Gadis Lotus Dan Lebaran Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

Panas terik begitu menyengat, keringat demi keringat berjatuhan pada wajah cantik gadis itu. Rasanya memang seperti berada di Gurun Sahara, walaupun Muty hanya berkhayal bisa pergi ke sana. Sejak kecil dia memang ingin pergi ke Mesir, Arab. Karena kedua orangtuanya bekerja di sana. Sehingga dia dibesarkan dan tinggal hanya bersama neneknya. Sekarang memang sedang memasuki akhir bulan Agustus, wajar saja panas sangat mendominasi. Rasanya memang lebih baik berada di rumah, dengan membuka jendela, sehingga udara di antara pepohonan begitu terasa. Walaupun terlihat danau yang dipenuhi oleh sampah-sampah sisa pembuangan masyarakat kota. Dan sesekali memerhatikan bunga-bunga lotus yang berjejer rapi di sekitaran danau. Terlebih lagi bunga lotus tersebut merupakan bunga kesukaan Muty, karena filosofinya yang begitu menarik.

Yaitu bunga yang dapat hidup di lingkungan yang kotor tetapi dia tetap dapat tumbuh dengan indah dan anggun di sana. Dan ketika lingkungan yang kotor tersebut ingin merusaknya, tetapi bunga lotus tetap bertahan karena dia sendirilah yang dapat menentukan kualitas hidupnya. Terkadang Muty merasa kehidupannya sama seperti bunga lotus itu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30, lantas Muty langsung bergegas untuk pergi bekerja. Almamater kesayangan miliknya masih terbalut rapi pada tubuh jenjang itu, dengan tinggi 165 cm dan berat ideal wanita seusianya.

“Muty apa kamu sehat?” Tanya Nek Sri.
“Aku sehat Nek, hanya saja sedikit kelelahan.” Jawab Muty dengan wajah sendu.
“Ya sudah beristirahat saja kamu di rumah, nanti Nenek yang akan memberitahu Bu Sur.”

Maju beberapa langkah, lalu Muty terkulai lemah dan pingsan. Lantas Nek Sri langsung panik dan memanggil orang sekitar. Tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarkannya. Mungkin karena letak rumah yang berada jauh dari pusat kota dan minim akan tetangga. Nek Sri begitu panik, dia melakukan berbagai cara agar cucu kesayangannya itu segera sadarkan diri. Kaki dan tangan Muty terasa hangat, suhu badannya meninggi, bibirnya pucat dan tampak sekali bahwa dia sedang tidak sehat. Selang waktu lima menit Muty pun tersadar, dengan tertatih-tatih Nek Sri berusaha membantu dia untuk berdiri dan berbaring di tempat tidur.

“Tadi Nenek sudah bilang, hari ini kamu beristirahat saja. Sesekali tidak bekerja juga tidak apa-apa.”
“Pasti Ibu Sur memaklumi keadaanmu, karena kamu selama ini tidak pernah dengan sengaja untuk tidak bekerja.” Ujar Nek Sri sambil mengelus-ngelus kepala cucunya itu.

Muty memang anak yang sangat rajin. Dia bekerja di sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari tempat dia menuntut ilmu. Sedangkan Ibu Sur adalah dosen sekaligus majikannya. Setiap pulang dari kampus, biasanya Muty langsung membantu Bu Sur mengerjakan pekerjaan rumah. Dahulunya Nek Sri bekerja di sana juga, karena kondisi tubuh yang kurang baik dan faktor usia yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja, maka Muty yang menggantikannya.

“Aku tidak apa-apa Nek, Nenek jangan khawatir.” Sahut Muty dengan memegang kedua tangan neneknya.
Tok, tok, tok, “Assalammuallaikum.” Terdengar bunyi yang tidak begitu keras dari pintu depan.
“Waalaikumsalam, silahkan masuk Bu.”
“Saya tadi hendak pergi ke rumah Ibu, hanya saja Muty pingsan duluan, sepertinya dia sedang sakit.” Sambil menuntun Bu Sur untuk menemui Muty.
“Astagfirullah, kamu kenapa Nak? Ibu kan sudah bilang saat di kampus, bahwa kamu jangan bekerja hari ini. Makanya Ibu ke sini, untuk mengantarkan makanan dan beberapa obat.” Lanjut Bu Sur dengan nada lembut.

Ketika berada di kampus Muty memang kelihatan sangat pucat, apalagi dia merupakan mahasiswi yang aktif di kelas. Tetapi pada hari ini dia tampak tidak bersemangat dan kurang fokus pada saat proses perkuliahan sedang berlangsung. Setelah beberapa saat mengobrol, Ibu Sur pun pulang. Tampak terlihat kekhawatirannya pada Muty begitu besar. Dia memang sudah menganggap Muty sebagai anaknya sendiri, karena ketiga anaknya adalah laki-laki. Oleh sebab itu dia berkeinginan memiliki seorang anak perempuan, tetapi takdir berkata lain. Keesokkan harinya Muty bangun dengan memberikan senyum lebar andalannya itu kepada sang nenek. Lantas hal tersebut membuat Nek Sri menjadi bahagia. Jelas saja, Muty adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini.

“Ayo kamu makan, sayur dan lauk-pauk pemberian Bu Sri sudah Nenek panaskan.” Sambil mengambil beberapa sendok nasi dan menaruhnya di piring. “Tidak Nek, aku masih kuat. Hari ini aku harus berpuasa. Simpan saja makanannya untuk kita berbuka nanti.” Lanjut Muty, sambil membereskan dan membawa makanan tersebut ke dapur.
“Kenapa Nenek tidak membangunkanku untuk salat dan sahur?” Tanya Muty dengan wajah sedih.
“Nenek tidak tega membangunkanmu, karena jarang sekali kamu bisa tertidur selelap itu.” Jawab nenek dengan tegas.

Sekarang memang sedang memasuki pertengahan bulan Ramadhan, menurut Muty sehari saja tidak berpuasa akan sangat merugikan baginya. Karena dia yakin, Allah pasti membantu setiap umat yang selalu menjalankan perintah-Nya. Tubuh Muty sudah sehat seperti sediakala, lantas dia langsung mandi dan bersiap-siap pergi ke rumah Bu Sur. Karena hari ini tidak ada perkuliahan, oleh sebab itu dia datang sedikit lebih awal. Selalu terlintas di pikiran Muty untuk bekerja lebih giat, sebab dia berjanji di dalam hatinya ingin membelikan mukena baru bagi neneknya. Karena mukena yang dipakai oleh neneknya sekarang terihat sangat lusuh dan ada beberapa lubang bekas obat nyamuk bakar yang merusak mukenanya. Sempat dia berpikir menabung untuk menyusul kedua orangtuanya yang hingga sekarang tidak kunjung pulang dan tidak diketahui pula kabar serta beritanya. Tetapi dia urungkan kembali niat tersebut, mengingat ada orang yang lebih penting dan harus dibahagiakan di sisa hari-hari tuanya.

Muty bekerja dari pukul 09.00 hingga setelah asar. Sebenarnya Muty tidak terlalu berharap dengan gaji yang dia terima, karena keperluan kuliahnya saja ditanggung oleh Ibu Sur. Untung saja dia mendapatkan beasiswa atas prestasinya, jadi hutang budi yang dia tumpuk tidak semakin bertambah. Ketika pulang bekerja dia melewati sebuah toko pakaian muslim, di sana terpajang sebuah mukenya yang begitu cantik. Dengan beberapa aksen bunga lotus berwarna merah yang menambah keindahannya. Langsung saja dia teringat akan nenek yang sedang menunggu kedatangannya di rumah.

“Pasti Nenek akan senang jika aku belikan mukena itu, dan pada saat salat Idul Fitri nanti Nenek tidak lagi memakai mukena lamanya yang sudah rusak.” Ujar Muty sambil tersenyum melihat mukenya tersebut. Sebenarnya Muty sudah lama menabung untuk membelikan mukena baru untuk sang nenek, hanya saja uang yang dia sisihkan sering terpakai untuk keperluan dapur dan beberapa hal lain yang mendesak. Menurut Muty kebahagiaan neneknya adalah salah satu hal yang tidak bisa dia beli dengan apa pun. Oleh karena itu, dia rela bekerja keras untuk membalas jasa neneknya yang begitu dia sayang. Walaupun sangat tidak mungkin membalas budi baik sang nenek hanya dengan membelikan mukena.

Sesampainya di rumah, Muty berniat menceritakan keinginannya itu kepada sang nenek. Tetapi tidak jadi, karena dia takut membuat neneknya khawatir akan kerja kerasnya. Saat Muty pulang Nek Sri sedang berbaring lemah di tempat tidur. Belakangan ini Nek Sri memang sering merasakan sakit pada bagian kaki dan sendi-sendi lainnya. Sehingga membuat Muty sangat cemas. Terlebih lagi jika cuaca sedang buruk, hujan yang tidak kunjung berhenti, dan perubahan suhu yang tidak terkontrol. Hari ini adalah puasa yang terakhir, semangat Muty makin menggebu-gebu. Dia berangkat ke rumah Bu Sur pagi-pagi sekali, karena hari ini dia akan membantunya untuk membuat kue lebaran. Terlebih lagi hari ini Muty juga memperoleh gajinya.

Sebelum berangkat dia berpamitan kepada sang nenek dan berkata, “Nek aku berangkat dulu, aku pulangnya akan terlambat. Tapi akan aku usahakan pualng secepatnya.” Mendengar perkataan Muty tersebut Nek Sri hanya bisa tersenyum. Sesampainya di rumah Bu Sur, langsung saja Muty membantunya membuat beberapa jenis kue. Dan tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, lalu Muty bersiap-siap untuk pulang.
“Terima kasih sudah membantu Ibu Nak, ini ada beberapa kue dan ini gajimu sebulan ini.” Ucap Ibu Sur sambil menyodorkan kantong berisi kue-kue dan amplop yang berisi uang.
“Terima kasih banyak Bu, maaf saya sudah merepotkan Ibu.” Lanjut Muty sambil bersalaman dan berpamitan kepada Ibu Sur.

Setelah itu Muty tidak langsung pulang, tetapi dia singgah ke toko yang menjual barang yang diinginkannya tersebut. Dengan mengandalkan gaji dan uang hasil tabungannya, akhirnya dia berhasil membelikan mukena baru untuk sang nenek. Setibanya di rumah Muty langsung memberikan mukena tersebut kepada neneknya. Melihat pemberian dari sang cucu, Nek Sri langsung menangis terharu. Karena dia tahu bahwa, untuk makan saja mereka kesusahan apalagi untuk membeli pakaian atau mukena baru. Ketika itu Muty pun langsung memeluk sang nenek.

“Terima kasih banyak cucuku sayang, Nenek sangat senang mendapatkan hadiah darimu ini.” Sambil mengusap sisa-sisa air matanya. “Bagiku ini bukan apa-apa, ketimbang segala kasih sayang yang telah Nenek berikan kepadaku selama ini.” Jawab Muty terharu.

Keesokkan harinya mereka berdua pergi ke mesjid bersama, perlahan-lahan Muty menuntun sang nenek. Sesampainya di sana terlihat keluarga besar Bu Sur sudah berkumpul. Muty dan nenek pun mendapat tempat tepat di sebelah Bu Sur, ketika itu Nek Sri bercerita akan mukena barunya yang telah diberikan oleh Muty tadi. Lantas hal tersebut membuat Bu Sur terharu. Tidak lama kemudian salat Idul Fitri pun dimulai. Takbir berkumandang dengan merdunya.

Menit demi menit pun berlalu, dan akhirnya salat telah selesai. Ketika itu terlihat Nek Sri masih dalam posisi sujudnya. Hal tersebut membuat Muty dan Bu Sri terheran-heran dan berusaha membangunkannya. Tapi ternyata dia tidak tertidur, napasnya tidak lagi terasa, nadinya tidak lagi berdenyut, dan ketika itu detak jantungnya pun telah berhenti berdetak. Terdengar jelas teriakan Muty yang memanggil-manggil neneknya tersebut. Siapa yang bisa mengira itu adalah salatnya di lebaran terakhir, dengan memakai mukena baru hasil kerja keras cucu kesayangannya.

Setelah kejadian itu, Bu Sur mengajak Muty untuk tinggal bersama dan hendak mengadopsinya sebagai anak. Walaupun dengan berat hati harus meninggalkan rumah dan kenangan bersama sang nenek, tetapi Muty mengiyakan keinginan Bu Sur tersebut. Karena dia tahu, kesedihan yang berlarut-larut hanya akan mempersulit neneknya untuk tenang di alam sana. Lebaran kali ini adalah lebaran terberat yang pernah dilalui Muty, tetapi keyakinan besar akan keabadian di Surga kelak yang membuatnya tetap tegar dan selalu berjalan di jalan-Nya.

Cerpen Karangan: Dian Permata Sari
Facebook: Dian Permata Sari

Cerpen Gadis Lotus Dan Lebaran Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah

Oleh:
Seperti biasa ketika liburan sudah mulai tiba aku selalu menginap di rumah nenekku, kebetulan ketika itu aku sedang kesal kepada ayahku karena ayah tidak mengizinkanku pergi ke dunia fantasi

Kucing Kesayangan Nita

Oleh:
Di sebuah kompleks yang bernama “nusa jaya” berjejer rumah-rumah yang bentuknya hampir sama. Salah satu dari rumah itu, terdapat sebuah keluarga bahagia yang memiliki seorang anak perempuan berusia 4

Ucapan Terakhir Di Ulang Tahunku

Oleh:
Bel alarm berbunyi dengan keras, aku terbangun dari tempat tidurku segera beranjak menuju ke dalam kamar mandi. bersiap untuk segera ke sekolah, setelah beberapa menit di kamar mandi aku

Bahagiaku Adalah Bahagiamu

Oleh:
Kring.. kring.. kring bunyi handphone di saku kananku, Aku tidak berani membukanya meski tak seorang pun mengawasiku di ruangan ini tapi tetap ada CCTV di setiap sudut ruangan tengah

Surat Cinta Untuk Ibuku

Oleh:
Ketika kecil ku selalu bahagia bersama ibuku kemanapun dia pergi ku selalu ikut di belakangnya, aku tak pernah dimarahinya apalagi dipukul, begitu besar kasih sayang ibuku kepadaku, ketika jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *