Fred & Jam Kantong Ajaib

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 April 2013

Fred… Terburu-buru melangkahkan kakinya di jalanan sempit, ia melirikan matanya pada sebuah jam yang berada di tangan kanannya. Pukul 23.30 malam aku pasti akan terlambat sampai ke stasiun, kereta terakhir akan pergi sekitar 10 menit lagi kata Fred dalam hatinya. Tepat tengah malam nanti akan ada badai di kota kecil itu, berita tentang akan datangnya badai sudah di umumkan melalui radio-radio dan siaran televisi semenjak sore tadi. Kali ini Fred menongakan kepalanya ke atas langit. Hanya awan gelap dan kilatan petir yang berada diatas sana. Fred pun mempercepat langkahnya lagi melewati lorong-lorong jalan yang di penuhi oleh café-café, butik dan toko buku yang sudah pada tutup. Angin pun berhembus sangat kencang, Fred merapatkan jaketnya lalu ia melipat kedua tangan diatas dadanya.

Adakah tempat untuk berlindung dari badai ini di sini Tanya Fred dalam hatinya, ia belum tahu benar keberadaan kota itu. Fred adalah mahasiswa baru yang berkuliah di kota kecil. Sebuah kota tua yang jauh dari keramaian. Ia tinggal di sebuah Asrama dan jauh dari keluarganya. Rintik-rintik hujan sudah mulai turun membasahi bumi. Fred bernafas lega ketika ia melihat sebuah toko yang masih buka di tengah malam seperti ini. Fred mendekati lalu ia memberanikan diri untuk masuk kedalam toko.
“Selamat datang di toko ku sapa laki-laki tua berjanggut putih dengan senyuman ramahnya”.
Fred tersenyum menatap laki-laki tua yang berada di hadapannya.
“Kamu mau mencari apa anak muda Tanyanya”.
“Hmmm… Aku…aku tidak bermaksud untuk membeli sesuatu, aku hanya ingin melihat-lihat dan jika di perbolehkan bisakah aku berteduh di toko ini sebentar saja sampai badai reda jawab Fred ragu-ragu”.
Laki-laki tua itu menganggukan kepalanya.
“Nama saya Thomas, panggil saja saya Tuan Thomas katanya memperkenalkan diri”.
“Aku.. Fred kata Fred sambil mengulurkan tangannya”. Lalu mereka berjabat tangan.

Tuan Thomas lalu mempersilakan Fred untuk masuk melihat-lihat koleksi barang-barang yang di jualnya, sementara itu ia pergi ke dapur untuk membuat minuman. Fred berjalan pelan ke tengah rak-rak yang sudah tua dan berkarat, ia melihat di sekelilingnya Tuan Thomas menjual barang-barang antik dan kuno di tokonya. Dari koin-koin, buku-buku tua, Setrika kuno sampai lampu-lampu cristal yang entah di buat pada tahun berapa. Fred tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Tuan Thomas ketika orang tua itu memberikannya secangkir susu coklat panas yang dapat menghangatkan tubuhnya.
“Kamu hendak kemana di tengah malam dan hujan lebat seperti ini, Tanya Tuan Thomas”.
“Aku mau pulang, sejak sore tadi aku berada di rumah temanku untuk mengerjakan tugas, tak terasa hari sudah larut malam. Aku ketinggalan kereta terakhir dan ada badai pula, sepertinya malam ini aku terjebak disini…? jelas Fred sambil tersenyum”.
“Kamu tinggal dimana Tanya tuan Thomas lagi”.
“Aku tinggal di kota sebelah jawab Fred”.
“Bermalamlah di sini, esok pagi baru kamu pulang, sepertinya badai ini tidak akan berhenti sampai menjelang pagi kata Tuan Thomas”.
“Terima Kasih… Tuan kata Fred lalu ia meneguk minumannya”.

Tuan Thomas sangat baik dan ramah, sepanjang malam mereka berdua mengobrol, Tuan Thomas bercerita tentang barang-barang kuno miliknya. Fred pun sangat tertarik mendengar cerita pengalaman tuan Thomas memburu barang-barang kunonya tersebut. Tidak lama kemudian Tuan Thomas memberikan Fred sebuah selimut dan bantal. Fred pun tertidur diatas sofa kuno yang sedikit berdebu. Malam itu terasa sangat panjang dan damai. Sepertinya semua penduduk di kota yang berada di kaki bukit itu tertidur pulas di balik selimut mereka yang tebal hingga pagi menjelang.

Keesokan harinya Fred meruncingkan matanya ketika cahaya matahari menyilaukan pandangannya dari celah-celah jendela, ia pun terbangun dari tidurnya. Fred segera melipat selimut sambil memandang ke sekelilingnya. Dimanakan Tuan Thomas dalam hatinya, lalu ia tertegun dengan suguhan yang berada di meja makan. Tuan Thomas sudah membuati sarapan untuknya. Ada dua potong roti berisi keju yang sangat harum sekali baunya, telur rebus serta susu hangat sebagai pelengkapnya. Fred mengambil sehelai kertas yang berada di atas meja lalu ia membacanya.
“Fred… Mau kah kau menjaga toko kesayanganku sebentar saja. Aku mau menemui seseorang diatas bukit, sekitar dua jam lagi aku akan segera pulang (Tuan Thomas)”. Fred tersenyum lalu ia segera melahap makanan yang telah tersedia itu. Setelah sarapan Fred kembali melihat-lihat barang antik milik Tuan Thomas. Tanpa sengaja tubuh Fred menyenggol rak yang berada di sebelah kanannya. Lalu sebuah benda pun terjatuh mengenai kepalanya.
“Oww… Aduh!!! teriak Fred sambil mengusap-ngusap kepalanya”.
Fred mencari benda yang terjatuh itu di sekelilingnya. Ini dia… Kata Fred dalam hatinya sambil memungut benda yang berada di kolong meja. Fred memandang benda yang ia pegang, “Wow… Sebuah jam kantung yang antik kata Fred”. Ia sangat takjub melihat Jam kantung berbentuk lingkaran berdiameter kas 49 mm, semua kas pada jam kantung itu berbahan perak, mesin jam kantung itu juga masih berjalan dengan baik, menggunakan dua penutup dan mempunyai rantai yang terbuat dari perak juga, di belakang penutup jam itu bergambar motif burung dan dedaunan. Jam ini sangat indah sekali kata Fred dalam hatinya. Tidak lama kemudian Tuan Thomas datang, Fred pun langsung menyambutnya dan memberikan Jam kantung itu kepada pemiliknya.
“Jam kantung ini sangat indah sekali Tuan, maaf tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya kata Fred sambil tersenyum”.
“Ohh… Jam kantung ini, kata Tuan Thomas sambil memandang jam nya tersebut”.

Tidak lama kemudian Fred meminta ijin pulang pada Tuan Thomas.
“Mainlah kapan-kapan ke toko antik ku ini lagi Fred, aku sangat menyukaimu kata Tuan Thomas”.
“Iyah… Tuan, suatu saat pasti aku akan mengunjungi Tuan lagi di sini jawab Fred”.
“Ini untuk kamu sebagai tanda kenang-kenangan dari ku kata Tuan Thomas”.
Mata Fred berbinar-binar ketika Tuan Thomas memberikan Jam Kantung berwarna Perak itu kepadanya.
“Sungguh Tuan mau memberikan aku jam kantung ini Tanya Fred tidak percaya”.
“Iyah… terimalah jawab Tuan Thomas”.
Fred menerima jam pemberian Tuan Thomas dengan hati senang. Ia pun segera mengucapkan terima kasih pada orang tua itu.
“Itu adalah jam yang sangat istimewa yang akan membawamu ke sebuah pengalaman yang unik dan berharga, dan tidak semua orang bisa merasakannya, jika kamu bisa menemukan dan memecahkan teka-teki yang ada di jam itu. Kamu adalah orang yang beruntung jelas Tuan Thomas”.
“Maksud Tuan apa..? Tanya Fred bingung”.
Tuan Thomas tersenyum, lalu ia segera melambaikan tangannya kearah Fred. Fred pun membalas lambaian tangan Tuan Thomas, sambil tersenyum ia bergegas pergi dari toko antik itu.

Selama dalam perjalanan Fred mengamati baik-baik jam kantung dalam genggamannya. Adakah sesuatu rahasia yang tersimpan di balik jam ini, Tanya Fred dalam hatinya sambil membolak-balik jam yang berbentuk lingkaran berwarna perak itu. Sesampai di Asrama tempat ia tinggal, Fred langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Didalam kamar ia masih saja memandangi jam itu dengan cermat. Apa maksud dari perkataan Tuan Thomas tadi. Tiba-tiba Fred melihat ada sebuah ukiran yang sangat halus sekali di sekeliling pinggiran jam tersebut. Ukiran itu bukan seperti ukiran biasa tetapi menyerupai sebuah rangkaian kata. Fred tidak bisa membacanya karena terlalu kecil. Dengan rasa panasaran Fred lalu mengambil sebuah kaca pembesar, Fred mengamati dan membaca tulisan itu melalui kaca pembesarnya. “Jam ini bisa membawamu kembali ke waktu yang kamu inginkan bertepatan jika kedua jarum menuju kearah angka duabelas, ucapkan permintaanmu lalu tekan sebuah tombol diatas itu kebawah”. Wow… ini adalah jam ajaib teriak Fred dalam hatinya.
Hati Fred tiba-tiba berdetak sangat cepat setelah ia membaca tulisan yang mengelilingi jam kantung itu. Tubuhnya gemetar, apakah benar jika jam ini bisa membawaku kembali ke masa lalu tanyanya dalam hati. Fred lalu membaca tulisan itu dengan benar sekali lagi. Fred tertarik untuk menguji kebenaran jam kantung itu. Aku harus menunggu jam duabelas malam untuk membuktikan jika yang aku baca sekarang ini benar-benar nyata kata Fred dengan matanya yang berbinar-binar.

Malam harinya Fred berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia tidak sabar menunggu jam duabelas malam untuk membuktikan kebenaran jam ajaib itu. Fred terdiam terpaku ketika detik demi detik jarum itu mendekati angka yang di tunggu-tunggunya. Hati Fred berdetak kembali dengan kencang, ia menjadi gugup lalu ia berkata dengan kencang “Aku ingin kembali kewaktu dimana sebelum aku di lahirkan”. Fred lalu menekan tombol yang berada tepat di atas jam bertepatan dengan kedua jarum itu bergeser ke angka duabelas. Sepersekian detik tiba-tiba seisi barang-barang yang berada di dalam kamar Fred berputar-putar dan berterbangan mengelilinginya, seperti ada angin Tonardo di kamar Fred. Fred pun merasa pusing karena ikut berputar-putar ia pun melayang seolah dunia ini telah terbalik dan Fred pun menghilang.

Apakah aku sekarang telah berada di Surga kata Fred dalam hati sambil membuka matanya perlahan-lahan. Dimana aku kata Fred lagi… ia menatap keadaan di sekelilingnya. Hmmm… Sepertinya aku telah tertidur dan berada di sebuah kamar, Fred bangkit dari sebuah ranjang tua lalu dengan ragu-ragu ia melangkahkan kakinya menuju sebuah cermin. OHHHH… tidaakkkkk siapa kah aku yang sebenarnya? teriak Fred ketika ia bercermin dan mendapatkan seorang laki-laki lain yang berada di hadapannya. Fred menepuk-nepuk kedua pipinya, ia berdoa dan berharap jika keadaan yang di alaminya sekarang hanyalah sebuah mimpi dan bukan kenyataan. Tidaakkkk… siapakah aku sekarang Tanya Fred lagi di dalam hatinya. Fred lalu mengambil sebuah bingkai foto diatas meja belajar, ia melihat foto laki-laki yang sekarang menjadi dirinya sedang merangkul seorang laki-laki lain disebelah kanannya dan seorang wanita yang sangat cantik di sebelah kirinya. Mungkinkah mereka berdua adalah teman dekat laki-laki ini pikir Fred.
Tok…tok…tok… terdengar pintu kamar itu telah di ketuk oleh seseorang. Fred tampak panik, harus kah aku membuka pintu itu tanyanya dalam hati. Fred menarik nafas panjangnya ia berusaha untuk tenang lalu membuka pintu itu perlahan-lahan.
“Hai… Luke Ayoo cepat pakai Mantel mu, Holly sudah menunggu kita di bawah kata seorang laki-laki yang wajahnya menyerupai dengan laki-laki yang berada di foto tadi”.
“Lu… Luke…? Itu nama ku Kata Fred kaget”.
“Apa… Kamu sudah mulai gila yaa, masa lupa nama sendiri. Sudahlah jangan bercanda kata laki-laki itu sambil tertawa terbahak-bahak”.
Fred mengerutkan keningnya, ia tampak masih bingung dengan kehidupan yang ia alami saat ini.
“Ayoolahhh cepat teriak laki-laki itu lagi sambil melempar sebuah mantel yang tebal kearah Fred”.
Fred memakai mantelnya lalu ia mengikuti laki-laki itu dari belakang menuruni anak tangga dan keluar dari sebuah gedung tua yang di tinggali oleh Luke. Pada saat itu sedang musim dinggin, salju turun seperti butiran mutiara yang berjatuhan. Jalan raya pun telah memutih di selimuti oleh salju salju yang sudah mulai meninggi.

“Hai… Drew kenapa kamu lama sekali memanggil Luke, Lihat aku sudah hampir membeku di luar sini kata seorang wanita cantik sambil tersenyum memandang Fred”.
“Kita mau kemana… Tanya Fred memberanikan diri”.
“Lho… kamu lupa yaa hari ini kita kan sudah janjian mau bermain snowboard di kaki bukit kata Holly sambil tertawa”.
“Wew… Lihatlah Holly sekarang Luke sudah mulai tua dan pikun, tadi saja dia bertanya siapakah namanya jawab Drew sambil tertawa juga”.
Fred tersenyum melihat kedua orang yang berada di depannya. Ternyata mereka bernama Drew dan Holly sepertinya mereka berteman baik dengan diri ini pikir Fred dalam hatinya. Tidak lama kemudian mereka bertiga menaiki Bus yang hendak membawa mereka ke tempat tujuan. Fred memandang Holly dan Drew yang sedang asyik bergurau. Sepertinya aku pernah melihat wajah mereka sebelumnya dan aku merasakan tidak asing lagi dengan mereka. Drew dan Holly kedua nama itu juga sangat familiar di otak ku. Yaaa Tuhan… Kenapa batin ini terasa sangat dekat dengan mereka. Huhfff… mungkinkah karena diri ini sudah berteman lama dengan mereka kata Fred dalam hatinya.

Akhirnya mereka bertiga tiba di kaki bukit, lalu Drew, Holly dan Fred segera bersiap-siap memakai peralatan mereka untuk meluncur dari atas bukit dengan menggunakan papan seluncurnya.
Seraaangg… Teriak Holly dan Drew sambil tertawa terbahak-bahak, lemparan bola-bola salju itu pun mengenai wajah Fred yang sedang melamun merenungi nasibnya yang kini telah terjebak didalam tubuh Luke dan entah berada dimana ia sekarang. Fred terkejut lalu ia tersenyum dan membalas melempar bola-bola salju itu kearah Holly dan Drew juga.
“Ayoo kita jalan keatas lagi… Guys ajak Holly sambil membersihkan mukanya dari butiran salju”.
“Kamu pergi duluan kesana, aku mau bicara dulu sebentar dengan Luke jawab Drew sambil tersenyum”.
Drew menghampiri Fred setelah Holly meninggalkan mereka berdua.
“Hai… Luke aku mau berbicara sesuatu yang serius denganmu bisik Drew”.
“Kamu mau berbicara apa jawab Fred panik”.
“Aku berencana mau melamar Holly bisik Drew lagi sambil tersenyum”.
“Me… melamar Holly Tanya Fred bingung”.
“Iyah… bagaimana pendapatmu Tanya Drew”.
Waduhhhh… gawat aku harus menjawab apa nih kata Fred dalam hatinya. Aku kan tidak tahu dan belum lama mengenal mereka berdua.
“Lho… Kok jadi melamun, kamu sakit yaa kata Drew”.
Fred menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lalu apa pendapatmu Luke Tanya Drew lagi”.
“Hmmm… Kamu dan Holly telah berpacaran berapa lama sih, aku lupa kata Fred basa-basi”.
“Wow… Semalam Kamu abis minum apa sih, masih mabuk kah teriak Drew sambil menertawai Fred yang kelihatan bingung”.
Fred tertawa tetapi didalam hatinya ia sangat panik.
“Hai… Man, kita bertiga sudah berteman sejak kecil… Aku dan Holly juga sudah lama berpacaran… Hmmm sudah ingat kah kamu sekarang jelas Drew sambil mengetuk-ngetuk kening Fred dengan tangannya”.
Fred akhirnya bisa bernapas lega lalu ia tertawa lepas.
“Yaa… Aku baru ingat sekarang teriak Fred sambil tersenyum memandang Drew”.
“Lalu…? Kata Drew”.
“Hmmm… Jika kamu sudah siap, lamarlah Holly. Aku rasa ia pasti senang dan akan menerimanya jawab Fred sok tahu”.
“Aku sangat tergila-gila sekali padanya, Holly semakin cantik sekarang kata Drew sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Holly yang telah sampai di atas”.
“Aku mendukung kamu, jika kalian berdua berbahagia. Aku pun juga ikut bahagia kata Fred sambil menepuk pundak Drew”.
“Terima kasih Luke, kamu adalah sahabat terbaikku bisik Drew”.

Sesaat kemudian Holly meluncur dari atas bukit menghampiri Fred dan Drew.
“Guys… Ada pengumuman dari pengelolah tempat ini, kata mereka dua jam lagi akan ada badai salju dan kita disuruh cepat pergi dari bukit ini kata Holly ketika menghampiri Fred dan Drew”.
“Yang benar…? Kata Fred”.
“Iyah… Dan setengah jam setelah pengumuman berlaku, pemerintah memutuskan untuk melarang semua transportasi beroperasi, karena badai salju ini sangat extrim jelas Holly”.
“Wow… Berarti kita akan terjebak disini kata Drew”.
“Yup… Terpaksa kita harus bermalam disini jawab Holly lemas”.
Menginap di tempat ini? Hmmm… sampai berapa lama kah aku terjebak di dalam diri Luke, aku sangat merindukan kehidupanku yang sesungguh kata Fred dalam hatinya.
“Aku tidak mambawa uang banyak, bagaimana kita bisa membayar penginapan buat nanti malam kata Drew”.
“Ayo kita gabungkan uang yang kita pegang semuanya untuk membayar penginapan usul Holly”.
Drew dan Holly cepet-cepat membuka dompetnya dan mengeluarkan semua uang yang berada di dalamnya. Fred meraba-raba kantung baju dan celananya ia pun berharap Luke mempunyai uang. Fred tersenyum lega begitu ia mendapatkan sebuah dompet di dalam kantung celananya.

“Uang kita bertiga masih belum cukup untuk membayar penginapan dan makan kata Holly sambil menghitung beberapa lembar uang yang di pegangnya”.
“Disini tidak ada ATM…kah? Tanya Fred”.
“ATM…itu apa? Tanya Holly”.
Yaaa ampun… Mereka tidak mengenal ATM, berada di tahun sekarang Tanya Fred dalam hatinya.
“Holly kamu pergi duluan ke penginapan dan pesan satu kamar dengan uang yang kamu pegang. Aku dan Luke akan berusaha untuk mencari kekurangannya jelas Drew”.
“Okei… Aku tunggu kalian berdua di penginapan kata Holly”.
“Baiklah… Aku dan Luke akan kembali sebelum badai datang jawab Drew sambil tersenyum”.

Fred mengikuti langkah Drew… mereka berdua berjalan menuruni kaki bukit menuju sebuah kota kecil. Fred dan Drew menyelusuri jalan kecil dan lorong-lorong yang di penuhi oleh toko-toko yang berada di sebelah kanan dan kiri mereka. Fred memandang di sekelilingnya, ia terlihat bingung dan familiar dengan tempat itu.
“Kita masuk ke toko itu kata Drew sambil menunjukan jarinya kearah sebuah toko tua”.
Tidak lama kemudian Drew dan Fred masuk kedalam toko itu.
“Selamat datang di Toko ku sambut laki-laki tua berjanggut putih sambil tersenyum pada mereka berdua”.
Fred memandang tajam laki-laki pemilik toko itu.
“Ada yang bisa saya bantu katanya”.
“Aku mau menjual sesuatu, apakah Tuan mau membelinya Tanya Drew ragu-ragu”.
“Apa yang hendak kamu jual, Nak Tanya laki-laki itu”.
Drew mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu segera ia berikan pada pemilik toko itu”.
“Wow… Sebuah Jam Kantong kata laki-laki itu dengan matanya yang berbinar-binar”.
“Iyah… Aku mau menjual jam ini, Hmm… jam kantong itu pemberian kakek buyutku. Jam ini sangat bagus dan berharga sekali jelas Drew”.
Fred memandang jam yang di pegang oleh laki-laki tua itu. Jam…yaaa jam itu? Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana. Yaaa Tuhan aku tidak ingat, aku seperti kehilangan ingatan. Toko dan laki-laki tua itu sepertinya aku juga sudah pernah datang kesini dan ke kota ini sebelumnya. Fred terlihat bingung dengan semua apa yang telah di alaminya sekarang. Ingatannya mengambang.

“Kamu yakin mau menjual jam antik ini Nak Tanya laki-laki itu”.
“Iyah… jawab Drew mantap sambil menganggukan kepalanya”. Sementara itu Fred masih terlihat bingung. Pemilik toko itu lalu mengeluarkan beberapa lembar uang lalu ia segera memberikannya kepada Drew”.
“Terima kasih kata Drew sambil menerima uang itu”.
Tidak lama kemudian mereka keluar dari toko tersebut.
“Kamu tidak menyesal menjual jam itu Tanya Fred ragu-ragu”.
“Yaaa… Apa boleh buat daripada kita bertiga mati kedinginan di bukit itu jawab Drew”.
“Jam itu sangat bagus kata Fred”.
“Yup… Aku sangat sayang sekali dengan jam itu. Jam kantong pemberian kakek buyutku jelas Drew”.
“Hmmmm… sayang sekali kata Fred lesu”.
“Biarlah… Tidak apa-apa mungkin sudah saatnya aku melepaskan jam itu. Aku berharap suatu hari nanti seseorang yang baik yang akan mendapatkan jam itu kata Drew sambil tersenyum memandang Fred”.

Fred dan Drew kembali ke penginapan. Badai salju turun sesaat kemudian setelah mereka tiba disana. Fred, Drew dan Holly berteduh di sebuah kamar yang sangat nyaman, mereka bertiga mengobrol sambil bersenda gurau di depan perapian yang menghangatkan tubuh mereka. Tiba-tiba Drew menyatakan perasaannya yang begitu dalam pada Holly. Dengan mata yang berbinar-binar dan penuh dengan pengharapan Drew bersimpuh di hadapan Hooly, lalu ia melamar kekasihnya itu di saksikan oleh Fred. Wajah Holly memerah, ia sangat terkejut dengan pernyataan kekasihnya, tampak kebahagiaan terpancaran di sinar matanya. Holly menerima lamaran Drew. Fred sangat tersentuh melihat kejadian itu, ia pun merasa bertambah dekat dengan kedua orang yang baru saja di kenalnya. Fred merasa nyaman berada di tengah-tengah Drew dan Holly. Ia pun sampai berpikir suatu hari nanti jika ia meninggalkan tubuh Luke pasti akan terasa berat untuk meninggalkan kedua sahabat barunya itu. Akhirnya mereka bertiga pun tertidur di depan perapian dan beralaskan karpet yang tebal dan hangat.

Apa… sekarang aku berada di tahun 1940 teriak Fred dalam hatinya. Pantas saja pakaian yang aku kenakan agak tua dan tidak ada mesin ATM di sini pikir Fred ketika ia membaca Koran sambil menyantap sarapan paginya. Sungguh sepertinya aku pernah berada di kota ini tapi aku tidak ingat pasti. Aku yakin di kehidupan aku yang sebenarnya aku mengenal kota ini kata Fred penasaran.
“Luke… ayo kita pulang ajak Holly sambil bangkit dari kursinya”.
Fred beranjak dari kursinya lalu ia pergi menuju halte Bus bersama dengan Drew dan Holly. Seminggu sudah Fred terjebak di dalam diri Luke, ia sudah mulai terbisa dengan kehidupan di jaman itu. Holly dan Drew adalah sahabat yang baik, Fred pun mulai menyayangi dan takut kehilangan mereka. Fred membantu Drew dan Holly menyiapkan barang-barang yang di butuhkan untuk pernikahan mereka, bahkan Fred yang memilih cincin pernikahan mereka. Tiga hari lagi Drew dan Holly akan segera menikah. Wah… Betapa bahagianya mereka, ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan kata Fred dalam hatinya. Drew meminta Fred menjadi pendamping di altar pernikahannya nanti. Fred juga yang memegang dan yang akan menyerahkan cincin pernikahan itu kepada sahabatnya.

Pagi itu Fred mengenakan setelan jas hitam, ia tampak semangat dan bahagia sekali. Fred lalu bercermin ia melihat wajah Luke di hadapannya. Luke terlihat sangat tampan sekali kata Fred dalam hatinya sambil tersenyum. Dua jam lagi Drew dan holly akan menikah. Sangat romantis sekali mengikat janji sehidup semati di musin dingin seperti ini kata Fred dalam hatinya. Fred menarik napas panjang…hmmm aku sudah hampir terlambat, lalu Fred pun segera keluar dari kamarnya dan pergi menuju gereja. Waduhhhh… Damn? Dimana letak gereja itu kata Fred sambil menepuk keningnya. Aku tidak mengenal daerah ini, gawat jika nanti aku terlambat datang kesana. Cincin mereka aku yang pegang teriak Fred dalam hatinya. Fred pun buru-buru berlari.

Fred tersesat sementara itu Drew gelisah berjalan mondar-mandir di depan gereja menunggu kedatangan Fred. Dimanakan Luke sekarang berada, mengapa ia belum juga muncul. Setengah jam kemudian pengantin wanita tiba, Holly sangat cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Drew semakin gelisah dan cemas menunggu kedatangan Fred sementara itu acara pernikahannya akan segera di mulai.

Holly tersenyum lalu ia berjalan didampingi Ayahnya mendekati Drew yang sedang menantinya di depan Pendeta. Dentingan piano mengeiringi langkah Holly, para tamu pun tersenyum memandang dan mengagumi sang pengantin wanita. Dimanakah Luke sekarang, aku takut terjadi apa-apa dengan dia kata Drew dalam hatinya. Tiba-tiba terdengar suara dencitan rem mobil serta suara hantaman benda keras diluar gereja. Orang-orang yang berada didalam gereja pun pada berlari berhamburan keluar. Lukeeee… teriak Drew cemas lalu ia berlari keluar di ikuti oleh Holly di belakangnya. Drew menerobos kerumunan orang-orang yang berada dipinggir jalan.

Dugaan Drew pun benar ternyata yang tertabrak mobil itu adalah Luke sahabatnya. Tiba-tiba Fred keluar dari tubuh Luke. Luke terluka sangat parah kepalanya terbentur trotowar dan mengeluarkan banyak darah. Fred sangat terkejut melihat kejadian itu. Drew memeluk Luke ia menepuk-nepuk pipi Luke. Luke tidak sadarkan diri akhirnya ia meninggal di tempat kejadian. Tidaakkkkkk… Bangun Luke…bangun kamu harus tetap hidup, kamu harus melihat kami berdua menikah teriak Drew sambil meneteskan airmatanya, sementara itu Holly histeris lalu berusaha untuk memeluk Luke. Aku harus masuk kedalam tubuh Luke lagi, aku tidak akan membiarkan ia meninggal kata Fred. Fred lalu mendekati tubuh Luke tetapi tubuh luke tidak bisa di raihnya. Fred menangis melihat tubuh Luke yang tengah di peluk oleh Drew dan Holly. Tiba-tiba Fred merasa pusing dan dunia terasa berputar-putar ia pun akhirnya menghilang dan meninggalkan jaman itu.

Fred tersadar…lalu ia mendapatkan dirinya sedang tergeletak diatas lantai sambil menggenggam jam kantong miliknya. Fred memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Ia lalu menangis menyesali kejadian yang menimpah Luke. Berhari-hari sudah Fred mengurung dirinya di kamar, ia begitu frustasi dengan apa yang telah dialaminya. Fred merasa bersalah karena kecerobohannya ia telah mencelakakan diri Luke lalu membuat Drew dan Holly bersedih di hari pernikahannya. Fred memutuskan untuk kembali pulang kerumah orang tuanya agar bisa beristirahat dan menenangkan pikirannya.

Fred berjalan lunglai mendekati Mama nya yang sedang membersihkan gudang dilantai bawah rumahnya. Mama tersenyum melihat anaknya yang terlihat muram.
“Hi… Bantu Mama membuka peti ini Fred kata Mama”.
“Okei Mam… jawab Fred sambil berusaha membuka sebuah peti yang penuh dengan debu itu”.
Fred membuka peti itu lalu ia melihat banyak album foto yang berada didalamnya. Fred mengambil sebuah album lalu ia membukanya lembar demi lembar foto tua itu. Tiba-tiba Fred terperanjat kaget melihat sebuah foto yang ia kenalin betul rupanya. Fred melihat foto yang sama dengan foto yang ia lihat sewaktu di kamar Luke. Yaa… itu foto Luke bertiga dengan Drew dan Holly.
“Mam… Ini Foto siapa Tanya Fred penasaran”.
“Itu kan foto Kakek dan Nenek Buyut mu?? Masa kamu lupa jawab Mama”.
“Buyut… kata Fred”.
“Iyah… mereka Kakek dan Nenek Mama jawab Mama lagi”.
“Apakah mereka bernama Drew dan Holly Tanya Fred pelan”.
“Iyah benar, tetapi mereka tinggal jauh sekali dari sini kata Mama”.
“Me… mereka masih.. hi…hidup Tanya Fred”.
“Yup… Kamu kan pernah bertemu dengan mereka sewaktu kecil, kamu lupa? Tanya Mama”.
“Aku ingin bertemu dengan mereka Mam, beritahu alamat mereka. Aku akan menjenguknya jelas Fred dengan matanya yang berbinar-binar”.

Fred akhirnya pergi mengunjungi Drew dan Holly sahabat lamanya yang sekarang menjadi Kakek dan Nenek Buyutnya. Mama bercerita Drew dan Holly adalah pasangan suami istri yang mempunyai hobby berpetualang. Mereka sering berpindah-pindah tempat dari kota satu ke kota lainnya. Mama sendiri pun tidak begitu dekat dan mengenal Drew dan Holly. Aku sangat rindu dengan mereka kata Fred dalam hatinya. Mudah-mudahan Drew dan Hooly belum pindah ke kota lain setiba aku di sana harap Fred dalam hatinya. Fred segera berangkat menaiki kereta menuju rumah Kakek dan Nenek Buyutnya.

Fred berdiri di depan rumah tua yang bercat putih. Hatinya berdetak sangat kencang lalu dengan ragu-ragu ia memencet bel rumah itu. Fred memandang seorang wanita tua di hadapannya, ia begitu cantik dan menyerupai Holly sewaktu muda.
“Kamu siapa Tanya wanita tua itu”.
“Aku… aku Fred jawab Fred menetaskan airmatanya”.
“Fred… Cucu ku kata wanita tua itu”.
Fred menganggukan kepalanya lalu ia segera memeluk Holly dengan eratnya.
“Aku rindu denganmu bisik Fred sambil mengusap airmatanya”.
“Aku juga rindu denganmu kata Holly sambil tersenyum”.
Holly mengajak Fred ke halaman belakang rumahnya, lalu ia mendapati Drew sedang duduk bersantai sambil membaca Koran.
“Lihatlah… Drew siapa yang datang menjenguk kita berdua teriak Holly”.
“Ohhhh…Fred kau kah itu Cucuku…? Fred kamu sudah besar sekali sekarang teriak Drew”.
Fred dan Drew berpelukan Ia begitu bahagia sekali. Fred lalu mulai bertanya tentang kejadian yang menimpah di hari pernikahan mereka. Drew dan Holly terkejut mendengar pertanyaan Fred. Fred lalu berbohong ia berkata bahwa ia mendengar tentang kejadian itu dari Mama nya, Holly tersenyum Lalu Drew bercerita ternyata Luke adalah salah satu seorang aktivis yang menentang pemerintahan diwaktu itu. Dan ia menjadi salah satu target untuk di bunuh karena dianggap sebagai pemberontak Negara. Luke sengaja di tabrak oleh sebuah mobil tepat di hari pernikahan Drew dan Holly.
“Dia adalah sahabat dan pahlawan bagi kami berdua kata Holly sambil meneteskan airmatanya”.

Pernikahan Drew dan Holly di undur seminggu setelah hari kematian Luke. Mereka berdua sangat kehilangan seorang sahabat dekat yang sangat baik. Hati Fred menjadi lega setelah mendengar penjelasan Drew dan Holly. Ternyata kematian Luke itu bukan karena kesalahannya tetapi karena hal lain yang telah di rencanakannya. Fred lalu memeluk kembali Drew dan Holly dengan erat. Aku adalah Luke sahabat kalian yang telah Berreinkarnasi menjadi cucu kalian kata Fred dalam hatinya. Fred mengeluarkan jam kantong milik Drew dari saku celananya. Lalu ia memberikan jam itu pada Drew.
“Wow… Jam Kantongku teriak Drew”.
“Ini aku kembalikan jam Kakek kata Fred”.
“Kamu mendapatkan jam ini dimana tanya Drew”.
“Di toko tua milik Tuan Thomas jawab Fred”.
“Ohh… Toko Antik yang berada di kota tua di kaki bukit itu kata Drew”.
Fred tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

“Ambilah buat kamu, jaga Jam itu baik-baik kata Drew sambil menatap tajam mata Fred”.
Sejak saat itu Fred sering datang serta menginap di rumah Drew dan Holly. Mereka bertiga menjadi akrab dan suka pergi bersama-sama menyelusuri kota tua yang pernah mereka singgahi sewaktu dulu. Suatu hari Fred pun pernah mengajak Drew mengunjungi Toko milik Tuan Thomas, tetapi sayangnya toko itu telah tutup dan telah berganti dengan toko roti. Fred bersyukur ia bisa berkumpul kembali dengan kedua sahabatnya yang kini telah menjelma sebagai Kakek dan Nenek buyutnya dan ia pun tidak akan melupakan kejadian yang ia alami bersama dengan jam kantong ajaibnya itu.

( TAMAT )

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com
hi selamat membaca cerpen terbaru ku, mudah2an teman-teman menyukainya 🙂

Cerpen Fred & Jam Kantong Ajaib merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara Gara Cicak

Oleh:
“Woy, Jadi gak ke rumah gue ntar siang?” Ucapku sambil sedikit teriak. “Iya dong, tentu saja. Ntar aku mau bawa Netbook ah, rumahmu ada wifi-nya kan?!” Ucap salah satu

D (Part 1)

Oleh:
Labil. Tatkala angin sedang bergejolak ke sana-sini, semua yang disapanya bergerak mengikuti alur balapnya. Entah karena semangat, atau karena alasan lain, menjadi bergerak. Batu juga. Kata kisah orang-orang terdidik,

Sahabat Selamanya

Oleh:
Malam ini sangat dingin. Mungkin karena hujan yang begitu deras di sertai petir yang besar. Melody memeluk mamanya karena kedinginan. Padahal Melody sudah memakai sweater yang tebal. Tetapi, masih

One Call Away

Oleh:
“Kenapa aku?” “Ya kamulah.” Tania menjawab jutek. Aku hanya menunduk. “Sekarang gini deh, yang pacar aku siapa? Kan kamu! Masa aku minta tolong orang lain buat ngelakuin hukuman aku?

Percikan Api

Oleh:
Sudah lima menit ia menatapi percikan api yang timbul saat mesin las menyentuh pipa besi. Memerhatikan ayahnya yang sedang bekerja. “Kamu nggak main, Nak?” tanya si Ayah, sambil terus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Fred & Jam Kantong Ajaib”

  1. Kalau di angkat menjadi film pasti sangat bagus.. Dengan suasana modern di kembalikan ke zaman yang saat itu belum ada ATM.. Wah keren..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *