Gamis Lebaran Untuk Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 September 2013

“boleh kak baju nya silahkan di lihat-lihat”
“ayo kak boleh bajunya murah”
Ramainya suasana pasar menjelang lebaran diwarnai dengan pedagang yang bersaing menjajakan baju dagangannya dan terlihat pembeli yang menyesaki pasar. Sementara di pasar itu terlihat seorang gadis kecil berbaju lusuh, badannya kurus, keringat terlihat bercucuran dari dahinya, gadis kecil itu berlalu lalang menawarkan kantong kresek mencoba mengais rezeki di tengah keramaian pasar, gadis itu bernama Syifa.

“bu… kantong kreseknya bu… 1000 saja 1000”
“dek, kantongnya 3 ya?”
“oh ini bu… terimakasih bu”

Seketika Syifa terpaku melihat sebuah gamis putih yang dipajang di sebuah kios, spotan Syifa teringat akan ibunya di rumah. Selama ini Syifa dan ibunya hanya berlebaran dengan baju seadanya, pikiran Syifa melayang membayangkan baju gamis untuk ibunya di rumah. Seketika Syifa tersadar begitu melihat harga yang terpampang pada gamis tersebut. “120 ribu? dari mana aku bisa dapat uang sebanyak itu? tapi aku ingin sekali membeli gamis ini utuk ibu” kata Syifa dalam hati. Lalu ia teringat akan sesuatu, sehingga ia langsung bergegas pulang.

Tampak rumah sederhana di pinggir rel kereta api, rumah itu tampak kumuh dan berbahaya karena terletak persis di pinggir rel, rumah yang hanya memiliki 1 ruangan tanpa sekat itu terlihat jorok dan kotor, disana lah Syifa dan ibunya tinggal.

“assalamualaikum bu…”
“waalaikum salam, tumben kamu sudah pulang?”
“iya bu, syifa tiba-tiba kangen ibu”. syifa pun langsung memeluk tubuh kurus ibunya itu, wanita paruh baya dan sering sakit-sakitan
“duh anak ibu, mandi sana setelah itu kita bersiap untuk berbuka puasa”
“iya bu…”

Setelah berbuka puasa Syifa bergegas mencari-cari celengan ayamnya yang telah ia simpan selama setahun ini, kemudian ia memecahkan celengan itu. Setelah ia rapikan lembar demi lembar dan di hitung uangnya ada 125 ribu. “Syukurlah uangnya cukup untuk membelikan ibu gamis lebaran” mata Syifa tampak berkaca-kaca dan wajahnya memerah.

Keesokan harinya Syifa bergegas untuk membelikan ibunya gamis tersebut, Syifa langsung berlari pulang dan menemui ibunya tercinta.

“ibu…ibu… lihat Syifa beli ini untuk ibu” sambil menyerahkan sebuah kresek berwarna putih yang di genggamnya.
“apa nak?” ibu Syifa mengambil kresek yang diberikan oleh Syifa dan membukanya, seketika itu pula air matanya menetes.
“ini untuk ibu nak?” Syifa pun mengangguk dan memeluk tubuh kurus ibunya.
“uhuk.. uhuk…” terdengar ibu Syifa terbatuk.
“ibu sakit?” terlihat jelas Syifa mengkhawatirkan ibunya itu.
“tidak, ibu bahagia punya anak seperti kamu Syifa” isak tangis terdengar begitu mengharukan.

Di sebuah pemakaman seorang gadis berbaju lusuh terlihat sedang mengelus-elus sebuah nisan, kini ia hanya bisa memandangi gamis putih yang tergantung di lemari. Itulah lebaran terakhir Syifa bersama ibunya.

– TAMAT –

Cerpen Karangan: Yuna Pbriyanti
Blog: yunapebriyanti.blogspot.com

Cerpen Gamis Lebaran Untuk Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Istimewa

Oleh:
Suara tepuk tangan meriah bergemuruh memenuhi gedung mewah, saat kakakku –kak Meisha- selesai menyanyikan sebuah lagu, suaranya yang begitu indah, dan menggetarkan hati. Lagu yang dibawakannya adalah lagu kesukaan

Cerita Tak Berjudul

Oleh:
Namaku Rifia Salsabila. Biasa dipanggil ‘Fia’. Aku adalah anak tunggal dari kedua orangtuaku. Pada 1996, aku dilahirkan di kota kembang, Bandung. Kini, aku bersekolah di SMA Islam Terpadu dan

Terimakasih Ya Dira

Oleh:
Namaku Bugi, cantik, imut, pintar dan baik lagi itulah ciri-ciriku. Eh kepedean sorry ya, aku emang orangnya gitu, keceplosan maksudnya. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Dira. Orangnya pintar, cantik

Bergulir Kembali

Oleh:
“Tak ada yang bisa, mengantikan cintamu.. Tak ada yang bisa, membuat diriku, jauh darimu..” sambil memetik gitar bolong pemberianku, Yuda menyanyikan lagu yang sangat kami sukai, sebagai hadiah ulang

Semut Kecil Kesepian

Oleh:
Semut kecil yang merasa kesepian, sendirian menerjang badai dan hujan, pahit kehidupan telah ia rasakan, kesabaran menjadi kunci untuk bertahan. Tak mampu menentang kehendak tuhan, hanya menerima seikhlas hati,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *