Gadis Bermata Sendu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 October 2017

Gadis itu berlari, tak peduli angin menerpa. Matahari begitu terik, sampai burung tak berkutik. ia terus melangkah dengan derap yang sangat cepat. “Ibu kembali, Bu! Kumohon” teriak si gadis setengah parau. Tapi sang ibu tak mau berhenti. “Kumohon berhenti Bu, aku nanti dimarahi ayah” si ibu pun justru mempercepat langkahnya, sampai akhirnya, ia terjatuh dan meringkuk di atas tanah. Si gadis yang melihat kejadian tersebut tak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia berlari menghampiri ibunya dan mengajaknya pulang ke rumah.

Sebuah gubuk sederhana nampak di pinggir hutan. Gubuk yang dianggap sebagai rumah berharga bagi pemiliknya. Saat si gadis menenangkan ibunya, sang ayah masuk dengan pakaian sangat lusuh, wajahnya nampak lelah dengan tubuh yang berkeringat.
“Bagaimana kabar ibumu nduk?”
“Belum ada kemajuan Pak. Tadi siang ibu berontak lagi. Baru saja Ranti membawanya pulang.”
Sang ayah yang mendengar hal itu merasa sangat sedih. Ia sudah tak tahu apa yang harus ia perbuat. Semenjak istrinya mengalami keguguran. Ia sulit untuk dikendalikan. Istrinya itu bahkan sering mencelakai warga. Karena itu pulalah sang ayah memutuskan untuk pindah ke pinggir hutan, yang jauh dari tempat pemukiman. Hal itu juga yang menyebabkan Ranti putus sekolah. Padahal ia baru saja naik kelas 6 SD. Namun apa daya, sang ayah tak mampu lagi membayar biaya sekolahnya. Gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-sehari, belum lagi obat untuk sang istri. Meskipun begitu, si gadis tak ingin menyerah. Sering kali ia berkunjung ke rumah Cik Tulani. Entah itu untuk meminjam buku atau sekedar membeli kebutuhan pokok. Cik Tulani memang orang yang baik hatinya, Ia adalah sahabat ayah Ranti.

Sehelai daun jatuh ke tanah. Angin sejuk mulai terasa. Namun, senyuman mentari masih belum nampak, menunggu takdir Sang Ilahi. Jam baru menunjukkan pukul 3 pagi, tapi Ranti sudah terbangun dari tidurnya. Ia pun melaksanakan sholat tahajud. Memuji Sang Pencipta, lalu memohon kepada-Nya. Dalam rintihan doa itu Ranti berharap agar ibunya segera sembuh, ia juga berharap agar dirinya dapat bersekolah lagi.

Selesai berdoa, Ranti menatap wajah ibunya yang sedang terlelap. Tatapan sendu itu membuat air matanya tak terbendung lagi. Ia pun kembali meneteskan air mata.
“Ya Allah, begitu sedih hati ini. Ibu yang dulu sangat menyayangiku, kini seperti tak mengenaliku. Aku sangat merindukanmu ibu.” Lalu dikecupnya kening sang ibu, dengan hati teramat rindu. Setelah membereskan mukena, si gadis bergegas untuk mandi. Lalu ia pergi ke halaman belakang dan mengambil singkong untuk dimasak.

Si gadis sangat cekatan, ia tarik tanaman singkong itu, lalu ia ambil umbinya. Setelah itu, ia merebusnya di atas tungku. Saat asik-asiknya membuat sarapan, tiba-tiba suara sang ayah mengagetkan si gadis.
“Lagi kesusahan to nduk? Biar Bapak bantu.”
“Ndak usah Pak, biar Ranti saja yang siapkan sarapan. Bapak siap-siap saja dulu.”
“Ya sudah Bapak mau melihat ibumu dulu.”
“Nggih Pak.”

Jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Sang ayah harus berangkat pergi ke hutan. Ia harus mengangkut kayu-kayu yang sudah ditebang. Bahkan penghasilannya itu tak setimpal dengan apa yang ia lakukan. Saat ia berada di hutan, ia mendengar suatu suara. Ia pun menghentikan langkahnya dan menghampiri sumber suara. Di sana ia melihat seorang pemburu yang sedang mengatur arah tembakan. Saat ia melihat arah tembakan tersebut, betapa kagetnya ia. Ternyata ia melihat istrinya sedang menghampiri sasaran pemburu, yaitu seekor babi hutan. “Jangan, jangan tembak!” dengan derap langkah yang sangat cepat sang ayah sudah ada di hadapan pemburu. Namun, pemburu pun juga sangat kaget. Ia pun tak sengaja melepaskan pelatuknya. Alhasil, laki-laki berumur 50-an itu tertembak. Entah selamat atau tidak.

Di lain tempat, si gadis sedang berjalan-jalan ke tempat pemukiman. Lebih tepatnya ke rumah Pak Cik Tulani. “Amboy, baru buka lah toko ni, kenapa kau datang cepat sekali. Aku suka la semangat kau.”
“Terima kasih Pak Cik. Sebenarnya saya ke sini mau meminjam buku, apa ada buku baru Pak Cik?”
“Ah kau ini, daripada membaca buku sebaiknya kau pergi ke balai sana. Kudengar ada sekolah gratis yang baru dibuka. Mungkin kau ingin ke sana.”
“Benarkah Pak Cik? Sungguh? Baiklah aku akan pergi ke sana. Terima kasih atas pemberitahuannya Pak Cik! Aku akan kembali lagi nanti.”
“Hmm yela-yela cepat lah ke sana. Pasti senang kau di sana.”
“Baik Pak Cik, sekali lagi terima kasih.”

Si gadis pun menuju balai yang ditunjukkan oleh Pak Cik Tulani. Ternyata berita itu tidak bohong. Memang benar, di sana sedang ada kegiatan belajar mengajar. Rupanya guru yang mengajar adalah para mahasiswa dan mahasiswi KKN. Sungguh riang bukan main hati Ranti. Ia pun semakin mendekat dan terlarut dalam kegiatan belajar mengajar.

Setengah jam kemudian Pak Cik Tulani memanggil, “Ranti! Ranti!” Si gadis yang merasa dipanggil namanya langsung menoleh. Anak-anak yang lain pun juga ikut menoleh, bahkan para mahasiswa dan mahasiswi juga kaget dibuatnya.
“Ada apa Pak Cik? Kenapa Pak Cik terlihat panik, bukankah sudah kubilang aku akan kembali ke rumah Pak Cik nanti.”
“Bukan tu la Ranti, ini kabar buruk. Bapak kau Ranti, Bapak kau!”
“Kenapa dengan Bapak, Pak Cik?”
“Bapak kau ditemukan di dalam hutan beserta ibu kau. Ibu kau memang tidak kenapa-kenapa tapi Bapak kau, ia sudah tak bisa ditolong.”
“Apa maksud Pak Cik? Ranti tak mengerti.”
“Bapak kau ditemukan sudah tidak bernyawa Ranti. Ia meninggal di dalam hutan. Pak Cik pun tak tahu sebabnya.”
Seolah petir menyambar tubuhnya. Ranti terpaku menatap lurus ke depan. Hingga tubuhnya lunglai dan jatuh ke tanah. Akhirnya ia tak sadarkan diri.

Beberapa menit kemudian akhirnya Ranti sadar. Ia pun melihat sekitar, banyak orang yang sudah berkumpul di gubuknya. Hingga ia pun tersadar apa yang baru saja terjadi.
“Syukurlah kau sudah sadar Ranti.”
“Bapak! Di mana Bapakku Pak Cik? Dimana?”
“Sabarlah Ranti, jenazah bapak kau sedang dimandikan. Nanti siang kita akan mulai pemakaman.”
“Tak mungkin Pak Cik. Tak mungkin! Bapak tak mungkin meninggal.”
“Tabahkan hati kau, Nak.”
”Ibu. Apa benar bapak meninggal Bu? Apa Ibu tak merasa sedih? Kudengar Ibu berada di lokasi? Ceritakanlah Bu, kumohon.” Tapi sang Ibu hanya diam. Dia tidak menggubris perkataan anaknya. Sungguh tak ada rasa sedih di wajahnya. Ia diam seribu bahasa. Si gadis pun tak mengerti. Mengapa semua ini terjadi padanya. Haruskah ia ikut mati bersama sang ayah? Atau haruskah ia bertahan demi ibunya? Tapi kini ia sudah tak punya lagi harapan. Sampai akhirnya muncul harapan baru.

Tiba-tiba Pak Cik Tulani menghampiri Ranti bersama seseorang. Sekilas Ranti memang tak mengenal wajahnya. Tapi seragamnya menunjukkan bahwa ia adalah mahasiswa KKN.
“Ranti, tabahkanlah hati kau, Nak. Pak Cik tau ini berat bagi kau. Tapi apakah kau mau mendengarkan nasehat pak cik sebentar?” Si gadis hanya diam tanpa menjawab dengan kepastian.
“Baiklah jika kau diam, Pak Cik anggap kau mau mendengarkannya. Di sini Pak Cik membawa seseorang. Ia adalah mahasiswa KKN yang datang dari Jakarta. Dan ia ingin menawari kau sekolah di Jakarta.” Ranti masih tetap diam. “Kau akan tinggal di sana bersama kakak ini Ranti. Dia punya keluarga yang utuh. Dan kau juga akan memiliki keluarga baru.” lanjut Cik Tulani.
“Aku tak bisa Pak Cik. Aku masih menyayangi keluargaku, bahkan kepada ibuku. Jika aku tinggal di sana, bagaimana dengan ibuku? Aku tak bisa meninggalkannya sendiri Pak Cik.”
“Tak usah khawatir Ranti, tujuanmu di sana hanya sekolah. Soal ibu kau, biar Pak Cik yang akan merawatnya. Sejujurnya pak Cik sudah lama ingin membawa ibu kau berobat.”

“Itu benar dik. Sebelumnya, perkenalkan namaku Sultan. Aku mahasiswa KKN yang bertugas di sini. Kamu mungkin tidak melihatku di balai, karena aku sedang keluar. Pak Cik Tulani benar. Kamu bisa tinggal bersama keluargaku.”
“Aku masih belum yakin, Kak, setidaknya beri aku waktu untuk berpikir.”
“Baiklah kakak mengerti.”
“Pikirkanlah secara matang Ranti, Pak Cik hanya ingin bilang, kau tak boleh menyia-nyiakan kesempatanmu bersekolah.”
“Baik Pak Cik. Akan kupikirkan secara matang.”

Setelah beberapa hari, akhirnya Ranti memutuskan untuk pergi ke Jakarta bersama Kak Sultan. Walaupun ia sangat sedih karena harus berpisah dengan ibunya. Tapi ia percaya bahwa Pak Cik Tulani akan menjaga ibunya.

6 tahun kemudian…
Kini Ranti sudah menjadi gadis cantik dan dewasa. Ia pun juga mempunyai banyak prestasi. Terutama dalam bidang akademik.
“Kak, bagaimana kabar Ibu Ranti? Apa ia sudah sehat?”
“Ya Ranti, ibumu sudah sehat sekarang.”
“Kak, sebentar lagi Ranti akan diwisuda dan melanjutkan sekolah ke Jepang. Sebelum Ranti pergi, Ranti ingin bertemu dengan Ibu.”
Sultan yang mendengarkan hal tersebut sejenak kaget. Lalu segera mengkondinisikan sikapnya. “Baiklah Ranti, aku akan mengundang ibumu ke sini.” Dengan hati yang sangat gugup Sultan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ranti yang duduk di ruang tamu.

Dalam kamar tersebut Sultan merasakan ketakutan yang mendalam. Bagaimana jika ibu Ranti mengenalinya? Apa ia akan mengingat pembunuh suaminya? Sultan benar-benar takut dan tak tau harus berbuat apa.

Saat itu, para mahasiswa dan mahasiswi KKN baru tiba di sebuah pemukiman. Mereka menyiapkan segala persiapan. Kecuali salah seorang dari mereka yang tak ikut membantu. Saat Sultan mendengar bahwa di dekat pemukiman ada hutan, Sultan tak bisa mencegah hobi memburunya. Ia segera pergi ke hutan dengan membawa senapan. Namun, sial baginya. Ayah Ranti mengkagetkannya, hingga tak sengaja pelatuknya terlepas dari genggaman. Tapi anehnya, seorang wanita yang diselamatkan oleh orang itu tak bereaksi apa-apa. Ia bahkan tidak menjerit, hanya menatap wajah Sultan. Sultan yang merinding akhirnya berlari ke luar hutan. Membawa senapannya secara diam-diam.

Ketika ia sampai di balai. Seorang laki-laki tua datang, ia memanggil nama Ranti dan akhirnya ia tahu laki-laki yang terbunuh itu adalah Bapak Ranti. Ia semakin takut, tapi berusaha untuk tenang. Karena perasaan bersalah akhirnya Sultan berani menemui Ranti. Dia pun menawari Ranti untuk tinggal beramanya. Tatapan gadis itu begitu sendu.

Akhirnya, Sultan membawa Ranti ke rumahnya, tentu saja keluarganya kaget, tapi setelah mendengar penjelasan dari Sultan akhirnya mereka mau mengerti. Mereka pun berjanji tak akan memberitahu hal tersebut kepada Ranti. Walaupun begitu, sesungguhnya mereka semua sudah menganggap Ranti sebagai bagian dari keluarga.

Setelah sekian lama, akhirnya kejadian itu akan terungkap. Entah reaksi apa yang akan diberikan oleh Ranti dan Ibunya. Dan apakah Ranti masih menganggap Sultan orang baik? Semua itu tidak bisa ditebak.

Gelap malam menyusuri sepi. Di bawah rembulan menyendiri. Menengadah menatap langit. Tapi bahkan, tak bisa menangis. Teringat akan kedua orangtuanya. Teringat akan roda kehidupannya. Kini ia merasa sedih. Menatap sendu langit malam.

Cerpen Karangan: Aisyah Amira Wakang
Blog: aishamira.blogspot.com
Halo salam kenal teman-teman. Namaku Aisyah Amira Wakang. All of people usually call me Ais, saat ini usiaku 16 tahun. Aku tinggal di Surabaya dan sekarang sedang menjalani jenjang pendidikan kelas 10 di SMA NEGERI 21 Surabaya. Selamat membaca

Cerpen Gadis Bermata Sendu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Aib

Oleh:
Aku ingat suatu masa ketika itu aku pernah menjadi lelaki. Namun, kurasa itu sudah lama sekali. Hari-hariku kini adalah hari-hari dimana aku mengenali diriku sebagai seorang bernama Santi, bukan

Di Balik Mendung

Oleh:
Dulu aku hanya memandangi taburan bintang di langit malam, mereka berkilauan dengan indah menggoda tanganku yang tidak luas hati untuk menggapainya mimpi seorang astronot mungkin tidak lebih tinggi dari

Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Tujuh belas tahun… Bukan waktu yang singkat jika dijalani dengan kehidupan yang tidak normal. Ya, aku menganggapnya waktu yang tidak normal. Karena aku hidup di tengah-tengah keluarga yang menjijikan.

The Photo

Oleh:
Bila pagi tiba, Evan terbangun demi melihat sinar terang sang mentari. Menghirup udara segar secara gratis. Evan mendengar kicauan burung mendayu-dayu masuk ke telinganya, dan kupu-kupu seakan mengajak Evan

Hadiah Untuk Bunda

Oleh:
Namaku Driya Andana, aku kelas 4 sd di sekolah Generasi Bangsa. Aku mempunyai Bunda yang tunarunggu dan tunawicara sebelumnya Bunda bukan tunawicara karena syok saat mendengar ayah meninggal Bunda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *