Garuda Jaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 July 2014

Memang sejak usia 7 tahun anakku, Alan suka sekali dunia olahraga apalagi sepak bola, bahkan dia tak dapat dipisahkan dengan bola, apalagi dengan klub kesayangannya; Real Madrid. Dulu, semenjak kubelikan dia kaus salah satu klub spanyol tersebut, dia semakin suka dengan tim yang berjuluk Los Blancos bahkan Alan menghafal semua hal tentang Real Madrid mulai dari susunan pemain, jajaran manajemen, sejarah dan sebagainya.
Tak hanya sekedar suka Alan juga gemulai bermain sepak bola tak ayal teman seperjuanganku Irham memuji dan menyanjung anak semata wayangku itu.
“Generasi emas kita telah lahir, boy” ucapnya bersemangat seraya menepuk pundakku.
Awalnya aku tak percaya, tetapi perlahan aku mulai menyadari satu hal; Alan, sangat mempunyai banyak potensi. Pernah sesekali Irham mengajakku untuk melihat Alan bermain besama teman-temannya di lapangan.
Aku terperangah takjub saat melihat Alan begitu gemulai saat menggiring bola, men-dribbling mengecoh lawan, tendangan kaki kirinya keras dan akurat. “Gooooaaaallll…!” seketika mataku berkaca-kaca saat Alan digedong teman-temannya ke tepi lapagan. Irham tersenyum dan mengacungkan jempolnya kepadaku.

Senja telah temaram membiaskan cahaya mega merah di ufuk barat, lantunan adzan mulai membuncah di seluruh penjuru. Aku duduk termangu di teras rumah, aku masih tak percaya akan kejadian sore tadi.
Hening dan gigil malam ini membuat pikiranku melayang entah kemana.
“Malam boy, ngelamun aja kerjaannya ntar kesambet lho” suara itu memuyarkan hayalanku, suara yang tak asing lagi bagiku, Irham dengan menenteng map warna merah dan melempar senyum dari kejauhan.
“Tumben malam-malam begini kau mampir ke rumahku boy, ada apa gerangan?”
Kami berdua memang sahabat sejak masih berprofesi sebagai pemain sepak bola; ketika masih serekan di klub ataupun di timnas hingga sekarang. Meskipun kini, kami tak lagi serekan.

Semenjak pesiun dari dunia sepak bola kami menjalani hidup masing-masing, sekarang dia memilih melatih salah satu klub sepak bola di daerahku, sementara aku bekerja di salah satu perusahaan kain.
“Jadi gini boy, sebagai pelatih Alan aku sarankan ia ikut seleksi timnas, kuharap kau juga setuju dengan ini” jelasnya seraya menyodorkan amplop yang pojok kanannya berlogo garuda yang mengkilap.
“Gimana ya boy, kalo aku sih sangat setuju apalagi aku telah melihat Alan bermain sore tadi, tapi yang menjadi permasalahan adalah kakeknya yang sangat tak setuju jika Alan berhubungan dengan sepak bola” kulihat ekspresi kekecewaan Irham atas jawabanku.
“Tapi jangan kuatir nanti kuusahakan kepada mertuaku”
“Semoga kakeknya mengizinkan Alan untuk ikut seleksi ini karena kesempatan tak datang dua kali, ok kalo gitu aku balik dulu udah malem nih”
“Ok, makasih ya boy atas informasinya”.
“Malam, sampai ketemu lagi” pamitnya dan perlahan menghilang di tikungan

Fajar menyongsong bersembunyi di balik gunung kemar, cahayanya perlahan menyibak kabut. Alan masih terlelap kubuka tirai jendela cahaya matahari masuk dari celah jendela dan membangunkannya.
“Pagi yah…” ucapnya seraya mengusap-usap matanya.
“Pagi”
“Ayah… tadi malam aku mendengar perbincangan Ayah dengan Om Irham, apa Ayah setuju?, aku ingin menjadi pesepakbola seperti Ayah dulu” ujarnya seraya menunjuk foto-fotoku yang terpajang di dinding kamarnya.
“Kejarlah cita-citamu Nak, Ayah tak akan pernah melarang akan tetapi bagaimana dengan kakekmu?” Alan tertuduk menahan kekecewaan yang berkecamuk di hatinya, mungkin ia selalu bertanya-tanya kenapa jalan kehidupannya selalu bergantung kepada kakekknya.

Terik matahari mulai terasa menyengat kulit, dengan sejuta harapan semoga kudapat mengizinkan Alan untuk ikut seleksi dari kakeknya. Sejak dari tadi kami terdiam di antara meja dengan taplak motif bunga.
“Pak, Alan sudah besar tak perlu lagi kiranya kita selaku orangtua memaksanya untuk melakukan sesuatu, apalagi yang tak di inginkannya, Alan sudah mandiri” ucapku membuka pembicaraan dengan sedikit terbata.
“Ya bagus kalau begitu, aku tak harus lagi selalu menegurmu atas segala kecerobohan yang kamu lakukan” ujarnya angkuh, sesekali beliu menghisap kretek, asap mengepul memenuhi ruangan. Hening sejenak.
“Begini pak, aku telah memikirkannya matang-matang dan Alan pun setuju, kami sepakat. Aku akan mengikutkan Alan untuk ikut seleksi timnas usia 15, bagaimana menurut bapak?” kulihat beliau mengernyitkan kening.
“Apa!? Tidak, aku tidak akan mengizinkan Alan ikut seleksi itu, aku tak ingin lagi mempunyai salah satu keluarga dungu karena sepak bola seperti kamu” lagi-lagi beliau menghisap kreteknya
“Sedikit-sedikit bola, sedikit-sedikit bola apa tak ada kegiatdna lain apa yang bermanfaat bagi Alan, misalnya mengikutkannya les lukis, dia kan pintar lukis. Pikir baik-baik jangan cuma sepak bola yang kau sumbat kepadanya, apakah kamu masih tak menyadari akan dirimu sekarang, kamu melarat karena sepak bola. Lihat sekarang apakah sepak bola ingat dirimu, apakah sepak bola bisa membiayai kita, tidak kan?. Pikir itu ceroboh” ucapnya panjang lebar dengan nada tinggi seraya mengejek.
“Tapi pak…” selaku
“Sudahlah, sampai kapan pn aku tak setuju bila Alan menjadi bagian sepak bola titik!” potongnya kasar lalu meninggalkanku.
Dengan beribu rasa kecewa kumelangkah gontai pulang. Bagaiman dengan Alan nanti jika mendengar jawaban kakeknya pasti dia akan sangat kecewa. Ah, aku tak dapat membayangkan Alan nantinya.

Sesampainya di rumah aku langsung disambut olehnya, ia mengambilkankanku segelas air.
“Bagaimana yah? Apa kakek mengizinkan?” tanyanya tak sabar.
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah telah berusaha namun Ayah tak dapat melunakkan hati kakekmu” kulihat Alan tertunduk lesu matanya mulai berkaca-kaca.
“kenapa harus selalu kakek Yah? Kenapa selalu kakek yang memutuskan jalan hidup kita Yah, Kenapa?” gerutunya seraya menahan isak.
“Maafkan Ayah, Nak ini semua karena kesalahan Ayah” ucapku berat.

Seketika Alan berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Aku hanya teraku menatap langit-langit rumah, aku bingung aku tak tahu harus berbuat apa untuk kebaikan Alan.
Kini, keinginannya semakin kuat, setiap hari ia berlatih keras untuk lolos seleksi sehingga tak memerhatikan kesehatan tubuhnya sesekali kaki Alan terkilir.
“Jangan terlalu memmaksakan diri Nak” ucapku seraya memijat kakinya
“Tapi Yah, kesempatan tak datang dua kali” ujarnya seraya meringis.

Namun Alan buka remaja yang mudah menyerah, esoknya ia berlatih juggling di depan rumah. Kulihat kakinya begitu cekatan saat mengontrol bola, seakan bola menempel di kakinya.
Tak lama berselang, sesosok yang sangat berpengaruh bagi kehidupan kami. Alan seketika tertunduk ketika kakenya memanggil dan memarahinya bolanya ia pegang erat-erat.
“Tapi kek?” potong Alan dengan beribu kekecewaan.
“Sekali kakek bilang tidak, ya tidak. Apa kamu mau meniru mantan pemain timnas yang sekarang tak dihargai dan terpaksa menjadi karyawan di salah satu pabrik kain demi menyambung hidup. Apa yang kamu peroleh dari sepak bola, tidak ada kan? Pokoknya besok kamu harus ikut kakek ke jombang, kamu harus mondok”.
“Pak…” kucoba untuk mencairkan suasana
“Kalian apa mau menjadi anak durhaka, ha!. Pokoknya aku tak mau tahu besok Alan harus ikut” bentaknya dan perlahan meninggalkan kami.
Aku tak dapat berbuat apa-apa hanya bisa melihat Alan tertunduk lesu, kucoba menghiburnya.
“Sebaiknya kau turuti keinginan kakekmu itu, kakekmu melakukan ini semua karena kakek sayang kepada Alan, percayalah pada Ayah”. Hiburku seraya memeluk dan mengelus rambutnya.
“Aku hanya ingin mengharumkan nama negeri ini, Yah tanpa pamrih.”

Cerpen Karangan: D Hasany Achmad
Facebook: Sany Acdovic

Cerpen Garuda Jaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paspor Pertama dan Terakhirku

Oleh:
Tak ada semburat cahaya yang masuk melalui jendela kaca kamarku sepeti biasanya pagi ini. Mentari yang selalu membuatku terbangun pun masih mengurungkan niatnya untuk keluar dari cakrawalanya. Entah karena

Arti Hidup

Oleh:
Namaku Karin, kalau pilihan hidup itu ada aku mau banget ngejalaninya. Pagi itu aku terbangun dari tidurku yang terjaga. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB. Aku beranjak dari

Pelangi terakhir

Oleh:
“Ariiiinnn!” teriak mamah membangunkanku, “Ayo, bangun nanti kamu terlambat,” dengan malas ku angkat tubuhku dan berjalan menuju kamar mandi. Aku putri kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamaku bernama Indra,

Doa yang Terkabul

Oleh:
Suara kokokan ayam selalu membangunkanku di setiap hari. Keluarga kami hidup di daerah pegunungan. Hanya kami yang selalu berdoa agar mendapat rezeki dari Allah SWT. Aku dan Ayah hanya

Tempat Terakhir

Oleh:
2 sahabat, Vira dan Arya, selalu berpetualang mencari tempat-tempat yang asik dan indah buat mereka kunjungi, udah banyak tempat yang mereka kunjungi, dari dalam kota maupun luar kota, ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *