Gayatri Milenial

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Keluarga, Cerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 27 March 2021

Aku adalah anak SMA yang telah beranjak dewasa. Namaku adalah Dyah Ayu Gayatri Srinarendra Rajapatni. Terlihat dari nama yang kusandang, aku sedikit yakin tentang satu hal. Kedua orangtuaku mendapatkan inspirasi nama itu dari seorang wanita yang menjadi tokoh sentral dalam kerajaan Majapahit. Mereka pasti memiliki harapan besar ketika memberikan nama itu. Padahal kupikir pada awalnya nama itu hanya sekedar dongeng mayapada saja. Aku juga berpikir nama itu dicetuskan karena agitasi dari keluarga pihak ibuku karena keluarganya memeluk erat budaya kejawen.

Aku adalah Gayatri Rajapatni anak SMA yang sudah dewasa. Mereka sering memanggilku dengan Gea. Kenapa kukatakan aku telah dewasa? Bukan pikiranku yang militan. Akan tetapi karena ketika perusahaan ayahku terdapat lay off pegawai secara besar-besaran karena adanya distorsi. Aku mulai mengambil peranan dengan membuat keputusan untuk keberlangsungan perusahaan itu. Bahkan ketika ayah sering didatangi oleh “tamu” tak diundang yang mendesak ayah untuk melakukan manuver terhadap perusahaannya. Akulah yang selalu menemaninya untuk menemui dan menghadapinya Bersama ayah.

Aku adalah Gea si anak SMA yang mencoba menjadi representasi Gayatri Rajapatni masa kini. Malam ini telah berjajar rapi wajah-wajah hipokrisi yang sedang duduk manis di ruang tamu. Aku melihat ayahku yang dengan santainya meladeni pertanyaan dan pernyatan dari mereka. Aku yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan dari dapur mendekat ke arah mereka. Kuperhatikan satu persatu wajah mereka. Aku meletakkan minuman dan cemilan sembari kudengar tipis-tipis percakapan mereka. Aku ingin tahu mereka ini dari oposisi mana. Ingin berkoalisi atau melakukan aksi.

“Silahkan diminum dulu om.” Ucapku manis dengan senyum tipis.
“Putri bungsu Pak Amarendra ya?” tanyanya menyelidik. Aku sedikit awas karena dari nada bicaranya aku tahu ini adalah tim yang ingin berkoalisi dengan cara sedikit berbeda. Aku ikut duduk di sebelah ayah untuk menguatkan ayah. Takut ayah mengambil jalan yang terburu-buru.
“Iya om, kok om tahu? Padahal saya tidak pernah terlihat dan jarang keluar Bersama ayah” jawaban yang terdengar basa-basi menurutku. Kuulurkan tanganku untuk menjabat mereka seraya kusebutkan namaku
“Perkenalkan saya Gea.” Mereka berempat menyimpulkan senyum setelah menjabat tanganku. Itu terasa sebagai genderang perang bagiku.
“Kamu seperti ayahmu. Caramu berbicara dan menatap mata lawan ketika berbicara itu ayahmu sekali.” Salah satunya menjawab. Aku beroh ria.
“Silahkan diminum om.”

Mereka minum seteguk tanda basa-basi untuk menghormati tuan rumah. Aku tetap duduk di samping ayah dan tak berniat beranjak. Aku tahu mereka berpikir anak kecil seumuranku tak seharusnya duduk dan ikut mendengarkan urusan bisnis ayahnya. Akan tetapi inilah aku Rajapatni seorang pendamping raja. Aku mengambil peran ibuku untuk selalu mendampingi ayah sepeninggalannya.

“Masih ada lagi yang ingin kamu tawarkan?” tanya ayahku pada salah satu dari mereka.
“Apa tidak apa-apa pak?” mereka mengatakan itu dengan mata melirik ke arahku. Aku yang merasa langsung menimpali perkataan mereka.
“Silahkan dilanjutkan om. Dengan senang hati saya juga akan mendengarkan apa yang ingin ditawarkan untuk perusahaan ayah. Akan ada benefitnya atau tidak nanti bisa saya berikan pertimbangan untuk kelanjutannya.” Kulihat ayah yang mengangguk pada mereka.

“Sesuai dengan yang saya katakana tadi, apakah bapak bersedia membuka pabrik baru di lahan yang sudah saya sediakan lengkap beserta alat pengemasannya.” Kata salah seorang dari mereka yang berpeawakan gempal dan agak botak.
“Selain itu, bapak juga hanya perlu mengawasi dari jauh karena kami ini yang nantinya akan terjun langsung ke lapangan. Bapak tinggal memberikan perintah.” Kata yang lainnya.
“Kami menemukan lahan bagus karena di daerah itu. Kami tahu pertanian di sana sangat maju pak. Kita bisa memberdayakan petani sekitar ketika panen dengan membeli hasil panen mereka dengan harga murah ketika mereka panen raya.” Kata orang dengan perawakan tinggi dan muka agak lonjong dan mata sipit.
Aku tahu ayah memang dari awal ingin membuka pabrik baru. Akan tetapi aku ragu jika ayah akan marger dengan mereka. Aku tahu akal bulus mereka. Aku merasa ayah sepakat denganku untuk masalah ini.

“Baiklah bapak-bapak karena ini sudah begitu larut. Saya rasa tidak bagus untuk memberikan keputusan selarut ini. Untuk kelanjutannya bisa saya pertimbangkan dahulu dengan anak saya.” Ayah menyudahi dengan bijak dan tak langsung memberikan keputusan untuk menyetujui atau menolaknya. Sikap ayah yang seperti inilah yang kadang membuatku kesal. Ayah selalu merasa tak enak dengan orang untung mengutarakan penolakan.

“Sebuah perusahaan memang membutuhkan benefit dari produk yang mereka pasarkan. Bahkan kami juga mencari laba yang besar agar kami bisa menjalankan perusahaan dan juga membayar karyawan. Akan tetapi itu semua tidak kami dapatkan dengan memakan hak orang lain dan mencurangi mereka dengan cara yang licik. Saya rasa jawaban saya cukup mewakili apa yang ingin ayah saya sampaikan.” Aku melihat ayah tersenyum ke arahku. Ayah tahu kalau aku memang keras dengan ego anak muda yang masih menggebu. Mereka yang awalnya merasa masih punya harapan langsung merasa terjun bebas.

Aku Gea Rajapatni anak SMA yang masih memiliki ego yang tinggi. Aku yang berusaha untuk berada di garda terdepan untuk menemani ayahku.

Setelah mereka semua pergi aku masuk ke kamar bersiap untuk tidur. Ayah mengetuk pintu dan menghampiriku
“Ge” panggil ayah dengan lembut.
“Hmm,” gumamku pelan. Aku tahu biasanya ayah akan berdebat kecil ketika ada masalah seperti tadi. Karena aku selalu meledak-ledak ketika mengambil keputusan.
“Gea, ayah ingin bercerita sesuatu.” Aku sedikit beringsut dari tempatku.
“Kamu tahu kenapa ayah memberikan nama itu padamu? Nama yang kamu benci ketika waktu kecil.” Ayah tersenyum sambil mengejekku.
“Aku tidak tahu alasan ayah memberi nama itu pada ku, tetapi aku yakin ada ribuan doa terselip di balik nama ini.” Mendengar jawaban itu ayah tersenyum tipis.

“Kamu tahu siapa Dyah Ayu gayatri? Dia ini adalah tokoh perempuan di balik layar di era Majapahit. Dia berjuang secara tidak langsung dan terkonfrontasi dari depan. Dia adalah wanita yang tidak ragu memberikan saran, tidak ragu menyuarakan pendapatnya pada raja Kertajasa Jayawardhana. Pernah satu kali Ia menyatakan pendapatnya tentang Rangga lawe, seseorang pemberontak yang tidak terima dengan posisi yang diberikan oleh raja. Sampai-sampai penasihat istana bahkan raja tak pernah terpikirkan untuk menanyakan pertanyaan yang diajukan oleh Gayatri.” Aku mengangguk dan memeperhatikan cerita ayah dengan seksama.

“Bahkan kamu tahu Ge, cerita keberhasilan patih Gajah Mada yang berhasil menyatukan seluruh nusantara? Kamu tahu Gayatri lah perempuan di balik ideologi yang Mahapatih Gajah Mada miliki. Ia menanamkan ide pada Gajah Mada untuk menyatukan seluruh negeri tetangga di bawah satu federasi, gayatri adalah mentor, sekaligus sahabat dari Gajah Mada, seseorang yang akan Gajah Mada mintai pendapatnya mengenai persoalan kerajaan Majapahit. Ia merupakan wanita terhormat, bijak, cerdas, dan berpendirian teguh. Wanita yang dicintai oleh keluarganya dan rakyatnya.” Ayah menjeda sejenak dan terus menatap ke arahku.

“Ayah merasa benar dengan memberikan nama itu padamu Ge, kamu bahkan berani berada di depan layar. Kamu juga sudah bisa menjadi cerdas, berpendirian teguh, dicintai semua orang.
“Tapi aku belum bisa jadi bijak seperti ayah kan.” Aku menyela perkataan ayah. Aku kesal dengan melipat kedua tanganku di dada.
“Ayah tahu aku paling tidak suka dengan orang yang suka berbisnis dengan cara yang curang seperti itu. Ayah juga paham bagaimana dulu aku menolak adanya PHK besar-besaran di perusahaan ayah. Kita membuat perusahaan dengan tujuan awalnya membantu mereka agar mendapatkan penghasilan. Orang tadi jelas-jelas orang yang tidak baik, yah. Gea rasa ayah juga tahu dan sepakat dengan apa yang Gea pikirkan.”

“Untuk jadi bijak kamu tidak harus menunjukkan ketidaksukaanmu secara langsung kan? Kamu boleh menujukkannya dengan cara yang lebih elegan tanpa menggunakan emosi. Berusaha menekan ego, belajar bermain cantik dan selalu mendukung ayah dalam segala hal. Ayah selalu tahu apa yang kamu inginkan. Yang perlu kamu tahu Ge, ayah bangga sama kamu karena kamu selalu membela dan menguatkan ayah ketika ayah lemah. Terimaksih sudah menjadi Gayatri Rajaptni untuk ayah” Akhirnya kami berpelukan dan aku menangis dan menenggelamkan wajahku di dada ayah. Aku adalah Dyah Ayu Gayatri Srinarendra Rajapatni yang ternyata belum dewasa. Aku menyadari itu sepenuhnya.

Cerpen Karangan: Haidar Maarifa

Cerpen Gayatri Milenial merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sulut Kehidupan

Oleh:
Aku memulai pagi hari ini dengan senyum di wajah. Hari ini merupakan hari yang kunanti-nantikan sejak sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun bukan merupakan waktu yang singkat untuk dilewati,

Peluru dan Brownies di Malam Tahun Baru

Oleh:
Malam tahun baruku tidak seperti tahun barumu. Mungkin saat ini kau sedang bergembira ria di suatu tempat. Bernyanyi, menari-nari, banyak makanan dan minuman yang enak-enak. Pulang pagi dan tertidur

Mamak

Oleh:
“Allhamdulillah…” Demikian kalimat yang terus terucap saat kabar mengenai proses persalinan Mamak, sampai kepada sanak keluarga yang juga menanti dengan penuh harap. Sang pembawa pesan dari ruang bersalin mengabarkan

Selamat tinggal Corona, Selamat Jalan Ayah

Oleh:
“Informasi terkini, korban positif covid-19 sebanyak 12.345 orang, sembuh 8.654 orang, dan meninggal 543 orang. Diharapkan masyarakat tetap menjalankan 3 M, memakai ma.. PIPP”. Belum habis berita itu, tv

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *