Gadis Kecil Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 June 2017

Lama duduk sambil menikmati suara hujan membuat Ayah ingin minum teh, tangannya meraba meja yang ada di samping kursi, Ayah berusaha menggapai cangkir teh. Kehilangan penglihatan menjadi hambatan untuk menemukan cangkir teh dan hampir saja ia berteriak memanggil Ibu, mendadak tangan kecil nan lembut itu menariknya mendekati cangkir.

“Kamu dari tadi di sini Sella?”
“Sella dari tadi di samping Ayah, menemani Ayah duduk. Supaya Ayah tidak kesepian lho.”
Ayah menyeruput teh buatan Ibu lalu meletak cangkirnya dengan bantuan Sella. “Ayah kira kamu tidur tadi?”
“Ah, Ayah?! Ini udah jam 5 sore mana mungkin aku masih tidur siang?” Ayah tertawa mendengar gerutuan Sella.

Ayah dulu bisa melihat dengan normal, bisa melihat Ibu dan Sella. Tapi karena sebuah kecelakaan membuat penglihatannya hilang. Ayah sempat putus asa, beberapa bulan pasca bangun dari koma, Ayah mengalami depresi berat. Terbiasa bangun melihat cahaya membuat Ayah merasa kaget dengan keadaan yang gelap gulita. Rasa depresi membuatnya mengutuk Tuhan, rasa syukurnya yang dahulu sekejap mata menghilang karena cobaan.

Ayah berhenti bekerja dan membuat perekonomian keluarga memburuk, belum lagi Sella masih duduk di bangku SD, masih banyak keperluan untuknya. Tak ada jalan lain, Ibu yang sudah lama pensiun pun bekerja menafkahi keluarga dan Sella kecil dititipkan di rumah Kakek dan Nenek.

Berlama-lama di rumah hanya meratapi ketidakberdayaan menafkahi keluarga membuat Ibu berinisiatif mengajak Ayah berjalan-jalan keluar. Ibu membuat Ayah mulai membuka mata pada keadaan sekitarnya, Ibu mengajak Ayah bertemu sekumpulan orang yang bernasib tak seberuntung Ayah, Ibu bilang ada sebagian orang yang kehilangan penglihatannya sejak lahir. Artinya sudah sejak lahir pun ia tak pernah melihat cahaya. Ibu juga bilang ada beberapa orang yang bahkan tak bisa mendengar, berbicara dan tak sempurna seperti orang kebanyakan, perbedaan-perbedaan yang jauh dari Ayah dulunya. Dan Ibu menjelaskan pada Ayah bahwa, “Dibalik semua kekurangan yang mereka miliki, mereka sebenarnya adalah orang-orang yang hebat. Tak peduli pada kekurangan mereka, mereka tetap bisa produktif dan melakukan hal yang sama seperti orang normal pada umumnya.”
Semuanya karena Ibu ingin Ayah kembali seperti dulu. Sosok suami yang bertanggung jawab, pekerja keras dan tak pernah menyerah. Pendekatan Ibu menunjukkan hasil, tak sampai bertahun, Ayah kembali sedia kala dan aktif di organisasi yang dikelola bersama teman-teman seperjuangan.

“Ayah? Ayah kenapa melamun?”
“Mengingat masa lalu, Sayang,” katanya sambil tertawa kecil. “Mengingat masa-masa yang mendewasakan Ayah.” Lanjutnya lagi lalu terdengar suara tawa Sella.
“Ah, Ayah suka banget bicaranya berbelit-belit? Sella enggak ngerti tau?!” Ayah tertawa dan sebelah tangannya mengusak helaian rambut Sella lalu menjawil pipi gembilnya.

Ayah mencoba mengingat bagaimana rupa Sella, rasanya rindu sekali melihat gadis kecilnya. Ayah hanya ingat Sella dengan pakaian baju putih-merah dan berambut tipis. Ayah juga tidak lupa pada kebiasaan Sella yang senang meminta suap dari Ayah saat makan, menyelinap di sisi Ayah saat tidur atau sekedar membantu sang Ayah menjahili Ibu.

Sella sudah tujuh belas tahun, ulang tahunnya baru lewat satu bulan yang lalu. Ayah ingat hari bahagia itu dihadiri beberapa sahabat dekat Sella, beberapa sanak saudara dan teman-teman Ayah dari organisasi. Dan Ayah selalu saja penasaran bagaimana rupa gadis kecilnya yang beranjak remaja.

“Ayah.”
“Hm?”
“Ayah kangen sama Sella enggak?”
Ayah tertawa mendengar pertanyaan yang sering didengar dari Sella. Ayah menganggukan kepala di balik tatapan kosongnya.
“Terus kalau Ayah kangen kenapa enggak terima donor mata yang dibilang Ibu sih?”
Lagi-lagi Ayah diingatkan oleh donor mata yang beberapa hari lalu diberitahukan Ibu. Ayah tak meresponnya saat itu dan kali ini seolah minta jawaban, Sella bertanya pada Ayah.
“Ayah enggak kangen Sella, ya?”
“Ah, Sella… Bukan begitu, Sayang. Ayah…”
“Kalau Ayah kangen harusnya Ayah menyetujuinya saja. Kan, Ayah sudah lama enggak lihat Sella? Jadi kenapa enggak terima aja, Ayah?” Ayah merenung mendengar perkataan putrinya tentang donor mata. Ia memang sudah bertahun-tahun tak dapat melihat, mendapatkan kesempatan seperti ini pun rasanya sudah lama ia dambakan tapi dulunya ia tak punya kesempatan.
“Pokoknya Ayah harus setuju kalau enggak Sella bakalan marah sama Ayah!”
“Sella…”

Ayah dengar langkah kaki Sella yang keras yang menjauh. Keinginan bangkit dan mengejar Sella rasanya tak mungkin karena suara pintu tertutup sudah didengarnya, Sella masuk kamar. Ayah hanya bisa menghela napas, permintaan Sella seakan mengingatkannya pada hadiah ulang tahun yang sempat ditolak Sella. Bukannya meminta barang-barang mewah, Sella hanya ingin agar Ayahnya bisa melihat kembali.

“Kenapa Mas?”
“Oh? Hm, Adik bilang kemarin ada yang memberikan aku donor mata, ya?”
“Iya. Mas mau, kan? Aku harap Mas enggak menolaknya apalagi enggak kasih respon.”
Ayah terlihat berpikir, permintaan Sella dan harapan Ibu terdengar sama. Harusnya ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. “Mas mau, kan?” tanya Ibu memastikan, Ayah melihat ke arah lain.
Ayah menghembuskan napas panjang padahal hanya mengatakan iya atau tidak, tetapi rasanya berat sekali. Ibu sudah tak sabar sampai tak sadar bertanya berulang-ulang dan akhirnya membuat Ayah memutuskan untuk yang terakhir kali, “Hm, ya sudah… Aku terima. Kamu mau kan mengurusi semuanya untukku?”
Ibu terdengar mengucap syukur berulang-ulang lalu memeluk Ayah, rasa haru pun tak bisa dibendung lagi. Ayah sudah menyetujuinya, Ibu pun bersedia mengurusnya untuk Ayah dan Sella ikut bahagia mendengarnya.

Hanya butuh waktu dua hari untuk mempersiapkan semua untuk Ayah. Jadwal operasinya adalah hari ini. Ayah tak bisa berbohong jika gugup, mendadak ketakutan akan gagalnya operasi pun menghantui.
“Ayah.” Suara Sella membuat perasaannya sedikit tenang, tangan lembut itu menggenggam tangannya dengan erat dan memberikan kehangatan yang menenangkan. “Tangan Ayah kok dingin banget? Ayah gugup, ya?”
Ayah hanya menganggukkan kepala. “Ayah enggak boleh gugup! Sella kenal Ayah itu pemberani lho. Jadi Ayah harus berani dan… selalu berdoa agar semuanya baik-baik saja!”
“Sella juga akan berdoa untuk Ayah. Sella akan menunggu Ayah bisa melihat Sella lho. Jadi Ayah enggak boleh buat Sella kecewa! Ayah harus sembuh! Itu keinginan Sella.”
Ayah terenyuh mendengar gadis kecilnya sudah tumbuh dewasa, Ayah sempat menangis dan langsung mengusapnya cepat-cepat, tak ingin membuat khawatir. Beberapa menit setelah Sella menyuntikkan semangat pada Ayah, suster pun datang menjemput untuk membawa Ayah ke meja operasi.
Ibu melihat Ayah sebelum masuk ke ruangan dokter, berpesan pada Ayah agar selalu berdoa dan melakukannya atas dasar mensyukuri kesempatan. Ayah pun sempat mendapatkan pelukan Sella.

Hampir setengah jam operasi berlangsung, penglihatannya yang gelap bertambah gelap. Ayah tak dapat merasakan apa pun, tak terjelaskan. Tapi kegelapan selama operasi membawanya menelusup memasuki celah bercahaya. Ayah bertelanjang kaki menginjak rerumputan dan menemukan sosok gadis bersurai panjang duduk sendirian.
“Ayah!”
Ayah tercekat, matanya membulat dan mendadak kehilangan keseimbangan. Gadis cantik itu berlari menujunya lalu menatapnya khawatir, “Ayah enggak apa-apa, kan? Kenapa Ayah jatuh melihat Sella?”
“Se… Sella?”
Sella mengangguk sambil tersenyum, manis sekali. Ayah tak mampu berkata-kata, ia menangkup wajah Sella lalu mengelusnya lembut. Ini gadis kecil dengan tubuh remajanya, tumbuh sehat dan cantik. Ayah tak bisa menahan tangis haru, Sella lalu memeluk untuk pertama kalinya.
“Ayah pasti kangen banget sama Sella? Bagaimana tawaran Sella kemarin enggak membuat Ayah rugi, kan?” Ayah menggelengkan kepala, mereka berdua sudah berdiri dan berjalan berdampingan, Ayah mengamit tangan Sella.
“Nah, keinginan Sella sekarang sudah terwujud dan semua ini berkat Ayah,” kata Sella antusias. “Makasih Ayah. Sella enggak tahu harus ngelakuin apa lagi buat Ayah selain membujuk Ayah kemarin. Makasih banyak Ayah, Sella sayang sama Ayah.” Mereka tiba di ujung jalan, perbincangan kecil menyiratkan rasa rindu rasanya sudah terbayar. Ayah senang bukan main bisa melihat Sella, gadis kecilnya.
Sella memeluk lagi Ayahnya. “Sella senang bisa melihat Ayah dapat melihat lagi. Setelah ini Ayah harus bekerja keras dan selalu menjadi Ayah yang Sella kagumi dan Ayah harus selalu percaya kalau Sella selalu ada di dekat Ayah. Dan Ayah harus kembali ke tempat Ayah secepat mungkin untuk bertemu dengan Sella!”
Ayah tak mengerti dengan segala macam perkataan putrinya, tapi ia tak mampu bertanya banyak karena saat itu ia merasa ada tarikan sangat kuat dari cahaya. Ayah sadar separuh badannya terisap dan membuatnya kembali di tempat gelap dan sepi.

Operasi sudah berlalu selama dua hari dan hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu Ayah. Perban yang menutup kedua matanya akan dibuka itu artinya ia bisa melihat kembali, melihat istri tercinta dan gadis kesayangannya, Sella.
Perlahan-lahan tangan dokter membuka penutup mata ketika sudah terbuka semua dokter mengatakan untuk membuka mata perlahan-lahan, Ayah mengikuti segala instruksi. Perlahan-lahan cahaya merambat masuk samar-samar lalu berubah menjadi terang benderang dan jelas.
Ayah mengedipkan kedua mata yang sudah bisa melihat rupa sang dokter dan istrinya yang menangis sambil mengucap syukur. Dokter mencoba beberapa tes memastikan mata baru baik-baik saja.

“Mas sudah bisa melihat? Mas ingat sama Adik, kan?” Ibu bertanya dengan suara setengah menangis, Ayah menganggukan kepala lalu Ibu memeluk Ayah masih sambil mengucapkan rasa syukur.
Lama sepasang suami-istri itu berpelukan melepas rasa haru dan rindu sampai akhirnya Ayah mengingat sesuatu yang membuat perasaannya hampir melonjak, “Dik, mana Sella? Kok dari tadi Sella enggak kelihatan di sini, ya?”
“Sella masih di rumah, ya?” tanyanya lagi, Ibu kini menggenggam kedua tangan Ayah dengan erat lalu dengan senyuman sendu menganggukkan kepala. “Mas mau ketemu Sella, kan? Kalau begitu kita langsung bersiap-siap saja, ya, Mas.”
Ayah menganggukkan kepala, rasa rindu pada putrinya sebentar lagi akan terbayar. Ibu terlihat berbenah dan mengurusi segala macam keperluan Ayah. Setengah jam berlalu akhirnya mereka pun keluar dari rumah sakit menuju tempat yang dimaksud Ibu.

Sepanjang perjalanan Ibu tak banyak bicara, sebelah tangannya menggenggam tangan Ayah erat. Lama-lama memandang jalan, Ayah mulai curiga saat sadar taksi mereka menuju ke arah pemakaman.
Taksi berhenti di depan gapura besar yang menunjukkan banyak makam, Ibu turun lebih dulu dan disusul Ayah. Ayah bingung karena tanpa banyak bicara Ibu langsung menuntun Ayah berjalan memasuki area pemakaman dan berhenti di salah satu makam.

“Apa ini?” Ayah bertanya mengeluarkan segala rasa heran, Ibu berjongkok lalu mengusap nisan kayu dengan lembut sambil tersenyum sendu.
“Ini… sekarang rumah Sella, Mas.” Ibu menatap Ayah mulai mendekat dan membaca nama pada nisan yang tertulis, Anggraini Marsella.
Ayah tak bisa menahan tangis, Ibu memeluk sebelah lengan Ayah. “Maaf Mas tidak memberitahumu. Sella menyuruhku untuk tak memberitahukan kecelakaan yang terjadi setelah pesta ulang tahun usai dan tentang masa kritisnya. Dan matamu itu Mas sebenarnya…”
Ayah langsung memegang matanya dan menatap Ibu, “Itu mata Sella. Sella yang bilang ingin Mas bisa melihat lagi. Jadi dia mengikhlaskan matanya untuk Mas. Sella kita…” Ibu tak sanggup berkata lagi karena tangisnya.
Ayah meremas tanah basah kuburan Sella, matanya masih tak bisa lepas membaca nama gadis kecil manja yang selama ini selalu dirindukannya. “Terimakasih banyak, Sella. Ayah sangat sayang sama Sella.”

Cerpen Karangan: Rien Hara
Blog: riechanieelf.wordpress.com

Cerpen Gadis Kecil Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Kecil Buat Tuhan

Oleh:
“Klik” aku mematikan lagu yang sedari tadi menusuk kuping ku. Air mataku tak berhenti jatuh.. mataku bengkak dan rasanya aku ingin mati. “Took… toook… tooook,” yuni ayo makan dulu

Hujan Dalam Gelap

Oleh:
Rintik air menari di jemariku. Aku memandang langit berwarna kelabu sambil terus memainkan jari-jariku di tetesan hujan yang turun tanpa henti. Gelap, gelap! Ku katakan langit kelabu, ketika raja

My Son Is My Brother

Oleh:
Masa liburan belum tiba tapi karena aku akan lulus tahun ini jadi aku dan teman-temanku bisa berlibur lebih cepat untuk menghilangkan penat setelah ujian selesai. Hari ini kami putuskan

Adakah Bahagia Untukku? (Part 3)

Oleh:
“Apa pedulimu pada nyawaku? Aku nggak berhutang apapun padamu,” katanya, seolah meremehkan cewek yang ada di depannya. “Dicka!” Ada sekelumit rasa jengkel di hati Ann, “tunggu dulu!” Dia pun

Kasih Sayang Yang Diimpikan

Oleh:
Kenapa sih tuhan selalu aku yang terpojokan di keluarga ini, kenapa harus aku yang selalu disalahkan disini, aku salah apa tuhan aku ingin seperti mereka disayang di perhatikan, jarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gadis Kecil Ayah”

  1. Such a great story! ntaps. Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *