Gadis Bergaun Kebencian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 29 April 2016

07.00 am
Ku awali pagi ini dengan senyuman yang indah. Tatapan mata yang ceria dan penuh dengan riang. Hari ini aku sudah merencanakan sesuatu untuk ibu tercinta, beliau ulang tahun untuk yang ke-41. Tahun lalu aku hanya bisa mengucapkan lewat telepon karena ia sedang bertugas di luar kota. Namun tahun ini akan ku persembahkan semanis mungkin untuknya, semanis kasih sayangnya untukku.

“Wah, girang banget kamu pagi ini Dew,” Temanku menyahut ketika aku sedang berjalan riang di koridor sekolah.
“Iya dong,” aku terus berjalan menuju kelasku. Ah, aku tak sabar untuk nanti malam.
“Kesambet apa kamu? ciee sedang jatuh cinta ya,” Gurau Lily, teman sebangkuku, dia adalah sahabatku, dia baik dan juga pandai membuatku senang.
“Enak aja jatuh cinta.” kataku pura-pura ketus.

“Terus kenapa? apa jangan-jangan kamu mau…” dia sengaja memotong kalimat akhirnya, huh.
“Mau apa?”
“Mau teraktir aku makan mie ayam, bakso, sate, soto, kupat tahu, nasi goreng, rujak… (bla bla bla) iih terima kasih banget ya,” buset nih anak.
“Iya, iya nanti aku teraktir itu semua, kalau aku sudah jadi presiden, oke?”
Hahaha aku benar-benar ingin ketawa sekeras-kerasnya. Melihat ekspresi polos Liliy yang aduhai o’onnya.
“Sampai Bimo kurusan juga belum tentu tuh kamu jadi presiden.” aku langsung melirik ke arah Bimo, ia adalah siswa terbesar di sekolahku. Kalau masuk kelas saja ia harus bersusah payah, apalagi kalau ke WC. Ckck.

“Eh, ya aku minta bantuanmu dong, Ibuku kan besok ulang tahun, dan nanti malam acaranya gini,” Aku menyodorkan secarik kertas yang berisi rencana ‘istimewaku’.
Lily mengambilnya dan membacanya sebentar. “Oke! Apa sih yang enggak untuk sahabatku yang pengen banget jadi ‘presiden’.” Lily tersenyum manis, ia adalah sahabat yang paling pengertian, thanks Ly.

03.00 pm
Saat aku tiba di rumah, dari sepanjang jalan menuju kamarku, ku dengar ibu sedang bertengkar dengan suami ‘barunya’ itu. Suaranya terdengar riuh rendah. Aku tak begitu paham apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas aku benar-benar muak dengan ‘lelaki’ yang satu itu, entah mengapa bisanya ibu memilih ia untuk menggantikan almarhum ayahku. Pada waktu itu aku percaya bahwa pilihan ibu untuk mencari suami adalah pilihan orang yang terbaik, tapi sekarang aku benar-benar sadar bahwa ‘lelaki’ itu adalah seseorang yang mengerikan.

Baru-baru ini aku mengetahui suatu rahasia dari ‘lelaki’ itu ku dengar kalau ia kabur dari penjara dan setelah itu menikahi ibuku. Entah mengapa sampai saat ini aku tak melihat polisi mengejarnya, malah ku lihat ia dengan bebas berkeliaran. Tadi sebelum aku ke rumah, aku sudah mampir dulu ke cafe langganan keluarga kami. Aku sudah mempersiapkan semuanya sebegitu sempurna. Untungnya Lily mau membantu, jadi semakin ringanlah pekerjaanku. Beberapa hari yang lalu saat aku dan ibu sedang minum kopi kesukaan kami berdua aku berkata padanya.

“Ibu, minggu depan Ibu ke mari ya, jam 7 malaman.” ibu hanya mengangguk dan tersenyum padaku.
“Apa Ibu berjanji akan datang?” Tanyaku lagi, memastikan.
“Tentu saja, apa sih yang gak buat anakku yang paling ku sayang,”
Mudah-mudahan ibu tak lupa itu. Aku benar-benar mengharapkannya untuk datang.

09.00 pm
Aku sudah menunggu ibu sedari dua jam yang lalu, aku sudah bbm dia berkali-kali, sudah ku telepon juga berkali-kali namun tidak ada jawaban, aku begitu khawatir, apa ibu ingat janjinya? Ku lihat Lily yang tadi masih segar bugar dan bersemangat ria kini sudah layu dan ngantuk. Aku sudah berkali-kali bilang, “Pulang saja, biar aku di sini,”
Namu ia selalu menjawab, “Kita datang bersama, pulang juga bersama.” senyumnya itu, mengingatkanku dengan ibu.

Namun karena sudah terlalu malam aku segera memaksakannya untuk pulang. Dan akhirnya ia menyerah karena ia memang sudah benar-benar mengantuk. Kini aku benar-benar marah pada ibu, bisa bisanya ia melupakan janjinya. Beberapa jam setelah lily pulang aku juga memutuskan untuk pulang. Ibu! Dengan berjalan kesal menuju rumah ku buka pintu sekeras kerasnya dan apa yang ku lihat! Deg!

Darah tercecer di mana mana, terlihat jejak kaki yang berjalan gontai menuju ruang keluarga, aku mengikuti jejak itu dan. Betapa tak percayanya aku, betapa shock-nya aku, aku ingin menangis dan menjerit, emosiku membara bertingkat tingkat. Jantungku berdetak begitu kencang, nadiku berjalan begitu cepat. Jantung ini, perasaan ini, dan yang ku lihat. ‘Lelaki’ sialan itu. Namun tiba-tiba kesadaranku hilang, yang ku lihat terakhir kali adalah ibu tergeletak tak berdaya berselimutkan darah di bawah ‘lelaki’ sialan itu yang berdiri tegak menyunggingkan ekspresi tak bersalah.

02.00 pm
Aku terbangun dari sebuah mimpi panjang yang menyakitkan. Ku buka mataku pelan-pelan, ku hirup udara selembut mungkin, aku seperti manusia yang tak bergairah. Rasanya kali ini aku tak ingin apa-apa, aku sama sekali tak ingin hidup lagi, seharusnya aku mati bersama ibuku. Seharusnya aku tak ada di dunia ini. Orang pertama yang ku lihat adalah Lily, sahabatku yang satu itu memang selalu bisa saja membuatku tersenyum, kedatangannya membuatku sedikit terhibur. Aku tak tahu mengapa ia begitu membuatku lebih tenang, Lily terima kasih sudah datang.

“Lama banget kamu bangunnya, padahal tadi ulangan matematika loh,” Katanya lugu.
Ulangan matematika? Aku benar-benar sudah tak peduli lagi.
“Oh, ya aku mau cerita sama kamu, di sekolah kita ada murid baru loh, sekelas sama kita lagi. Keren anaknya, aku jadi suka deh sama dia.” lily memegang tanganku.
“Si-siapa namanya?” Kataku sebisanya.
“David Yahya, keren dan ganteng deh anaknya, kamu pasti bakalan naksir sama dia,”
Naksir sama dia? aku tak peduli.

Pintu kamar rumah sakit ini terbuka, seorang dokter datang bersama…. Sialan! Kenapa dia ada di sini! Mereka berdua lalu mendekat ke arahku.
“Apa anakku sudah bisa dibawa pulang dok?” Kata lelaki sialan itu.
“Sudah, kini ia sudah pulih, satu minggu koma di rumah sakit memang suatu yang sulit baginya,” Kata dokter menatapku.
“Yuk, pulang Nak.”

Ku pejamkan mata, aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi seminggu ini. Bukannya ‘lelaki’ sialan itu seharusnya masuk penjara! Sekarang apa muslihatnya lagi! Ketika ku buka mataku lagi aku sudah berada di suatu padang rumput yang begitu luas, aku berada di bawah pohon besar yang begitu rindang. Satu satunya pohon di sini. Namun beberapa saat kemudian ku rasakan hujan mulai turun perlahan menjatuhi tubuhku, anehnya aku tak merasakan dingin sama sekali. Tiba-tiba sosok wanita berpakaian serba muncul entah dari mana, dia? Dia adalah ibu.

“Ibu?” kataku begitu aneh rasanya. Ibu tersenyum, senyuman yang begitu damai.
“Nak, dengarkan Ibu, kamu tak akan sendirian. Kamu akan bertemu ‘mereka’ orang-orang yang senasib dan seperjuangan dengan kamu. Nak dengarkan Ibu, Ayahmu adalah seorang yang ‘mengerikan’ hati-hati dengannya, ia seperti bisa melakukan apa pun sesuka hatinya, ia bisa membuat polisi bungkam, ia bisa membuat media bungkam, bahkan dia bisa membunuh seseorang tanpa harus berurusan dengan polisi. Berhati-hatilah.” Katanya begitu tegas namun begitu lembut.

“Tapi kenapa Ibu memilihnya untuk menggantikan Ayahku?” Itulah pertanyaan yang selama ini ingin ku katakan pada ibu. “Karena, ini adalah pengorbanan. Ibu harus mengorbankan diri sendiri demi bisa menghancurkanya. Nak, jika kamu bisa memanfaatkan posisimu sebagai anaknya maka rencana Ibu saat ini akan berjalan dengan baik. Nak, ingat semua akan baik-baik saja,” Aku tak tahu apa yang ibu bicarakan padaku.
“Bu, aku tak tahu aku harus apa? Dan apa ini?”

“Suatu saat nanti kamu akan tau dengan sendirinya, tersenyumlah.” ibu mendekat dan memelukku, hangat dan begitu damai. Aku benar-benar ingin menangis.
“Nak, nanti sore datanglah ke jalan depan cafe langganan keluarga kita, akan ada seseorang yang seperjuangan denganmu, raihlah cita ini bersama ‘mereka’.” perlahan-lahan tubuh ibu memudar, serpihan serpihan ibu terbang ke angkasa di langit yang hujan.
“Ibu, aku berjanji tak akan mengecewakanmu, Ibu.”

Ku tutup mataku dan ku buka lagi.
“Ayo Nak, pulang,” kata ‘lelaki’ sialan itu.
“Ba-baik Pa..”

Seperti kata ibu, aku harus memanfaatkan kedekatanku dengan dia. Sekitar pukul lima sore seperti kata ibu, aku menuju jalan depan cafe langganan keluargaku. Saat itu hujan lumayan lebat. Namun aku tak akan mengurungkan tekadku ini. Apalagi tadi ‘lelaki’ sialan itu menceritakan kebohongannya padaku. Dengan tenang ia berkata, “Aku menyelamatkanmu dari Ibumu yang kejam.” dan aku tak tahu mengapa bisa-bisanya polisi dan media percaya dengan itu, percaya bahwa dia adalah ‘korban’ aku benar-benar tak terima. Namun semua itu dapat ku tahan, karena aku tak ingin ibu kecewa. Beberapa saat, saat aku berdiri tepat di jalan depan cafe langganan keluargaku di bawah hujan itu tiba-tiba seseorang mendekat. Dan mengulurkan tangannya.

“Kau tak sendiri lagi…” katanya, ia menyunggingkan senyuman yang begitu manis dan membuatku tenang.

Selesai

Cerpen Karangan: GP. Arifin
Blog: http://gparifincerpen.blogspot.com

Cerpen Gadis Bergaun Kebencian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ramadhan Terakhir

Oleh:
“Fajar Ramadhan telah menghampiri dunia, kerinduan pada bulan suci Ramadhan akhirnya terobati, selembar sutra menghapus noda, sebening embun penyejuk kalbu, Marhaban ya Ramadhan.” Ketenangan terasa begitu bergetar di jiwa,

Antara Cinta dan Cita Cita

Oleh:
Segerombolan siswa maupun siswi berlarian ke gerbang SMA N 1 yang merupakan SMA favorit di daerah tersebut. Hal itu bukan tanpa sebab yang jelas. Ini adalah hari Selasa. Hari

Disleksia

Oleh:
Kosakata baru dalam hidupku yang sekarang sudah berumur lima belas tahun. “Woy!” Teriak seseorang di belakangku Benar dugaanku. Orang itu lagi. “Hey!” Balasku sekenanya. “Dasar penyakitan!” Tambahku. Sontak raut

Istri Virtual

Oleh:
“Sayur Jengkol sudah matang.” Sheila menulis kalimat itu di dinding facebook suaminya di android pemberian mertuanya dua hari yang lalu.. Ia tidak menunggu jawaban tapi mengepak barang-barang berharganya di

Selepas Kau Pergi

Oleh:
Ayah… seandainya ayah di sini. Seandainya ayah tak pernah pergi. Seandainya aku bisa kembali ke masa-masa saat ayah masih ada bersamaku, menemaniku. “Hihihi…” Aku ingat, saat kecil, berlari-lari riang,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *