Gadis Keturunan Karaeng

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Lagi-lagi Faisal akan dijodohkan dengan anak pengusaha terkenal dari Makassar. Dini, seorang pengarang buku yang cukup ternama dan memiliki garis keturunan karaeng. Hubungan keluarga Faisal dengan keluarga itu cukup baik bahkan sejak dahulu ayah Faisal mendambakan seorang menantu yang bertahta. Faisal yang saat ini masih melanjutkan kuliah pasca S2 UGM (Fakultas Gaja Mada) Yogyakarta. Tiba-tiba disuruh pulang kampung oleh orangtua, katanya ada pertemuan penting. Tak ingin jadi anak pembangkang akhirnya diiyakan. Setiba di rumah, ia terpukau dengan beberapa orang yang sibuk mendekor rumah dan mobil mewah berjejer sana-sini. Bahkan bola matanya melotot satu per satu saat melihat walasuji Awalnya, ia berpikir mereka adalah tamu yang berdatangan sebelum acara pernikahan adiknya Sarwan. Faisal terlihat antusias kerena adiknya lebih duluan ke pelaminan. Langkah Faisal cepat menuju ruang tamu.

“Eh, putraku sudah tiba. Sini duduk dulu! Ada hal penting yang harus kita bicarakan.” Sahut sang ayah yang melemparkan senyum. Faisal hanya mengangguk. “Tujuan kami, menyuruh kamu pulang biar bisa bertatap muka dengan calonmu, mumpung Dini libur, dan tak sibuk dengan kegiatan menulis. Kenalkan ini putraku Faisal.” Lanjut sang ayah sembari mengenalkan Faisal pada keluarga yang hadir di ruang tamu.

Faisal hanya menelan ludah lalu melirik seorang gadis yang disebut-sebut penulis papan atas. Dini pun melemparkan senyum termanisnya, terlihat gigi gingsul sebelah kiri atas manis dan cantik, namun Faisal sama sekali tak tertarik. Di hatinya kini sudah ada Hani, cinta pertama yang ditemukan di kampus UIN SUKA Yogyakarta. Melihat ketampanan Faisal, Dini langsung jatuh hati. Bahkan tanpa ragu, ia meminta Faisal untuk mengantarkannya membeli busana di Mall Saidin Bulukumba. Faisal hanya menganga. Dini terlihat antusias bisa jalan berbarengan dengan lelaki tampan bahkan tinggal beberapa hari mereka akan duduk di pelaminan. Meskipun Faisal anak desa, ia tak peduli. Kali ini ia malah benar-benar jatuh cinta kepada Faisal.

“Kamu fakultas kedokteran? wah, keren!” ucap Dini sembari memilah busana.
“Lebih keren kamu bisa dilihat sana-sini. Buku, media bahkan Koran kan?” jawab Faisal angkat alis kiri.
“Lah kok kamu tahu?” Dini terlihat bahagia, kerena naik daun.
“Iya, aku pernah baca salah satu karyamu. Rembulan. Puisi yang sangat menarik.” Nada Faisal pelan.
“Wah bagus dong. Karyaku bisa dibaca oleh lelaki tampan, bahkan ia sudah ada di depanku.” jawab DIni tertawa lepas.

Mendengar perkataan itu, Faisal pun merasa bahagia bisa berjumpa langsung dengan gadis yang hanya bertahun-tahun dilihat di media. Dua jam telah berlalu mereka pun pulang. Sesampainya di rumah, kemudian berbincang-bincang sebentar. Keluarga Dini pun pulang tak lama setelah itu. Faisal melangkah ke kamarnya. Pukul lima subuh. Faisal terbangun lalu mengambil air wudu, salat setelah itu ia melafalkan ayat suci Al-qur’an.

“Faisal, Ayahmu mau ngobrol sebentar.” Sahut sang ayah yang melangkah pelan ke arah Faisal.
“Iya, ada apa Ayah?” ujar Faisal.
“Sebenarnya kami sudah merencanakan dari dulu bahwa kamu bisa dijodohkan dengan Dini setelah menggapai kata sukses. Ku pikir Tuhan memihakku, kerena persiapan menuju pelaminan Ayah sudah siapkan. Insya Allah resepsinya pada hari Kamis. Jadi bagaimana tanggapanmu Nak? Kamu senang kan bisa bertemu gadis keturunan karaeng?” Tanya sang ayah. “Gadis yang cantik.” jawab Faisal datar.
“Sudah merasa cocok?” Potong sang ayah.
“Mengapa mesti Faisal pulang jika hanya membahas seperti ini. Bukan berarti aku tak mengiyakan permintaan Ayah dan Ibu. Tapi, sudah ada sosok gadis yang akan jadi teman tidurku nanti. Hani gadis sederhana meskipun bukan keturunan keraeng, ku pikir ia layak jadi menantu Ayah.” Balas Faisal dengan nada yakin.

“Nak, harus kamu tahu niat kami adalah baik. Bahkan hidupmu akan sejahtera jika kamu dan Dini bersatu. Kamu kan dokter, dan Dini penulis buku. Apalagi yang kurang? ia gadis yang baik, keluarganya pun terpandang. Dan jangan kamu sebut-sebut gadis yang bukan keturunan karaeng itu. Kehormatan keluarga kita harus tetap dijaga.” ujar sang ayah tiba-tiba bola mata memerah. “Ayah, Hani orangnya cerdas bahkan ia kuliah kerena beasiswa. Bukankah itu lebih istimewa dibanding kata keturunan karaeng? ada apa di keluarga kita hampir semua saudaraku yang sudah berkeluarga bukan pilihan sendiri tapi, pilihan orangtua dan sekarang aku jadi korbannya.” jawab Faisal melawan.

“Terserah apa katamu. Hani bukanlah gadis yang tepat kalau jadi menantuku. jika kamu masih menganggap aku adalah Ayahmu maka, ku tunggu kamu di serambi pukul tujuh pagi. Dan jika kamu tak datang berarti setelah ku buka pintu kamarmu seorang Faisal di kamar ini sudah tak ada.” Tukas sang ayah lalu meninggalkan Faisal. Faisal hanya bungkam lalu tertunduk dalam hati ia merasa bersalah karena menentang keinginan orangtua. Keyakinan memilih Hani, sosok gadis yang kelak akan ia jadikan pendamping hanya mimpi. Kini ia benar-benar tak menyukai keinginan ayahnya. Bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada bentuk dijodohkan? kenapa ia harus dipaksa dengan gadis keturunan keraeng?

Pukul tujuh pagi sang ayah dan beberapa keluarga sudah menunggu di serambi. Faisal pun datang wajah yang muram, bola matanya berkaca-kaca. Adrian yang sedang membaca koran, lalu meletakkan koran itu ke paha. Suasana di serambi itu mengingatkannya dulu saat ia berbicara lalu berdebat dengan ayahnya karena perkawinan dengan Zulfatmi. Kini, Faisal pun harus menjalani hal yang sama, semata agar nama baik keluarga bisa harmonis dan terangkat derajatnya di keturunan karaeng. “Faisal, kami tahu cinta tak bisa dipaksakan namun mencari pasangan hidup yang pantas, demi masa depanmu. Jangan sampai hari ini kamu membatalkan semuanya karena persiapan pernikahanmu tinggal beberapa hari. Hani apa yang kamu harapkan darinya?” Ujar sang ayah membuka dialog.

Faisal lebih memilih menunduk menurutnya seperti merantai hati saja. Sebuah perbudakan halus yang justru membuatnya harus dalam keterpaksaan. Kini ia persis sebatang jambu yang harus hidup di atas kobaran api. Di sisi lain tak ingin mengecewakan keluarga dan di sisi lain ia begitu takut kehilangan Hani. Apalagi Faisal sudah berikrar bahwa tahun mereka akan menuju ke pelaminan. “Jika menurut kalian perkawinan ini adalah jalan yang terbaik untuk Faisal, insya Allah akan ku turuti.” ujar Faisal nada pasrah.

Hari ini adalah hari Kamis. Para undangan dituntun masuk menikmati hidangan yang berjejer di atas meja, suara riuh yang menyebar sana-sini. Mereka terlihat bahagia sementara Faisal duduk kursi pelaminan persis patung yang ada di kuil. Hatinya terkoyak tak ada pilihan lain lagi-lagi tunduk pasrah menjalani takdir yang telah digariskan. Dini terlihat sangat girang, senyum di rautnya tak pernah hilang sesekali melirik Faisal di sebelahnya. Sebuah cinta yang bertahun-tahun dijalani oleh Hani kini hanya semata cerita dongeng dan Faisal hanya bisa tertawa sakit bercampur kecewa.

Cerpen Karangan: Nurwahidah A. Md
Facebook: Idha Daeng Saleh
Tentang Penulis. Nurwahidah A.Md adalah perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Hobi naik sepeda dan berkelana. Pernah kuliah di Ama Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. Salah satu karyanya sebuah cerpen. Dimuat di Majalah Nusantara Yogyakarta “Burusaha Bangkit.” “Ku titip Kau di Lantunan Adzan.” Sebuah antologi puisi “Tunggu Aku Mengucap Cinta”. www.pewartanews.com dan thephinisipress.blogspot.co.id. Bisa bertukar sapa di Facebook Idha Daeng Saleh. Email: Nurwahidah[-at-]854yahoo.com.

Cerpen Gadis Keturunan Karaeng merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karunia Tuhan

Oleh:
Seorang wanita yang tinggal berdua dengan ibunya. Ia bernama mirna dan ibunya bernama minah, ibu minah adalah seorang ibu yang penyabar dan penyayaang, tetapi anaknya si mirna sangat bertolak

Puisi Tanpa Nama

Oleh:
Cinta telah membawa sebuah penantian panjang dalam hidup Rahma. Penantian yang tiada ujungnya. Penantian yang tiada titik temu dalam perjalanan mencari sebuah petunjuk. Kebimbangan dan kegalauan menggelayuti dirinya. Mengusik

Selamat Jalan Pak Dudung

Oleh:
Ah, tak ada yang bisa kugambarkan secara detail tentangmu teman paling lucu, paling cengeng dan paling menjengkelkan. Pak Dudung entah kapan kita bertemu di sekolah ini dan entah kapan

Bocah di Sudut Pasar

Oleh:
Aku sekarang duduk di bangku kelas IX SMP tapi Ayah masih juga belum menambah uang sakuku. Kadang aku kesal, ketika melihat teman-temanku membeli aksesoris cantik yang harganya cukup mahal.

Sang Pengemis

Oleh:
“Ya, saya kira itu saja untuk hari ini. Untuk makalah silakan dikumpul menjadi satu ke ketua kelas dan langsung dipresentasikan minggu depan,” kata Pak Bambang yang kemudian mengucap salam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Gadis Keturunan Karaeng”

  1. Nanda Insadani says:

    Klasik banget. Berbau Siti Nurbaya dan sejenisnya. Tapi penuturan ceritanya oke bingits 😀 mungkin karena penulisnya sudah “professional” kali ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *