For My Mother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 November 2014

“hoaamm… Allhamdulillahi akhyaana ba’ daana amaa tanaawailayhirusuull” ucapku saat bangun tidur, aku melirik kalender “huraayy… Dua hari lagi hari ibu…!” seruku melonjak-lonjak kegirangan “ulang tahunku, sih! Tiga hari lagi” pikirku. “ayo…! Amiya banguun…! Cepatt…” teriak mama. “iya! Mama…” seruku…

“sudah ma!” ucapku setelah selesai mandi dan sholat, aku duduk di meja makan lalu bertanya “menunya! Apa, ma…?” mama tertawa kecil lantas berkata “kamu, pasti! Suka… Hihihi!” mama mumbuka tudung saji, “dan… Menu, hari ini, adalah…” mama membuatku penasaran… “nyam, nyam… Apa, yaa?” kataku “ini, dia…!” ujar mama “wow! Steak ayam, pudding, kentang goreng, pancake buah, dan susu chocolate” tanpa basa-basi, langsung kulahap semua yang ada di depan ku “ini buat anak mama yang ulang tahun!” ucap mama, padaku… “lho, ma! Ulang tahunku… Itu lusa…!” protesku marah. “hehehe, mama lupa! Gak papa, lah! Ini buat besok!” tawa mama kecil. “maksudnya? Apa ma,” tanyaku
“hahh…! Koreaa…? Ma,” seruku setelah diberitahu mama, “iya, korea!…?” mama menatap ku aneh… “kenapa?” tanya mama. “hihihi, nggak apa-apa kok…!” aku terdiam karena sibuk memikirkan sesuatu “rasanya… Aku sedikit khawatir nih’ tentang mama yang mau pergi ke korea. Ya, sudahlah! Aku makan saja” pikirku. “maa… Miya berangkat..!” seruku saat memasuki mobil sedan biru. “iya, nanti jangan lupa pesan mama, sepulang sekolah langsung ke bandara…!” ucap mama mengingatkan “oce!” balasku singkat. “assalamualaikum, ma!” seruku “wa’alaikum salam!” jawab mama

“tinn… Tinn…!” mobilku berhenti di depan gerbang warna abu-abu yang bertulliskan “sdit, al-kahfi” “heehh…” dengusku, “bye! Mr. Smith…!” pamitku kepada sopir keluargaku. Setelah itu… Aku melangkah ke dalam sekolah yang tidak kecil, juga tidak besar! (memang al-kahf/al-kahfi artinya itu cukup) “amiyaa…!” seru dua orang anak dengan serempak, mereka berdua menghampiriku… Dua anak itu temanku, yang satu; yuruichi mio hiyatsu (mio) & yang satunya lagi kahane avelline sayaka (velline) oh, iya lupa kenalan! Namaku natsukawa amiya hitori. “vellin…? Mio…?” ucapku melihat mereka berdua yang sedang ngos-ngosan. “gini, amiy… Ka!, eh, hehh… Eh, hehh…” kata mio yang masih dengan nada, ngos-ngosannya. “kamu kasih apa buat hari ibu besok?!” ucap vellin, meneruskan kata-kata mio. Mio mendengus kesal, “bukanya! Besoknya lagi?” aku mengotot
“emm… Apa yaa…?” aku masih terus berpikir, kulirik jam tanganku… Dengan niat nakal aku berkata “aku! Tahu…” teriakku. “apa, apa?” vellin terkaget-kaget, “iya, iya apa? Miy,” sahut mio. Ting… Ting… Tong… Ting… “aduh! Bel, bel. Iya bel ayo masuk! Hihihi ” tawaku kecil. Tampaknya vellin tidak mengerti, tetapi mio menggerutu.

“yeayy…!” bel pulang berbunyi… “sampai ketemu di rumahku…!” seru mio “haahhh…?” aku dan vellin menganga, “buat, apa?” tanyaku, “nanti… Kan’ kita ada kerjaan!” kata vellin mengingat-ingat, “yup’s! Vellin pinnteerrr…!! Deh’ kita kerjain sesuatu buat hari ibu!” puji mio. “ocheyy! Dech… Byee…” lagaku, “iihhh… Nggak kurang tuhh!” kata vellin “biasa aja! Deh miy…! Tumbenan vellin komentar” sindir mio.
“mister. Jangan pulang dulu deh’ capek!” keluhku “tapi, non. Bajunya, gimana!?” kata mr. Smith menyela. “aku, sudah! Bawa ganti! Nanti aku sms mama… Tenang, aja! Misterr…” seruku memastikan “emm…! Sepertinya ada yang ketinggalan tapi, sudahlah! Kamu ganti di belakang. Nanti kita berhenti di rumah mio!” seru mr. Smith.
Ting… Tong “mii…! Ooo…!” teriakku memencet tombol rumah mio…

Lima menit berlalu… “aku, jadi penasaran! Ada apa? Yaa…” perlahan-lahan kubuka pintu rumah mio, tahu-tahuu…
“amiyyaa… Kalau masuk salam dulu… Dong! Ya jelas aja! Enggak aku buka… Jika kamu lakukan itu lagi tidak akan aku maafkaaan…!! Hiihh…!!” ucapan itu terdengar keras di kala aku membuka pintu, semua kata-kata itu masuk dari tkktk (telinga kiri keluar telinga kanan) hingga tak bereaksi apapun padaku, (cuma kaget aja!) “iya… Iya! Lain kali tidak aku ulangi…” jawabku enteng baru mio akan melanjutkan ocehanya “assalamualaikum!” lanjutku “wa’alaikum sallam” mio tidak meneruskan kata-katanya… “ini pasti, natsukawa amiya hitori. Kan” kata seseorang yang seumuran dengan mama.
“hahh…?” aku berbalik 180 derajat “lengkap! Banget sih’ manggilnya?” pikirku “eh, tante! Iya nama saya amiya” ucapku “oh, miss. Hitori! Ada apa yaa… Datang kemari?” tanya tante miyuko “iya, anu… Tante, niura miyuko hiyatsu… Kami cuma mau kerja kelompok!” seruku membalas kening tante miyuko mengkerut. “nggak usah lengkap -lengkap kalii…” mio membela ibunya. Melihat hal itu aku teringat mama, tapi sekecil semut pun aku tak ingat pesan mama… Aku meratap sedih membayangkan hari ibu tanpa mama, yang akan pergi ke korea. “ad, ada… Apa? Miya, aku salah?” tanya mio tak pasti “tidak, kok!” aku menyeka air mata. “ya, udah. Kalau perlu apa-apa tante di dapur yaa” sela tante miyuko, “baik, tante!” kataku.

“eh! Yang rundingan disana, sudah selesai…!” dengus vellin kesal, “iya! Iyaa… Aku datang” seruku seraya tersenyum pahit, dan tertawa geli. Melihat vellin yang tengah terjebak solasi.
Satu, jam berlalu… “yeaayy, allhamdulillah…!” seruku. “apa? Yang kamu buat itu, miy?!” tanya mio penasaran. “mau, tahu aja! Atau mau tahu bangeet!” ucapku menggoda “mau, tahu bangeet!” jawab vellin tak mau kalah, “kasih tahu nggak yaa…” godaku lagi. “kasih tahu doonng…!” seru mio “ini, dia!” aku menunjukkan buku besar berwarna merah. “wow! Keren, miya!” puji mio dan vellin, saat mereka buka isi buku itu… “lho, halaman terakhir kosong?” tanya mio. “iya aku sengaja. Itu buat foto mama yang ada di korea” jelasku… “omg… Korea! Eh, temen-temen aku pergi dulu yaa…” kataku membanting pintu. “ada, apa? Sih! Amiya itu!” gerutu mio…

Sementara itu di bandara… “setelah aku masuk, aku meminta penjelasan. Tentang penerbangan menuju korea. Aku menunggu di ruang tunggu… Handphoneku berbunyi, saat ku angkat… Dan plukk…!! Hanphone ku terjatuh dari gengamanku… “pak! Rumah sakit, hyori kahano kamar icu no. 28…” seruku pada mr. Smith setelah keluar dari bandara… Ngeenngg…!! Mobilku melesat! Dengan cepat… Secepat air! Eh angin!

“braakk…” pintu kamar inap ku banting. Aku menaruh tas, “mamma…!! Maa…!” seruku histeris, sampai di kamar… Aku bergegas, menuju… “kamar kecil” (hehh… Orang anehh?) sampai-sampai penjaganya ketawa. Model penjagaan bandara tokyo air city memang lucu seperti penjagaan kerajaan-kerajaan inggris, tetapi pakai baju serem kimono gitu. Aku kembali dengan rasa nggak karuhan, takut ada apa-apa dengan mama…
“maa…?” aku membuka pintu kamar. “mama tertawa geli. Lantas berkata “amiya… Anak pintar! Di jaga yaa… Ayah, kado terakhir mama…” kata kata mama terpotong “tidaakk…! Aku tidak mau hadiaahh… Maa…” sela-ku histeris! “ihh, gr!” seru mama. Aku menatap mama aneh… Plus tidak percaya! “kado terakhir mama… Steak tadi pagi itu lhoo…” ucap mama aku kaget! Mama masih bisa membuatku ketawa… Di tengah kondisi kritisnya “mama is my super heroes!” kata kata itu terucap begitu saja dari bibir kecilku, (karena aku masih kelas dua!) dengan rasa tak karuhan aku menuliskan pada kertas terakhir… Bukuku…
Naudzu billahi min’ dzaliik…
Ya, allah… Aku tak ingin hal yang terjadi padaku… Terjadi pada orang lain… Sungguh ya, allah aku bangga dengan mama, dan ibu-ibu lainya di seuruh duniaa… Mereka membesarkan anak mereka dengan semangat tanpa pamrih… Walau kadang menjengkelkan, mereka selalu, merawat anaknya dengan baik! Sembilan bulan mereka megandung, & bagiku mereka! Adalah malaikat… Yang selalu menjagaku… Ya, allah terimakasih… Atas rahmatmu pada kami!

Mama tertawa kecil. Lantas menghembuskan nafas terakhirnya… Sebelumnya ia berkata “amiya, terimakasih!” aku yang sedang menulis pun kaget!
Karena kelelahan aku pun’ tertidur di samping mama! Dan saat aku terbangun…“hahh…?” aku tidak percaya.. “mamaa…!” aku memeluk mama erat-erat tubuh mama “hihihi, kamu kawatir yaa…! Mr. Smith yang menggendong mu kesini mama kemarin pingsan karena kecapekan, tapi anehnya mama di taruh di ruang icu” jelas mama “karena mama sudah baikan ini” aku memberikan bukuku pada mama…“selamat! Hari ibu, mama!” seruku “indah sekali amiya…! Trimakasih” ucap mama

Cerpen Karangan: Shafa Kamila Arwa
“Hai! teman-teman Namaku Shafa Kamila .u. arwa. umurku 10 thn, Please….!! suka ya! ama cerpenku”

Cerpen For My Mother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mother Is An Angel All My Life

Oleh:
Pagi itu, saat embun-embun tampak masih bergelayut, dan seakan enggan untuk tergelincir pada tangkai-tangkai pohon yang memintanya untuk terjatuh. Ditambah suara kicauan burung di atas ranting pohon, menyambut mentari

Sakit Yang Tak Bisa Dijelaskan

Oleh:
“Disaat ku belum mengerti arti sebuah percerai yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki” ya benar sepanjang malam itu lagu berjudul diary depresiku terus diputar oleh

Aku Sayang Kak Lia

Oleh:
Angin mulai berhembus menusuk kulit. Gadis ini menatap kosong ke depan. Memperhatikan dedaunan yang melayun-ayun mengikuti irama hembusan angin di depan balkon kamarnya. Tiba-tiba, pintu kamar gadis ini terketuk.

Kerinduan Terindah

Oleh:
Misool, Agustus 2006 Suara deburan ombak memecah kesunyian malam ini. suara patroli para tentara itu, bersahut-sahutan di radio. Adri malam ini ditugaskan hanya untuk menjaga pos, tidak sampai berpatroli

Goobye Ibu

Oleh:
Hai, nama gue Bella. udah satu tahun di tinggal ibu, rasanya sepi banget ini rumah ga ada ibu. biasanya ibu yang ngisi hari-hari gue. kalo inget-inget tentang ibu, gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *