Gambaran Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 August 2019

“Assalamu’alaikum warahmatullah..”
“Assalamu’alaikum warahmatullah..”
Tepat dini hari, aku kembali bersimpuh lemah. Menengadahkan kedua tangan di hadapan Sang Kuasa pemberi kehidupan. Berdialog singkat dengan melantunkan Asma-Nya dan tak lupa memberi salam hangat untuk baginda Rasulullah SAW.

Kurasa sepertiga malam adalah waktu yang sempurna untuk berkencan bersama Tuhan lewat sujud dalam tahajjud. Waktu terbaik untuk bercakap-cakap bersama Sang Khalik melalui dzikir. Dan waktu yang tepat untuk mencurahkan segala keluh, kesah dan resah dalam dada dengan berdo’a.

Ratusan butir kristal bening yang sedari tadi berusaha kubendung di sudut pelupuk akhirnya menganak sungai juga. Satu per satu tetesnya meninggalkan bekas di atas sajadah yang kududuki. Entah harus bagaimana kucurahkan segala yang sedang kurasakan? Harus dengan kalimat apa kuucapkan keinginan? Dan harus dengan cara apa kutuangkan kesedihan?
Meskipun bibir ini tak tahu harus mengucapkan apa, hati ini sudah tak bisa merasa, dan mata ini hanya dapat meneteskan air mata. Aku percaya, Tuhan Maha Mengerti setiap maksud hati hambanya yang rindukan curahan kasih dan sayang.

“Ya Allah, hamba bukan ingin menyalahkan keadaan dan hamba pun tak ingin menghujat kenyataan. Ampuni hamba Ya Allah, ampuni jika hamba belum dapat menjadi sosok hamba yang selalu bersyukur. Ampuni hamba jika hamba masih kerap meminta tanpa melakukan apa-apa. Namun… –“ Tak sanggup rasanya kulanjutkan kalimat dalam setiap munajat.

Tangisanku semakin pecah, tumpah ruah dibalik mukena putih yang menutupi auratku. Kala ini, untuk pertama kalinya aku merasakan kesedihan yang teramat menyayat. Untuk pertama kalinya aku menangisi jalan hidup yang semakin meredup. Dan untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana perihnya saat harapan untuk memiliki keluarga yang harmonis terkikis oleh rasa egois.

“Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba memohon dan berserah diri. Hanya kepada-Mu lah hamba ingin menggantungkan besarnya harapan. Engkau Maha Mengetahui apa-apa saja yang terbaik bagi hambamu. Dan apa-apa saja yang buruk untuk hambamu…” Aku pejamkan mata dan bersujud merendahkan diri atas ketidak berdayaanku saat ini.

Hujan masih meninggalkan jejak pelariannya di belahan bumi tempatku berpijak. Menebarkan aroma tanah yang sudah terkontaminasi oleh liur hujan yang menetes melalui ujung-ujung dedaunan hijau.
Sambaran kilat yang kemudian disusul oleh gemuruh petir seakan menggetarkan hati setiap sanubari. Pagi ini langit menyembunyikan kilaunya dibalik awan yang terlihat murung. Mendung, layaknya perasaan ini. Perasaan ingin bahagia yang masih kuat terbendung.
Hati ini lirih, jika membayangkan indahnya kehidupan keluarga yang harmonis dan saling menyayangi. Dan perasaan ini semakin perih, jika melihat pahitnya kenyataan bahwa aku tidak pernah mendapatkan apa yang kerap kubayangkan.

Suasana hening masih bersemayam di sudut ruang. Kutatap lekat-lekat wajah ayah dan ibu. Wajahnya terlihat serius menyantap makanan yang ada di hadapannya. Namun bukan itu, lagi-lagi tak kudapati wajah yang mengandung rasa cinta diantara keduanya. Bukan karena mereka sudah tak saling cinta, melainkan hanya karena hadirnya segores permasalahan di lembar kehidupan mereka.

“Ditambah sayurnya yah.” Aku berusaha menghangatkan keadaan pagi yang dingin.
“Ya.” Jawab ayah tak panjang lebar. Kualihkan pandanganku ke arah ibu, namun ia dengan cepat memutar kepala dan mendaratkan pandangannya pada benda apapun yang pertama ditangkapnya.

Aku kembali menundukkan pandangan. Menghela napas berat, sambil sesekali mengaduk-aduk makanan di hadapanku. Seketika meja makan bergetar, kudongakkan kepala dan melihat ayah pergi meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata. Tak lama berselang, “Rapihkan piringnya!” kini giliran ibu yang bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkanku. Aku masih terduduk menatung memandang bayangnya yang semakin menjauh. Usai kubereskan semuanya, kini giliran aku yang harus pergi ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB.

Aku adalah seorang siswi kelas 12 yang duduk di bangku salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta. Tingkatan kelas yang terbilang cukup rawan untuk menghadapi permasalahan yang dapat mengganggu pikiran. Karena seharusnya aku mendapatkan ketenangan untuk menghadapi ujian yang akan kulaksanakan. Namun apalah daya, saat harapan yang kuinginkan tak sesuai dengan kenyataan yang kurasakan.
Alam terlalu kejam. Takdir mengalahkan impian yang menggunung berbulan-bulan. Manifestasi adalah obsesi yang dengan paksa harus mengikis kadar asa.
Aku masih terus mengikuti guratan-guratan potongan keramik di lantai kelas dengan sepatuku. Diam tanpa kata, bungkam tanpa suara. Sesekali, kupandangi ukiran kaligrafi buatan Avi yang terpampang indah di atas papan tulis. Sejenak hatiku menjadi tentram, dengan membaca lafadz kaligrafi berwarna merah yang tertuang di atas kanvas putih tersebut.

“Assalamu’alaikum..” Sapa Puput kepadaku.
“Wa’alaikumsalam..” jawabku sambil menarik bangku di sampingku dan mempersilahkannya duduk. Puput meletakkan tas ranselnya di atas meja dan menopang dagu dengan tatapan penuh selidik kepaku.
“Ada apa?” tanyanya singkat
“Tidak papa, Put.” Jawabku dengan ulasan senyum palsu. Puput hanya menghela napas dan kemudian membenarkan posisi duduknya.

Istirahat pertama tiba, kugunakan waktu yang singkat ini untuk menunaikan ibadah sunnah Dhuha. Tak kusangka, tangisku kembali pecah disela-sela munajatku kepada Sang Kuasa. Kuabaikan tatapan penuh keheranan dari teman-teman di sampingku. Yang kupedulikan hanyalah belas kasih dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Saking khusu’ nya mencurahkan segala kegundahan, aku sampai tidak sadar kalau ternyata ada Puput tepat di belakangku.
“Ini yang namanya tidak papa?” Puput melirikku sambil melipat mukenanya
“Nanti sepulang sekolah akan aku ceritakan, Put.” Puput tersenyum kecut, dan aku pun segera mengajaknya kembali ke kelas.
“Sudah jangan seperti itu mukanya, makin jelek.” Gurauku berusaha mencairkan suasana
“Ga lucu! Aku ini kan sahabatmu, masa sahabat ga boleh tau kenapa sahabatnya sedih?” Puput berkacak pinggang dihadapanku.
“Sahabat yang super kepo! haha..” Tawaku
“Garing!” Balasnya, Puput pun berjalan mendahuluiku melalui lorong-lorong kelas yang masih ramai oleh para siswa. Aku berusaha mengejar Puput, “Puut, tunggu!”
“Gak! Males! Haha..” Puput mempercepat langkahnya, sesekali berlari kecil sambil menaiki tangga menuju kelas.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Usai menunaikan ibadah shalat Ashar, kami berdua pun duduk bersantai di saung dekat kolam ikan.
“Ya udah, coba sekarang ceritakan kenapa hari ini kamu kelihatan sedih banget?” Puput memulai pembicaraan, sambil sesekali membenarkan jilbabnya yang lepek karena air wudhu.
“Sebenarnya, kesedihan ini sudah aku rasakan sejak berbulan-bulan yang lalu.” Kusandarkan tubuh pada tiang bambu penopang saung yang kami duduki. Puput masih terdiam, wajahnya nampak tidak mengerti dengan kalimat terakhirku.
“Put, apa aku salah jika menginginkan keluarga yang harmonis?”
“Tentu tidak. Siapapun berhak mendapatkan itu.”
“Tapi sepertinya hak itu tidak berlaku untukku.” Kuseka air mata yang ada di sudut pelupuk agar tak menetes.
“Bagaimana bisa?” Puput mencoba mendekatkan posisi duduknya ke arah ku.
“Hanya hal itu yang aku harapkan Put. Aku hanya ingin keluarga yang harmonis, yang saling menyayangi dan saling memperhatikan.”
“Tapi rasanya keharmonisan itu enggan menghampiri keluargaku Put.” Aku terdiam sesaat, Puput memelukku erat. Aku tau, dia pasti merasakan apa yang menjadi kesedihanku.
“Aku harus bagaimana Put?” Lirihku dalam pelukan Puput, dan ia pun melepaskan pelukannya. “Bicara. Hanya itu jalan keluarnya. Kamu hanya perlu bicara dengan kedua orangtuamu.”
Aku menggelengkan kepala, “Tidak! Mereka tidak akan mendengarkanku Put.”
“Tidak ada orangtua yang tidak mau mendengarkan apa yang menjadi keinginan anaknya.”
“Apa aku kabur aja?”
Kali ini giliran Puput yang menggelengkan kepalanya, “Tidak! Itu bukan jalan keluar yang baik.”
“Atau aku mati saja?”
“Jalan keluar yang gila! Kamu tuh masih waras, ga usah neko-neko!” Tukas Puput dengan nada sedikit tinggi.
“Kamu hanya perlu mencoba. Aku yakin kesempatan untuk bicara itu selalu ada. Kalau kamu takut untuk mencoba kamu tidak akan pernah menemukan jalan keluar itu sampai kapan pun.” Kalimat terakhir Puput menyudahi perbincangan kami sore itu. Dan akhirnya kami pun pulang bersama.

Makan malam tiba, bola mataku masih menyoroti sosok pria dan wanita yang sedari tadi duduk di depanku tanpa, “Ayah, Ibu. Aku ingin bicara.” Ujarku memecah keheningan yang tercipta kala itu. Ayah dan Ibu bersamaan memandangku, “Boleh aku minta sesuatu?” Ayah dan Ibu masih saling diam.
“Aku ingin minta kasih sayang dan perhatian kalian. Aku ingin minta keharmonisan di dalam keluarga ini. Mengapa hanya karena permasalahan kalian, aku yang terkena imbasnya? Mengapa harus aku yang menjadi sasaran kekesalan kalian? Ayah mendiamkan aku. Begitupun Ibu, Ibu tidak mempedulikanku lagi! Bahkan sekedar bertanya bagaimana sekolahku hari ini pun tidak!” Tukasku panjang lebar, yang membuat kedua tatapan mereka saling beradu dan sesekali bertemu.
“Aku butuh kasih sayang kalian lagi. Sebentar lagi aku akan melaksanakan Ujian Nasional, dan aku ingin fokusku tidak terbagi. Supaya aku dapat berkonsentrasi dengan penuh. Aku ingin lulus dengan nilai terbaik sesuai dengan harapanku.”
“Kumohon Ayah, Ibu.. Jangan pupuskan harapanku! Aku hanya minta satu hal, berikan aku kehangatan ditengah-tengah keluarga ini.”
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Ibu dan Ayah. Mereka hanya menunduk, raut wajahnya seakan menunjukkan rasa penyesalan.
Apakah mereka tersentuh dengan ucapanku? Ataukah renyuh perasaan mereka saat mendengar jeritan hatiku? Akankah mereka memikirkan perasaanku? Kuharap seperti itu.

Salam hangat pagi kembali menyapa bumi. Mentari kembali menyandarkan diri di ufuk timur. Hangat sinarnya perlahan menyentuh lapisan tanah yang masih dingin karena kejamnya angin malam. Pancaran sinarnya sesekali menyilaukan setiap pasang mata yang baru terbangun dari alam bawah sadarnya.
Cerahnya pagi ini, sangat bertolak belakang dengan perasaan yang kurasakan. Masih berpijak di belahan bumi yang sama, dengan kesedihan yang jalan keluarnya belum juga kutemukan. Hujan deras masih mengguyur permukaan pipi ini. Perihnya luka yang menyayat hati masih juga kualami. Ternyata Ayah dan Ibu tidak kunjung memperlihatkan perkembangan yang baik. Kukira setelah panjang lebar kujelaskan keinginan, hati mereka bisa luluh dan sedikit meredam keegoisan. Tapi tidak, ternyata hati mereka berdua lebih keras dari sebongkah batu.

Hari ini adalah hari pertama ku melaksanakan Ujian Nasional. Puncak dimana segala pengorbanan yang telah kulakukan dalam kurun 3 tahun lamanya akan dipertaruhkan hasilnya hanya dalam hitungan jam selama 4 hari kedepan. Masih dengan luka dalam yang semakin kelam. Mau tidak mau aku harus tetap menjalani hari ini. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik, karena aku tidak ingin reputasi prestasiku di sekolah ini tercoreng hanya karena masalahku yang sepele. “Sepele? Tidak, kurasa ini masalah serius!”

Tak terasa berakhir sudah Ujian Nasional. Aku hanya tinggal menunggu nilai yang sedang diproses oleh pihak Provinsi dengan memperbanyak berdo’a. Semoga kali ini harapanku dapat berbanding lurus dengan kenyataan dan semoga Tuhan memberikan yang terbaik.

Hari yang dinanti oleh seluruh siswa pun tiba. Hari pembagian hasil Ujian Nasional tempo lalu. Kuharap, secarik kertas yang kudapat hari ini bertuliskan nilai yang sesuai dengan target yang telah kutetapkan.
Namun bagai angin yang menerbangkan guguran daun kering. Seperti itulah kenyataan menerbangkan harapan yang sudah kutanam dan selalu kusiram.
Bagai pungguk yang rindukan bulan. Seperti itulah keinginan yang tak kunjung menjadi kenyataan. Dan seperti pasang surut lautan, impianku surut karena keegoisan dan pasang dengan membawa penyesalan.
Nilaiku bukan hanya tidak sesuai target, namun juga terbilang hanya seperti lima tangga nada pertama.

“Nak, maafkan Ibu. Maafkan Ibu yang tidak pernah mendengarkan keinginanmu..” Ibu memelukku dengan linangan air mata
“Maafkan ayah juga, ayah menyesal melakukan semua ini. Ayah sangat menyesal.”
Kulepaskan pelukan ibu dengan sedikit kasar.
“Sekarang, Ibu dan Ayah puas? Aku tidak pernah meminta sesuatu yang mustahil. Aku hanya meminta apa yang menjadi hak setiap anak. Tapi kalian hanya mementingkan perasaan dan keegoisan kalian!” Ujarku di sela isak tangis yang mulai pecah.
“Maafkan nak, Maafkan Ayah dan Ibu.” Ibu berusaha mendekatiku lagi. Namun aku berusaha berjalan menjauhi mereka, perlahan semakin cepat dan aku pun berlari menjauhi mereka yang masih berdiri mematung dengan linangan air mata, “Ibu dan Ayah jahat! Jahaatt!! Jahaaattt!!!”

“Astaghfirullah hal ‘adzim..” Aku terkesiap bangkit dari mimpiku.
“Alhamdulillah Ya Allah, hanya mimpi. Semoga semuanya tidak terjadi.” Kuusap mataku yang ternyata basah karena mimpi buruk tadi. Kulirik jam hijau yang menempel di dinding kamarku.
“Sudah Shubuh..” gumamku seraya bangkit untuk mengambil air wudhu dan segera melaksanakan ibadah shalat Shubuh.

Sekali lagi, kutengadahkan tangan dengan memohon ridha-Nya “Ya Allah, hamba mohon semoga mimpi hamba tidak menjadi kenyataan. Semoga pagi ini hamba dapat berbicara dengan kedua orangtua hamba. Semoga pagi ini hamba dapat menyampaikan apa yang menjadi keinginan hamba. Lancarkanlah dan berikanlah hambamu ini kemudahan Ya Rabb. Karena hanya kepada-Mu lah hamba berserah diri dan hamba sandarkan segala urusan hamba diatas kebaikan-Mu. Aamiin.”

Cerpen Karangan: Nazri Tsani Sarassanti
Blog / Facebook: nazritsani.blogspot.com

Cerpen Gambaran Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Kelas Baru

Oleh:
Namaku Ulfah aku sekolah di SMP di desaku kelas 7/1. Tapi sekolahku kekurangan kelas, oleh karena itu kepala sekolah memutuskan untuk membangun kelas baru. Semester 2 murid kelas 7

Maafkan Aku Terlahir Perempuan

Oleh:
Aku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’v*gina’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak

Setitik Cahaya Harapan Si Gadis Buta (Part 2)

Oleh:
Beberapa hari berikutnya… “Zah… Zizah…”, panggil Kak Raka. “Ada apa Kak…”, tanyaku. “Kamu akan segera bisa melihat Zah…”, ucap Kakakku seraya menggoyangkan tubuhku. “Benarkah Kak…?”, ucapku sangat senang. “Benar

Impian Jadi Nyata

Oleh:
“Bina! Coba kamu lihat ini,” ujar seorang anak remaja bernama Bani ini menujukkan koran ke arah si kutu laptop Bina. “Memangya kenapa?” Tanya Bina yang masih berkutat dengan laptop

Aroma Cinta

Oleh:
Aku geram kepada anggotaku, bagaiman mungkin Grup ini bisa ribut dengan Grup sebelah, untung masalah ini tidak sampai ke kakak pembina! Tapi tetap aku harus menindak semuanya. karena impianku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Gambaran Penyesalan”

  1. moderator says:

    Best momentnya tu, saat si gadis pada akhirnya berani mengungkapkan isi hatinya ke kedua orangtuanya… ^_^, dan itu memang sesuatu yang harus dilakukan…!

    Kakak menikmati cerpen buatanmu Tsani ^_^

    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *