hari ia habiskan waktu untuk belajar dan belajar. Menghafal untaian materi yang terdapat di dalam buku.

Soal-soal latihan ia kerjakan dari yang level mudah sampai susah. Bukan apa-apa. Dia lakukan hal itu demi sebuah hasil yang baik. Meski dirinya bukanlah siswi yang terlalu pandai, tapi ia selalu mawas diri supaya selangkah maju dari sebelumnya untuk jadi yang terbaik. Fia duduk di deretan bangku ke lima barisan ketiga. Dia duduk seorang diri. Memang. Masalah pertemanan, dia bukan ahlinya. Hanya sedikit rekan rekan kelasnya yang dekat dengannya. Itu karena sifatnya yang pendiam dan penyendiri. Namun, Fia tetap dikenal sebagai gadis yang periang dan mudah bersahabat.

Teeet!

Bel masuk sudah berbunyi. Semua siswa maupun siswi bersiap-siap. Seorang guru perempuan melangkahkan kakinya ke dalam kelas Fia. Tatapannya yang tajam membuat ngeri seluruh penghuni kelas. Sret! Sret! Srrt! Ssrrt! Tok! Tok! Suara gemuruh itu menghiasi kelas. Seseorang yang menyobekkan kertas. Meraut pensil. Memantul-mantulkan pulpen. Semua mereka lakukan untuk mengusir rasa tegang. Tapi Fia. Dia terlihat tenang. Rapi dan siap untuk bertempur dengan soal-soal.

Fia berjalan sendirian menuju papan mading sekolah. Tubuhnya yang pendek, mencoba berjinjit guna meninggikan pandangannya ke arah kertas-kertas yang berisi nilai. Mata bulatnya memandangi daftar nilai itu dengan hati-hati dan teliti. “Alhamdulillah! Ibu pasti seneng!” gumamnya dalam hati saat ia tahu bahwa semua nilai nilainya di atas angka 80. Benar-benar hasil kerja keras yang terbayarkan.
Begitu Fia memberitahu akan nilai-nilai hasil ujiannya. Ibunya sangat bangga dan bersyukur. Akhirnya putrinya mampu membuatnya takjub. “Ibu selalu percaya kok, kalau kamu itu emang bisa!” begitu perkataan sang ibu sambil memeluk tubuh mungil Fia.

Saat pembagian rapor. Nama Fia dipanggil pertama kali. Dengan harap harap cemas. Ibunya maju ke depan. “Selamat Ibu. Fia juara 1 di kelas ini. Ini suatu peningkatan yang luar biasa dari Fia,” puji bu Alika selaku wali kelas. Ibu Fia hanya tersenyum bangga seraya berterima kasih. Dia sangat senang akhirnya putri tercintanya itu bisa meraih puncak lewat kerja kerasnya. Akhirnya ibu Fia pun ke luar dan memeluk bangga anaknya. Saat pulang. Fia sengaja mengajak pulang ibunya lewat jalan pintas yang sering dilaluinya.

“Kamu tiap pulang lewat sini?” tanya sang ibu.
“Iya Bu. Oh iya. Itu loh Bu, pohon apel yang sering Fia ceritain!” ujar Fia seraya menunjukkan tangannya kearah sebuah pohon apel yang nampaknya sudah tua.
“Oh itu. Wahh apelnya lebat,” mereka pun mendekati pohon apel itu.

“Akhirnya aku bisa petik juga apel ini,” seru Fia sumbringah kala ia berhasil memetik apel merah terang di puncak pohonnnya dengan cara dipanjat.
“Kamu gak apa-apa kan?” tanya ibunya khawatir.
“Nggak Bu. Yuk kita pulang. Impian Fia buat petik apel itu berhasil,” sahutnya sambil tersenyum ceria. Dia pun berjalan menuju rumahnya bersama sang ibu yang sangat ia cintai.

“Apa harapan Fia di ulang tahun kali ini?”
“Mmm… Semoga Fia bisa terus maju sesuai umur Fia. Semoga Fia bisa bahagiain Ibu. Semoga kita selalu bahagia ya Bu. Amiin,” ucap Fia lalu meniup lilin yang tercancap di kue di hadapannya. Ibunya tersenyum bangga dan mengusap kepalanya. Dalam hati ia berkata. “Teruslah berusaha dengan keras Fia. Ibu selalu dukung kamu sampai kapan pun. Gapai semua impiam kamu, melebihi tingginya puncak apel itu. Ibu yakin. Kamu. Bisa. Kamu. Mampu. Anakku!”

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Fia dan Apel Yang Ada di Puncak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Yang Terpisah

Oleh:
Di salah satu SMA swasta, tampak seorang siswa masih membawa tas gendong sedikit berlari memasuki kelas menghampiri temannya yang sedang duduk di sebuah bangku. Siswa itu bernama Tyo. “Nindra!

Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 2)

Oleh:
“Surat apa ini?” Tanya wanita itu kebingungan. Dibacanya surat itu dengan perlahan “Maaf sebelumnya jika saya menaruh anak saya di depan Panti Asuhan Ibu, saya bingung harus menitipkan anak

Sang Kakek Buyutku

Oleh:
Aku mempunyai seorang kakek buyut bernama Eni djuaeni. Ia dilahirkan di sebuah desa bernama desa pasawahan dan dilahirkan dari seorang ibu bernama Oma dan ayahnya bernama Etje. Sewaktu kecil

Yupi Yupi Jadi Wi Fi

Oleh:
Namanya Nellyana Khalidah Arsyinta, kelas 4 Sd Harapan Jaya 1. Anak ketiga dari 5 bersaudara. Kakak pertamanya bernama Dodit Syahputra, kelas 1 Smp Harapan Jaya 1. Kakak kedua Nellya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fia dan Apel Yang Ada di Puncak”

  1. Allebiant says:

    Di tempat yang dekat… tak akan ada mimpi~ keren keren..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *